BAB 8 — Detik Pertama dari Dunia yang Belum Ditulis

577 Words
Langit masih sunyi. Tak ada suara ledakan, tak ada lagi Null, tak ada detik terakhir. Hanya angin yang mengalun, dan dua manusia yang duduk di bawah bintang yang asing. Andra belum bicara. Tubuhnya diam, matanya menatap ke depan, seperti mencoba memahami makna dunia baru ini. Dunia yang tidak ia kenal, tapi anehnya… terasa tepat. "Apakah ini... benar-benar dunia baru?" tanyanya pelan. Nara mengangguk. "Ya. Dunia yang terbentuk dari keputusanmu. Dari retakan, dari pilihan, dari keberanianmu untuk tidak memutar ulang." Andra meraba tanah di bawahnya. Rumputnya terasa nyata. Dingin. Tapi dalam d**a, ada keheningan yang tidak pernah ia alami sebelumnya—bukan kehampaan, melainkan kelegaan. "Aku merasa... kosong tapi utuh. Tanpa beban, tanpa jam, tanpa tekanan waktu." "Itu karena kamu telah meninggalkan sistem," jawab Nara. "Kamu keluar dari siklus. Dari pemaksaan waktu. Kamu bukan lagi Detik Terakhir." Andra menatap Nara. "Lalu, apa kamu masih bagian dari sistem itu?" Nara terdiam. Tatapannya mengarah ke langit. "Aku... tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal: aku ingin tetap di sini. Kalau dunia ini adalah halaman kosong, aku ingin menulisnya bersamamu." Mereka berdua berjalan menyusuri padang rumput. Di kejauhan, pohon-pohon tumbuh lambat, seolah baru belajar apa arti pertumbuhan. Sungai-sungai membelah daratan, belum punya arah pasti. Dunia ini... seperti draf pertama dari semesta yang belum selesai ditulis. "Kita mulai dari mana?" tanya Andra. "Dari kamu," jawab Nara. "Kamu yang membuka dunia ini. Maka, detik pertamanya... adalah milikmu." Andra menarik napas. Ia menutup mata. Dan dalam bayangannya, ia tidak melihat masa lalu. Tidak melihat kehancuran, tidak melihat Null. Ia hanya melihat peluang. > [Sistem tidak ditemukan. Protokol manual aktif. Semua tindakan bersumber dari kehendak bebas.] Ia membuka mata. "Kalau begitu... aku ingin tempat tinggal. Tempat kita bisa pulang, tertawa, makan, dan... menulis masa depan." Tanah di depan mereka bergetar. Dari bawah rumput, muncul pondasi kayu, dinding-dinding kaca, dan cahaya hangat. Sebuah rumah terbentuk perlahan, sederhana tapi kokoh. Dunia ini... menjawab permintaan. "Kita tidak sedang menciptakan dengan kekuatan dewa," kata Nara. "Tapi dengan kehendak. Dan kehendakmu... adalah fondasi dunia ini." Andra tersenyum. "Lalu aku ingin taman. Dengan bunga yang tidak pernah layu." Muncul taman. Bunga-bunga tumbuh, satu per satu, berwarna ungu, biru, dan putih. Angin menyentuhnya lembut. "Dan pohon besar, tempat kita bisa duduk saat hujan turun." Sebuah pohon tua menjulang, akar-akarnya menjalar dalam tanah, memberi perlindungan dan ketenangan. Nara menatap Andra. "Dunia ini tidak akan stabil jika kamu ragu. Tapi kalau kamu percaya pada apa yang kamu rasakan… dunia akan percaya padamu." Andra duduk di bawah pohon itu. Ia tidak lagi terburu-buru. Tidak lagi berlari dari sesuatu. Untuk pertama kalinya, waktu tidak memaksanya bergerak. Ia menoleh pada Nara. "Kamu tahu? Aku tidak ingin jadi Dewa Waktu. Aku hanya ingin jadi manusia. Yang mencintai. Yang gagal. Yang belajar." Nara duduk di sampingnya. "Itu cukup. Bahkan, itu sempurna. Karena dunia baru ini tidak butuh dewa. Tapi butuh hati." Langit perlahan berubah warna—bukan karena waktu, tapi karena keinginan Andra. Matahari terbit dari arah yang tidak biasa, memberi cahaya pada tanah yang belum punya nama. Andra menggenggam tangan Nara. "Kalau begini rasanya hidup... aku rela mati ribuan kali untuk bisa kembali ke sini." Nara tersenyum. "Tapi sekarang, kamu tidak perlu mati lagi. Kamu sudah memilih hidup. Dan dunia ini... akan terus berjalan selama kamu memilih untuk terus menulis." Mereka terdiam. Dunia yang baru ini... bukan dunia yang sempurna. Tapi dunia yang mereka miliki. Dan di langit, untuk pertama kalinya… Tak ada jam. Tak ada countdown. Hanya langit. Dan kesempatan. > “Selamat datang, Detik Pertama.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD