BAB 13 — Detik yang Terhapus

719 Words
Langit tidak lagi biru. Setelah cahaya meledak dan mereka kembali dari dunia kosong, langit di atas kota tampak… berdenyut. Perlahan. Seperti d**a yang menahan napas. Matahari bersinar, tapi tak lagi hangat. Seolah semesta sedang menunggu keputusan berikutnya. Andra duduk di rerumputan — di tepi lingkaran hijau tempat lubang hitam pernah ada. Matanya menatap ke arah kosong, tapi pikirannya jauh. Di dalam dirinya, suara itu… masih bergema. > “Tak memilih adalah pilihan. Tapi… itu bukan akhir.” Ira menghampirinya, membawa dua cangkir kopi dari warung sebelah. Ia duduk tanpa bicara, lalu menyerahkan satu padanya. Andra menerimanya, tangan masih gemetar halus. Nara berdiri beberapa meter jauhnya, memandangi langit. "Langit belum kembali normal," gumamnya. "Waktu mungkin telah kembali… tapi keseimbangan belum." Andra mengangguk pelan. “Karena ada satu bagian dari waktu… yang hilang. Detik yang benar-benar terhapus.” Ira menoleh. “Maksudmu?” Andra menatapnya. “Saat kita masuk ke dunia kosong itu… aku sadar. Bukan hanya aku yang membentuk dunia itu. Tapi juga sesuatu yang dulu pernah aku lupakan. Detik yang pernah aku lari darinya. Detik… yang menyimpan asal mula semuanya.” > [📢 Peringatan Sistem: Aktivasi Mode Arsip. Fragmen Memori Terhapus Terdeteksi.] Cahaya biru melintas di udara, membentuk hologram di depan mereka. Satu simbol muncul: Simbol Jam Retakan --- Hening. Dunia terasa menahan napas. Ira mundur setengah langkah. “Apa itu?” Andra tak langsung menjawab. Tapi wajahnya berubah. Pucat. Terkejut. Matanya memantul kenangan yang seharusnya tak mungkin ada. Nara mendekat. “Kamu tahu simbol itu?” Andra mengangguk pelan. “Simbol dari Sistem Detik Tertua. Yang bahkan aku sendiri… tidak sepenuhnya mengerti.” > [📢 Sistem Lama: Mode Kunci Retakan Tersisa 1. Aktivasi diperlukan.] Nara menyipitkan mata. “Satu retakan tersisa… berarti dunia belum sepenuhnya pulih.” Andra berdiri. Cahaya dari simbol jam itu perlahan menetes seperti air — jatuh ke tanah dan berubah menjadi bunga-bunga kaca. Rapuh, namun indah. Dan satu demi satu… bunga itu retak. “Kalau kita biarkan, retakan itu akan membelah dunia,” bisik Andra. “Tapi jika kita paksa buka—kita akan hadapi ingatan yang bahkan aku sendiri… takut untuk mengingat.” --- Malam itu. Mereka bertiga berkumpul di lantai atas gedung jam — tempat di mana semua detik pertama kali mulai rusak. Di tengah ruang, sebuah pilar waktu muncul — tidak stabil. Bergetar. Seolah di dalamnya terkunci satu fragmen masa lalu yang menolak dibuka. > Simbol retakan terus berkedip, seolah memberi aba-aba untuk diaktifkan. Nara menatap Andra. “Aku bisa bantu membuka retakan ini. Tapi begitu dibuka, kamu nggak bisa lari dari ingatan yang muncul.” Andra menarik napas dalam. “Aku siap.” Pilar waktu retak perlahan. Cahaya biru meledak dalam senyap. Dan... dunia kembali terdiam. --- Andra melihat dirinya yang lebih muda. Tapi kali ini, sendirian. Di dalam ruang putih yang kosong. Dunia di sekitarnya belum retak. Tapi di dadanya, sudah ada kehampaan. > “Kamu adalah yang memilih untuk memanggul beban waktu.” “Tapi kamu juga yang menghapus detik-detik milikmu sendiri.” Fragmen-fragmen itu terus bergulir. Andra menyaksikan keputusan terdahulu — saat ia memilih kekuatan Sistem, tapi menukar sebagian masa lalunya. Ia tidak mengorbankan siapa pun… tapi ia menghapus bagian dari dirinya sendiri. Bagian yang… dulu membuatnya takut untuk percaya. --- Fragmen hilang. Andra terhuyung mundur. Air matanya jatuh — pelan, tanpa suara. Nara dan Ira menahan napas. Dunia di sekitar mereka bergetar. Bahkan langit ikut bersedih. “Sekarang aku tahu,” ucap Andra pelan. “Kenapa dunia belum pulih. Karena aku belum mengakui kehilangan itu… bahkan kalau itu cuma bagian dari diriku sendiri.” > [📢 Sistem Aktif: Retakan Terakhir Telah Diterima. Proses Integrasi Dimulai.] Langit yang semula kelabu berubah menjadi biru senja. Lingkaran rumput di tanah bersinar, dan sebuah jam pasir muncul — berdiri tegak, utuh. Waktu, untuk pertama kalinya, kembali lengkap. --- Nara menyentuh bahu Andra. “Kamu nggak sendiri. Bahkan bagian yang hilang dari dirimu pun… sedang mencarimu.” Ira tersenyum tipis. “Mungkin ini bukan soal siapa yang hilang, tapi apa yang belum kamu maafkan dari masa lalu.” Andra menatap jam pasir itu — pasirnya mengalir pelan, lembut, penuh harapan. “Ini bukan akhir,” bisiknya. “Ini awal dari… memulihkan segalanya. Termasuk diriku sendiri.” --- Dan untuk pertama kalinya, setelah ratusan babak waktu yang retak… dunia tersenyum. > [✅ Dunia Stabil. Mode Perjalanan Baru Tersedia.] [Nama Mode: Pulang]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD