Langkah berat Naila keluar dari ruangan setelah berbicara dengan Nathali, beberapa kali melihat kearah pintu dimana Rafa berada. Indira yang berada disamping Naila hanya diam mengamati sang putri dengan segala kebingungannya, hembusan nafas terdengar dari Naila saat benar – benar melangkah meninggalkan tempat. Perjalanan menuju cafe tidak ada pembicaraan sama sekali membuat Indira menghubungi suami dan putranya untuk datang kerumah nanti malam, tampaknya Naila memang membutuhkan tempat bercerita dengan para pria. “Kata Mbak Gendis kamu ada menu baru lagi, Nay?” hanya anggukan kepala yang Naila lakukan “makanan atau minuman?” “Minuman karena untuk dinikmatin dengan harga terjangkau.” “Minuman apa?” “Bahan dasar pisang, melon dan alpukat tapi masih uji coba.” “Mama nggak menyangka kam

