FASHA mendongak dengan pelan. Melihat seseorang yang berdiri di-balik pintu ruangannya. Terpaku sesaat tapi ia tidak kaget. Karena seharusnya ia tahu permainan apa yang sudah ia mulai. “Makan siang?” “Kata ayahmu, kamu belum sempat makan siang. Jadi saya bawa kan makan siang. Kita makan siang bersama saja,” tutur Pandu dengan bahasa yang begitu kaku. Yah, sejak awal ia memang sudah berbicara seperti itu. Apalagi Fasha juga begitu. Begini lah kalau kaku bertemu kaku. Ia melangkah masuk setelah Fasha membuka lebar pintu. Kemudian me-ngeluarkan apa yang ia bawa. Hanya sushi. Makanan kesukaannya. Karena ia tak tahu apa makanan kesukaan Fasha. “Saya gak tahu kamu sukanya apa, jadi saya beli saja sushi. Barang kali kamu juga suka.” Fasha menghela nafas. Ia menatap sushi itu dengan diam. Ia t

