CHAPTER 19
Terus saja waktu bergulir cepat tanpa memberikan kesempatan untukku bahkan untuk menarik napas sekalipun. Masih ingat dengan janji ku kali lalu? Jika sudah lupa, sudah, tak usah diingat lagi. Karena aku pun rasanya menyesal pernah mengucap itu. Kenapa? Karna, hari ini adalah hari dimana kelas 12 berada di dalam masa bebasnya. Ujian sudah berlangsung satu minggu yang lalu. Mereka sudah selesai dengan buku-buku membosankan itu. Mereka sudah selesai dengan lembaran-lembaran soal mengerikan. Dan aku? Disaat mereka sudah selesai dengan berbagai beban, sekarang aku baru akan memulai sebuah perjuangan. Perjuangan yang dimulai dari sebuah pengakuan.
Aku bingung harus memulai darimana. Masa iya tak ada angin tak ada hujan aku langsung menyatakan perasaanku kepadanya? Kan aneh.
Lalu, bagaimana dengan Kak Dani? Tak jahatkah aku bila aku menyatakan perasaanku kepada Kak Ardan dan Kak Dani mengetahuinya?
"Lin.."
Aku menoleh. Riri.
"Hmm?" Gumamku tak jelas sambil merebahkan kepalaku di atas meja dan memaikan pulpen yang saat itu ku pegang.
"Udah istirahat." Kara Riri.
Aku menoleh ke arahnya, "terus?" Kataku kemudian kembali ke aktivitasku seperti tadi.
"Cuma ngasih tau doang," kata Riri sambil bangkit dari duduknya. "Aku mau ke perpustakaan Lin, kamu mau ikut ga?"
Aku berpikir sejenak, menghela napas, "Ayo deh," kata ku tersenyum lemah dan bangkit.
"Kenapa sih Lin? Lemes banget." Kata Riri sambil menyenggol bahuku.
"Gapapa, ga mood aja." Kata ku padahal dalam hati aku menahan grogi yang amat sangat.
Riri kembali diam. Entah mengapa, rasanya perpustakaan terasa sangat jauh. Dari tadi kami melangkah, tak sampai-sampai. Sampai akhirnya aku merasakan bahuku disenggol-senggol keras. Aku menengadah dari tundukanku, "Apaan si R-" ucapanku tak selesai.
Tepat saat aku mengangkat kepalaku, wajahnya langsung menjadi fokus utamaku. Di depan ku, ada Dani, ada Ardan, ada Adam, ada Levi, dan ada teman-temannya. Entah memang kenyataan atau dalam pikiranku saja, Kak Dani seperti memelankan langkahnya sehingga sekarang ia berjalan di paling belakang. Aku membalas senyum mereka hingga kini tinggal Kak Dani yang semakin mendekat ke arahku. Dia tetap melangkah namun mulutnya menggumamkan sesuatu.
"Bilang sekarang atau engga sama sekali." Dan dia melanjutkan langkahnya.
Aku? Aku terpaku di tempat ku.
***
Sekembalinya aku dan Riri dari perpustakaan, kalimat Kak Dani masih terngiang-ngiang di kepalaku. Terus berputar layaknya gangsing yang baru saja dilepas dari porosnya.
Aku bertanya dalam hati, terbuat dari apakah hati seorang lelaki yang bernama Ramdani Pratama itu.
Aku menimbang-nimbang diriku, bertanya pada perasaanku, kenapa harus Ardan? Kenapa bukan Dani?
Aku menghela napas dengan kasar. Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung. Dengan segera, aku bangkit dari duduku di perpustakaan.
"Lin, mau kemana?" Riri bertanya dengan pandangan bingung.
"Aku ada keperluan Ri, aku duluan ya!" Ucapku sambil melangkah tanpa menatap Riri. Aku berjalan cepat di sepanjang koridor. Bahkan sesekali kaki kecilku membawa tubuh ini berlari kecil.
Aku temukan dia!
Dia sedang makan di kantin. Tempat biasa mereka makan. Ku atur napas ku. Merapalkan mantra bahwa semua akan baik-baik saja.
"Permisi kak," ujarku mantap di depan segerombolan orang itu. Secara reflek, mereka menghentikan kegiatannya dan menoleh kepadaku.
"Eh, Alin cantik. Kenapa Lin? Mau gabung?" Jawab Kak Adam yang meresponku pertama kali dan satu-satunya.
Aku melirik dengan sudut mataku, Kak Ardan menatap ku secara intens, sedangkan Kak Dani kembali menyantap makanannya.
"Saya pinjem Kak Dani sebentar boleh kak?" Tanya ku mantap. Aku melihat Kak Dani tidak jadi menyuapkan sesendok ketopraknya dan beralih menatapku.
"Saya?" Tanya Kak Dani menatapku aneh.
Lagi-lagi sudut mataku menatap geraman yang terjadi. Kali ini Kak Ardan yang beralih ke makanannya. Makanan yang sama dengan Kak Dani.
"Iya, ada yang mau saya omongin kak." Ujarku.
"Oh, yaudah." Ujar Kak Dani meletakan piringnya diatas meja. Menyesap minumnya. Lalu bangkit menghampiriku.
"Aduhaaaayyy, si Abang kita yang satu ini mau balikan rupanya." Teriak Beni yang duduk di pojok kantin sambil menatap jahil. Semua mata mengarah padanya. Kalimatnya menimbulkan banyak reaksi. Mulai dari terkekeh pelan, tersenyum geli, tertawa kencang, mengedip jahil, dan reaksi lainnya.
Aku hanya tersipu ditempatku. Dengan jelas kudengar Kak Dani dan Kak Ardan berdeham bersamaan. Ku arahkan mataku ke wajah Kak Dani dan Kak Ardan. Matanya memancarkan sinyal peringatan. Rupanya sinyal itu diterima oleh Beni dengan baik sehingga senyum jahilnya perlahan-lahan berubah menjadi ringisan mengenaskan.
"Ayo Lin." Ujar Kak Dani pelan sambil melangkah menjauhi kantin dengan aku yang mengikuti dibelakangnya.
Sepanjang koridor aku bisa merasakan beberapa pandangan menusuk punggungku. Hingga akhirnya aku, ralat, kami menghentikan langkah di depan ruang ganti yang sedang sepi.
"Jadi?" Ujar Kak Dani langsung menembakku dengan pertanyaan yang terdengar ambigu.
Aku yang tadinya menundukan kepala, menarik napas perlahan dan akhirnya mencoba untuk menatap Kak Dani.
Mataku bertemu dengan Kak Dani.
"Aku-" kalimatku terputus disitu. Aku sudah tak kuat lagi menatap Kak Dani. Ku alihkan pandanganku ke sekitar. Sesekali sudut mataku melirik Kak Dani yang ternyata sedang menatap mataku intens.
Aku mencoba untuk mengatur detak jantungku. Mengatur napasku yang entah mengapa terengah. Merilekskan dadaku yang mendadak sesak.
"Keluarin semua yang mau kamu sampaikan Lin. Gapapa." Suara Kak Dani memecah keheningan kami.
Sekali lagi aku menarik napas dan menghembuskannya pelan.
"Maksud omongan kakak yang tadi apa?" Tanya ku dengan mantap dan memberanikan diri menatapnya.
Rupanya Kak Dani langsung mengerti ucapanku. "Buat ngeyakinin kamu supaya kamu jujur dengan perasaanmu sendiri." Katanya pelan dengan seulas senyum tipis.
"Apa kakak baik-baik aja? Maksud saya hati kakak baik-baik aja? b**o, pasti engga baik-baik aja kan?!" Rancau ku tak jelas.
Kali ini Kak Dani yang menghela napas dalam. Kemudian dia mengeluarkan suaranya yang teduh, "Ya, jika kamu tanya apa saya baik-baik saja, secara fisik mungkin iya. Kamu bertanya apakah hati saya baik-baik saja, jika ini berhubungan dengan biologi, hati saya sehat. Tapi untuk pernyataan kamu yang terakhir, kamu benar. Saya memang tidak sedang baik-baik saja. Tentu saja perasaan saya tidak baik-baik saja. Apalagi dia yang kamu maksud adalah Ardan." Ujarnya tersenyum.
Aku meringis.
"Tapi, seperti halnya kamu, saya juga tau jika hati tak bisa dipaksa. Cinta tak bisa disalahkan. Hak saya untuk jatuh cinta pada kamu, itu berarti kamu punya hak yang sama untuk jatuh cinta pada orang lain termasuk Ardan. Untuk saat ini saya memang tidak baik-baik saja, tapi saya yakin waktu akan menghapus luka saya." Ujarnya tersenyum.
Aku membuka mulutku untuk mengucapkan beberapa kalimat yang sedari tadi mengganggu pikiranku, namun rasanya ada yang menyegel tenggorokanku.
"Jika meminta izin untuk memperjuangkan Ardan adalah maksud yang ingin kamu sampaikan, saya izinkan Lin. Saya izinkan sebagai sahabat Ardan dan sebagai mantan kamu." Jawabnya sambil terkekeh.
Aku tediam cukup lama.
"Makasih kak." Cicitku pelan. Saat itu juga aku merasakan usapan lembut di puncak kepalaku.
"Rileks Lin. Jadi kapan?" Tanyanya.
"Hah? Apanya?" Tanya ku bingung.
"Ngungkapin ke Ardan." Jawabmya enteng.
Aku mendesis tak sabar, "Kak, kok kakak kayaknya biasa aja sih saya mau nembak Kak Ardan. Maksud saya, kok kakak kuat?"
Dia terkekeh sambil memasukan kedua tangannya ke saku celananya.
"Ya terus saya harus histeris gitu? Menghancurkan persahabatan saya hanya karna satu cewe yang ga cakep-cakep banget?" Ujarnya dengan keingan mata jahil.
"Ish.." desis ku sebal.
"Sekalipun kita tetep bareng, emang yakin banget kamu kita bakal jodoh? Engga ada yang tau kan?" Katanya lagi.
Lagi-lagi aku hanya mendesis kesal.
"Lin, denger saya ya. Cinta itu kayak hukum kekekalan energi. Tau ga bunyi hukum kekekalan energi apa?" Tanyanya.
"Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Namun bisa diubah menjadi bentuk yang lain." Jawabku pelan.
"Ya, bener. Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Namun bisa diubah menjadi ke bentuk yang lain. Sama kaya cinta. Cinta itu ga bisa diciptain karna hakikatnya cinta itu sudah ada tanpa kita sadar jika kita pernah membuatnya. Cinta juga tak bisa dimusnahkan karna telaahnya cinta adalah keabadian yang sesungguhnya. Tapi, cinta bisa diubah ke bentuk yang lain. Seperti rasa cinta sebagai kekasih yang dialihkan menjadi perasaan antara kakak dan adik misalnya." Jawabnya tenang.
"Sulit memang, tapi saya akan mencoba Lin, saya ingin merubah perasaan ke kamu jadi perasaan kakak dan adik. So, boleh saya jadi kakak kamu?" Tanyanya tersenyum lembut.
Aku tak mampu berkata lagi. Hanya sebuah anggukan yang mampu ku berikan.
"Kakak bakal lanjut kemana?" Tanya ku setelah mampu mengatasi ke-terpana-an-ku.
"Kayaknya gua bakal lanjut ke luar Lin. Itu mimpi gua dari jaman SMP." Jawabnya.
Aku terbelalak, "gua?"
"Hahahah, udahlah, cape sok formal terus." Katanya tertawa.
"Maaf dan makasih kak." Sosor ku cepat.
Dia terdiam sebentar. "Sama-sama adik kecil."
Mata kami bertemu. Lalu seulas senyum tiba-tiba tercipta begitu saja.
"So, satu pelukan terakhir??" Tanyanya sambil merentangkan tangan.
Aku bingung, "untuk?"
"Ck, sebelum lo jadi milik orang lain dan sebelum gua take off ke negeri orang atau malah pelukan orang." Katanya. Dan langsung saja aku menghambur kedalam pelukannya yang hangat.