CHAPTER 18
Ini hari pertama ku sekolah dengan status mantan. Pertama kalinya seumur hidupku. Sedari tadi di perjalanan menuju sekolah, aku terus menghela napas dan mencoba untuk tenang. Mencoba untuk menganggap semua baik-baik saja. Padahal tidak.
Saat angkot biru itu berhenti tepat di depan gerbang sekolahku, aku turun dan dengan langkah berat, mau tidak mau, aku masuk ke dalam pagar berwarna hijau itu. Walaupun bisa dikatakan cukup pagi, ternyata sekolah sudah cukup ramai. Banyak siswa yang berseliweran di halaman. Tapi aku tak peduli. Pandanganku fokus ke satu titik. Titik di dekat tangga menuju perpustakaan. Titik dimana segerombolan laki-laki sedang duduk santai disana. Titik dimana anggota futsal sedang menunggu waktunya upacara. Titik yang harus ku lewati untuk sampai di kelasku.
Aku mencoba tenang dan dengan perlahan kaki kecil ku mulai melangkah maju. Tiap langkah membawaku mendekat ke titik itu. Tiap langkah menghapus jejak yang seharusnya ada. Tiap langkah, dan tak terasa aku sudah sejajar dengan mereka. Sontak aku menundukkan kepalaku.
Sebelumnya, aku bisa melihat beberapa mata menoleh ke arah ku. Tapi sejujurnya aku tak peduli dengan itu. Yang menjadi fokus pengamatanku adalah kedua sosok yang selalu saja mampir kedalam ingatan. Mereka duduk bersebelahan di tangga paling atas sambil memakai ear phone bersama dengan hentakan kaki yang sama tanda mereka menikmati lagu yang sama. Tapi ada yang berbeda, Kak Dani berbalik menatapku dan melayangkan senyum kecilnya. Sedangkan Kak Ardan, ia fokus ke benda canggih yang berada di genggaman tangannya.
Aku terus berlalu, dan langkah sepakat membawaku menjauh. Tak tau bagaimana, aku duduk di samping Riri dengan napas ngos-ngosan.
"Kamu kenapa Rin?" Tanya Riri heran sambil mengangkat wajahnya dari novel yang tengah ia baca.
"Gapapa." Jawabku singkat sambil menetralkan derak napas ku.
Tak terasa tanpa ku sadari, upacara telah ku lewati. Dan sekarang aku masih saja belum memulihkan debaran yang menggebu, padahal saat ini tepat di depan mataku ada seorang guru yang bernama Bu Desni sedang menerangkan pelajaran fisika. Okesip.
Aku terus berusaha konsentrasi, tapi hasilnya selalu saja nihil. Hanya bentuk tak beraturan yang tertangkap oleh kedua mataku.
"Lin!"
"Adlina!"
Sebuah teriakan yang sangat dekat rasanya membuatku sontak menoleh kaget. Tapi yang masuk di retinaku untuk pertama kalinya adalah wajah Riri. Huh, aku menghela napas lega. Ku pikir aku akan menjadi mangsa empuk untuk guru super disiplin itu.
"Kenapa Ri?" Tanyaku nyantai.
"Kamu yang kenapa Lin? Dari tadi aku panggil ga nyaut-nyaut. Kamu lagi ada masalah? Sini cerita!" Kata Riri dengan dahi mengernyit.
Aku berpikir sejenak sambil memperhatikan kelas yang tampak kosong. Rupanya sekarang sudah jam istirahat. Tak lama, aku kembali menoleh ke Riri. Tentu saja setelah memastikan bahwa pembicaraan yang akan ku mulai hanya dapat didengar oleh aku dan Riri.
"Aku putus sama Kak Dani Ri. Semalem aku putusin dia." Ujarku pelan sambil menatap Riri. Awalnya aku melihat gurat terkejut dari mata Riri, namun ekspresi itu hilang dalam sekejap digantikan dengan ekspresi super tenang.
"Kenapa?" Hanya itu yang keluar dari mulut Riri. Ya, hanya itu namun membuatku diam seribu bahasa.
"Karna Ardan?" Katanya lagi yang membuat mataku langsung membelalak menatapnya.
Riri menghela napas dalam sebelum berujar, "Aku pikir setelah kamu ngejalanin sama Kak Dani sedikit demi sedikit perasaan kamu ke Kak Ardan bakal hilang. Tapi dugaan ku salah ya Lin."
Aku masih diam tanpa tau mau berkata apa.
"Bukan salah kamu. Ga ada yang salah. Toh, hak kamu buat jatuh cinta. Ga ada yang bisa menghalangi itu." Kata Riri menenangkan.
Tiba-tiba sebuah pikiran melintas begitu saja tak memberikan otakku sinyal untuk menahan mulut ini mengucap terlalu jauh. "Kak Dani tau aku suka Kak Ardan."
Kali ini aku benar-benar melihat raut terkejut yang terpatri di wajah Riri. "Gila kamu Lin!" Desisnya pelan.
"Aku juga ga tau gimana Kak Dani tau. Aku juga kaget Ri pas dia bilang." Kataku pelan menatap lantai kelas yang dingin.
"Kamu masih suka sama Kak Ardan?" Tanya Riri.
Aku mengangguk.
"Bilang Lin! Jangan sampe kamu nyesel. Kamu udah ngorbanin orang yang sayang sama kamu demi Kak Ardan. Dan sekarang, kamu harus berjuang. Waktu ga bisa nunggu." Kata Riri.
"Aku takut Ri." Ucap ku lirih.
"Apa yang kamu takutin? Ditolak? Patah hati? Hahahah, kamu lupa ya? Jatuh cinta itu udah satu paket sama patah hati. Kalo kamu udah berani jatuh cinta, ya kamu harus siap buat yang namanya patah hati." Kata Riri.
"Gapapa Lin. Apapun hasil akhirnya nanti, itu urusan belakangan. Seenggaknya kamu udah nyoba. Seenggaknya kamu berusaha." Kata Riri lagi.
"Tapi Ri---"
"Lin, jatuh cinta itu di hadapkan dengan 2 keberanian. Berani jujur atau berani lihat dia sama orang lain."
Ucap Riri telak menghantam relungku yang paling dalam.
"Aku bakal bilang Ri. Tapi nanti, saat dia udah selesai dengan tumpukan soal UN." Ujarku mantap. Ya, aku hanya perlu mencoba. Hanya mencoba, dan semuanya akan menjadi lebih jelas. Dan tentu saja ku harap akan menjadi lebih baik.