#17

1535 Words
CHAPTER 17   Aku duduk termenung di teras depan rumah. Hari ini memang libur. Dan dengan santainya, aku memandang jajaran bunga-bunga milik ibu dan memperhatikannya secara seksama. Mengikuti kadar dari rasa yang ditawarkan oleh kelopak-kelopak mawar dan menikmati sayatan perih dari durinya. Menghirup dalam aroma melati sambil meruntuhkan daun-daunnya. Menatap rerumputan hijau dan mengikuti bulir embun yang mengalir dari pucuknya. Sambil menikmati secangkir teh pahit yang masih mengepul karna baru disiram oleh air mendidih. Rasa dingin ini menyelimutiku, membuat sedikit dari kulit ku memucat dan tulang-tulang ku bergemerisik. Dan sapuan angin subuh sedikit menerbangkan juntaian helai rambut dan membawanya menikmati belaian angin. Tak sampai disitu. Hembusan angin pun ikut menerbangkan mimpi-mimpi kecilku mengikuti kepak sayap kupu-kupu yang sejujurnya tak pernah membohongi bunganya. Mimpi-mimpi yang nyatanya jauh berbeda antara aku dengan kupu-kupu. Saat kupu-kupu itu mulai mengepakkan sayap rapuhnya, disini, aku harus menahan rasa dari kokohnya sebuah hati.  Saat kupu-kupu mulai terbang meninggalkan tanah, disini aku harus memijak kuat-kuat kenyataan yang ada.  Saat kupu-kupu mulai tinggi melayang bebas, disini aku harus mendekam diri menyadari sebuah kesalahan yang membawa penyesalan. Aku bertanya apa langit fajar, mengapa Tuhan menciptakan sebuah penyesalan datang saat belakangan? Penyesalan yang melahirkan sejuta keraguan tanpa ada sesikit pun penyesuaian. Mengapa Tuhan merangkai takdir yang harus diubah? Membuat sebuah pencapaian tak lagi ada artinya. Hingga mengapa Tuhan menciptakan rasa yang mempersulit semuanya? Rasa yang ada tanpa sambutan hangat dan justru malah membuat organ bernama hati semakin rapuh. Tak bisa kah Tuhan menyadarkan di awal bahwa cinta butuh keberanian?  Tak bisakah Tuhan menciptakan takdir yang seharusnya tanpa sebuah masalah? Atau, tak bisakah Tuhan mengahapus rasa yang tak seharusnya ada hingga mengantinya menjadi rasa tanpa luka? Lagi-lagi aku bertanya pada Tuhan melalui alam. Menanyakan jawaban atas sebuat penyataan. Bukan pertanyaan. Aku meraih cangkir teh panas ku dan menyesapnya perlahan. Menikmati panasnya didihan air di sela-sela lidah. Merasakan pahitnya teh hitam pekat nan kental merasuki tenggorokan yang akhirnya menciptakan sensai mual yang luar biasa rasanya. Tapi rasa teh pahit itu menyampaikan jutaan filosofi yang hanya ku tahu akan salah satunya. Teh itu berwarna cokelat pekat dan cukup kental sambil menggembungkan uap panas. Memikat siapapun yang melihatnya dalam udara dingin yang menyingkap darah. Aku tahu teh itu pasti pahit. Tapi aku tak pernah mencobanya. Jadi, mungkinkah jika rasa pahit itu hanya angan semu semata? Tentu saja. Karna aku sebenarnya tak tau apa rasanya. Itu hanya sekedar tebak-tebak berhadiah. Sama seperti cinta. Aku mengaggapnya sebuah kesakitan dan perih mendalam. Pasti. Aku yakin. Tapi apa aku tau rasanya padahal aku belum pernah mencoba rasanya. Aku terlalu takut untuk merasakan sensasinya yang jika saja ku coba belum tentu menyakitkan. Aku tak pernah berusaha merasakannya. Baik mencintai Kak Dani ataupun berterus terang ke Kak Ardan. Aku terlalu takut. Selama ini aku hanya diam di titik awal aku berdiri, berserah akan digiring kemana. Benar jika aku bilang bahwa aku adalah pengecut. "Alin!" Suara dari dalam menghancurkan pagi tenangku. Aku meraih kembali cangkir teh ku dan meminumnya cepat hingga habis. Hingga benar-benar habis menyisakan rasa kebas di lidah ku dan rasa mual yang mulai memberontak di lambungku. Aku hanya perlu berani. Seharusnya. "Iya ibu, sebentar." Aku membalas tautan ibu dan segera bangkit dari duduk ku. Pada saat yang sama, sebuah pesan masuk ke ponsel yang ada di genggamanku. Drrtt...drrttt From : Kak Dani. Nanti malem saya jemput ya jam 7? Aku memandang pesan itu tanpa rasa. Biasa saja bahkan segelintir senang pun tak ada. Malah, seperti beban. Belum apa-apa, orang yang ku sebut pacar malah membuat aku jengah sendiri dengan keadaan. *** Aku sedang tengkurap di tempat tidur nyamanku dengan sebuah buku terbuka di atasnya dan ponsel yang sedang memutarkan lagu-lagu. Aku terjebak dalam Malam Minggu yang indah. Jika saja Kak Dani tak menjemputku malam ini. Atau jika saja Kak Ardan yang menjemput ku mala mini. "Alin! Ini ada yang nyari!" Kan! Benar saja. Baru saja aku bilang, suara ibu sudah menginterupsi lamunan indahku. Aku bangkit dari tidurku dan menata diri di hadapan cermin. "Iya, aku turun!" Jawabku cukup kencang. Pasti Kak Dani yang menjemput ku. Aku buru-buru mengganti baju rumahan ku dengan celana jeans dan kaos tangan panjang warna putih serta merapikan ikatan rambutku. Mengambil sepasang flat shoes berwarna biru dongker dan tas selempang berwarna pink. Dan setelahnya aku turun. Dibawah, ibu sedang berbincang dengan Kak Dani. Sepertinya Kak Dani sedang meminta izin mengajakku keluar malam ini. Aku berdeham pelan. Membuat kedua pasang mata menoleh kepada ku. Senyum di bibir ibu terbit bersamaan dengan senyum di bibir Kak Dani. "Ayo Kak." Ujarku pelan mengajak Kak Dani. Kak Dani bangkit dan menyalimi ibu sambil sedikit berbasa-basi. Dan kami pun berangkat menuju entah kemana. Aku kira Kak Dani membawa mobil. Tapi ternyata dugaan ku salah, ia membawa sepeda motor besarnya yang berwarna putih. Kak Dani berpakaian tak jauh beda dengan ku. Celana jeans hitam dan kaos yang juga berwarna hitam. Ia memakai jaketnya dan menaiki motor besarnya. Menyalakan mesin yang berbunyi keras memekakan telinga. "Ayo naik, Lin!" Ujarnya sambil mengulurkan sebelah tangannya. Aku meraih tangan Kak Dani dan menjadikannya tumpuan untuk menaiki motor tinggi itu. Dan akhirnya motor itu melaju meninggalkan halaman rumahku. Aku memegang bahu Kak Dani untuk pegangan selama perjalanan. Agar aku tak jatuh. Keadaan jalan Kota Bogor malam ini cukup senggang. Lampu-lampu jalan menyala terang bersamaan dengan lampu kendaraan yang berlalu-lalang. Aku tersentak saat suara Kak Dani yang sedikit-sedikit terbawa angin terdengar oleh ku. "Jangan pegang bahu dong Lin! Kayak tukang ojek aja." Reflek aku melepaskan tanganku dari bahunya dan meletakannya di atas pahaku. "Maaf kak, ga sadar." Ujarku membalas ucapannya. Tapi tak ku sangka, Kak Dani meraih tanganku dengan sebelah tangannya dan meletakannya mepet di pingganya. Dan hal itu pun ia lakuan terhadap tangan yang lainnya. "Kode itu, Lin. Dingin. Gapapa ya kayak gini." Ujarnya sambil mengusap halus punggung tanganku. Sedangkan aku hanya terpaku di balik punggungnya. Akhirnya kami sampai di salah satu mal yang ada si kota Bogor. Ternyata Kak Dani berniat mengajakku nonton salah satu film yang sedang booming. Dan setelahnya kami makan. Dia yang bayar tentu saja. Sesaat setelah makanan datang, ponsel Kak Dani berbunyi tanda telepon masuk. "Halo.." "....." "Iya." "....." "Gue lagi ga di rumah." "....." "Lagi jalan sama Alin." Sekilas, Kak Dani tersenyum. "....." "Oke deh." "....." Dan Kak Dani pun memutuskan sambungannya. Mata kami bertemu dan sepertinya dia bisa membaca arti dari tatapan mataku. Sebenarnya aku juga enggan bertanya siapa yang barusan meneleponnya dan apa perihal orang itu menelepon. Namun, namanya juga wanita, paling tidak bisa menyembunyikan sebuah penasaran. "Dari Ardan. Ngajak futsal biasa.." katanya santai. Dan akhirnya kami melanjutkan makan. Sesaat aku berharap Kak Dani mengiyakan tawaran futsal dari Kak Ardan. Hal itu akan membuat semua lebih mudah. Bisa jadi aku akan diajak ikut sehingga aku bisa bertatap muka dengan Kak Ardan mala mini atau bisa juga dia mengantar ku pulang dan aku terbebas dari kepura-puraan untuk malam ini. Dan di detik yang sama, batin ku berteriak kencang sekali. Tentu saja hanya aku yang bisa mendengarnya. Ia berkata cukup. Kata yang menggetarkan ku hebat. Aku tak tau, tapi sepertinya ini waktunya. Waktu untuk aku menyelesaikan semua yang dengan serampangan aku mulai. Tak terasa waktu terus berlalu dan aku sudah kembali di depan rumah tercintaku. Aku sudah turun dari motor Kak Dani dan sedang berdiri gugup di depannya. Kak Dani pun sepertinya mengerti gerak tubuhku dan dia juga ikut diam di atas motornya. Aku menundukan kepalaku menatap kaki ku yang memijak tanah dibawahnya. "Kak.." ucap ku akhirnya. "Ya?" Jawab Kak Dani. "Emmm, saya mau kita sampe sini aja." Setelah kalimat itu meluncur dari mulutku, aku langsung memejamkan mata. Aku memang tak ada rasa dengannya, namun saat mengucap kalimat pisah, tetap saja sesak rasanya. Dia diam beberapa saat. Dan aku tetap menunduk. "Oke." Jawabnya menyentak hatiku. Dengan pelan dan berani, aku mengangkat kepalaku dan langsung bertatapan dengannya. Aku membuka mulutku. Tapi sedetik kemudian aku menutupnya lagi. "Gausah dipaksain Alin. Saya gapapa." Katanya membuat pertahanan ku runtuh begitu saja. Aku bingung. Aku lega saat mendengarnya rela melepasku. Tapi ada rasa sesak dan sesal yang meremas hatiku. Dan untuk pertama kalinya ada sebersit pertanyaan yang muncul di benak ku. ‘Mengapa aku tidak jatuh cinta dengan dia saja?’ "Saya....." ucapku terputus, "maaf." "Sepenuhnya saya sadar kalo rasa itu gak bisa dipaksa. Hati ga bisa dipaksa." Katanya menohok hatiku. "Makasih Kak. Sama minta maaf." Ujarku sesunggukan. Entah apa yang kutangisi. "Gapapa Alin. Udah ah jangan nangis. Saya jadi sedih kalo kamu nangis." Katanya. Aku mengatur napasku dan dengan berani aku mencoba menatap matanya yang tak terbaca namun masih tetap hangat. Bahkan di saat aku menyakitinya, dia masih tetap baik kepada ku. "Jodoh ga akan nyasar. Jodoh tau dimana rumahnya. Kalo kita emang jodoh, kita pasti akan ketemu lagi kak. Kalo kita jodoh, saya pasti akan kembali, Kak." Kataku mantap. Ku lihat dia menarik napasnya dan akhirnya tersenyum. "Kamu ga akan kembali." Katanya. "Ya, kamu ga akan kembali karna saya tidak pernah menjadi tempat kamu pulang. Saya tidak pernah menjadi rumah kamu barang sedetik pun." Katanya. Aku membisu dengan rasa yang tak tentu arah. "Saya tau, hati kamu bukan buat saya, tapi untuk sahabat saya." Dia melanjutkan. Membuat aku membatu begitu saja. "Hati kamu bukan untuk saya melainkan untuk Ardan." Ucap Dani telak. Dan tak tau bagaimana, motornya sudah menghilang ditikungan meninggalkan deru kencang yang masih terdengar hangat ditelingaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD