#16

2128 Words
CHAPTER 16 Hari ini aku akan ikut serta mendaki bersama Kak Dani dan tentu saja teman-teman yang lain. Aku mengecek semua perlengkapan yang ada. Sekiranya semua sudah lengkap, aku pun melangkah ke ruang tamu, di sana Kak Dani sedang menikmati secangkir teh hangat buatan ibu. "Ayo Kak, saya sudah siap." Kataku memecah keheningan. Kak Dani menoleh, ia tersenyum dan bangkit dari duduknya. "Cantik banget kamu dek.." katanya menggombali ku. Walau tak ada perasaan apa-apa, pipi ku tak bisa ku tahan untuk bersemu. Dia berjalan mendekat ke arah ku dan mengambil ransel yang cukup besar dari genggamanku. "Udah semua?"                                Aku mengangguk. "Yakin ga ada yg ketinggalan?" Aku mengangguk lagi. "Minum?" Aku mengangguk. "Baju ganti? Jaket? Selimut?" Aku mengangguk. "Pembalut?" Mataku membelalak mendengar ucapannya kali ini. Maksudnya apa menanyakan hal pribadi seperti itu. "Bisa aja kan kamu tiba-tiba datang bulan disana. Memangnya kamu mau buat pulau merah di celanamu?" Tanyanya logis. "Aku bawa kok kak. Emm, sekarang aku emang lagi dapet." Kataku sedikit malu. Kak Dani diam sebentar. "Gapapa emangnya kamu naik dengan keadaan kayak gitu?" "Gapapa kok kak. Tenang aja." Dia mengangguk singkat, "Yaudah ayo. Pamit dulu ke ibu mu." Setelah acara pamit-pamitan, aku pun langsung bergesas masuk ke dalam mobil Kak Dani, dan mobil pun berjalan membelah jalanan kota. *** Tenyata yang naik cukup banyak. Maklum lah sekarang long weekend. Setelah berdo'a, kami serombongan pun memulai perjalanan untuk menakluki Gunung Gede ini. Dalam perjalanan, kami berbaris membentuk satu banjar karna jalannya memang jalan setapak. Dengan perlahan, kami berjalan diselingi canda dan tawa. "DANIIIII" Ada panggilan dari depan untuk Kak Dani yang berjalan tepat di depanku. "OYYYYY" Jawabnya tak kalah lantang. "MAJU LO. KITA GA TAU TRACK!" Rombongan berhenti sejenak menunggu respon yang akan diberikan Kak Dani. Tapi bukannya maju, Kak Dani malah berbalik menghadapku dan melihat tepat di manik mataku. "Lin..." katanya sendu "saya ke depan ya." "Oke." Jawabku sambil mengangguk. "Maaf." Lanjutnya lagi. Aku berfikir. Maaf untuk apa? "Kenapa?" Tanya ku heran. "Saya ga bisa stay di samping kamu." Aku tertegun mendengar jawabannya. Sebegitu pedulinya ternyata Kak Dani kepada ku. Aku tersenyum menenangkannya. "Gapapa Kak. Disini juga rame." Dia membalas senyumanku dan mengalihkan pandangannya ke belakangku. "Ar, gue titip Alin ya. Kalo dia cape berhenti aja dulu. Lo hapal tracknya kan." "Oke. Dia aman sama gue." Aku langsung berbalik mendengar suara yang mengalun indah di telingaku. Jadi, yang sejak tadi ada di belakangku adalah Kak Ardan? Oh Tuhan, mengapa engkau tak memberitau dari tadi. Dengan tepukan ringan di puncak kepalaku, Kak Dani melangkah ke depan meninggalkan ku di paling belakang bersama Kak Ardan. Rasa bahagia membuncah begitu saja di d**a ku. Tolong maafkan sifat tidak tahu diri ku ini. Semakin lama kami berjalan, hawanya semakin dingin. Padahal dapat terlihat jelas jika matahari bersinar terang di atas sana. Sesekali aku menggosok lenganku berharap semoga kehangatan akan datang. Jarak antara aku dengan rombongan cukup jauh. Pertama, karna aku cepat capek jika berjalan jauh dan ini adalah perjalanan muncak pertama ku. Kedua, karna aku sudah lelah. Dan ketiga, aku ingin memanfaatkan suasana. "Ehhh." Ucapku kaget saat tak sengaja kaki ku tersandung akar pohon. Untung saja aku masih mampu menjaga keseimbangan ku. Setelahnya aku berhenti dan menarik napas dalam. Aku capek. Dan hebatnya, rasa sakit di perutku mulai datang karna tamu bulanan. Dan cuaca yang dingin menambah rasa sakit itu. "Capek?" Sesuatu yang hangat dan besar mencekal lenganku. Dan dalam sekejap, aku merasakan jutaan proton ikut mengalir ke dalam darahku dan mulai bereaksi dengan elektron tubuh ku sehingga terjadi gejolak yang dahsyat di dalam sana. Mataku bertemu dengan matanya. Mata yang sudah berubah menjadi lebih hangat. Bahkan sangat hangat melebihi sinar matahari di tata surya. Sangat berbeda dengan pancaran sinar saat aku ulang tahun yang begitu dingin dan tak terjangkau. Aku tak mengerti. Benar-benar tak mengerti kali ini. Bagaimana bisa sebuah tatapan mata bisa memiliki daya pikat begitu besarnya? Hey! Itu mata kan, bukan magnet? "Lumayan Kak." Jawabku terengah-engah antara lelah dan gugup setengah mati. Dia memandang ke sekeliling sebentar. Suasananya sudah sepi karna rombongan sudah berjalan terlebih dahulu dan orang-orang pun memilih melanjutkan perjalanan dari pada beristirahat di antara semak belukar dan pohon-pohon rimbun. "Yaudah istirahat aja dulu." Ucap Kak Ardan sambil menarikku menepi dan duduk di sebuah batu dekat pohon besar. Kami berdua mendudukan diri disana sambil memejamkan mata. Bahkan dalam kegelapan pun kehadiran Kak Ardan begitu bisa aku rasakan, ada getaran-getaran yang tak bisa aku sembunyikan. "Dingin gak Lin?" Aku membuka mata dan menoleh ke arah Kak Ardan yang tetap memejamkan matanya. Beberapa saat aku menatap wajah tenang itu dengan takjub. Ada bulir keringat yang mengembun di dahinya. Lalu aku menarik napas dan melepas pandangan darinya. Aku kembali ke posisi ku semula. Tapi tidak dengan mata terpejam. Aku fokus menatap tumbuhan hijau di depan mataku. Mengalihkan pandangan ku dari wajah Kak Ardan yang tak mau berhenti ditatap. "Lumayan kak." Keadaan kembali hening. Sesekali aku merobek-robek daun kering yang berguguran. Dan menaburnya ke atas tanah hitam. Aneh juga rasanya ketika pada akhirnya aku berhasil duduk di samping pujaan hati ku, tapi dengan status bahwa aku adalah pacar orang yang sialnya adalah sahabat dari orang yang saat ini duduk di sampung ku. Benar-benar aneh dan menjijikan untuk diri ku sendiri. "Lo baru sekali naik ya Lin?" Tanya Kak Adan yang tiba-tiba memecah keheningan yang ada. Dan lagi-lagi aku menoleh ke Kak Ardan yang masih tetap di posisinya. "Iya Kak." Jawab ku singkat karna aku ga tau mau jawab apa lagi. Ditambah detak jantungku yang belum netral dari tadi. Aku menghela napas perlahan berharap siksaan batin ini segera usai. "Udahan belom capeknya?" Tanya Kak Ardan kali ini sambil menatap manik mataku. Membuat aku harus menahan napas berharap benang merah jambu tak menguasai pipiku. Aku takut dia tau bahwa rasa ini selalu untuknya. Aku tak mau dia tau, apalagi dengan status ku yang saat ini adalah pacar sahabatnya. Aku tak mau dia memandangku jijik, aku tak mau dia menjauh. Sambil mencoba menciptakan suasana baru, sku buru-buru bangkit dan merapikan segala macam atribut di tubuhku. "Alin!" Tiba-tiba Kak Ardan berteriak panik. Aku menoleh kaget, "kenapa kak?" "Elo pendarahan?" Ekspresinya sulit ditebak. Entahlah. Melihat ekpresinya membuat ku ikut panik juga geli. "Pendarahan apa kak?" Kataku cepat. "Itu. Celana lo merah semua! Lo kenapa Lin?" Katanya panik. Senyum dan ekspresiku secara berangsur-angsur menghilang digantikan dengan wajah yang memucat. Membuat Kak Ardan menjadi makin panik sepertinya. "Alin lo kenapa?" Dia menyambar bahu ku dan mengguncangnya keras. "Kak..." ucapku lirih. "Kenapa?" tanyanya. Lagi-lagi dia menatap mata ku dalam-dalam. Namun, untuk kali ini aku sudah tak sempat untuk merona lagi. "Saya bocor." Setelahnya, aku langsung menundukan kepala ku dalam-dalam menahan malu di hadapan Kak Ardan. "Bocor? Bocor apaan Lin? Pembuluh darah di p****t lo bocor?" Katanya semakin menjadi-jadi. Aku mendecak pelan. "Bukan gitu Kak. Saya lagi datang bulan." "ELO MAU NGEBOHONGIN GUE YA! INI TUH MASIH SIANG! BELOM ADA BULAN ALIN! LO KENAPA SEBENERNYA?" Habis sudah sepertinya kesabaran Kak Ardan dan dengan lantangnya ia berteriak tepat di depan wajahku. Namun ia tak mampu meniadakan nada khawatirnya. Aku tak tau harus tertawa atau menangis mendengar kalimat polosnya. Ini benar Ardan yang aku suka bukan sih? "SAYA DATANG BULAN KAKAK! MENSTRUASI!" Balasku meneriakinya juga pada akhirnya. Keadaan yang lucu sekali menurut ku ketika dua orang anak SMA berlawanan jenis sedang memperdebatkan perihal menstruasi di tengah hutan yang sepi dan dingin. Setelah kalimat itu terlontar dari bibir ku, kita terdiam sebentar masih dengan posisi berdiri dan dia memegang bahuku erat. Rasanya detik berputar lama sekali seakan-akan sedang menertawai kebodohan kami. "Ohh, lo lagi dapet terus bocor?" Kata Kak Ardan akhirnya yang ku hadiahi anggukan singkat. "Dapet yang pake pembalut itu?" Tanyanya lagi yang membuatku benar-benar malu. "Iya kak." Dan aku mendengar helaan napasnya. "Alhamdulillah deh. Gue kira lo kenapa-napa." Ujar Kak Ardan sambil melepas kemeja biru dongkernya dan mengikat lengan kemejanya di pinggangku. "Di depan ada toilet umum. Kita jalan sebentar aja. Abis itu lo ganti disana." Kata Kak Ardan mengamankan ku dalam genggamannya dan aku hanya bisa berjalan terseret mengikuti langkahnya yang sebenarnya sangat pelan. Sesekali ibu jari Kak Ardan mengusap pelan punggung tangan ku. Memberikan desiran aneh sekaligus rasa aman yang menyenangkan. Aku tak tau, bahwa bocor di gunung bisa berubah menjelma hal yang sangat manis. Ini adalah bencana yang membawa berkah untuk ku. Ada detik-detik di mana aku banar-benar mengharapkan waktu berhenti di titik ini. Hanya ada aku, Kak Ardan, dan semesta yang sedang berbenah dengan caranya sendiri yang tak pernah diketahui. *** Tak terasa kami sudah sampai di puncak dan sudah bergabung kembali dengan rombongan. Rencana awal sebenarnya target kami sunset. Tapi karna aku dan Kak Ardan baru sampai sekitar jam tujuh-an, kami menunda pulang dan memilih untuk bermalam menunggu sunrise esok pagi. Saat ini kami sedang bersantai-santai. Ada yang bernyanyi, tertawa, pacaran, pokoknya banyak. Apalagi yang sampai di puncak malam ini bukan cuma rombongan kami tapi juga dari rombongan yang lain. Kulihat tadi Kak Dani sedang sibuk menyusun api unggun. Dan sepertinya memang cuma aku yang tak mempunyai kegiatan dan sendirian. Benar-benar sendirian. Derita anak biasa aja yang sok-sok-an ikut mendaki dengan anak-anak hits sekolah hanya dengan berbekal status pacar senior. Aku tak menyesal mengiyakan tawaran Kak Dani, apalagi dengan pemandangan seindah ini, tapi rasanya dibanding diasingkan, rebahan di kamar sembari mutualan di twitter terderngar jauh lebih baik. Dari pada bingung, aku memilih unduk duduk di salah satu bibir tebing landai yang cukup sepi namun memiliki pemandangan yang indah. Untungnya malam ini langit sangat cerah. Benar-benar cerah. Dari puncak Gunung Gede, aku bisa melihat hamparan bintang yang megah dan purnama yang mempesona. Dan dari puncak Gunung Gede, aku bisa melihat gumpalan awan yang melayang seperti permen kapas. Walau gelap, puncak Gede tak menghianati alamnya. Mungkin aku akan jatuh cinta dengan gunung. Entahlah… ada beberapa keindahan yang tak sampai hati aku rasakan. Hanya memanjakan mata dan mendapati kesenangan sesaat kemudian hilang lagi. Mungkin karna saat ini aku sedag berada di tempat yang tepat, tapi dengan orang yang salah. Atau bisa juga sebaliknya. Angin bertiup cukup kencang malam ini. Ditambah hawa dingin yang mampu menusuk tulang. Aku memeluk erat lutut ku dan merapatkan sweater yang ku pakai. Bodoh juga sih aku, di suhu sekitar 7 sampai 9 derajat celcius, aku hanya mengenakan selapis sweater dan setelan yang dari awal aku kenakan. Dalam hati aku bergumam bahwa keberadaan ku di sini tinggal menunggu hiportemia singgah. Memikirkan hal itu membuat aku geli sendiri dan tertawa pelan. Setelahnya, lagi-lagi aku memandang ke depan. Mengamati bulan, bintang, dan awan yang sedang bercengkrama dengan bahasa yang tak pernah aku tau. "Ngintipin siapa lo?" Tiba-tiba rumput di samping ku berkeresak. Sontak aku menoleh dan mendapati Kak Ardan sudah mengambil posisi yang sama sepertiku. "Ngintipin salah satu bintang yang lagi cemburu karna bulannya digoda sama bintang lain." Jawabku sekenanya. Jawaban yang benar-benar asal. Kak Ardan diam sebentar lalu mengikuti ku memandang langit. "Bintang yang lagi cemburu itu terlalu fokus sama bulan sampe-sampe dia ga sadar kalo dia lagi di perhatiin sama awan." Balasnya random. "Apaan deh kak.." Kata ku sambil tertawa. Dia ikut terkekeh pelan di samping ku. "Mendung banget muka lo? Kenapa?" Tanya Kak Ardan setelah menguasai tawanya. Aku menghela napas. "Saya ngerasa aneh aja kak disini. Bukan dunia saya banget." Jawabku dari hati terdalam yang mudah saja aku ceritakan kepada Kak Ardan. "Maksudnya?" "Gimana ya?" Ucap ku bingung menjelaskannya "saya ngerasa ga berharga aja. Semua sibuk sendiri." "Lin," Kata Kak Ardan membuka suara " Lo liat bulan di atas sana? Mungkin untuk dunia, bulan ga ada apa-apanya dibandingkan matahari. Tapi kayak apa kata lo tadi, bulan spesial buat bintang. Sama seperti bintang yang spesial buat awan. Dan ga ada satu pun dari bintang dan awan yang memuja matahari." Katanya. Lalu dia melanjutkan kalimatnya lagi, "Sama kayak lo. Buat dunia mungkin elo bukan siapa-siapa. Tapi bisa jadi buat seseorang, elo adalah dunianya." Jawaban Kak Ardan membuat ku melayang begitu saja. "Lo berharga buat keluarga lo. Buat temen-temen lo. Buat Dani." Katanya. "Lo juga berharga buat---" belum selesai Kak Ardan menyelesaikan kalimatnya, Kak Atha memanggilnya kencang. "ARDAN! SINI..." katanya. Kak Ardan menoleh sebentar ke arah ku. Tersenyum kecil. Dan akhirnya bangkit meninggalkan ku sendiri. Aku tau bulan berharga untuk bintang. Tapi harusnya aku tau, jika bulan selalu merindukan mataharinya. Harusnya aku sadar, masih ada awan yang rela aku pijak. Setidaknya sampai sebelum turun hujan. Tapi aku tak pernah tau kapan kah hujan akan turun. Semoga saja cepat. Karna aku tak tega terus memijak awan tanpa belas kasihan. Aku terlalu sibuk memandang bulan yang mampu memandang bintang lainnya yang ternyata bukan aku. Aku terlalu sibuk memandang bulan yang hidup karna mataharinya. Dan hal yang aku semogakan tak terjadi adalah, bahwa Kak Atha adalah matahari milik sang bulan. Matahari milik Kak Ardan. Dan aku hanyalah bintang tak tahu diri yang bebas memijak awan untuk mengejar bulan. Yang nyatanya merindukan matahari. Siapakan awan? Tentu saja, dia yang tak pernah kuharapkan sejak awal. Si sahabat bulan dan matahari.              
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD