#15

831 Words
CHAPTER 15 Aku berjalan lemah menuju rumah. Perasaan yang tadinya sehangat senja, kini hanya membekas luka. Luka yang masih segar dan mengucurkan banyak kebahagian. Menyisakan pedih yang cukup dalam. Harusnya aku tau. Harusnya aku tak berharap lebih. Karna aku pun juga tau saat harapan-harapan itu tak kunjung mendarat menjadi kenyataan, hanya akan ada sakit yang semakin lama semakin perih ku rasakan. Harusnya aku menyadari, bahwa disini hanya ada aku yang mencintanya. Bukan dia yang berbalas mencinta ku. Kini, tak ada artinya lagi seonggok kertas yang tersimpan rapi di atas meja belajar ku. Hanya berarti sama dengan onggokan kertas lainnya yang juga tersimpan di sekitar. Aku menelungkupkan kepala ku begitu saja. Masih dengan seragam. Masih dengan dasi yang menyimpul. Masih dengan rok sekolah. Secara perlahan namun pasti, air mata merembes dari sudut indra pengelihatanku. Dan kelopak air mata itu mulai menetes. Jatuh melewati pipi tanpa memberikan kesempatan untuk pergi. Sesak napas ku rasanya. Dengan lemah, tanganku terjulur ke arah kertas berwarna cokelat itu. Meraihnya dalam genggamanku. Dan akhirnya memutuskan untuk merobeknya. Lihat apa yang ku temukan. Puzzle. Puzzle yang masih tersusun acak dan berantakan. Tanpa ada surat pengantar apa-apa. Memang hanya isinya puzzle yang jika saja itu benar-benar dari Kak Ardan, akan lebih berharga berkali-kali lipat. Dengan tenaga sisa, aku mulai menggerakan jemari ini untuk menyusun satu demi satu kepingan random itu. Meletakannya di tempat yang seharusnya. Hingga makin lama bentuk dan wujudnya semakin jelas. Membentuk sebuah kata bertuliskan " I Love You to the Moon and Back " dengan background hamparan langit malam penuh dengan jutaan bintang. Aku memandanginya yang begitu sempurna. Menyimpan begitu banyak arti. Yang memang tak untuk dimengerti. Hanya untuk dirasakan saja. Tapi tak sepenuhnya utuh. Ada kira-kira 5 keping puzzel nya yang hilang. Atau sengaja tak diberikan. Atau entahlah, aku tak tau. Bagian kosong itu tepat berada di bagian tengah bawah yang seharusnya membentuk satu jejer. Sungguh aku tak peduli. Mau kosong, mau hilang, itu bukan urusan ku. Satu-satunya yang mampu masuk ke dalam pikiranku adalan kalimat yang terpampang, yang menjadi pusat dari puzzle itu "I Love You to the Moon and Back" Begitu bunyinya. Dan yang menjadi masalah adalah, aku tau apa artinya. Sama seperti aku tau seberapa dalam perasaan Kak Dani kepada ku. Sama halnya dengan seberapa jahat diriku terhadap Kak Dani. Beban yang berat untuk ku. *** Besoknya, mau tak mau, suka tak suka, aku kembali beraktivitas seperti biasa. Rutinitas yang sejujurnya sangat membosankan. Hanya itu-itu saja tanpa ada pengalaman yang baru.  "Aliiiiinnnnn...." teriakan cempreng itu membuat aku harus berbalik, di sana Riri berlari menyusulku. "Apaan deh Ri, pagi-pagi udah teriak-teriak." Kataku geli. "Ih Alin. Oh iya Lin, kemarin Kak Dani so sweet banget ya. Ihhh, pengen Lin!" Kata Riri membuatku mengingat kembali peristiwa kemarin. "Apaan sih Ri." Jawabku bete. "Lah, kok kamu malah bete sih? Orang mah dikasih kejutan kayak gitu seneng. Aku aja yang cuma liat ngefly." "Gausah dibahas Ri. Aku malu." Ucapku berbohong. Bukan malu sejujurnya, tapi aku masih sakit hati. Sedangkan Riri yang mendengar jawabanku hanya senyam-senyum. Tak terasa kami sudah sampai di kelas. Aku dan Riri langsung masuk dan duduk di kursi kami. Dan pelajaran pun di mulai. Hingga saat istirahat tiba, posisi ku masih tetap seperti awal tadi. Duduk dengan kaku sambil menimbang-nimbang akan cerita atau tidak ke Riri. Tapi belum bulat keputusanku, seseorang dengan enaknya sudah duduk di hadapanku sambil membalikan badannya. "Lin." Panggilnya membuat aku tersentak. "Iya Kak?" Tanyaku heran. Mengapa Kak Dani kesini. Ia tak pernah mengunjungiku ke kelas sebelumnya. Biasanya kita bertemu di kantin. "Emm, jadi tahun baru nanti, saya sama yang lainnya punya rencana mau mendaki ke Gunung Gede. Kamu mau ikut?" Kak Dani berucap takut-takut. Sedangkan aku masih mencoba mencerna apa yabg sebenarnya dimaksud oleh Kak Dani. "Emangnya gapapa Kak? Saya kan bukan siapa-siapa." Balasku pelan. "Lah, kamu kan pacar saya Lin." Katanya. Naik gunung? Siapa yang ga pengen. Tapi naik bareng basis? Harus pikir 2 kali ini mah. "Saya kan perempuan Kak." Kata ku tak kalah pelan dengan kalimat sebelumnya. "Ya memangnya kenapa kalo kamu perempuan?" "Saya takut kak." Ujar ku jujur. "Kan ada saya Lin. Saya akan jaga kamu." Katanya Kak Dani. Sepertinya dia benar-benar ingin aku ikut. "Bukan itu Kak maksud saya. Kan saya perempuan sedangkan Kakak dan anak-anak basis kan laki-laki. Saya takut." Jawabku sedikit bergetar. "Oalaaaaahh," sepertinya Kak Dani baru menangkap maksudku "ceweknya bukan cuma kamu kok. Ada banyak." Aku menghela napas. Jujur saja, aku juga ingin merasakan rasanya mendaki gunung. "Aku tanya ibu dulu Kak." Jawabku. "Oke sip. Nanti kabarin aja ya.." katanya seraya bangkit. "Saya ke kantin dulu Lin. Kamu mau ikut?" Tanyanya kembali. Melihat keadaan kelas yang kosong melompong, aku pun menganggukan kepala dan ikut bangkit. Kak Dani meraih tangan ku dan menggenggamnya. Tepat saat keluar dari kelas, kami langsung berpapasan dengan Kak Ardan. Kak Dani berbincang sebentar dengan Kak Ardan. Dan setelahnya aku dan Kak Dani berjalan duluan menuju kantin sedangkan Kak Ardan berjalan tepat dibelakangku. Andai saja,yang dibelakang itu Kak Dani. Sedangkan yang saat ini menggenggam tanganku adalah Kak Ardan. Andai saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD