CHAPTER 14
Kriiiingggggg....
Mata ku terbuka kaget mendengar dering alarm yang berbunyi begitu kerasnya dari ruang keluarga. Aneh. Biasanya alarm itu hanya berbunyi jika ada keluarga ku yang berulang tahun.
Aku langsung bangkit dan segera mengecek kalender. 29 November.
Oh ternyata, tepat 17 tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku menghirup okesigen secara langsung. 17 tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku menangis kencang menandakan kehidupan. Hari ini, aku genap berusia 17 tahun.
Senyum ku merekah begitu saja. Berbeda rasanya ulang tahun kali ini dengan ulang tahun biasanya. Menginjak angka 17, aku merasa sesuatu yang dulu terpendam mulai terbangun. Aku merasa lebih menjadi diri ku sendiri. Aku merasa lebih dewasa. Padahal belum ada yang aku lakukan di umur 17 tahun ini selain bangun tidur dan tersenyum. Lucunya hahhaha…
Aku melempar pandangan ke benda persegi dengan lampu kecil yang berkelap-kelip, menandakan ada pesan atau beberapa pesan yang belum ku buka.
From : Kak Ardan.
Selamat hari brojol ya Alin... :)
Senyum ku semakin merekah. Aku yang tadinya berniat untuk mandi, langsung saja membatalkan niat tersebut. Sambil duduk bersila di tempat tidur, aku mulai membalas pesan cantik itu.
To : Kak Ardan.
Iya kak makasih. Kok kakak tau sekarang saya ulang tahun? Oh ya, kado jangan lupa ya kak.. ;)
Setelah pesan itu benar-benar terkirim, aku menatap ponsel itu penuh harap. Dan benar saja, tak sampai satu menit ponsel itu kembali berbunyi.
From : Kak Ardan.
Taulah, insting.
Ok, ntar kadonya gue anterin ke kelas lo..
Aku mengulang untuk membaca kalimat itu. Rasanya merinding.
To : Kak Ardan.
Bener ya kak nanti anterin kadonya ke kelas.
Entah mahkluk apa yang menguasaiku, aku berani sekali mengirim pesan seperti itu.
From : Kak Ardan.
Janji Alin.
Gue mau mandi.
Sampe ketemu di sekolah.
Aku kesemsem sendiri membacanya. Dan setelahnya, aku memutuskan untuk mandi tanpa membalas pesan terakhir dari Kak Ardan.
***
Gelap langsung saja mengambil alih cahaya yang tadinya masuk ke dalam bola mataku. Aku terkejut tentu saja. Pasalnya, aku baru saja melangkah menuju koridor menuju kelas ku sehabis dari kantin dan tiba-tiba saja ada yang menutup mataku dari belakang. Aku hanya terpaku di tempat ku semula tanpa melakukan perlawanan apapun. Aku terlalu takut.
"Happy Birthday my girlfriend."
Sebuah suara terdengar kencang tepat di belakang ku. Dan dalam sekejap saja kata "cieee" menggema di sepenjuru koridor. Aku tau siapa dia.
Tangan yang menutup mata ku begitu saja terlepas, digantikan dengan sebuah kue ulang tahun ukuran sedang dengan lilin angka satu dan tujuh yang menyala. Namun fokusku tak kesana, melainkan ke orang yang membawa kue itu di hadapan ku. Orang yang tadinya menutup kepalaku. Senyumnya mengembang jelas diwajahnya.
"Semoga tambah pinter. Tambah baik. Tambah cantik. Tambah sayang sama ortu. Tambah rezekinya. Tambah sehat. Dan yang paling penting, tambah sayang sama aku." Kak Dani tersenyum lebar saat mengucapkan wish-nya untuk ku.
"Yeeee, itu mah maunya elo di sayang-sayang sama Alin." Kepala Kak Dani di toyor begitu saja oleh Kak Ardan yang berdiri tepat disampingnya.
Sedangkan aku, aku hanya diam sambil tersenyum. Tersenyum senang, tersenyum malu, juga tersenyum miris karna kami telah menjadi pusat perhatian.
"Makasih ya kak untuk kejutannya." Ucap ku tulus dari lubuk hati.
"Sama-sama Alin cantik kesayangannya Dani." Ucap Kak Ardan sambil memasang tampang jijik yang membuat aku tertawa.
Terlebih saat Kak Dani menyikutnya, "Gombalin aja terus cewek orang. Bentar lagi ditikung nih gua sama Ardan!"
Kak Ardan hanya melirik Kak Dani tanpa minat, "Bacot Dani. Gua tikung beneran tau rasa!"
Dalam hati, aku mengamini ucapan Kak Ardan barusan.
Lalu tatapan Kak Ardan beralih kepada ku. "Selamat ulang tahun ya Lin. Wishnya yang baik-baik aja. PU jangan lupa."
"Najis Ardan miskin. Waktu mereka jadian, mintain PJ. Alin ultah, minta PU. Entar mereka putus juga mintain pajak kali ya.." jujur, ucapan Kak Levi terdengar sangat kejam di telingaku. Rasanya, sampai aku ingin menangis tak kuat menahan tawa ku.
"Pengen kerja di kator pajak kali ntar kalo udah lulus." Ucap Kak Adam.
"Ck, udah ah gua disini di bully mulu. Gua cabut duluan dah, mau nabung dulu buat masa depan.. Sekali lagi habede ya.." Dan Kak Ardan pergi bersama senyumnya sambil sesekali memegangi perutnya.
Sepeninggalan Kak Ardan, aku kembali fokus ke Kak Dani. Aku merasa jahat disini. Harusnya aku tak menyakiti orang sebaik Kak Dani. Tapi nasi sudah menjadi bubur bukan? Dan tak akan bisa menjadi nasi lagi.
"Lin, ikut saya sebentar yuk." Ucap Kak Dani yang tangannya sudah bebas karna kue yang tadi dia bawa sudah di alikan kepada Kak Adam.
"Mau kemana Kak?" Tanyaku penasaran.
"Udah ayuk ikut aja." Kak Dani kekeh.
"Tapi Kak, kan sebentar lagi masuk." Oh Kak Dani, jangan harap aku mau membolos pelajaran bersamamu. Tapi kalo sama Kak Ardan mah mau...
"Selow, hari ini guru rapat buat kembes." Katanya meyakinkan. Dan setelahnya, aku sudah mengikuti Kak Dani yang berjalan di depan ku sambil menggandeng tangan ku. Ternyata ia membawa ku ke koridor timur di lantai 2.
"Kak, kita mau ngapain? Sepi banget disini." Ucap ku sedikit parno.
"Bentar." Kak Dani melepaskan genggaman tangannya dan mengeluarkan kunci dari saku celananya untuk membuka satu-satunya ruangan yang ada disana. Ruang musik.
"Ayo masuk."
Setelah berada di dalam, aku dipersilakan duduk oleh Kak Dani di salah satu kursi yang tersedia. Sedangkan Kak Dani malah beranjak ke atas panggung dan mengambil sebuah gitar accoustic.
Dan sebuah melodi mengalun begitu saja membentuk sebuah nada dari lagu Jason Mraz yang berjudul I'm Yours.
Aku tersenyum lembut memandang Kak Dani di atas panggung sana. Kau tau apa yang ada di pikiran ku? Aku. Berharap. Kak. Ardan. Yang. Ada. Di. Atas. Sana. Dan. Aku. Masih. Memikirkan. Kado. Yang. Akan. Diberikan. Oleh. Kak. Ardan.
Aku. Jahat.
"Lin, maaf saya ga bisa kasih apa-apa ke kamu." Ucapnya. "Maaf saya cuma bisa ngasih ini. Kita baru pacaran dalam hitungan minggu. Jujur, ketika saya nembak kamu, saya Cuma modal nekat. Saya nggak tau apa yang kamu suka, saya nggak tau apa-apa tentang kamu. Tapi saat ini saya berharap kamu suka dengan apa yang saya kasih. Dan harapan saya yang paling besar di hari special kamu, saya harap kamu selalu bahagia." Kak Dani tersenyum kepada ku.
"Adlina Syahla, selamat ulang tahun. Saya sayang kamu." Ucapnya di akhir kalimat.
Dan Kak Dani beranjak mendekati ku. Tersenyum. Dan mengacak rambutku pelan.
"Aku keluar duluan ya. Nanti kamu nyusul aja. Takut fitnah kalo kita keluar barengan."
Aku yang masih tergugu hanya mampu menganggukan kepala. Dan membiarkan Kak Dani melewati ku. Entah mengapa, setetes cairan bening benar-benar mengalir keluar dari mataku. Aku mungkin tak menyukainya sama sekali. Tapi aku tak bisa bohong, perlakuannya kali ini benar-benar indah.
"Kak.." Ucap ku tanpa persiapan, kata itu terucap di luar batas kesadaran ku. Aku berbalik dan mendapati Kak Dani tengah memandaku dengan alis bertaut.
"Terima kasih untuk semuanya. Ini ulang tahun paling berkesan untuk saya. Kakak romantis." Ujar ku tak sepenuhnya berbohong.
Sedangkan ia tengah terkekeh di sana dan menganggukan kepalanya. Lalu berbalik dan pergi meninggalkan ku sendiri. Aku sibuk mengatur desah napas ku dan detak jantung ku. Aku harus menyelesaikannya secepat mungkin. Aku tak bisa membuat Kak Dani lebih sakit dari ini. Karna tanpa kurang 0,1% persen pun, perasaan ku tetap untuk untuk Kak Ardan. Jahat sekali aku. Bahkan, diri ku sendiri saja menar-benar menghardik apa yang aku lakukan. bagaimana dia? Bagaimana jika dia tau bahwa perasaan ku selama ini hanya untuk sahabatnya? Bagaimana? Dia pasti akan sangat membenci ku. Sekedar kalimat pedas atau tatapam sinis atau bahkan sebuah tamparan pun aku rasa tak cukup. Aku benar-benar pantas untuk dibenci oleh orang sebaik Kak Dani.
Sepeninggalan Kak Dani, aku berusaha keras untuk menenangkan diri. Pelan-pelan menghapus semua rasa bersalah yang menumpuk di dasar hati ku. Setelah sekiranya aku sudah tenang, aku bangkit dari duduk ku dan berjalan meninggalkan ruang musik. Sesampainya aku di kelas, aku dihadapkan oleh ruang kelas yang sudah kosong melompong. Bahkan Riri sudah pulang. Ternyata benar apa kata Kak Dani tadi. Langsung saja aku membereskan perlengkapan ku yang tinggal satu-satunya di dalam kelas dan bergegas keluar.
Tapi, ada sesuatu yang menahan ku. Saat aku keluar dari pintu, di sana, Kak Ardan sedang berjalan menuju ke arah ku sambil memegang sebuah kado. Seketika, perasaan bersalah yang mati-matian aku tekan sedari tadi hilang begitu saja. Tergantikan dengan euphoria yang sangat luar biasa.
Senyum ku terbit begitu saja. Kak Ardan menepati janjinya.
Saat dia sudah sampai di depan ku, ia langsung saja menyodorkan kadonya.
"Buat lo." Katanya begitu.
Aku menerimanya dengan senang hati. Ada yang bergejolak di dalam perut ku hingga menjalar mengantarkan hangat ke hati ku dan sedikit menyenggol jantung ku membuat detaknya semakin kencang dan cepat. Hari ini aku sangat bahagia lebih dari siapapun. Sangking senangnya, bahkan aku lupa bagaimana cara bernapas.
"Makasih ya Kak. Saya kira kakak bercanda doang. Harusnya kakak ga usah repot-rep---" ucapan ku terpotong olehnya.
"Dari Dani." Dan dia berbalik pergi.
Kini, aku lupa bagaimana caranya tersenyum.