Chapter 13

1247 Words
CHAPTER 13 Waktu terus saja berlalu tanpa memberikan kesempatan kepada ku untuk menarik napas dan mengenyahkan segala ketidakwarasan yang sudah menjadi rutinitasku setiap hari. Rutinitasku yang selalu berpura-pura. Kadang aku perpikir, ini akan sampai kapan? Sampai kapan aku aan menjadi seorang antagonis dalam kisah hidup ku sendiri? Dengan langkah lemah, aku memasuki gerbang sekolah. Tempat yang menjadi saksi bisu kegelisahan hati ku. Tiap malam angan ku hanya berlari kepada hal-hal yang aku sendiri tak mengerti. Malas rasanya otak ku memerintah kaki ini terus melangkah ke dalam. Masuk ke dunia dimana aku berperan sebagai sosok yang selalu ingin aku enyahkan. Bahkan di beberapa kesempatan, aku merasa amat membenci diri ku sendiri. Langkah demi langkah aku tapaki. Sesekali debu sisa semalam mengepul saat kaki ini menjejak kasar. Terus saja aku melamun. Persetan dengan keadaan sekitar. Belakangan ini aku menyadari aku tumbuh menjadi gadis yang keras kepala dengan tingkat keegoisan yang menjadi lebih tinggi. Ego ku memberontak dengan brutal. "TIIIINNNNNNN!!!" Reflek aku menyingkir dari jalur ku. Bukan salahnya. Nyatanya memang aku yang salah dengan berjalan tak tau arah. Dia berhak membunyikan klakson sekencang itu.  Klakson yang terdengar begitu kencang itu membuat aku menoleh dan menatap orang yang membunyikannya. Pemiliknya tersenyum samar kepada ku dan langsung bergegas menuju parkiran motor siswa. Sambil melangkah, aku masih bisa melihat kegiatannya. Mulai dari mematikan mesin motor. Membuka helm. Melepas jaket. Dan saat ia melangkah ke dalam gedung sekolah, aku sampai di sampingnya. Tempat yang aku harap milik ku, yang nyatanya bukan. Kak Ardan menoleh kepada ku dan tersenyum. "Selamat pagi Alin…" Suara khasnya memecah keheningan. "Pagi kak." Balas ku pelan dengan senyum. Jantung ku berdegup kencang. Rasanya tengah terjadi badai dasyat di dalam sana. Hanya karna ucapan selamat pagi darinya. "Btw, lo belom ngasih PJ ya ke gue." Katanya membuka diskusi pagi ku. Aku menatapnya bingung. "Pj apa kak?" Ia terkekeh sebentar sebelum menjawab, "Pajak jadian lo sama Dani lah. Pelit banget njir. Dani ga ngasih. Masa lo ga ngasih juga sih?!" Raut wajah Kak Ardan berubah menjadi kesal. Aku tertawa. "Duh, duit saya dikit, Kak. Pas-pas-an. Hehehe." Aku masih diam dengan senyum sambil memperhatikan raut wajahnya. Aku senang saat melihat perubahan ekpresinya. Kalau saja aku punya doraemon, aku akan meminta alat yang bisa merekan dan menyimpan ekspresi seseorang tanpa ketahuan. "Pagi-pagi udah malak lo!" ucap suara yang ku kenal dan tiba-tiba saja sebuah lengan sudah melingkar sempurna di bahuku. Langsung saja aku terlonjak kaget. Pasalnya, rangkulan itu begitu dekat dan erat. Bahkan, wangi parfumnya tercium oleh ku. Sontak saja aku merona di tempat. "Ck, dasar pahlawan kesiangan." Kak Ardan berdecak sebal. "Pangeran berkuda poni lu udah dateng tuh Lin. Kapan-kapan aja deh PJ nya." Katanya sebal. Aku tertawa pelan ditempat. Tawa penuh air mata. Bagaimana sih rasanya saat orang yang kamu suka merestui hubungan mu dengan sahabatnya. Menyesakkan. Sakit sekal rasanya. Itu artinya dia sama sekali tidak suka dengan ku. Dia tak pernah punya rasa. Aku tak munafik. Aku berharap Kak Ardan cemburu karna aku berpacaran dengan Kak Dani. Namun, itu hanyalah angan merah jambu ku saja. "Dasar pasangan medit. Awas aja ntar kalo gue punya pacar, ga bakal gua kasih lo PJ se biji kuaci pun. k*****t!" Umpatnya kepada Kak Dani. Selepas kalimat itu meluncur dari bibir merah Kak Ardan, pikiran ku langsung terbang entah kemana. Kira-kira siapa ya yang akan menjadi pacar Kak Ardan? Apakah dia akan lebih cantik dari ku? Akankah ia lebih baik dari ku? Akankah ia selalu lebih dari aku? Aku jadi sesak sendiri memikirkannya. "Elah Ar, so gaya banget lo. Paling balikan lagi sama mantan terindah lo itu." Kak Dani mengejek Kak Ardan terang-terangan. Lalu aku ingat dengan mantannya yang memiliki masalah dalam mengendalikan emosi itu. Sumpah, aku benar-benar tak rela jika pada akhirnya Kak Ardan akan kembali ke dalam pelukan mantannya yang aneh itu. "Eh t*i lo ya. Ga ada dalam kamus idup gua yang namanya balikan sama mantan. Apalagi mantannya kayak begitu. Najis." Aku tertawa geli mendengar penuturannya. Setidaknya aku tau jika ia sudah tak punya rasa apa-apa dengan mantannya itu. Kak Dani tertawa ringan. "Udah ah, gue mau nganterin tuan putri dulu ke kelasnya." Rangkulan Kak Dani terlepas dan digantikan dengan genggaman hangat di jemari ku. Genggaman itu hangat. Namun aku yakin akan jadi lebih hangat jika jemari ku berada di tangan yang tepat. "Duluan Ar." Katanya sambil menuntun ku ke kelas. Aku tersenyum. Membayangkan jika di samping ku adalah Davi Ramadhan. Bukan Ramdani Pratama. Biarkan, untuk sekarang saja, aku merasakan keajaiban dari sebuah ekspetasi yang walaupun akhirnya tak seindah realita. Biarkan aku menikmatinya. Sebentar saja. Karena rasa ingin ini sudah melampaui batas kemampuannya untuk menahan. Aku hilang arah dalam genggam yang tak seharusnya jadi milik ku. *** "Ri, ke kantin yuk. Aku laper." Ujarku pelan saat jam pelajaran kedua selesai. "Lin, aku lagi nyatet buat bahan ujian nanti. Kalo ditinggal..., kamu kayak ga tau anak kelas aja. Bisa raib catetan aku." Katanyabtak kalah pelan dengan bisikan ku tadi. "Yah Riri. Masa aku ke kantin sendiri? Jam segini kantin kan lagi penuh-penuhnya. Aku takut Ri.." Aku mencoba memelas di hadapan Riri. Kali aja dia jadi berubah pikiran dan mau mengantarku. "Apa sih yang kamu takutin? Inget Lin, kan kamu pacarnya Kak Dani. Kalo mereka rese, ya tinggal bilang aja ke Kak Dani. Kamu gimana sih..." "Ish Riri, mana berani aku ngadu-ngadu ke Kak Dani." Jawab ku sambil meringis. Riri menghela napas pasrah. Sepertinya trik ku berhasil. "Lin, kamu kan udah gede. Udah mau 17 tahun. Jadi sendiri aja, oke? Oke." Hah, dia yang bertanya dia juga yang menjawab. "Yaudah. Aku titip-titip ya.." Dan aku pun bangkit sendirian. Sepanjang koridor menuju kantin, banyak mata yang melihat ku. Kali ini berbeda dengan biasanya. Kali ini mereka memperhatikan ku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Padahal biasanya mereka hanya menganggap ku angin lalu. Samar-samar aku masih mampu mendengar bisik-bisik mereka. "Eh, itu yang namanya Alin?" "Eh, itu pacarnya si Dani?" "Dani yang fams itu?" "Ih, cantik sih. Mungil gitu." "Paling numpang fams doang dia pacaran ama Dani." "Keliatannya polos yah.." "Ga pernah liat gua. Baru kali ini gua liat dia." "Kok Dani mau ya?" Dan macam-macam lagi. Ini yang aku takutkan. Gosip itu mudah sekali menyebar. Seperti bensin yang disiram ke api. Mendengarnya, aku hanya meringis ngeri. Akan beda cerita seandainya yang digosipkan dengan ku adalah dia yang memang aku inginkan. Saat aku sampai di kantin, aku langsung saja mengarah ke stand makanan. Tapi apa daya, makanannya sudah pada habis. Ludes tak tersisa. Helaan napas panjang terdengar dari mulutku. Dengan kepala tertunduk pun aku melangkah keluar. Tapi ada seseorang yang mencegat ku, persis di depan ku. Aku mendongakkan kepala. "Kenapa?" Tanya nya halus. "Eh Kakak, saya gapapa kak." "Kok balik lagi? Ga jadi beli makanan?" Aku tersenyum miris. "Udah habis semua kak makanannya." "Laper?" Tanyanya bodoh. "Iya." Jawab ku juga dengan anggukan untuk meyakinkan. Kak Dani merogoh kantong celananya, dan setelahnya ia mengeluarkan sebungkus roti. "Nih dimakan." Kak Dani menyodorkan rotinya kepada ku. "Beneran kak?" Tanya ku yang dibalas dengan anggukan oleh nya. Aku merogoh saku ku, mengambil uang ku. "Berapa Kak harganya?" Tanya ku. "Yaelah Lin. Udah makan aja. Ga usah bayar." "Tapi kak, kan belinya pake uang kakak." Jawabku kekeh. "Berapa kak harganya?" Tanyaku lagi. "Gausah Alin. Aku ikhlas." "Tapi kak---" Bibir ku terbungkam saat aku merasakan kecupan mendadak di pipi ku. Mata ku membola kaget. Kak Dani mencium pipi ku di hadapan banyak orang. Di kantin saat istirahat. Di depan siswa siswi sekolah ini. Di depan gerombolannya yang terkekeh di pojok kantin. "Makan." Ucapnya. Sedangkan aku masih membatu. Aku kaget. Dani s****n!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD