Chapter 12

1261 Words
CHAPTER 12 Aku duduk termenung menatap jendela dengan tetesan air hujan yang mengguyur tanah Bogor dengan begitu derasnya. Udara terasa dingin menelisik kedalam raga ku hingga menyerempet hati ku. Suasana ini pas sekali sepertinya dengan perasaan ku yang sedang kalut. Bodoh! Memang bodoh si Alin ini. Bisa-bisanya aku berpacaran dengan sahabat dari orang yang aku suka. Dimana otak ku saat menganggukan kepala tadi?! Tak pernah terbayang, bahkan di pikiran terliar ku. Hari ini, aku dan Kak Dani resmi berpacaran. Padahal aku sukanya sama Kak Ardan. Sahabat Kak Dani. Sepertinya, semesta tengah menyusun rangkaian cerita. Cerita yang entah mengapa sepertinya akan memiliki akhir yang buruk. Aku berjalan ke arah kasur ku yang nyaman. Mendudukan diri disana dan kembali diam. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku bingung. Semuanya terasa terlalu mendadak. Terlalu asing. Dan terlalu berbahaya. Rasa-rasanya aku sedang bertaruh dengan hati ku sendiri. Aku seperti sedang menciptakan suatu permainan yang bahkan aku tak tau itu permainan apa. Aku ada di posisi yang aku rasa belum pernah aku lalui. Hingga getaran ponsel di nakas menghentikan lamunanku. Lampu kecil di ponsel ku berkelip-kelip. Sebuah notifikasi masuk. Dan sepertinya aku sudah tau dari siapa. Yang jelas tak mungkin dari Kak Ardan. From : Kak Dani. Lin... Aku menatap ponsel itu. Namanya sudah berubah. Ya, sekarang seorang kakak kelas yang akan selalu mengirimi ku pesan setiap malam bukan Ardan lagi melainkan Dani. Sahabat Ardan. Lucu sekali, Lin. Iya kak? Sent. From : Kak Dani. Lagi ngapain? :)   Ga ngapa-ngapain sih Sent. From : Kak Dani. Oh. Aku ganggu ga?   Engga kak. Emangnya kenapa? Sent. From : Kak Dani. Gapapa. Takut aja gitu kalo aku ganggu kamu. Hehehe. Aku bingung harus membalas apa. Jadi ya sudah, aku hanya membaca pesan itu tanpa niat untuk membalasnya. From : Kak Dani. Kok ga dibales Lin? Sibuk ya?   Engga kok kak. Saya cuma bingung aja mau bales apa. Sent. From : Kak Dani. Oalah, kirain sibuk. Atau engga kamu males chat sama aku.   Engga lah kak :) Sent. Rasa chat nya anyep. Beda banget kalo chatnya sama Kak Ardan. Apapun topiknya pasti menarik. Sedangkan dengan Kak Dani, semuanya jadi terasa kaku, ngebosenin, dan bikin males. Seharusnya aku merasa bersalah, tapi aku tak bisa. Aku benar-benar tak merasakan apapun sejak sepulang sekolah tadi. Mungkin kamu bertanya-tanya mengapa aku mau menerima Kak Dani. Aku tak menyukainya. Aku tak menyayanginya. Apalagi sampai mencintainya. Namun, ketika tadi kau melihat Kak Ardan yang seakan-akan menyuruhku menerima Kak Dani untuk menjadi pacar ku, otak ku benar-benar tergerak untuk memenuhu keinginannya. Dan untuk poin tambahan, setidaknya dengan Kak Dani, aku bisa melihat Kak Ardan sertiap hari. Itu pun sudah cukup. Jahat bukan? Seorang gadis yang introvert, yang tak dikenal, yang biasa saja. Yang tidak ada apa-apanya dengan banyak perempuan lain, berani-beraninya mempermainkan hati seorang kakak kelas yang menjadi pujaan banyak cewek di sekolah. Entah aku ini jahat atau bodoh. *** Bel pulang sekolah terdengar membelah rintik air mata awan yang meresapi tanah Ibu Pertiwi. Riri masih belum masuk sekolah. Meninggalkan ku yang sendirian di sudut. Seperti teman-teman ku yang lain, aku membereskan buku-buku ku dan menunggu. Kebiasaan ku dengan Riri, selalu berjalan keluar kelas saat kelas dan koridor sudah sepi. Sekitar 10 menit sejak bel pulang terdengar, aku baru bangkit dari duduk ku dan melangkah pelan keluar kelas. "Lama banget keluarnya. Ada tugas yang belum selesai?" Suara berat itu menginterupsi langkah ku. Aku menoleh ke samping dan wajah tampan Kak Dani masuk ke indra pengelihatan ku. Reflek aku menggeleng. "Enggak Kak, cuma males aja keluar kalo masih rame. Jadi tunggu sepi dulu." Kata ku menjelaskan. Wah, aku benar-benar tak menyangka akan ditunggu seperti ini. Bayangkan saja, aku membuat seorang anak hits seperti Kak Dani membuang waktunya yangberharga hanya untuk menunggu ku. Luas biasa sekali aku ini. Luar biasa tak tau diri. "Oh, yaudah ayuk pulang." Kata Kak Dani kepada ku dan mulai melangkah. Sementara aku tergugu di tempat. Maksudnya apa? Mungkin Kak Dani menyadari bahwa aku masih diam. Dia pun berbalik dan mengulur kan tangannya. Dengan ragu, tangan ku pun ikut terjulur dan dalam sepersekian detik, tangan mungilku sudah aman di dalam genggaman Kak Dani. Dan kami melewati koridor sambil bersisian. Saat sudah sampai di koridor depan lapangan, hujan turun dengan derasnya. Padahal tinggal menyebrang dan sampai di parkiran. "Yah Lin, ujannya gede banget. Payung aku di mobil." Ujar Kak Dani terlihat lemas. "Kakak bawa mobil?" Tanya ku bingung. Aneh saja rasanya anak SMA bawa mobil. "Iya. Aduh Lin, gimana ya?" Kak Dani terlihat kecewa dan merasa bersalah. "Gapapa kok Kak. Kita tunggu aja sampe hujannya reda." Kata ku mencoba menenangkan. Kak Dani menatap mataku, "Maaf ya aku buat kamu nunggu." Mendengar perkataannya, aku hanya dapat membalas dengan senyum manis. Untuk pertama kalinya ada sebersit perasaan bersalah yang hinggap di d**a ku. Mungkin ini yang namanya ketika tulus dibalas dengan modus. Andai saja merubah perasaan semudah membalik telapak tangan. Andai saja. Tak lama setelah itu, gerombolan basis berjalan dari koridor ujung. Seketika suasana yang tadinya hening menjadi ramai. "Iya dah yang baru jadian ama pacar mulu. Kita mah apa atuh, cuma pelarian jikalau galau mendera..." Kak Levi berteriak dari kerumunan. Seketika saja Kak Dani menoleh dan terkekeh. "Ngapa Dan? Ga langsung balik?" Sela Kak Ardan diantara tawa yang ramai. Seketika fokus ku langsung terpaku padanya. Kehadirannya membuat rasa bersalah itu menguap entah kemana dan membuat rasa tak tau diri ku kembali naik ke permukaan. "Lupa bawa payung njir. Ga mungkin kan gua bawa nih bocah nerobos ujan." Ucap Kak Dani sembari menepuk pelan kepala ku. Pipiku terasa panas akan perlakuannya. Bukan, bukan karna aku suka. Namun, memang sudah kodrat perempuan kan ketika diperlakukan dengan manis, pipinya akan bersemu terlepas dari suka atau tidak dia kepada orang yang memperlakukannya. Itu yang terjadi pada ku. Aku lihat Kak Ardan mengangguk paham dan berjalan menjauh dan berlawanan arah. Bisa dibilang, Kak Ardan masuk kembali ke dalam sekolah. Ingin rasanya aku menyusul Kak Ardan, tapi aku sadar. Pacar ku Kak Dani. Bukan Kak Ardan. Dan aku hanya mampu terus berdiri di samping Kak Dani yang sesekali bergurau dengan teman-temannya. Suara gerabakan terdengar dari jauh. Seperti ada orang yang berlari kencang sekali, dan dalam hitungan detik sosok Kak Ardan sudah muncul sambil ngos-ngosan. "Lu ngapa Ar?" Kak Dani mengernyitkan keningnya. Ku lihat Kak Ardan berusaha mengatur napasnya. Bulir keringat menetesi seragamnya yang sudah berantakan. "Anjiiir, tadi gua ke toilet. Terus pas gua cebok, mamang-mamang tukang bersih-bersih yang baru itu masuk. Dia pipis di samping gua, tapi ngeliatin punya gua. Taii, ngeri parah. Yaudah gua buru-buru lah langsung ngibrit ke sini. Takut diapa-apain gue." Kak Ardan menjelaskan diikuti dengan mimik wajahnya yang berubah-ubah. Wajahnya terlihat lucu di mataku. Sedangkan tawa langsung pecah. "Eh Dan, gua bawa payung nih. Lu pake dah." Kak Ardan melempar payung lipat biru dongker yang langsung diraih oleh Kak Dani. "Thank's Ar.." Balas Kak Dani sambil nyengir dan membuka payung. Refleks aku bertanya, "Nanti Kak Ardan pake apa kalo payungnya dipake saya dan Kak Dani?" Dia yang tadi sedang mengobrol langsung menoleh ke arah ku. "Nyante elah. Lagian gua bawa motor, basah-basah juga endingnya." Kata Kak Ardan sambil mengeluarkan bola dari dalam tasnya dan menendang kencang bola itu ke arah lapangan. Kak Ardan menembus hujan dan mulai bermain dengan bolanya. Diikuti oleh Kak Adam, Kak Levi, dan yang lainnya. "Lagian gue mager pake payung. Kek banci!" Perkataan Kak Ardan seolah mengejek Kak Dani. Aku menoleh ke Kak Dani yang tertawa sambil mengacungkan jari tengahnya. "Gua duluan ya." Teriak Kak Dani membelah hujan. "Ayo Lin." Ujar Kak Dani merangkul bahu ku dan menuntunku melawan hujan. Dari kejauhan, masih dapat ku dengar suara tawa Kak Ardan yang merdu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD