Chapter 11

988 Words
CHAPTER 11 Kak Ardan benar-benar sudah tak mengirimiku pesan apa-apa lagi. Membuat hari ku yang tadinya suntuk menjadi tambah suntuk. Setidaknya, sms darinya merupakan semangat yang besar bagiku. Namun sekarang, sudah tak ada lagi dia yang mengirimi ku pesan tiap malam. Benar-benar tak ada terhitung dari libur panjang. Terkadang aku berpikir apa aku membuat kesalahan hingga dia menjauhi ku? Namun, sedetik kemudian aku sadar bahwa sejak awal dia memang tak pernah mendekati ku. Jadi, mau sebodoh apapun perlakuan ku terhadapnya, itu tak akan berpengaruh banyak. Toh, memangnya dari awal siapa yang mau menyukai cewek yang nggak ada bagus-bagusnya seperti ku ini? Sekarang sudah jam pulang sekokah. Aku berjalan ke arah loker ku untuk meletakan buku-buku ku yang berat. Dan di pintu loker, aku menemukan sebuah sticky note yang tertempel disana. Saya tunggu kamu di depan perpustakaan. - D -                 D? Siapa D? Inisial namanya kah? Aku mengerutkan dahi ku tanda berpikir keras. D? Siapa yang namanya berawal dari D? Pikiranku sibuk memutar nama orang yang ku kenal dengan awalan huruf D. siapa sih? Sedikit ada takut dan khawatir di hati ku. Bagaimana jika orang itu berniat jahat? Bagaimana jika ini merupakan bagian dari surat kaleng? Namun, hal itu tak berlangsung lama ketika nama seseorang berhasil memenuhi pikiranku. Senyum manis merekah di bibir ku. Entah mengapa namanya muncul di list pertamaku. Mungkinkah? Mungkinkah Davi Ramadhan? Dengan langkah gesit, buru-buru aku berjalan menuju perpustakaan. Bahkan sangking semangatnya, aku sampai berlari-lari kecil. Segala sesuatu yang aku lewati tak ku hiraukan. Tujuan utama ku sudah jelas; perpustakaan. Rasanya lambat sekali, entah kenapa perpustakaan terasa amat jauh hari ini. Setelah perjalanan yang terasa amat lama, aku sampai di perpustakaan yang nyatanya tak sampai 5 menit. Aku sudah sampai di depan perpustakaan yang sepi. Bahkan tak ada orang. Setelah ku pikir-pikir, memangnya siapa yang mau ke perpustakaan setelah jam pulang sekolah seperti ini? Yang ada semua murid ingin cepat-cepat pulang dan sampai di rumah untuk rebahan. Aku memperhatikan sekeliling mencari-cari keberadaan dia yang mengirimiku sticky note. Tapi tak nampak satu orang pun. Aku pun melepaskan pandangan ke arah lapangan di bawah sana. Dan disana, aku melihat pangeran berkuda putih ku sedang berjalan. Dia tampak melawan arah dari sisa-sisa murid yang berjalan ke gerbang. Dari kejauhan pun dia terlihat sangat menawan. Virus cinta ini sudah merusak akal sehatku. Entah sudah berapa detik aku memandangnta, tapi sulit sekali mengalihkan tatapanku dari sosoknya yang sudah lama mendekam di sudut hati ku yang paling dalam. Mataku sudah terfokus kepadanya. Hingga Kak Ardan mendongak dan mataku bertatapan dengannya. Awalnya aku takut karna kepergok memandanginya. Namun, rasa takut ku seketika berubah menjadi salah tingkah saat ia memberikan senyuman mautnya kepada ku yang tanpa mengaca pun aku tau aku sudah merona. Ia terus berjalan dan mulai menaiki tangga. Aku menolehkan kepala ku ke arah tangga bermaksud menunggunya. Namun sungguh dikejutkan, wajah Kak Dani masuk ke indra pengelihatan ku. Bahkan berjarak sangat dekat dengan ku. Kami hanya berjarak 2 langkah biasa. Entah sejak kapan dia berdiri di sana, aku tak tau. Aku benar-benar tak mendengar suara langkah kaki atau orang mnedekat. Aku rasa, aku terlalu focus dengan Kak Ardan sehingga lupa dengan segala hal yang ada di sekelilingku. Refleks aku langsung bertanya, "Kak Dani yang ngirim pesan di loker saya?" Dan dengan senyum merekah aku melihat anggukan antusias darinya. Tepat saat itu, Kak Ardan muncul dari tangga. Dan berdiam diri disana. Otak ku berdesing keras. Mulai menyabungkan hal-hal tak masuk akal yang aku alami hari ini. Mungkinkan? D untuk seorang Dani? Tapi kenapa buka Davi? Jadi, D itu Dani. Entah mengapa aku merasa kecewa yang amat sangat. Aku kembali mengalihkan pandangan ku ke Kak Dani yang masih tersenyum ramah kepada ku. "Ada apa kakak suruh saya kesini?" Tanya ku langsung. Dia mengacak rambutnya sebentar. Ini benar atau hanya pengelihatan ku saja, sepertinya Kak Dani gugup. Bahkan sangat gugup. "Ada yang mau saya omongin sama kamu." Katanya memulai pembicaraan. "Apa?" aku benar-benar langsung reflek menjawab tanpa memperdulikan lagi tentag sopan santun. Aku hanya… tak menyangka. Ia menghela napasnya. "Saya suka sama kamu. Terhitung dari insiden bola basket hingga insiden ibu kantin penjual roti. Saya sering memperhatikan kamu. Mulai dari gugupnya kamu, salah tingkahnya kamu, takutnya kamu, dan masih banyak lagi. Saya suka nama kamu. Sama seperti saya suka kamu. Saya tertarik dengan kamu, Alin." Aku diam bak terpaku di tempat. Aku tak tau apa yang ku rasakan. Aneh. Rasa ini asing untuk ku. Hingga rasanya aliran darah ku tersumbat. Detak jantung ku terhenti. Dan napas ku hilang dalam beberapa detik. Ini apa sih? Kok aku nggak mengerti. Dia lagi mau nembak aku atau gimana? Hahaha… nggak lucu sama sekali. "Boleh saya masuk ke hati kamu dan jadi orang yang spesial untuk kamu?" Ucap Kak Dani final. Aku bingung. Apa yang harus ku perbuat. Aku tak tau harus mengiyakan atau menolak. Kak Dani baik. Tapi aku sukanya sama Kak Ardan. Orang yang saat ini tengah berjalan mendekat ke arah ku dan Kak Dani. Orang yang sejak tadi terdiam di puncak tangga, orang yang sejak tadi berjarak 20 langkah dari tempat ku berdiri saat ini. Orang yang aku harap ada di hadapan ku menggantikan posisi Kak Dani. Lalu, entah bagaimana karena otak ku yang sedang lemot lemot-nya, tangan Kak Ardan sudah merangkul Kak Dani akrab. Senyum manisnya terlihat. Bahkan ia terlihat sangat senang. Dan ia sempat terkekeh geli. "Terima aja Lin. Dani bae kok. Gua yang jamin." Ucap Kak Ardan sambil menepuk pelan bahu Kak Dani. Sedangkan Kak Dani tertawa tulus. "Tapi kak---" Aku tergugup di tempat. Aku tak tau harus bagaimana. "Lin, tolong. Kamu yang pertama untuk saya." Kak Dani membuka suara yang terdengar sangat mengharap. Aku menatap matanya, terlihat keyakinan disana. Mata ku beralih ke arah Kak Ardan. Menatap matanya yang seolah menyuruh ku menganggukan kepala. Hingga akhirnya aku mengangguk pelan. Dan entah bagaimana, aku sudah berada di dalam dekapan Kak Dani yang tengah tertawa dengan Davi Ramadhan di sampingnya. Aku ingin dia, bukan seseorang yang sedang memeluk ku saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD