CHAPTER 10
Tak terasa sekarang aku sudah kelas 11. Libur panjang terasa sangat singkat. Hingga hari ini aku kembali melakukan aktivitas ku seperti biasanya.
Libur panjang yang membosankan. Karna selama libur panjang itu, tak ada satu pun pesan dari dia yang selalu ku tunggu. Tak ada pesan dari Kak Ardan. Sepertinya benar, disini aku terlalu berharap banyak. Padahal aku tau jika Kak Ardan berinteraksi dengan ku hanya untuk bertanggung jawab atas kejadian buruk itu. Tak lebih.
Harusnya aku tau, kesenangan-kesenangan yang aku rasakan kemarin hanyalah jeda sesaat. Keberuntunganku mungkin sedang overload. Dan sekarang, semua tampaknya telah kembali seperti biasa lagi. Bahkan mungkin si kakak kelas yang aku sukai teramat sangat itu sudah melupakan perwujudanku, si anak nggak terkenal yang sok-sokan geer merasa disukai kaka kelas tenar. Duh, Alin, kok bisa-bisanya sih kamu jadi b**o gini hanya karna sebuah j a t u h c i n t a ?
Untuk kesekian kalinya dalam hidupku, aku kembali menekuni rutinitas yang amat membosankan. Gitu-gitu aja, nggak ada seru-serunya. Bangun. Mandi. Pake baju. Sholat Subuh. Ambil tas. Sarapan. Pake sepatu. Berangkat ke sekolah. Belajar. Pulang. Makan siang. Sholat Dzuhur. Baca novel. Mandi. Sholat Asar. Nonton TV. Sholat Maghrib. Belajar. Sholat Isya. Baca novel. Tidur. Dan akhirnya bangun lagi. Terus aja. Nggak berhenti sampai akhirnya nanti aku yang dengan sendiri akan menghentikannya. Sebuah siklus yang aku tau dimana ujungnya.
Sekarang aku sedang berjalan menuju kantin. Tak tau kenapa, rasanya perutku meronta minta diisi. Padahal biasanya tidak. Sejujurnya aku sangat malas ke kantin. Karna yang biasanya ke kantin itu orang-orang supel. Bukan orang tak terlihat sepertiku. Apalagi aku ke kantin sendiri tanpa Riri. Hari ini Riri tak masuk sekolah karna ada acara keluarga.
Kurang introvert apa aku? Ke kantin sendirian ketika jam istirahat. Andai saja aku membawa bekal pada hari ini. Andai saja perutku tak meronta minta diisi. Andai saja Riri masuk sekolah hari ini. Andai saja kantin tak ramai. Dan masih banyak andai saj ayang aku rutuki di dalam hati. Kenapa gitu dengan rasa tak bersalah, kaki ku terus saja melaju semakinmmendekati putas kegiatan siswa di jam istirahat alias kantin? Setelah pergulatan panjang di dalam hati tentang keadaan yang sangat menyebalkan, aku tiba-tiba saja Judah sampai di tempat yang menjadi tujuan ku selama beberapa detik terakhir.
Baru satu langkah aku memasuki kantin, hiruk pikuk kebisingan langsung memenuhi indra pendengaranku. Segala macam bentuk suara terdengar. Mulai dari jerit histeris hingga bisik-bisik gosip. Semuanya ada. Gerombolan cewek-cewek yang tak aku kenal. Kumpulan adik kelas yang sedang curi-curi pandang. Anak kelas 12 yang merasa kantin punya angkatan sendiri. Wajah-wajah surge yang sedang berkumpul. Ibu-ibu dan bapak-bapak penjual yang sedang melayani. Dan yang pasti, di tempat seperti biasa, gerombolan ‘basis’ sudah mengambil bagian atas penuhnya kantin hari ini. Terkadang aku bingung, kenapa ya ada saat-saat dimana Tuhan menjadi sedikit tak adil. Kok bisa anak nakal slengean punya muka ganteng nggak ketolongan gitu? Hatiku penuh dengan rasa iri. Andai aku secantik dan seterkenal kak Atha.
Tak ambil pusing lama, aku memutarkan pandanganku. Bingung mau makan apa. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli roti. Karena hal itu, aku harus mendatangi stand yang menjual berbagai macam roti. Namun sayangnya, stand roti itu adanya di bagian pojok kantin. Tempat anak-anak basis menikmati jam istirahatnya.
Niatnya aku ingin pergi saja meninggalkan kantin. Namun apa daya dengan perutku yang memberontak minta diisi. Jadilah aku secara perlahan berjalan menuju stand roti.
Dari kejauhan aku memperhatikan kumpulan anak basis itu. Ada wajah-wajah baru dari kelas 10. Ada teman seangkatanku dari kelas 11. Ada juga kakak kelas 12 seperti Kak Levi, Kak Adam, dan Kak Dani. Tapi, tak ada Kak Ardan disitu.
Aku sampai di stand roti itu dengan selamat. "Ibu..." ucap ku pelan awalnya. Aku risih dipelototi oleh para lelaki di belakangku.
Pernah tidak kalian para perempuan ada di tempat dimana hanya kalian yang menjadi perempuan sementara orang-orang di sekitar kalian adalah laki-laki. Sungguh risih rasanya. Detik itu juga aku benar-benar menyesal telah mendatangi kantin sendirian siang ini. Rasa-rasnaya, aku berharap tiba-tiba bumi membelah dan menelanku dalam-dalam. Atau jika tidak, aku ingin memiliki kekuatan flash agar bisa menghilang dengan cepat dari tempatku berdiri.
Aku memanggil ibu penjualnya lagi, tapi tetap tak datang-datang. Mungkin ibunya sedang pergi ke stand yang lain dan sedang mengobrol dengan penjual yang lain. Aku juga tidak tau. Tapi sungguh, ibu yang menjual tak muncul-muncul. Mungkin beliau tak mendengar. Mau tak mau aku mengencangkan suaraku.
"Ibu.." ucap ku lebih keras. Tiba-tiba saja ada badan tegap yang sudah berdiri di sampingku. Aku mendongak untuk melihat wajahnya karna dia memang lebih tinggi dari ku. Dan tanpa ku sangka-sangka, di sana berdiri Kak Dani. Tepat disampingku.
Aku tersenyum kecil dan langsung memalingkan wajahku.
"Suara kamu terlalu kecil. Ga bakal denger ibu penjualnya." Kata Kak Dani. Lalu, ia berteriak kencang hingga ibu-ibu penjual roti datang tergopoh- gopoh. Aku segera memilih roti ku dan membayarnya.
Dengan gugup aku mengucapkan terima kasih kepada Kak Dani.
"Kamu yang waktu itu luka gara-gara Ardan kan?" Tanyanya sebelum aku berbalik.
"Iya Kak." Jawabku seadanya. Lalu selebihnya diam. Dengan inisiatif ku, aku pun pamit dan berbalik. Namun suara Kak Dani menghentikan langkah ku.
"Nama kamu siapa?"
Aku menoleh dan menjawab, "Alin kak."
Aku melihat Kak Dani mengangguk samar sebagai isyarat kalau aku sudah boleh pergi.
Sebelum aku benar-benar pergi, aku masih dapat mendengar gumamannya yang cukup keras.
"Nama yang cantik. Sama kayak orangnya."
Aku mempercepat langkahku menuju kelas. Semoga telingaku sedang tak beres. Semoga saja…