Bagian 10 : MAIN KE RUMAH ABIMA

1264 Words
Bagian 10 : MAIN KE RUMAH ABIMA . . . Tiga bulan setelah menjalani masa pertemanan dengan Diara, Bima lebih sering masuk kelas dan tidak ada laporan pem -bully- an masuk ke data catatan siswa oleh guru BP. Tapi sayangnya, hanya Bima yang mampu berteman dengan Diara. Teman - teman Bima tidak seperti dirinya. Bahkan pertanyaan - pertanyaan dari mereka membuat Bima jengah. 'Kenapa lo berubah ?'  'Lo yakin mau temenan sama dia ?' 'Kapan lagi kita nge bully ?' 'Lo suka sama Diara ?' 'Lo mau jadi orang baik ?' 'Lo kenapa sih, Bim ?' 'Lo berhenti ?' Semua pertanyaan seperti itu dari temannya, Bima tak acuhkan. Bahkan Bima tidak sering berkumpul dengan mereka lagi. Bukan Diara yang meminta. Tapi itu murni dari keinginan Bima sendiri. "Di, pulang sekolah sibuk ga ?" Tanya Bima saat duduk di samping Diara mengerjakan tugas kelompok. Diara menggeleng, "engga, kenapa ?" "Jadi, adek gue minta gue buat bawa lo ketemu dia. Katanya sih pengen belajar beladiri gitu sama lo," kata Bima lagi. "Beladiri apaan elah ? Gue mah berantem bebas anjir," jawab Diara dengan kekehannya. "Ya abis, dia ngerengek terus gitu. Kan gue risih dengernya." Diara menatap Bima yang sedang menuliskan jawaban yang di berikan oleh Diara beberapa menit yang lalu, "okey. Ade lo mau gue ajarin jurus apa ?" Kegiatan menulis Bima terhenti ketika mendengar kalimat terakhir dari Diara. Lalu matanya menangkap Diara yang tersenyum jahil. "Jurus Gege terbang ?" Tanya Bima. "Elah bawa - bawa nama gue ya lo," sahut Gege yang tidak jauh dari Diara dan Bima. "s****n, dia denger lagi," ucap Bima pelan bermaksud untuk dirinya sendiri. "Gue denger b**o," kata Gege lagi melepar gumpalan kertas kearah Bima. "Eh si tikus, suara gue pelan aja kedenger. Telinga -" "Emang lo pikir gue budeg ?" Bima dan Diara terkekeh pelan mendengar sumpah serampah yang di berikan Gege untuk Bima. "Lo lagian jail amat sih," kata Diara setelah menyelesaikan tugasnya. "Siapa yang mulai ? Lu kali. Pake nanya ke gue mau diajarin jurus apa." Diara melirik pekerjaan Bima yang hampir selesai, "lah, gue mah ga nyebut nama orang anjir. Lu aja tuh yang gitu." *** Bima dan Diara sampai di rumah Bima. Sebelumnya, Bima bertanya dulu pada Diara perihal kesembuhan dan keadaan luka Diara. Diara memakai plester luka di pipinya. Bima yakin itu adalah luka goresan pisau kemarin. Diara menjawab dengan tenang dan membuat Bima gemas melihatnya. "Gue ga selemah itu, Bim." Setelah itu, Bima masuk ke rumahnya di ikuti Diara dari belakang. Rumahnya besar tapi keadannya sepi dan dingin. Tidak sehangat keluarga harmonis yang sesungguhnya. "Mama kayaknya belom pulang dari Bandung deh, si Renny paling di kamarnya noh. Stalking mantannya," kata Bima melihat keadaan rumahnya. Diara mengangguk, "ya udah sih. Sana ganti baju. Sekalian panggil Renny ke sini," kata Diara. "Kagak ah. Renny nanti gue WA aja. Biar turun. Males gue. Cape naek turun tangga," ujar Bima sambil mendudukkan tubuhnya di sofa depan televisi. "Sini duduk," kata Bima menepuk sofa di sampingnya yang kosong. Diara mengikutinya dan duduk di samping Bima yang sedang mengetikkan pesan Whats App untuk Renny. "ABANG IHHH !!" jerit Renny dari lantai atas. "APAAN SIH ?!" Bima tidak kalah menjerit dari samping Diara. Diara terkekeh kecil, "enak ya punya sodara," katanya pelan membuat Bima yang tadi tertawa menatap Diara. "Lo ga punya sodara emang ?" Diara diam, "ada, sodara tiri," kata Diara langsung mengalihkan pandangan ke  arah Renny yang turun dari tangga. "Ini beneran kakak yang waktu itu ?" Kata Renny yang menuruni tangga dengan tergesa untuk menghampiri Diara. Diara terkekeh, "eh hati - hati turunnya elah," kata Diara yang melihat Renny yang tergesa menghampirinya. "Hehe, gimana kabar kakak ? Lukanya sembuh ‘kan ? Kakak kenapa sih nolongin aku ? Kakak aku mau jadi kakak deh, belajar beladiri gitu. Terus kakak belajar di mana ? Kakak punya guru -" "Elah itu bibir," sahut Bima memotong omongan Renny sambil melayangkan gebukan kecil di lengan Renny, "satu - satu kali. Gue pusing dengernya anjir." Renny memberenggut membuat Diara terkekeh pelan lalu menggelengkan kepalanya sedikit. "Gapapa sih Bim, kayak ketemu fans gue, asli." "Tuh kan bang, gapapa elah," kata Renny menjulurkan lidahnya untuk mengejek abangnya. "Lah dia kalo di belain ngelunjak, Di. Jangan sering - sering ya ?" Diara mengangguk kecil lalu menoleh kepada Renny lagi. Keduanya duduk bersebelahan. Sementara Bima duduk di kursi satu orang. Menonton tv yang isinya berita semua. Bosan mengganti - ganti chanel TV yang ga karuan, Bima berinisiatif buat mandi. Sebelumnya, dia izin pada Diara juga Renny yang hanya diangguki oleh Diara. Mereka asyik mengobrol sampai lupa ada dirinya yang berada di dekat mereka. Sumpah serampah berkeluaran dari mulut Bima melihat kotak tempatnya menaruh kaset film koleksinya berantakan. "Kerjaannya si Renny pasti, film apa nih yang ilang ?" Kata Bima bermonolog sambil membereskan kotak filmnya. Bima teringat untuk melihat jadwal film bioskop, kali aja si Diara mau dia ajak nonton. Dua bulan mengenal Diara, sangat jarang bahkan belom pernah dirinya hanya berduaan dengan Diara. Itu perlu ? Perlu menurut Bima. Karena ‘kan, Bima ingin tau semuanya tentang Diara. Kenapa ? Entah tidak ada alasan apapun yang dapat Bima temukan menyangkut Diara.  "Bang, kak Diara udah mau pulang noh," kata Renny dari luar kamar mandinya. "Bentaran gitu, gue belom beres mandi," jawab Bima. "Dia udah pergi deh kayaknya," perkataan Renny membuat Bima dengan secepat kilat membilas badannya "Udah pergi ?" Tanyanya saat sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk dipinggangnya. "Iya, dia di telpon orang," jawab Renny, "pake baju dulu ah sana," kata Renny keluar dari kamar Bima "Gagal deh rencana nonton barengnya," gumam Bima . * * * "Kok lo tiba - tiba pulang sih ?" Suara Bima memecah keheningan malam itu. Dirinya tengah berada di balkon rumahnya setelah menyantap makan malamnya bersama keluarga.  Keluarga lengkap lebih tepatnya. Bima masih menunggu jawaban dari si penerima telepon. 'Ya sori deh. Tadi gue di telepon Bara, dia -' "Bara ? Siapa ?" Tanya Bima cepat.  Terdengar helaan nafas dari sebrang telepon, 'abang tiri gue. Lo nyerobot aja kaya angkot mau nyuri penumpang," sahut Diara  . "Apaan elah, gue di samain sama angkot," Bima ikut terkekeh ketika mendengar kekehan dari sebrang telepon, "tadinya gue mau ngajak lo nonton gitu, Di." 'Nonton apaan dah ? Di bioskop ?' "Ya iya, nonton film di bioskop. Gue baru mau pesen tiket pas abis mandi. Eh taunya, lo pulang duluan," ucap Bima meneguk kopi instan yang sedari tadi dia genggam. 'Kapan - kapan aja deh ya. Lagian gue ga terlalu suka film,' Diara memberikan sedikit nada tawanya disela perkataanya tadi. "Iya. Tapi janji ya lo, harus ikut." 'Iya Abim. Udahan dulu deh ya, gue ada janji sama Bara,' kata Diara mengakhiri teleponnya. "Buset ni cewek minta di panggang apa ya ? Belum selesai ngomong juga. Mana maen matiin sepihak. Gue kan yang nelpon dia. Lah dia matiin gitu aja ? Bara ? Gue baru tau kakak tirinya cowok." Bima misuh - misuh di tempat menyumpahi ponselnya yang sedang ia pegang. "Kak Diara itu unik ya, Bang ?" "Buju buset. Setan dari mana elah. Ada suara kagak ada orang," kaget Bima.  "ABANG IH ! Gue doang ini mah bukan setan," kata Renny di belakang Bima.  "Si b**o, muncul kayak hantu aja si lo. Sejak kapan lo di sana ?" "Tadi ? Barusan ? Apa bedanya sih bang. Sama aja pan ?" Balas sengit dari Renny.  "Sama apaan ? Lo tadi denger gue teleponan sama Diara?" "Jelaslah, gue rekam muka lo yang senyum - senyum gitu pas denger suara kak Diara. Geli anjir," kata Renny mengeluarkan ponselnya. "Lah lu - " sebelum Bima membereskan bicaranya, Renny berlari keluar, "si anjir, kagak gue kasih makan sebulan tau rasa lu kutil !"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD