Bagian 9 : PANGGILAN KHUSUS UNTUK DIARA DARI ABIMANYU

1065 Words
Bagian 9 : PANGGILAN KHUSUS UNTUK DIARA DARI ABIMANYU . . . Diara sedikit kaget saat ada yang mencekal tangannya. Rasanya de javu. Dia pernah seperti ini. Ucapan dari lelaki itu memang terdengar, tapi dirinya tidak menjawab apa - apa. Diara mendongkakkan kepalanya lalu entah kenapa Diata bernafas lega saat melihat Bima di depannya. Suara panggilan untuk Bima terdengar saat Diara merasakan sakit di bagian pinggangnya. Dengan tangan kanan yang dipegangi oleh Bima dan tangan kirinya yang meremas lukanya Diara menggigit bibir bawahnya menahan erangan.  "Jagain adek lo yang bener, lo abangnya 'kan ya ?" Ujar Diara berusaha sebiasa mungkin untuk berbicara. "Gue duluan," tambah Diara melepaskan pegangannya dari cekalan Bima. Saat mengantar Gege pulang, Diara ditahan untuk menginap di rumah Gege. Tapi Diara menolak untuk menginap dengan alasan akan mengunjungi ibunya di rumah sakit. Sebenarnya, Diara berbohong. Iya. Dia berbohong akan mengunjungi ibunya. Diara sudah lama tidak mengunjungi ibunya. Bahkan bisa di bilang, Diara lupa jika masih punya ibu. Matanya berkunang melihat jalan di depannya. Tidak lama, Diara kehilangan ke sadarannya. Diara yakin kalo dirinya akan beneran ketemu ibunya. *** "Lukanya ga dalem, sore ini dia bisa pulang," kata - kata itu masuk ke dalam gendang telinga Diara. Matanya berat untuk dibuka. Untuk saat ini, Diara lebih memilih untuk diam mendengarkan. "Sore ini ? Dokter yakin dia tidak apa - apa ?" Tunggu. Suara ini ? Cowok itu ? Abimanyu ? Diara terpaksa membuka matanya pelan, "bunda ?" Kata Diara pelan. "Dia udah sadar 'kan ? Dia baik - baik aja," kata dokter yang disebut bunda oleh Diara itu. Diara bangkit sambil sesekali meringgis pelan karena lukanya belum kering. "Kamu apalagi sih Ra ? Udah bunda bilang 'kan ? Jangan urusin orang lain. Kamu kayak gini lagi 'kan ?" Omel bundanya Diara tersenyum kecil, "gapapa kok bun, lagian aku pernah ada di posisi gadis itu. Bahkan lebih parah 'kan ?" Jawabnya. Bundanya itu menelan ludahnya dengan susah payah, "ya tapi kan itu ngebahayain diri kamu sendiri Ra. Terus sejak kapan kamu betah tinggal di rumah sakit ? Bunda udah bilang kok, sore ini kamu pulang." Diara mengangguk, "aku ga pernah bilang betah di rumah sakit, Bun." "Iya makanya bunda usahain kamu pulang secepatnya," kata Bundanya lagi. "Iya, thanks banget bun," kata Diara tersenyum. "Jangan macem - macem lagi ya ?" Diara mengangguk sebelum ibunya meminta izin keluar untuk memeriksa pasien lain. "Lo ngapain disini ?" Kata Diara pelan pada laki - laki yang sedari tadi duduk di samping ranjangnya. "Elah, gue kan udah nganterin lo kesini. Ga ada ucapan apa gitu ?" Balas Bima. "Lah buat apa ? Gue ga suka rumah sakit, lo aja yang sok tau bawa gue ke sini," tukas Diara. "Si anjir, udah bagus elah sama gue di tolongin. Nyolot ya lo !" kata Bima. "Yeh, kok lo bentak gue sih ?!" Kata Diara lalu meringgis pelan menekan lukanya. "Luka lo ga dalem untungnya, jadi bisa sembuh satu mingguan, kata dokternya." "Iya," balas Diara. "Jadi lo balik sore ini ?" "Iyalah, males gue di rumah sakit," jawab Diara.  Bima mengangguk kecil, "gue anterin lo balik." Sebelum Diara menjawab, Bima berkata, "gue ga nerima penolakan. Lagian gue nganterin lo cuman sebagai rasa terima kasih gue buat lo yang nolongin adek gue," katanya. Diara mengangguk kecil setelah lama diam, "adek lo okey kan ?" Bima membalikkan lagi anggukannya, "dia cuman shock gitu kata dokter. Selebihnya, dia okey," balas Bima. Diara memegang lukanya. Sakitnya kemarin mungkin karena perempuan itu shock juga. Sekarang mendingan. "Gue pulang sekarang deh, lagian ini udah tengah hari," ucap Diara lalu melepas selang infusnya. "Lo cocok jadi dokter dah, nyabut kayak gituan perlu teknik kan ?" Tanya Bima. "Elah, nyabut gini doang mah pemain sinetron tuh jagonya," kata Diara. Bima terkekeh, "iya, kebanyakan nyabutnya seenaknya, padahal ga bisa kayak gitu kan ?" Diara ikut terkekeh lalu mengangguk, "kalo gue sutradaranya, ga bakalan gue bikin adegan kayak gitu," ucap Diara lalu turun dari ranjang rumah sakitny.  "Toilet dulu bentaran," katanya lagi. Saat di toilet, Diara melihat luka di pinggangnya. Bundanya tidak bohong, lukanya cuman kegores ke dalam sedikit. Lalu wajahnya juga ada perban yang menyatakan bahwa luka di pipinya juga tergores. Yang di pikirkan Diara adalah saat sekolah besok. Pake perban gitu ke sekolah ? Ah tidak mungkin tentu saja. Masa baru seminggu bersekolah di sana sudah bertindak kelewatan ? Sampe main perban aja lagi. Diara mengganti baju pasiennya dengan baju yang semalam ia pakai. Sialnya bagian pinggang dan lengannya robek hasil dari perkelahian malam tadi. Sengit memang. Preman di sana baru ditemui oleh Diara. Ya jelas, buat apa emangnya Diara menemui preman ? Yang pasti, saat melihat tubuh meringkuk gadis yang kini di ketahui namanya Renny adiknya Bima itu, hati kecil Diara sakit. Seperti itu pula dirinya waktu itu. Bahkan lebih parah dari Renny. Dulu, tidak ada yang mau menolong mempertaruhkan nyawanya seperti yang Diara lakukan semalam untuk Renny waktu itu. Diara meringgis saat mengangkat bajunya keatas. Ngilu. Selesai membereskan diri, Diara keluar menemui Bima yang menunggunya di luar ruangan rawatnya. Melihat Diara keluar, Bima sontak berdiri di hadapan Diara. Diara tersenyum kecil saat melihat Bima dengan sigap memberikan kemeja yang dipakainya pada Diara. "Baju lo sampe sobek gitu," kata Bima dengan nada mengejek. "Perjuangan buat adek lo nih," sahut Diara memakai kemeja milik Bima. "Cih sombong," ucap Bima mendahului menuju ke parkiran motor milik Bima. "Apanya yang sombong ?" Gumam Diara. Setelah sampai di depan gedung apartemen milik Diara, Bima menghentikan kendaraannya. Sesaat Diara diam merasakan ngilu di pinggangnya. "Kenapa ?" Tanya Bima melihat Diara dari spion hanya diam tidak bergeming. Diara mendongkak dari tundukkannya lalu turun dari motor milik Bima, "gue duluan ya, Bim. Thanks udah nganterin gue," kata Diara lalu berbalik. "Di?" Panggilan Bima sontak membuat Diara menegang. Tidak ada yang pernah memanggilnya 'Di'. Ini pertama kalinya. Diara berbalik dan mendapati Bima yang sudah turun dari motornya, "kenapa?" Tanya Diara. "Gue yang harusnya bilang thanks sama lo yang udah nolongin ade gue malam tadi. Kalo ga ada lo, gue ga tau ade gue kayak apa. Dan satu lagi -" ucapan Bima tertahan saat menatap dalam pada mata Diara. "Apa?" "Gue minta maaf. Gue ga bakal ngerjain lo lagi. Gue ga akan ganggu lo lagi. Dan gue minta maaf juga karena udah bikin lo luka secara ga langsung," kata Bima dalam satu tarikan nafasnya. Diara tersenyum kecil, "iya Bim, gapapa kok. Gue okey." Bima menggeleng kecil, "gue ga yakin bilang ini sama lo. Tapi- gue mau lo dan gue  temenan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD