Bagian 8 : BAIK. BURUK. SISI LAIN DIARA.
.
.
.
"Jangan bilang lo suka sama dia ?!" Teriak Ryan membuat temannya yang lain sontak memukuli Ryan
Mereka berlima memang sudah biasa berkumpul di kafe saat hari libur seperti ini. Selain tempatnya enak buat di pakai nongkrong, kafe ini milik Putra. Jadi mereka dengan bebas akan datang ke sini untuk menemui Putra. Ah bukan, bukan milik Putra, lebih tepatnya milik orang tua Putra yang di titipkan pada Putra.
"Apaan si elah, gue ga salah kan Bim ? Yang lo lakuin kemaren itu, lo suka sama cewek itu ?" Kata Ryan lagi
"Ya kali si Bima ceweknya kek gitu," kali ini suara Fanny yang masuk ke gendang telinga Bima. Tapi sama seperti tadi, Bima mengabaikannya.
Tidak tau. Entah. Itu terjadi begitu saja. Di otak Bima hanya satu, mempermalukan cewek itu. Tapi malah jadi dia yang malu. Itu sialnya.
Malu - lah. Setelah adegan mencium atau sebutannya adalah mengecup bibir cewek itu, Bima malah dapat sorakan memalukan.
'Cieee Bimaaaa.'
.
'Lama - lama kek sinetron anjir.'
.
'Si Bima mah modus dong ngejailin si Diara kemaren - kemaren.'
.
Dan yang lainnya. Tapi Bima yang emang sifatnya acuh tak acuh biasa saja menghadapinya. Ya walau dalam hatinya, dia malu.
"Bim, woy !" Sentak Ryan
"Apaan si ah ?"
"Ya elo, ngelamun terus dari tadi," kata Fanny membela Ryan
"Apaan emang ?" Kali ini Bima menyerah
"Ya itu, lo ngapain coba cium - cium kecup – kecup kek gitu elah ?" Tanya Ryan
"Gue mau ngerjain dia doang," jawab Bima singkat
"Nah ini nih, lo mah ngomong aja sih kalo lo suka dia," kata Cherly
"Lah apaan, kagaklah. Emang gue cowok apaan ?"
"Jangan gitu, Bim. Lo nanti suka beneran tau rasa lo," Putra menengahi
Bima diam. Dia benar - benar tidak tau kenapa. Itu di luar kendali. Dirinya hanya berniat untuk mempermalukan cewek itu. Dan berniat untuk membuat cewek itu jera. Tapi apalah daya otaknya yang tiba - tiba memberi perintah pada dirinya untuk mencium bibir cewek itu.
Bima jengah, "gue cabut dulu," kata Bima lalu mengambil langkah keluar dari kafe setelah menyabet jaket dan kunci motornya
"Lah si Bima emang aneh anjir akhir - akhir ini," sahut Fanny yang di angguki langsung oleh Cherly
"Iya, apalagi pas si cewek itu dateng," Ryan menambahkan
"Mungkin si Bima ada masalah kali, jadinya kayak gitu," Putra menyahuti.
***
Malam sudah datang. Matahari sudah sembunyi di bagian bumi lainnya, digantikan dengan bulan yang hanya menampakkan dirinya malu - malu. Menyembunyikan sebagian dirinya di belakang awan yang setia menyelimuti menutupi sikap malu – malu sang bulan .
Bima masih saja diam di tempat duduknya, rooftop gedung apartemennya. Sudah sangat jarang dirinya ke sini setelah mamanya berjanji akan tinggal di rumah ketika tidak ada proyek besar. Tapi mamanya masih saja harus keluar kota saat ada proyek yang memang harus di selesaikan.
Papanya? Ada. Dia penggila pekerjaan. Bekerja siang dan malam menguras tenaga. Tapi selebihnya saat bersama keluarga, dia selalu bisa diajak bekerja sama. Tidak ada ponsel dan pekerjaan. Itu prinsip keluarga Mahardhika jika sedang di meja makan dan menghabiskan waktu dengan keluarganya.
Tengah malam ini, Bima ingin diam sendiri. Tidak ada yang menganggunya. Bima harus bagaimana jika bertemu dengan cewek itu lagi ? Tidak biasanya Bima bersikap begini memang, tapi ya gimana. Dengan pikiran semurawut, Bima mengacak - ngacak rambutnya kasar.
"Kok gue jadi gini sih ?" Kata Bima bermonolog.
Teleponnya berdering saat Bima meneguk minuman kalengnya.
"Elah, ini mah ganggu kesenengan anjir. Awas aja kalo ga penting," ucap Bima bermisuh - misuh memaki ponselnya.
"Apaan sih Yan ?" Kata Bima saat mengetahui yang menganggunya itu adalah Ryan.
"Engga he he," ucap Ryan di sebrang telepon
"Eh si anjir, lu nelpon gue apaan banget elah ? Ganggu aja lo. Ngapain sih malem - malem juga," kata Bima kembali meneguk minumannya
"Lah, lo lagi dimana ? Gue di rumah lo babi," kata Ryan
Hampir saja Bima mati tersedak minumannya gara - gara dengan beraninya si Ryan menyebutnya dengan sebutan babi.
"Eh monyeet biasa aja dong. Bahasa kebon lo jangan di bawa ke sini. Sialaan lo, ngapain lo di rumah gue ?"
"Gangguin adek lo," kata Ryan cepat tanpa membalas umpataan Bima
"Lah si begoo. Awas aja kalo adek gue kenapa - napa sama lo," balas Bima
"Lah kenapa - napa gimana anjir ? Orang adek lo belom balik," ucapan Ryan membuat Bima menegang di tempat.
Belum balik ? Dari mana ?
"Kata nyokap lo, dia pergi ke tempat temennya. Gue kagak di kasih tau pergi kemana jir," ucap Ryan mengunyah cemilan yang baru saja di antarkan oleh mamanya Bima yang kebetulan ada di rumah.
"Pergi ? Dia ga bilang sama gue anjir. Lo yakin nyokap gue bilang gitu ?"
"Heeh elah. Ga percayaan banget lo sama gu -" ucapan Ryan terpotong dengan bunyi tut.. tut.. tut.. dari ponselnya.
"Si anjir maen matiin aja," umpat Ryan pada ponselnya
Sedangkan Bima masih terus menghubungi Renny. Ponselnya aktif tapi tidak diangkat. Bima berdecak sebal saat beberapa kali operator mengambil alih. Kekhawatiran Bima makin bertambah parah saat mamanya bilang kalau temannya Renny sudah bilang kalau Renny sudah pulang jam sepuluh tadi.
"Ya ampun. Kemana sih si Renny," umpat Bima saat menjalankan motornya keluar dari gedung apartemennya.
Bima menelusuri jalan yang menuju ke rumah teman Renny yang sudah biasa Bima lewati ketika mengantar Renny pergi ke tempat temannya.
Sesaat kemudian motornya ia hentikan di pinggir jalan dan mencoba menghubungi Renny lagi. Sialaan masih saja operator yang menjawab teleponnya.
"Lo dimana sih Ren ?" kata Bima bemonolog sambil berjalan menelusuri jalan sepi yang terdapat banyak ruko yang sudah tutup.
Motornya ia tinggalkan di pinggir jalan besar. Pikirannya masih berkelana memikirkan kemana Renny pergi.
Mata Bima menyipit ketika melihat perempuan dengan ikatan rambut menyerupai ekor kuda berjalan tertatih memegangi pinggangnya.
Tidak lama dari itu, Bima membelalakkan matanya melihat cewek itu. Cewek. Berjalan menunduk tertatih mendekati dirinya. Bukan. Bukan mendekati. Tapi melewati. Melewati dirinya dan sedikit menyentuh lengan atas Bima.
Bima berbalik melihat punggung itu. Lalu otaknya menyuruh Bima menghentikan langkah cewek itu. Cewek itu tercekal lalu berbalik ke arah Bima.
"Lo -" nafas Bima tercekat melihat luka di wajah cewek itu.
Cewek mendongkak memperlihatkan jelasnya luka sabetan pisau di pipi kirinya dan luka sobek di sudut kiri bibirnya. Dia Diara. Diara yang sama dengan Diara yang waktu itu bibirnya pernah dikecup oleh Bima.
"Lo, gapapa ?" Tanya Bima spontan ketika melihat Diara seperti kesakitan.
"Bang Bima !" Teriakan itu yang membuat Bima menoleh, mengalihkan pandangannya dari Diara ke arah suara yang memanggilnya
"Renny," gumam Bima
"Jagain adek lo yang bener, lo abangnya 'kan ya ?" Kata Diara dengan lirih lalu mengalihkan pandangannya pada Renny
"Gue duluan," sahut Diara lagi
"Bang, dia - "
"Lo gapapa Ren ? Kemana aja sih lo ?" Kata Bima saat mendekati Renny dan memeluknya erat
"Itu ga penting sekarang, yang penting cewek itu bang. Dia nolongin gue, dan - astaga!" Belum sempat membereskan kata - katanya Renny berteriak kaget melihat cewek yang sudah menolong dirinya tadi kini ambruk.