Bagian 7 : KAKAK LAKI – LAKI SEUMURAN ?

1026 Words
Bagian 7 : KAKAK LAKI – LAKI SEUMURAN ? Hari ini sabtu pagi. Sesuai dengan rencana Diara dan teman - temannya, mereka menginap di tempat tinggal Diara. Pagi ini belum ada yang bangun dari tidurnya setelah sampai dini hari mereka terjaga. Sepanjang malam membicarakan ini dan itu. Banyak sekali pembicaraan mereka yang masih belum sempat di selasaikan pada malam itu. Terutama membicarakan sesuatu yang sedari siang tadi Gege ingin tanyakan. Tentang seorang Abimanyu Mahardhika. Dalam kasusnya, Bima terhitung nekat berperilaku seperti itu. Tentu saja. Gege yang memang menyaksikan secara langsung dengan kedua matanya sangat amat kaget dengan perlakuan Bima yang tiba - tiba mencium atau lebih tepatnya mengecup bibir milik Diara saat mereka sedang asyik mengobrolkan apa yang akan di lakukan di apartemen milik Diara. "Kok bisa sih dia ngelakuin itu pas bel masuk dan semua orang udah ada di kelas ?" Tanya Gege dengan nada sebal. Diara terkekeh lalu menggeleng kecil, "salah satu trik nge - bully yang baru mungkin." Balasan dari mulut Diara untuk pertanyaan Gege tadi membuat Gege sendiri mematung. Gege menatap Diara. Diara seolah menganggap enteng ciuman dan kecupan bibir yang di saksikan oleh semua orang warga kelas IPA 1 itu. "Lo kok gitu ? Ga ngerasa apa - apa gitu ?" Diara menggeleng lalu menatap dua temannya yang sedang beradu balap mobil di PS lama miliknya. Diara bukan tidak mau membeli PS baru, tapi Diara sudah lama tidak memainkannya. "Biasa aja," jawab Diara menatap Gege. Lagi – lagi Gege dibuat mengangga akan jawaban dari Diara. Walaupun sebenarnya Diara sangat kaku dan tidak bisa berbuat apa – apa ketika Bima melakukan itu . Diara merasa itu adalah salah satu trik bully dari Bima padanya. Itulah yang Diara fikirkan. "Yeh elo mah. Kayaknya lo ga pernah jatuh cinta ya ?" Kata Gege lalu tangannya menggapai keripik singkong di meja lalu melahapnya. "Pernah kok. Tapi buat sekarang ga mau lagi," kata Diara pelan mengikuti apa yang tadi dilakukan oleh Gege. "Kenapa ?" "Ga mau ngerasain sakit lagi karena di tinggalin," sahut Diara Dan obrolan seperti itu menjadi panjang lebar sampai mereka tertidur di ruang tengah apartemen milik Diara. Diara pagi ini yang bangun duluan. Walau waktu menunjukkan pukul sembilan pagi Diara menganggap itu adalah pagi hari, selanjutnya Diara mengambil handuk dan pergi mandi. Saat dia keluar dari kamar mandi dan untungnya sudah memakai baju lengkap, Diara di suguhkan dengan tatapan bertanya dari tiga orang yang semalam suntuk menemaninya sampai hari ini. Ada orang datang rupanya. "Kenalin ini Bara," sahut Diara membuyarkan tatapan ketiga temannya yang tadi hanya menatapnya dengan tatapan bertanya. Mereka bertiga bersalaman pada orang yang disebutnya Bara itu. "Gue Bara, abangnya Diara." Kata seperti itulah yang keluar dari mulut Bara sambil menyunggingkan senyumannya.   "Gue kira lo anak tunggal, Ra," kata Desta, "abang lo ganteng juga dan mirip gue ‘kan ye ?" "Ih si Desta mau deket - deketin abangnya Ara, biar ketularan ganteng gitu ?" Sahut Gege. "Gue Gege bang, temen sebangkunya Ara," lanjutnya lagi menyalami Bara. Setelah itu, lelaki dengan lelaki dan perempuan dengan perempuan. Gege masih saja bergosip ria. Tentang temannya yang inilah, yang itulah. Banyak. Sampai akhirnya, Gege bertanya hal yang ga mau sama sekali di dengar oleh Diara. "Abang lo kok seumuran kita sih ?" Diara diam.   Bahkan, Diara belum siap menceritakan semuanya pada Gege. Bara memang berbicara dengan Desta juga Juan tentang sekolahnya. Memang benar, Bara seangkatan juga seumuran dengan Diara. Tapi apa harus diperjelas sekarang ? Apa waktu yang tepat sekarang ? "Ra," panggil Gege, "gue bisa jadi temen lo. Gue bisa jadi sahabat lo. Lo percaya sama gue. Apapun yang bakal lo bilang sama gue, gue bakal rahasiain dan gue bakal usahain buat lo tenang ngomong sama gue." "Gue tau, ada yang ga beres ‘kan di keluarga lo ?" Tanya Gege lagi. Diara menatap Gege lama. Iya. Masalahnya tidak sepele. Bahkan bisa dikatakan sangatlah rumit. Diara mengangguk pelan. "Iya Ge, bokap nyokap gue cerai," kata Diara pada akhirnya "Okey, terus ? Lo bisa omongin ke gue. Lo bisa terus terang sama gue Ra. Lo ga perlu sungkan sama gue." Diara tersenyum ketika respon Gege sangatlah membuat Diara tenang dan tidak terbebani. "Ya gitu Ge," Diara menghela nafas lalu membuangnya kasar, "bokap nikah lagi sama tante Silvi, dan tante Silvi punya anak. Nah anaknya itu si Bara," kata Diara. "Nyokap lo ?" "Ada. Dia di rumah sakit. Dia dokter," jawab Diara cepat. Gege mengangguk kecil lalu matanya menangkap Bara yang sedang tertawa bercanda dengan kawannya. "Bang Bara, lo ga manggil dia abang ? Terus sikap lo juga berubah saat ada dia ? Dia sering ke sini?  Dia -" "Buset Ge, pertanyaan lo," potong Diara sambil terkekeh di sambut dengan cengiran Gege. "Ya abis, gue kan penasaran sama idup lo. Gimana lo dan apa yang ada di pikiran lo," kata Gege saat kekehan Diara terhenti. "Setdah Ge, gue ga usah di tanya elah. Ya ginilah idup gue. Sendiri, sepi dan diam," jawab Diara. Gege mengangguk, "gue emang ribet Ra. Tapi gue janji, rahasia lo aman sama gue. Jadi kalau ada apa - apa dan lo butuh temen, gue siap ada buat lo," kata Gege dengan wajah serius. Diara diam. Kemudian dirinya tertawa pelan, "ampun deh Ge. Gue pengen ngakak masa liat muka so serius lo." "Lah si ee. Kira gue lo diem itu ngarti gue ngomong apaan. Nyatanya percuma anjir ngomong sama lo ah," kata Gege, "malas ah gue." "Si anjir, ngambek gituan doang elah. Kek anak kecil," kekeh Diara. Tidak lama kemudian, keduanya tertawa kencang membuat para lelaki memandangnya aneh. "Lu pada ngomongin gue apa ya ? Kenceng banget dah tu ketawa," Desta mengeluarkan suaranya "Elah ge’ er lo ah," sahut Gege "Ngomongin apa sih Ra ? Kok sampe ketawa kenceng gitu ? Ampe kaget gue," kali ini Juan yang angkat bicara di angguki Desta dan Bara "Kagak elah. Ini si ee curhat tentang kamar mandi gue," jawab asal Diara membuat Gege menepuk lengan atas Diara pelan sambil tertawa. "Ga jelas lo ah," kata Gege. Setelah itu, para laki – laki  kembali lagi pada obrolannya. "Tapi gue serius sama yang terakhir," kata Gege memecah keheningan saat dua-duanya terdiam lama tanpa obrolan. "Apa ?" Tanya Diara pelan. "Gue bakal ada saat lo butuh," kata Gege menatap Diara. Diara tersenyum dan mengangguk kecil, "thanks." “Jadi, Bara udah punya cewek belum ?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD