Bagian 6 : APA INI BISA DI KATAKAN BERHASIL ?

1050 Words
Bagian 6 : APA INI BISA DI KATAKAN BERHASIL ? . . Hari libur yang s**l untuk seorang Bima. Gara - gara Renny, adiknya sedang sakit selama dua hari dan dirinya harus absen dari sekolahnya. Mamanya sedang ada urusan di luar kota kala itu. Ayahnya juga sama . Bekerja dengan giat dan tentu saja tidak akan punya waktu untuk hal kecil seperti ini . Jadi dirinya - lah yang harus mengorbankan sekolahnya untuk menjaga anak kecil itu.   Sayangnya, Bima adalah orang dengan sifat over protektif pada adik perempuan satu - satunya itu. Dan juga kepada orang yang dia sayangi tentu saja. Entahlah. Tapi karena mengingat saat orang tuanya yang sering bertengkar walaupun tidak ada niatan untuk berpisah, Bima tidak mau menjadi seperti mereka. Adiknya adalah satu - satunya yang Bima percaya untuk menjaga rahasianya. Keluh kesahnya pasti sudah ada di hati Renny. Dan begitu pula sebaliknya . Renny duduk di bangku sekolah menengah pertama di tingkat akhir di sekolahnya. Renny memang bukan anak kecil lagi. Tapi untuk kali ini, ah tidak. Setiap hari, Bima masih saja menganggap Renny sebagai seorang anak kecil. Renny seperti tidak akan pernah besar di mata seorang Bima. Renny adalah wanita yang harus di lindungi. Oleh karena itu, Bima selalu saja berhati - hati pada lelaki yang dekat - dekat dengan adiknya itu. Dan ini adalah hari ketiga Bima tidak masuk sekolah. Pada malam hari ini, Renny merasa sudah sedikit baikkan. Tidak ada lagi demam di tubuhnya. Jadi Renny memutuskan untuk bicara pada Bima tentang dirinya dan tentu saja tentang Bima dan sekolahnya. "Bang Bima bisa sekolah aja besok. Gue udah gapapa kali Bang. Udah mendingan juga. Lagian besok siang mama udah pulang 'kan ?" Bima diam menatap sang adik lalu duduk di ranjang yang sebelumnya di pakai untuk tidur sang adik. Tanganya terulur menepuk puncak kepala Renny lembut sambil tersenyum, "abang ga mau lo sendiri pas sakit, Ren. Lagian gapapa kali, abang bisa bebas dari yang namanya matematika," jawab Bima. "Yeh si abang mah. Nanti di omelin sama papa baru tau rasa loh ya." Renny sedikit menepuk tangan Bima yang ada di puncak kepala Renny pelan. Renny termasuk orang yang lembut. Pukulannya yang seperti itu tidak berdampak buruk untuk Bima. "Lah. Papa juga ga bakal tau ini 'kan ?" Tanya Bima melepaskan tangannya dari puncak kepala Renny sambil terkekeh. "Ih abang, gue aduin nih. Gue telepon papa nih sekarang juga," ancam Renny mengambil ponselnya lalu berpura - pura mengetikkan nama sang ayah di ponselnya. "Lah si an - " "Eh abang bahasanya," potong Renny cepat karena tau apa yang akan abangnya itu katakan. Pastilah nama binatang itu. Renny sudah bisa menebaknya . Abang Bima ini kebiasaan. Mulutnya ga bisa dijaga. Bima nyengir, "sori. Lagian maennya anceman aja ini anak," Bima mencubit kecil pipi tembam milik Renny. "Ih abang ah sakit," keluh Renny melepaskan tangan Bima dari pipinya. "Iya sih ah. Besok abang masuk sekolah," kata Bima pelan sambil terkekeh. "Gitu dong," Renny nyengir saat Bima mengecup puncak kepala Renny dan berjalan keluar kamar Renny. "Tidur lo. Jangan maen hp mulu lo ya," kata Bima sebelum benar - benar menghilang di balik pintu kamar Renny. Dan benar saja. Sesuai janjinya pada Renny kemarin, hari ini Bima masuk lagi ke sekolah. Sepertinya aman dan tentram seperti biasa. "Bim, elah. Itu cewek lo libur tiga hari serasa bebas anjir," sambut Ryan saat melihat Bima datang ke kelas Bima terkekeh, "gue ga bisa biarin ade gue sendirian kali. Btw, ngapain aja tu cewek ?" "Ya gitu deh Bim. Serasa bebas. Bisa ketawa - ketawa bareng geng barunya dia," kata Cherly mengomel dan merendahkan Chloe. "Perasaan kemaren - kemaren juga ketawa bareng sama mereka sih Cher," tukas Putra. Lagi – lagi Putra membela si cewek korban bully - an itu. Fanny mendelik. "Lagian ngerjain dia mah ga bakal kena mulu. Menurut orang yang gue percaya ya, si cewek itu tukang bully juga waktu pas masih SMP," kata Fanny mengundang dengusan sarkatik milik Ryan. "Lo mah informan mana - mana di percaya teros. Terpercaya ga ? Kayak informan punya gue ?!" Kata Ryan merendahkan, "btw Bim -" Ryan memotong perkataanya lalu menatap Bima setelah lepas dari tatapannya pada Fanny. "Hm ?" "Gimana keadaan adek lo ? Mendingan ?" Tanya Ryan. "Lo mah ngebet banget sama adek Bima ye. Jangan deket - deket dia elah," sulut Cherly. "Lo cemburu mah bilang aja," dengan menyebalkannya Ryan menjawab perkataan Cherly. Kekehan dari orang - orang sekitarnya membuat Cherly memberenggut tidak suka. Cherly memang suka pada Ryan. Ryan sudah mengetahuinya dan membiarkannya begitu saja. Sampai saat ini, mungkin Cherly masih menyukai Ryan. "Jadi dia tukang bully juga ?" Tanya Bima pelan saat melihat Diara masuk bersama Gege sambil sesekali tersenyum dan tertawa kecil. Yang pasti, Bima tidak mau tau apa yang Diaran dan Gege bicarakan sampai membuat mereka tertawa seperti bahagia sekali. Fanny mengangguk, "informan gue yang satu ini pindahan juga kayak dia. Satu SMP pula sama dia. Makanya dia tau banget Bim," jawab Fanny cukup membuat Bima tersenyum. "Okey. Kita kasih dia bully - an yang mungkin ga pernah dia lakuin waktu SMP," kata Bima pelan mendekati meja Diara. "Lah Bim, rencana lo apaan anjir ?" Kata Ryan melihat Bima mendekati Diara. Karena baru kali ini Bima memikirkan ide dan juga melakukan eksekusinya sendirian tanpa minta pendapat atau pertimbangan. "Ada - lah." Bima mendekati meja tempat duduk Diara lalu duduk di atas mejanya. Persis di depan Diaara yang sedang duduk di bangkunya. Diara yang terlihat terganggu itu menatap Bima dengan tatapan 'ngapain lo ?' Bima tersenyum kecil lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Diara. Menunduk lalu kemudian Bima terkekeh pelan melihat wajah Diara sedekat ini. Diara bisa di katakan cantik untuk seorang gadis. Tapi entah- lah, Bima tidak tertarik lagi pada gadis yang hanya cantik luarnya saja. Banyak yang menginginkan dirinya di luar atau dalam sekolah. Mereka cantik. Tapi Bima seakan menutup matanya untuk gadis cantik seperti itu. Tidak lama kemudian, tangan Bima yang tadinya berada di saku celananya keluar menggapai pipi putih milik Diara. Bibirnya kini berada di samping telinga Diara. "Gue denger lo tukang bully juga. Jadi, lo pernah ngelakuin ini pas lo nge - bully ?" Tanya Bima sebelum bibirnya kini ia tempelkan di puncak bibir Diara. Diara terkaget dengan perlakuan mendadak Bima. Diara menegang di tempat. Dia tidak bisa berbuat apa – apa. Diara tetap diam saat Bima mulai menjauhkan bibirnya di bibir Diara. "Jangan macem - macem sama gue, Diara."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD