Ujian akhir semester enam kini telah selesai. Elsa merasa benar-benar sangat lega akan hal tersebut. Sekarang yang akan dihadapinya adalah KKN. Sebelum UAS ia sudah sering mengikuti sosialisasi KKN yang diadakan oleh pihak kampus. Dirinya juga sudah melakukan pemilihan daerah tempat pelaksanaan KKN. Hari ini pengumuman kelompok KKN dan tempat pembagian KKN disebarkan melalui berkas yang dikirim ke setiap grup kelas.
"Gue nggak berharap banyak bisa satu kelompok sama lo, Sa."
Angel sebenarnya sangat ingin satu kelompok bersama Elsa. Mereka sudah bersahabat sejak lama dan saling membantu satu sama lainnya. Akan tetapi sepertinya peluang mereka satu kelompok sangatlah kecil.
"Gue berharap banget malah, Angel."
Sebenarnya Elsa merasa santai saja siapa pun nanti rekan sekelompok KKN-nya. Hanya saja ia merasa akan jauh lebih menyenangkan apabila menjalaninya bersama Angel. Lagipula selama ini hanya Angel yang memahami permasalahan hidup Elsa dan selalu menguatkannya.
"Oke..Kita buka sekarang pengumumannya."
Angel melangkah seraya memainkan ponselnya.
"Mau makan nggak?" tanya Elsa.
"Lo masak apa hari ini, Sa?"
"Nasi goreng."
Elsa tidak begitu memiliki banyak uang sehingga ia menghemat pengeluarannya dengan cara memasak sendiri. Ia jarang membeli makanan ke kantin meskipun sangat sering datang ke kantin untuk menemani Angel makan disana. Dirinya setiap hari membawa bekal yang merupakan masakannya sendiri. Sebenarnya jika untuk dirinya sendiri, Elsa memiliki uang yang lebih dari cukup. Selain uang bulanan yang didapatkan dari beasiswanya, ia juga mendapatkan uang dari bekerja sampingan selagi kuliah. Selain mengajar les privat untuk Santi, dirinya juga menjadi freelancer di sebuah situs dan ia menghasilkan uang yang sangat lumayan. Dirinya juga bekerja sebagai reseller untuk sebuah online shop. Tugasnya hanyalah mempromosikan produk dari supplier-nya itu. Penghasilan Elsa sangatlah banyak dalam sebulan. Sayangnya semua itu ia gunakan untuk melunasi hutang ayahnya yang semakin hari justru semakin bertambah saja karena bunga yang besar.
"Mauuu.." pinta Angel dengan nada manjanya yang khas. Ia sangat menyukai masakan Elsa karena menurutnya sangatlah enak.
"Sumpah lo harus buka rumah makan nanti setelah lulus kuliah, Sa."
Elsa tahu bahwa Angel bermaksud memberikan saran atas kemampuannya namun rasanya ia saat ingin fokus saja melunasi semua hutang ayahnya sehingga segala bebannya dapat segera berakhir. Ia sudah bosan hidup hanya untuk melunasi segala hutang milik ayahnya.
"Lo mau makan apa, Ngel?"
"Nasi goreng lo.."
"Terus gue makan apa?"
"Gue beli makanan terus tukeran ya. Kayak biasa."
Elsa hanya bisa terkekeh mendengarkan ucapan Angel. Ia sungguh merasa bersyukur karena memiliki sahabat seperti Angel. Terkadang Angel selalu membantunya tanpa ia sadari. Angel sering membelikan makanan kemudian ditukar dengan masakan yang dibuat Elsa. Angel akan makan masakan Elsa sementara Elsa akan makan makanan yang dibeli Angel. Memang tidak sering, tetapi hal itu membuat Elsa benar-benar sangat berterima kasih kepada Angel. Terkadang ia sengaja menyiapkan dua kotak bekal dan satunya akan diberikan untuk Angel. Mereka memang sudah sedekat itu.
Setelah tiba di kantin tempat Angel biasa membeli makanan, Elsa duduk untuk memastikan bahwa ia dan Angel kebagian tempat.
"Lo mau makan apa, Sa?"
"Terserah lo aja, Ngel."
Elsa tidak pernah terlalu begitu menginginkan makanan jenis khusus, ia bisa memakan makanan apa saja jadi tidak repot jika ingin menraktirnya.
Angel meletakkan tasnya di atas meja kemudian melangkah menuju penjual mie ayam langganannya. Melihat hal tersebut Elsa hanya tersenyum. Ia lantas mengeluarkan laptopnya untuk mulai mengerjakan proyek freelance-nya. Tugasnya cukup ringan karena ia hanya perlu menerjemahkan beberapa berkas. Meski kini dirinya miskin dan terlilit banyak hutang, Elsa merasa sangat bersyukur karena ia memiliki kecerdasan yang baik. Dirinya fasih berbahasa inggris, mandarin, dan jepang. Dia juga sangat cepat dalam mengerjakan segala tugas kampusnya sehingga bisa segera bekerja.
Dirinya menjadi semakin tidak sabar untuk dapat melunasi segala hutang. Setelah itu baru ia akan mulai menyusun mimpinya. Selama ini mimpinya sejak kecil hanyalah ia bisa segera melunasi hutang ayahnya. Entah kapan keinginan itu akan terwujud. Elsa hanya terus berusaha dan bekerja keras.
"Elsa!"
Elsa menoleh ketika mendengarkan panggilan itu. Itu adalah suara dari Bram. Dia mahasiswa jurusan manajemen bisnis yang sering meminta Elsa untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Bram yang memiliki nama lengkap Bramantyo Wiguna memiliki beberapa bisnis yang harus ia kelola sehingga lelaki itu tidak memiliki waktu untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Jika perkuliahan sedang berlangsung, Bram akan lebih sering tertidur karena kelelahan atau kadang ia jauh lebih fokus untuk memeriksa ponselnya dan memantau bisnisnya. Sebenarnya Elsa merasa khawatir jika ia yang terus-terusan mengerjakan tugas Bram. Akan bahaya jika ketahuan. Hanya saja Bram selalu meyakinkannya dan memintanya agar mengerjakan tidak terlalu bagus. Yang penting mengerjakan saja.
"Ada proyek?" tanya Elsa ketika lelaki itu kini duduk di hadapannya.
Bram menganggukkan kepalanya.
"Lu mau join usaha gue nggak?"
"Jadi SPG toko kosmetik lo?"
"Bukan. Lo kan nggak ada waktu kalo itu."
"Bisnis konveksi lo?"
"Bukan juga. Udah nggak ada slot kalo itu."
"Apaan?"
Bram sebenarnya sudah sering mengajak Elsa untuk bergabung menjadi karyawan tetapnya. Bahkan Bram memberikan kebebasan kapan pun Elsa bisa bekerja. Ia memiliki cukup banyak bisnis dan bidang usaha jadi Elsa hanya tinggal memilih saja. Akan tetapi Elsa merasa tidak enak dan sudah tidak memiliki waktu untuk bekerja yang lain lagi. Itu sebabnya ia hanya mengajar les privat untuk Santi dan mengerjakan proyek freelance jika sempat.
"Jadi MC di acara ulang tahun adek gue."
"Kapan?"
"Hari minggu. Sendiri aja tapi nge-MCnya."
Setiap hari minggu Elsa terbebas dari tugas apapun. Ia tidak memiliki jadwal les mengajar privat. Jadi terkadang hari minggu ia manfaatkan untuk beristirahat seharian setelah menjalani begitu banyak hal dari hari senin hingga sabtu. Jika tidak terlalu lelah maka ia akan menggarap tugas freelance-nya.
"Mau, Bram. Seriusan nih. Adek lo umur berapa emang?"
"Ultah yang ke-10 pas acara ini. Bisa lo?"
"Bisa banget. Adek lo cewek apa cowok?"
"Cowok."
"Eh ada Bramantyo."
Angel kembali sambil membawa baki berisi mangkuk mie ayam, mangkuk kecil berisi beberapa bakso serta segelas es teh manis.
"Yoi," ujar Bram seraya menggeser duduknya dan mempersilahkan Angel duduk.
"Mau pacaran sama Elsa di kantin ini?" ledeknya kemudian tertawa.
"Nuduh mulu lo, Ngel." Elsa bersuara.
Bram memang sering menghampiri Elsa namun itu semata-mata hanya untuk proyek mereka dan sekadar menyapa saja. Banyak yang mengira bahwa Bram tengah dekat dan menjalin hubungan dengan Elsa. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, Elsa hanya partner perjokian Bram untuk tugas kuliahnya.
"Lo nggak makan, Bram? Atau udah disiapin masakan sama Elsa nih?" tebaknya.
"Maunya sih dimasakin Elsa. Tapi dia mah sibuk," ujar Bram kemudian terkekeh.
"Ih dasar."
Angel sebenarnya sudah tahu bahwa Bram dan Elsa hanya sebatas partner jasa pengerjaan tugas kuliah. Hanya saja berhubung ada banyak lelaki yang mengincar Elsa, Angel memanfaatkan momentum kedekatan Bram Elsa serta rumor yang beredar mengenai kedekatan mereka. Hal ini agar Elsa tidak terganggu oleh laki-laki yang mengejar-ngejarnya.
"Gue balik ya. Bye."
Bram langsung bangkit kemudian pergi meninggalkan dua gadis itu.
"Keluarin masakan lu, Sa. Buru. Gue pengen nasi goreng nih."
"Padahal ada yang jual nasi goreng loh, Ngel."
"Tapi nggak seenak nasi goreng lo."
Elsa mulai merogoh tas dan mengeluarkan kotak bekalnya.
"Itu laptop lo tolong diawasin dulu dong, Sa. Kita makan dulu. Matiin terus masukin deh laptopnya."
"Gue geserin aja."
Ia memang sering menyalakan laptop jika sedang makan bersama Angel. Untuk urusan makan, Angel biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk menghabiskannya. Jadi seraya menunggu Angel menghabiskan makanannya, Elsa akan mulai bekerja dengan laptopnya.
"Nih."
Angel memindahkan bakinya hingga kini berada di hadapan Elsa.
"Mau langsung makan? Nggak mau liat pengumuman kelompok KKN dulu?" tanya Elsa.
Angel sebenarnya sudah tidak sabar untuk melihat siapa saja kelompoknya semenjak kelas masih berlangsung. Akan tetapi ia menahannya hingga istirahat makan siang karena takut tiba-tiba histeris dan berteriak saat dosen mengajar.
"Tapi gue takut malah jadi nggak nafsu makan kalo hasilnya mengecewakan."
"Kan cuma pembagian kelompok KKN aja sih, Ngel."
"Kita buka bareng-bareng yuk," ajak Elsa kemudian.
"Oke deh. Gue selalu berdoa biar satu kelompok sama lo, Sa. NIM kita jauhan soalnya. Siapa tau ada peluang."
"Yuk buka." Elsa sudah bersiap dengan ponselnya sementara Angel kini mulai mengeluarkan ponselnya.
"Huh, yuk buka." ucap Angel setelah mengeluarkan ponselnya. Ia menghela napas kemudian menatap layar ponsel itu.
Menatapnya selama beberapa menit dan berusaha mencari namanya di antara deretan tabel yang ada.
"Yah, Elsa! Beneran kan kita enggak sekelompok."
"Seriusan, Ngel? Gue belum nemu nama gue nih."
"Iya. Nggak ada nama lo di tabel kelompok gue. Ah kesel."
"Gue lagi nyari nama gue malah nggak nemu-nemu."
"Gilak gue sekelompok sama Meisya dong."
"Meisya?" tanya Elsa bingung. Seingatnya teman satu jurusannya tidak ada yang bernama Meisya.
"Iya Meisya Aurora, anak manbis. Sejurusan ama Bram."
"Nggak kenal gue."
"Masak lo nggak kenal sih, Sa? Yang sering gue ceritain."
Elsa tidak bisa mengingat semua orang yang selalu Angel ceritakan. Kali ini ia tidak mengingat siapa itu Meisya.
"Ini cewek manja parah sumpah. Pasti bakal ngerepotin banget selama KKN," gerutu Angel.
"Semoga aja enggak."
Elsa lanjut mencari namanya karena ia belum juga menemukan namanya.
"Ketemu. Gue sekelompok sama Bram dong," ujar Elsa cepat ketika ia melihat nama lengkap Bram beserta NIMnya yang sudah ia hafal karena terlalu sering membuat tugas atas nama dan NIM itu.
"Jodoh banget lo sama dia."
"Kelompok lo siapa aja, Sa? Coba bacain semua.." pinta Angel.
"Gue bersepuluh. Ada gue, Bram, Agusatya Prayoga, Sellina Wati, Veronica Sarah, Billy Kertayasa Rendra, Renata Cantika, Alexandro Martin, Risky Andreas, sama Devano Widjaja."
Setelah selesai membaca nama-nama kelompoknya, Elsa lantas menatap Angel.
"Anak mankeu cuma gue aja. Lo ada sekelompok sama anak mankeu nggak, Ngel?" tanya Elsa.
Sementara itu Angel justru membulatkan matanya.
"Kenapa lo?"
"Lo sekelompok sama Devano, Sa?" tanya Angel.
Elsa menatap kembali layar ponselnya kemudian menganggukkan kepala ketika ia melihat ada nama Devano dalam daftar kelompoknya.
"Iya."
Angel lantas kembali menatap ponselnya. Mencari nama Devano di antara nama-nama kelompoknya.
"Ah, beneran. Akhirnya si Meisya nggak bareng Devano."
Elsa pun jadi mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti akan apa yang Angel ucapkan.
"Maksudnya gimana?"
"Nanti gue cerita lagi. Tapi sumpah, lo beruntung banget bisa sekelompok KKN sama Devano."
"Kenapa emangnya?"
"Udah kita makan dulu, Sa. Sumpah gue laper parah."