Chapter 6

1503 Words
Hari minggu adalah hari dimana Elsa memiliki waktu untuk berada di rumahnya. Meski ayahnya memiliki banyak hutang, untungnya ayahnya masih meninggalkan rumah yang bisa ditempati. Elsa jadi tidak perlu mengeluarkan uang untuk menyewa tempat tinggal. Hari minggu juga sebenarnya menjadi hari yang menyebalkan karena itu adalah hari dimana para penagih hutangnya akan datang jadi Elsa harus membayarkan sejumlah uang. Ia harus membayar hutang kepada tiga orang berbeda setiap hari minggu. Biasanya sang penagih akan menghubungi Elsa terlebih dahulu untuk datang. Mereka paham bahwa Elsa adalah seorang mahasiswa dan biasanya akan memastikan apakah Elsa ada di rumah atau tidak jika mereka akan datang. Berhubung hari ini Elsa memiliki jadwal untuk menjadi MC di acara ulang tahun adiknya Bram, jadi ia sengaja meminta para penagih hutang untuk datang lebih pagi. Suara gedoran pintu yang tidak sabaran itu sudah sangat ia kenali. Itu pasti Rangga, penagih hutang yang sangat tidak sabaran dan kadang suka membentaknya. Dengan cepat Elsa mengambil uang sebanyak lima ratus ribu rupiah untuk diberikan kepada lelaki itu. Terdapat tiga penagih hutang dengan total hutang yang dimiliki ayahnya kepada tiga orang itu berbeda-beda jumlahnya. Dulunya Elsa adalah orang kaya namun karena salah satu bisnis papanya bangkrut, perusahaannya merugi jadi begitu banyak dana pribadi yang harus digunakan. Hutang ayahnya itu dulu mencapai triliunan rupiah hanya saja beberapa sudah dibayarkan dengan menjual semua properti yang dimiliki ayahnya meliputi rumah, puluhan hektar tanah, mobil, serta perhiasan mamanya. Semuanya habis disita bank dan dijual agar bisa menutupi hutang yang ada. Hingga tersisa hampir 800 juta hutang yang belum dibayar dan itu yang menjadi tanggungan Elsa sejak dirinya baru saja lulus SMP hingga sekarang. Total hutang yang baru terbayarkan selama enam tahun hanyalah sejumlah 230 juta saja. Meski masih memiliki sekitar 570 juta hutang lagi, Elsa cukup merasa takjub karena ia bisa membayar sebanyak 230 juta dengan usahanya sendiri. "Sebentar." Elsa membuka pintu kemudian langsung memberikan lima lembar uang kertas kepada Rangga. "Mau kemana lu? Pake minta datang pagi lagi." "Kerja cari duit biar lo nggak dateng kesini lagi," sahutnya. Rangga itu sebenarnya lebih muda dari dirinya namun lelaki itu tidak kuliah dan bekerja membantu bosnya untuk menagih hutang. Rangga mulai menggantikan penagih hutang sebelumnya semenjak tiga tahun lalu.  "Bos gue masih minat nikah sama lo. Kalo lo mau jadi istri keempat, hutang lo langsung lunas jadi nggak perlu deh lu repot-repot kerja. Gue juga kagak perlu repot-repot kemari." Elsa memutar bola matanya malas. Bos dari Rangga menyukai dirinya dan bersedia melunaskan semua hutang ayah Elsa apabila dirinya bersedia menikah dengan lelaki tua itu. Membayangkannya saja rasanya Elsa lebih baik bekerja membanting tulang daripada harus menjadi istri keempat lelaki itu. "Bye."  Elsa langsung menutup pintu rumahnya karena urusan pembayaran hutang dengan Rangga sudah selesai. ------------ "Pokoknya kalo ada acara-acara ulang tahun gini, lo wajib ngabarin gue yah." pinta Elsa. Bram menjemputnya jam sembilan pagi karena acara dimulai jam sepuluh pagi. Untungnya Bram datang menjemput jadi ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk ongkos pergi ke rumah Bram.  "Gue mah selalu nawarin kerjaan ke lo, Sa. Banyak banget malah." Sebenarnya Bram mengetahui bahwa Elsa harus melunasi begitu banyak hutang yang melilit hidupnya selama ini. Itu sebabnya Bram selalu berusaha membantu Elsa mendapatkan pekerjaan untuk melunasi hutang-hutangnya. Bram tanpa sengaja mengetahuinya ketika datang berkunjung ke rumah Elsa untuk memintanya mengerjakan sebuah tugas. Sementara Elsa mengerjakan tugasnya, Bram akan menemani gadis itu sambil mengerjakan usahanya. Ketika berada di rumah Elsa, ternyata saat itu ada tiga orang yang datang dan menagih hutang. Bram sendiri tidak enak untuk mencari tahu lebih lanjut namun setelah itu dia tahu pasti bahwa Elsa sangat membutuhkan banyak pekerjaan untuk memperoleh uang sehingga bisa segera melunasi hutangnya.  "Makasih banyak pokoknya, Bram." Tidak lama kemudian Elsa tiba di rumah Bram. Ia sudah memakai kostum berwarna biru sesuai permintaan Bram karena adiknya sangat menyukai warna biru. Menurut Bram, acara ini kemungkinan hanya berlangsung hingga pukul dua belas siang saja. Berhubung akan ada begitu banyak anak kecil jadi acaranya tidak terlalu formal. Hanya saja Elsa tentu tetap membutuhkan kesabaran untuk menghadapi begitu anak kecil yang akan dijumpainya nanti. --------- "Oke sekarang teman-temannya Alan, kita potong kuenya dulu ya. Dipersilahkan untuk Om dan Tante." Elsa memberikan senyumannya kemudian mengajak teman-teman Alan untuk bernyanyi bersama. "Ayo kita nyanyi bareng. Potong kuenya, potong kuenya." Elsa mulai bertepuk tangan dan mengajak anak kecil lainnya untuk ikut bernyanyi. Jika melihat acara perayaan ulang tahun seperti ini, ia jadi ingat akan masa kecilnya yang begitu membahagiakan. Dulu dirinya juga sering seperti ini, merayakan hari ulang tahun bersama ayah dan ibunya. Akan tetapi semua itu kini tinggal kenangan saja. Acara potong kue berlangsung dengan lancar dan sekarang adalah sesi untuk makan bersama. Meski baru jam sebelas siang, Bram dan keluarga memang sudah menjadwalkan beberapa acara santai setelah makan siang. Sehingga tugas Elsa sebagai MC seharusnya sudah selesai karena setelah makan siang bersama adalah waktu untuk teman-teman Alan bermain bersama. Sementara para orang tua yang datang untuk menemani anak mereka akan berbincang bersama orang tua Bram. Ketika semua anak nampak senang ketika dibagikan makan siang yang menarik, perhatian Elsa terarah kepada seorang anak lelaki yang hanya diam saja dengan raut wajah tidak bahagia. Melihat hal itu pun Elsa segera menghampirinya. "Hai, ganteng. Kenapa enggak ambil makan siangnya?" tanya Elsa. Di atas meja sudah tersedia beberapa piring yang sudah terisi lengkap dengan berbagai makanan. Jika ingin menambah masih bisa menambah di meja lainnya. Anak-anak nampak bersemangat karena makanan-makanan itu ditata dengan begitu menarik. Sementara anak lelaki ini hanya diam saja sejak tadi. Anak itu hanya menggelengkan kepala dan diam saja. Ia lantas menundukkan kepalanya. Elsa lantas berlutut agar tingginya sejajar dengan anak itu. "Namanya siapa?" "Lano." "Lano kenapa?" "Kalo ada apa-apa, bilang aja ke kakak. Nanti kakak bantu." Anak kecil itu kemudian mendongakkan kepalanya dan menatap Elsa. "Do you want to help me?" tanyanya menatap Elsa penuh harap. Elsa menganggukkan kepalanya dengan yakin. Anak itu lantas mendekati Elsa untuk membisikkan permintaanya. "Please call my brother because i wanna back to my home now." "But the event isn't over yet," Elsa menyahut."But i just wanna come back home."Melihat anak itu yang terlihat tidak nyaman, Elsa menatap sekelilingnya."Nggak mau makan dulu?" tawar Elsa. Semua orang nampak sibuk dengan kegiatan masing-masing sehingga tidak memperhatikannya dan Lano saat ini. "I'm not feeling well, so i want to go home as soon as possible." "Okey, how can i calling your brother? I don't know his phone number." "Use my phone. This is." Lano mengeluarkan ponselnya dan memberikan itu kepada Elsa. Elsa merasa takjub karena anak itu sudah memiliki ponsel sendiri di umur sekecil ini.  "Oke. Jadi kakak mesti ngomong apa ke kakak kamu?" "Dia tidak akan percaya jika aku ingin pulang jadi tolong beritahu dia agar menjemputku dan katakan aku sedang sakit." Akhirnya Lano mau berbicara bahasa indonesia setelah sejak tadi ia terus bicara dalam bahasa inggris. Tiba-tiba saja sudah terdengar suara sambungan telepon dan Lano memberikan ponselnya kepada Elsa. "Hello, what's happen?" suara lelaki muncul ketika sambungan telepon diangkat. "Halo, Kak. Ini kakaknya Lano ya?" "Siapa?" lelaki itu sepertinya terkejut mendengar suara Elsa. "Saya MC di acara ulang tahunnya Alan. Ini Lanonya lagi sakit dan minta dijemput." "Oke. Lano?" Elsa memberikan ponsel itu kepada Lano. "Come on, Bro Dev! I want to come home now!" "Oke. Wait for me. See you." ----------- Elsa menemani Lano untuk makan selagi menunggu kakaknya menjemput. Ia juga sudah memberitahukan hal tersebut kepada Bram dan tadi Bram mengajak Alan untuk menghampiri Lano. Ternyata Lano datang sendiri ke pesta ini. Tadi ia diantar oleh kakaknya kemudian meminta kakaknya pergi dan ingin disini sendiri saja. Mamanya sedang pergi ke luar negeri bersama Papanya dan ia sengaja tidak ikut agar bisa hadir di ulang tahun Alan. Pertemanan yang sangat manis sekali. "Boleh minta nomor kakak?" tanya Lano sambil menyodorkan ponselnya. "Untuk apa?" "You're really a good listener. So, i think you'll interest to hear my story again." Elsa terkekeh mendengar ucapan Lano. Anak itu memang sudah banyak bercerita sejak tadi. Cukup banyak hal yang diceritakannya seperti momen-momen berkesan selama di sekolah. Lani bahkan menceritakan ksiah lucunya dengan beberapa temannya yang hadir disini sambil menunjuk beberapa orang itu. "Oke." Elsa mengambil ponsel milik Lano kemudian menyimpan nomornya disana. "My name is Elsa." "Elsa in Frozen movie? Whoaaa, you can make me freeze." Elsa kembali terkekeh mendengar ucapan Lano. Anak itu sangat ceria dan suka bercerita. Sepertinya ia sangat butuh pendengar yang mau mendengarkan begitu banyak ceritanya. "Hei, Devan." suara Bram yang cukup keras membuat Elsa mengalihkan pandangannya. Seorang lelaki tampan baru saja memasuki rumah Bram. Elsa merasa tidak asing dengan lelaki itu. "Mau jemput Lano?" tanya Bram. Devan pun menganggukkan kepalanya kemudian mengidarkan pandangan untuk mencari adik bungsunya itu. "I'm here, Bro Dev!" Suara itu membuat Devan langsung menoleh ke sumber suara. Itu benar-benar suara Lano.  "Oke, let's go." ajak Devan seraya menghampiri adiknya itu.  Ia terlihat terkejut ketika melihat gadis yang duduk di sebelah Lano. "Lo?" tanyanya. Elsa sungguh merasa tidak asing dengan wajah lelaki ini seolah pernah bertemu akan tetapi entah dimana. "Kita pernah ketemu?" tanya Elsa ragu. Devan menganggukkan kepalanya. "Bioskop, parkiran, dan rumah sakit." Elsa berusaha mengingat waktu itu. "HP hilang." "Ah iya." Elsa langsung dapat mengingatnya dengan baik. Benar saja dia adalah lelaki tampan yang waktu itu. Kak Devan yang membuatnya pergi ke rumah sakit. "Thank's waktu di RS." Elsa menganggukkan kepalanya. "Eits, lo kenal sama Elsa, Van?" tanya Bram yang memperhatikan keduanya sejak tadi. "Enggak," sahutnya cepat.  Devan lantas memegang tangan adiknya hingga anak kecil itu berdiri dari duduknya. "Balik ya." Devan lantas mengajak Lano untuk pamit kepada Alan serta orang tuanya. "Lo kenal Devan, Sa?" "Enggak." "Dia Devano Widjaja, yang satu kelompok KKN sama kita." "Apa?" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD