Mobil taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah gerbang besar. Teringat bahwa keluarga Devan adalah keluarga kaya, Elsa pun tidak heran jika Lano mengarahkan taksi ke alamat rumah ini. Ia membayar biaya taksi kemudian membuka pintu mobil dan mengajak Lano keluar. Lutut anak itu terluka jadi Elsa melangkah dengan hati-hati sambil menuntun tangan Lano.
"Hello, Sir. It's me Lano. Please open the gate."
Seseorang muncul dari pintu kecil dan nampak terkejut melihat Lano bersama Elsa.
"Den Lano sama siapa itu?"
"Kak Elsa."
"Permisi, Pak. Lano tadi ada cedera waktu pelajaran olahraga. Ini saya mengantarkan Lano."
Pandangan satpam itu pun tertuju pada lutut Lano kemudian menganggukkan kepalanya.
"Den Lano kuat jalan? Naik moli aja ya."
Merasa bahwa satpam itu akan mengantar masuk ke dalam rumah, Elsa berniat pamit sampai disini. Ia akan merasa sangat canggung jika harus masuk ke dalam dan bertemu dengan keluarga Lano. Pasti akan cukup sulit untuk menjelaskannya.
"Pak, kalo gitu saya permisi ya. Lano, Kakak pamit pulang ya."
Lano menarik tangan Elsa dan memberikan wajah cemberut.
"Ayo Kakak ikut ke dalem."
"Lano biar dianter sama Pak satpam ya."
"Nggak papa, Mbak. Masuk aja ke dalem. Bertamu dulu sebentar."
"Ayo, Kak." Lano menarik tangan Elsa.
Pak satpam mempersilahkan Elsa dan Lano masuk kemudian ia meminta rekan lainnya untuk mengantar Lano. Rupanya rekan itu menuju mobil listrik yang berada di sebelah bangunan tempat satpam tinggal.
"Ayo naik, Kak."
Elsa sungguh terpana dengan rumah besar yang berada di pekarangan ini. Taman yang luas dan cantik. Benar-benar seperti istana.
"Lano rumahnya besar banget ya."
"Iya. Capek kalo jalan dari kamar ke ruangan lain."
Elsa terkekeh mendengar keluhan anak kecil itu. Apa kabar dengan rumahnya yang cukup kecil dan mungkin hanya sebesar rumah satpam dekat gerbang tadi. Itu pun menurutnya sudah cukup besar daripada ia harus menyewa di rumah susun yang sempit hanya karena demi mendapatkan harga yang murah. Elsa tetap sangat bersyukur dengan rumah kecilnya itu.
Mobil listrik yang mereka kendarai telah tiba di depan pintu utama rumah ini. Rumah yang benar-benar megah dan besar.
Elsa membantu Lano turun kemudian lelaki yang tadi menyupir mobil listrik membukakan pintu.
"Silahkan masuk, Mbak dan Den Lano."
"Terima kasih, Pak."
Elsa lantas masuk ke dalam ruang tamu dan semakin dibuat terpana oleh isi ruangan. Lano mengajaknya untuk di sofa.
"Bibii.."
Anak kecil itu memanggil asisten rumah tangganya dan dalam beberapa menit kemudian seorang wanita paruh baya muncul.
"Loh, kok udah pulang?"
"Eh, ada tamu." ujarnya ketika baru menyadari ada Elsa.
"Tadi jatoh pas olahraga," ucap Lano menunjuk lututnya.
"Waduh, tapi Den Lano nggak kenapa-napa?" wanita itu mendekati Lano kemudian memeriksa lututnya.
"Lano baik-baik aja, Bu. Cuma lecet sama berdarah sedikit tadi."
"Oh begitu. Mbak siapa ya? Guru di sekolah Lano? Tapi kok nggak pake seragam?"
Elsa sendiri bingung harus menjawab apa namun untungnya Lano segera bersuara.
"Kak Elsa yang tolong Lano dan antar kesini. Kak Elsa mau minum apa?"
"Nggak perlu repot-repot ya Lano. Sekarang udah sampe di rumah, kan? Kakak pulang ya?"
"Tunggu dulu, Kak Elsa. Saya panggil Ibu dulu ya. Tunggu sebentar."
Wanita itu melangkah meninggalkan ruang tamu namun beberapa menit kemudian kembali lagi menghampiri mereka.
"Kak Elsa, mau minum apa?" tawarnya.
"Nggak usah repot-repot, Bu. Saya sebentar aja kok disini."
"Teh atau jus?"
"Minum dulu, Kak." pinta Lano.
"Jus atau teh?" tanya wanita itu lagi.
"Air putih aja, Bu. Terima kasih ya."
Wanita itu terlihat terkejut dengan jawaban Elsa namun kemudian menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Elsa serta Lano.
---------
"Permisi, Bu."
Flora yang tengah memeriksa berkasnya di ruang kerja pun kemudian mendongakkan kepalanya.
"Ada apa, Bi?"
"Den Lano udah pulang. Tadi abis jatoh pas olaharga."
Flora langsung berdiri dari duduknya karena meras khawatir.
"Jatoh?" tanya Devan yang sejak tadi berada di ruang kerja dan menemani ibunya.
"Dimana sekarang?"
"Ruang tamu, Bu. Ada Kak Elsa yang nganterin pulang."
Flora langsung bergegas keluar dari ruang kerja sementara Devan mengernyitkan keningnya karena merasa bingung.
"Elsa?" gumamnya.
Mereka lantas menuju ruang tamu dimana disana ada Lano yang berbincang dengan seorang gadis.
"Lano. What's happen?" tanya Flora menghampiri anak bungsunya itu.
"Mama, tadi jatoh."
Flora langsung duduk di sebelah Lano dan memeriksa lutut anaknya itu.
"Kita panggil dokter Andi ya?" tawar Flora.
"No, i'm fine."
Elsa memberikan senyumnya ketika Flora menatap dirinya.
"Tante,"
"Kamu yang nganter Lano pulang ya? Terima kasih banyak ya. Siapa namanya?"
"Elsa, Tante."
"Oh, Elsa. Maaf ya jadi ngerepotin."
"Nggak papa, Tante."
Elsa mengalihkan pandangannya kepada Devan yang kini menatap dirinya dengan begitu lekat. Dari posisinya yang berdiri dan memasukkan kedua tangan di dalam saku celana, lelaki itu seperti tengah bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Elsa mengalihkan pandangan kemudian menatap wanita yang duduk di sebelah Lano.
"Kalo gitu saya pamit pulang ya, Tante."
"Eh mau pulang sekarang? Nggak main dulu disini?"
Flora menatap Devan yang ternyata pandangannya terpusat pada Elsa.
"Ohiya ini anak saya, Devan. Kalian sepertinya seumuran."
"Iya tante, kebetulan saya dan Devan satu kampus."
Flora terlihat terkejut dengan fakta itu.
"Loh, ternyata udah saling kenal ya."
Elsa menganggukkan kepalanya.
"Saya pamit ya, Tante."
"Thank you, Kak." ujar Lano. Elsa menganggukkan kepalanya seraya mengelus kepala Lano.
"Get well fast, okay?"
Lano yang kini menganggukkan kepalanya dengan semangat seraya tersenyum.
"Devan, kamu tolong anterin Elsa pulang ya."
Ucapan itu membuat Elsa langsung merasa terkejut.
"Nggak perlu, Tante. Saya pulang sendiri aja."
"Nggak papa, Elsa. Anggap saja ucapan terima kasih karena kamu sudah mengantar Lano pulang. Devan, tolong antar ya."
Elsa berpikir untuk mencari alasan lain agar dirinya bisa menolak hal tersebut dengan halus.
"Kebetulan saya udah dijemput temen, Tante. Dia lagi di jalan sekarang," ucap Elsa.
"Oh begitu ya. Kalau gitu-"
"Temen siapa?" Devan bersuara.
Elsa sendiri tidak menyangka bahwa hal itu juga akan dipertanyakan. Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa karena memang sejak awal dirinya berbohong hanya agar tidak diantar oleh Devan.
"Angel." sahutnya kemudian. Elsa dalam hati meminta maaf karena sudah berbohong sejauh ini.
"Kalau begitu titip salam untuk temen kamu ya. Makasih banyak ya, Elsa."
"Iya, Tante. Saya pamit."
Elsa lantas melangkah keluar dari ruang tamu setelah melambaikan tangan pada Lano.
"Dev, tolong anter Elsa sampai gerbang ya."
"Oke, Ma."
Elsa keluar dari pintu rumah itu dan merasa lega. Ia kini berjalan kaki menuju gerbang keluar dari pekarang rumah ini. Jaraknya lumayan juga, benar-benar lumayan untuk olahraga pagi.
Setelah berjalan lima menit, dirinya tiba di dekat gerbang.
"Loh, Kak Elsa kok udah pulang?"
"Iya, Pak. Saya pamit pulang ya."
"Pulangnya sama siapa?"
"Dijemput temen, Pak."
Elsa sudah terlanjur berbohong jadi ia lanjutkan saja.
"Oalah. Hati-hati ya, Kak Elsa. Makasih sudah nganterin Den Lano."
Elsa menganggukkan kepalanya dan menggumamkan terima kasih karena telah membukakan pintu gerbang.
Ia menghela napas setelah keluar dari pekarangan rumah mewah itu. Dirinya berada di kompleks perumahan elit dan mustahil ada angkot di dalam sini. Ia harus berjalan kaki hingga keluar kompleks baru akan menemukan pangkalan angkot yang tadi dilihatnya ketika berangkat kesini. Setelah itu baru dirinya bisa naik angkot untuk pulang ke rumah.
"Tau gitu tadi terima aja di anterin," keluhnya. Elsa lantas mulai berjalan kaki sambil mengikuti peta digital dalam ponselnya. Ia tidak begitu tau jalanan di kompleks ini karena baru pertama kali masuk ke perumahan ini. Elsa tidak memiliki teman yang tinggal disini jadi tidak pernah datang berkunjung ke kompleks perumahan elit ini.
Yuda ternyata adalah sepupu dari Devan tetapi rumah keluarga Yuda terlihat sederhana saja. Ya, meskipun di dalam rumahnya ada begitu banyak barang mewah.
Elsa berjalan beberapa menit seraya menghela napas. Hari sedang terik dan ia berjalan kaki entah berapa lama. Uangnya sudah ia gunakan untuk membayar angkot menuju sekolah Lano dan membayar taksi menuju kesini. Jika ia membayar untuk taksi atau ojek online untuk pulang, uangnya benar-benar terkuras habis.
Tin tin..
Suara itu membuat Elsa menoleh kemudian menghentikan langkahnya. Jendela kaca mobil terbuka dan menampakkan Devan di balik kemudi.
"Masuk," ujarnya.
"Eh, tapi gue dijemput-"
"Nggak usah bohong. Masuk."
Tatapan tajam lelaki itu membuat Elsa mau tidak mau terpaksa membuka pintu mobil dan masuk kesana. Baiklah jika memang dirinya dipaksa masuk.
Mobil kemudian berjalan dan keheningan pun menyambut mereka berdua.
"Rumah lo dimana?"
Sempat muncul rasa minder ketika Devan bertanya seperti itu. Lelaki itu pasti akan terkejut melihat rumahnya yang kecil dan biasa saja.
"Di g**g kecil. Gue turun di pangkalan angkot aja."
Jika naik angkot ia hanya perlu membayar tiga ribu rupiah untuk menuju rumahnya. Jadi tidak masalah. Elsa hanya tidak ingin alamat rumahnya diketahui banyak orang. Pengalaman saat Bram berada di rumahnya ketika penagih hutang sudah cukup membuatnya merasa malu. Ia tidak malu karena kondisi ekonominya yang buruk dan rumahnya yang sederhana. Ia hanya malu ketika diketahui memiliki begitu banyak hutang. Elsa tidak ingin orang lain salah paham dan berkurang kepercayaannya setelah mengetahui begitu banyak hutang yang harus ia bayar. Saat itu saja Bram benar-benar kaget, entah akan seperti apa reaksi teman-teman lainnya. Akan jauh lebih baik jika sedikit orang yang mengetahui rumahnya dan itu akan memperkecil peluang berkunjung secara tiba-tiba.
"Gue anter sampe rumah."
"Oke."
Untuk orang sekelas Devan, seharusnya ia tidak memiliki alasan apapun untuk datang lagi ke rumahnya.
Tidak lama kemudian mobil Devan tiba di depan pekarangan rumah Elsa. Elsa pun melepas sabuk pengamannnya. Di depan sana rupanya ada Yuda yang nampak memainkan ponsel. Elsa yang melihat hal itu pun jadi mengernyitkan keningnya.
"Makasih ya. Oh iya, jangan lupa gabung grup kelompok KKN. Lo aja yang belom gabung grup."
Sepanjang perjalanan tadi Elsa sudah memikirkan untuk mengatakan hal itu. Namun karena suasana benar-benar hening dan lelaki di sebelahnya terlihat terlalu fokus menyetir, dirinya hanya diam saja.
Ia lantas keluar dari mobil Devan dan mendekati teras rumahnya. Yuda yang melihat hal itu pun langsung menghampiri Elsa dan bangkit dari duduknya.
"Elsa."
"Kenapa, Yud? Sampe lo nyamperin gini."
"Gue butuh bantuan nih. Sorry ya mendadak."
"Masuk dulu, yuk." ajak Elsa seraya membuka pintu rumahnya yang terkunci. Ia lantas mempersilahkan Yuda untuk masuk lebih dahulu. Saat dirinya hendak masuk, ia menghentikan pergerakan dan menatap mobil yang masih berada pada tempat semula.
"Kenapa masih disitu, sih?" gumam Elsa.
Meski dari kejauhan, Elsa dapat melihat mata tajam Devan yang memperhatikan dirinya. Elsa memilih mengabaikannya kemudian masuk ke dalam rumah.