Chapter 10

1906 Words
Rupanya kedatangan Yuda adalah untuk meminta tolong diantar ke acara pernikahan saudaranya. Mama papanya akan ke luar kota siang ini untuk sebuah pekerjaan jadi Yuda yang diminta untuk datang. Santi tidak bisa datang kesana karena ia pulang sekolah sore. Ada kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya. Sementara Yuda harus berangkat pukul tiga siang nanti. Yuda tidak memiliki ide untuk meminta siapapun selain Elsa.  Acara pernikahannya di daerah Jakarta dan kemungkinan dia akan tiba di rumah malam hari. Akan tetapi itu tidak masalah. Setidaknya ia bisa pergi refreshing gratis selama perjalanan. Berhubung Elsa tidak memiliki dress untuk dipakai kesana, dirinya pun terpaksa meminjam kepada Angel. Untungnya gadis itu tidak keberatan meminjamkannya kepada Elsa. Meski sebenarnya Elsa merasa tidak enak, namun harus bagaimana lagi. Dirinya tidak memiliki uang untuk membeli atau menyewa dress. Satu-satunya jalan adalah meminjam. Jika saja dirinya tidak terlilit hutang, maka pasti Elsa bisa saja membeli itu.  Bahkan Angel terlalu bersemangat untuk acara ini. Dirinya sampai datang ke rumah Elsa untuk membantu berias. Kali ini Elsa hanya bisa diam saja menunggu Angel selesai merias dirinya. Karena harus fokus melunasi begitu banyak hutang, Elsa sangat jarang membeli make up. Ia juga tidak pernah berias untuk menghemat pengeluaran. Sementara Angel yang memang suka bermain make up, selalu semangat jika sudah perihal merias wajah. Ia sangat suka merias wajah Elsa. Kadang Angel akan menjadikan Elsa sebagai muse-nya bila ingin mencoba teknik make up terbaru. Terutama jika ada pekerjaan Elsa yang mengharuskan dirinya tampil dengan make up. Jika dirinya tidak ada kegiatan maka Angel yang akan mendandani Elsa, seperti saat ini. Bisa dibilang Elsa benar-benar bersyukur memiliki Angel di sisinya. Gadis itu sangat membantu dalam banyak hal dan juga sangat pengertian. "Udah. Selesai deh," ucapnya semangat setelah memoleskan liptint pada bibir Elsa. "Gilak lo emang cantik banget, Sa." Angel nampak terpukau melihat penampilan Elsa yang terlihat sangat cantik. Gadis itu memang sudah cantik tanpa riasan, lalu setelah dirias seperti ini dirinya menjadi terlihat lebih cantik lagi. Angel jadi gemas ingin menjadikan Elsa sebagai model saja. Wajah dan body Elsa benar-benar mendukung untuk hal itu. Sayangnya Elsa bukanlah tipe yang suka menjadi pusat perhatian. Meski demikian, Elsa sudah menjadi pusat perhatian semenjak mereka menjadi mahasiswa baru. Meskipun Elsa berpenampilan sangat sederhana, begitu banyak yang menyukainya karena kecantikannya yang natural. "Makasih banyak, Ngel. Make up lo emang oke banget sampe bikin gue beda gini. Udah kayak Cinderella nih gue." "Eits, ini mah karena emang lonya yang cantik, Elsa. Ini aja gue make up-nya natural banget. Yuda pasti bakalan pangling liat lo secantik ini." Elsa hanya terkekeh saja sementara Angel kini membereskan peralatan make up-nya. "Kalian kenapa nggak jadian aja sih? Lo c**k banget sama Yuda. Sering kemana-mana bareng juga kan kalian?" "Kemaren Bram, terus sekarang Yuda. Jodohin aja terus, Ngel." "Kalo yang sama Bram kan buat bercandaan, tapi kalo sama Yuda gue mendukung dengan serius, Elsa. Gue jodohin aja terus siapa tau jodoh beneran." Angel kemudian terkekeh. "Tapi gue nggak pantes untuk Yuda, Ngel." Kekehan Angel pun terhenti setelah Elsa bersuara. Ia menatap Elsa seolah berusaha untuk mencerna ucapan itu. Terlebih raut wajah Elsa terlihat serius. "Ih sumpah, Sa. Lo suka sama Yuda?" tebaknya. Angel langsung duduk di sebelah Elsa dan menatap sahabatnya itu. "Sedikit." Jawaban itu membuat kedua mata Angel langsung membulat. "HA? OMG, ELSA!" Angel sungguh merasa terkejut dengan fakta ini. Pasalnya dirinya tidak pernah mendengar Elsa membicarakan mengenai percintaan atau perasaannya. Elsa sangat fokus untuk menjalani kehidupannya dan tidak berharap menjalani hubungan percintaan untuk saat ini. Ia menganggap itu akan menjadi penyebab fokusnya terpecah. "Sa, serius?" tanya Angel lagi tidak sabaran. Elsa kemudian memberikan senyuman manisnya. "Gue kagum sama di, Ngel. Udah itu aja." Elsa tidak menampik bahwa Yuda adalah pria yang sangat baik. Mereka sudah saling mengenal dengan baik selama tiga semester ini. Selain Yuda, keluarga lelaki itu juga sangat baik dan sudah sangat banyak membantu. Berada di jurusan yang sama dengan Yuda, sering menghabiskan waktu bersamanya, dan mengenal keluarganya dengan baik membuat Elsa tanpa sadar menumbuhkan perasaan terhadap lelaki itu. "Tapi nih ya. Menurut gue, dia juga suka sama lo. Kalian juga deket banget kan. Ini aja dia sampe minta elo yang nganter ke Jakarta. Berdua doang pula. Lo ngerasa nggak sih, Sa? Yuda tuh beda kalo natap lo. Sikap dia juga beda. Dia se-perhatian itu sama lo." Mereka satu jurusan dan tentu saja selalu ada hal-hal yang terjadi antara Yuda dan Elsa. Hal itu tidak luput dari perhatian Angel karena dirinya sangat memperhatikan Elsa. Bila ada hal-hal yang tidak disukai oleh Elsa dan membuatnya risih, Angel akan membantunya dengan segera. Akan tetapi untuk masalah Yuda, ia merasa lelaki itu memiliki perasaan lebih terhadap Elsa. Setidaknya tatapan mata lelaki itu berbeda bila tengah menatap Elsa. Belum lagi mereka sering bertemu sepulang kuliah karena Elsa mengajar adik Yuda. Mereka sering bertemu di kampus dan di rumah Yuda. Bukankah itu intensitas pertemuan yang terlalu sering dan wajar saja bila ada rasa yang tumbuh. "Udahlah, Ngel. Udah ya. Lo jangan bilang-bilang dan jangan cie-cie'in gue sama Yuda. Nggak enak gue sama dia." Meski perasaannya mulai tumbuh, Elsa selalu berusaha menyadarkan dirinya untuk tidak berharap lebih. Lagi pula dirinya tidak mungkin menjadi seperti Cinderella. Dengan hutang yang sangat menumpuk, ia tidak tahu kapan bisa mulai menikmati hidup dan mewarnai hidupnya dengan kisah percintaan. Waktunya selama ini saja terasa kurang untuk bisa menghasilkan banyak uang. Itu sebabnya Elsa tidak ingin menjalani hubungan percintaan untuk saat ini. Dirinya tidak ingin terbuai dan hidupnya menjadi semakin berantakan. Belum lagi bila ia harus menambah beban pikiran saat terjadi perdebatan dengan sang pacar. Itu hanya akan menambah masalah hidupnya saja. Lagi pula memangnya siapa lelaki yang mau menjalin hubungan dengan perempuan terlilit hutang ratusan juta seperti dirinya ini. ---------- Setelah terdengar suara mobil di depan rumahnya bersamaan dengan pesan dari Yuda bahwa lelaki itu telah tiba di depan rumah Elsa, maka ia pun segera keluar dan mengunci pintunya. Yuda keluar dari mobil dan menghampiri Elsa. Angel baru saja pulang dan mungkin saja mobilnya berpapasan dengan mobil Yuda di jalan.  Elsa menghampiri Yuda yang baru saja keluar dari mobil. Ia memberikan senyuman manisnya. Yuda terlihat berwibawa dengan penampilannya sekarang. Ia terlihat lebih dewasa dan tampan. "Lo cantik banget, Sa." pujinya terlihat tulus. "Makasih loh ya, Yud. Terbang nih gue." "Serius gue. Lo cantik banget." Elsa lantas hanya bisa terkekeh. "Lo juga keren banget pake suit gini." "Gue mah emang keren dari lama, Sa. Lu kemana aja, sih? Kok baru nyadar?" Mereka kemudian terkekeh bersama. "Ayo," ajak Yuda. Yuda lantas berjalan berdampingan dengan Elsa dan membukakan pintu mobil untuknya. "Makasih ya." Elsa merasa sedikit tersentuh dengan sikap Yuda kali ini. Meskipun lelaki itu memang sangat baik kepada siapapun dan suka bersikap manis. Hanya saja untuk sekarang keadaannya terasa sedikit berbeda. Setelah itu Yuda memutari mobilnya dan masuk ke dalam mobil. Mobil tersebut melaju meninggalkan pekarangan rumah Elsa dan dalam perjalanan menuju Jakarta. Sepertinya Elsa memiliki waktu untuk tidur selama perjalanan. Hanya saja tentu tidak enak bila membiarkan Yuda merasa sendiri selama menyetir. Itu sebabnya Elsa memilih untuk berbincang dengan Yuda selama perjalanan mereka. Mereka sudah cukup sering berbincang entah itu ketika di kampus atau ketika Elsa tengah berada di rumah Yuda untuk mengajar Santi. Akan tetapi rasanya mereka berdua tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Perbincangan mereka selalu nyambung, dan seolah tidak kehabisan topik. Sehingga bila terlibat dalam situasi hanya berdua saja seperti ini, mereka berdua tidak akan merasa canggung atau hanya berdiam saja. Mengingat keduanya selalu memiliki topik untuk dibicarakan.  ------- Setibanya di hotel tempat acara berlangsung, Yuda menggandeng Elsa menuju ballroom. Disana tampak begitu ramai. Kedatangan Elsa dan Yuda pun menarik perhatian beberapa tamu yang hadir disana. Kebanyakan yang hadir adalah keluarga besar Yuda sehingga wajar bila kehadiran Elsa dianggap terasa asing.  "Gue grogi, Yud. Gue mesti jawab apa kalo keluarga lo pada ngajakin ngobrol?" Seharusnya Elsa berpikir lebih jauh ketika akan datang ke acara keluarga Yuda ini. Ini di luar ekspetasinya bahwa rata-rata tamu undangan yang hadir adalah keluarga besar Yuda. Untungnya dress yang Angel pinjamkan cukup sopan dan tidak terlihat buruk. Elsa hanya merasa tidak enak kepada Yuda jika dirinya terlalu menonjol dalam acara ini. "Santai aja." Yuda berusaha menenangkannya. Ia pun mengajak Elsa melangkah menuju wanita dan lelaki paruh baya. "Tante, Om." "Yuda. Makasih ya udah dateng. Tumben loh kamu nongol kalo ada acara begini." Wanita itu tersenyum manis kepada Yuda kemudian menatap Elsa.  "Cantik banget. Pacar kamu ya?" tanyanya. Elsa menjadi kikuk namun berusaha tetap memberikan senyuman terbaiknya. "Kenalin saya Elsa, Tante."  Elsa kemudian mengulurkan tangannya dan langsung dijabat hangat oleh wanita paruh baya tersebut. "Halo. Panggil aja Tante Sellin ya." "Om, Elsa." "Kamu punya pacar nggak bilang-bilang ya, Yud." lelaki itu berbicara setelah menjabat tangan Elsa dan tersenyum manis. Yuda melirik Elsa yang juga sama-sama kikuk. "Elsa temen aku, Om." sahutnya kemudian. "Pake malu-malu segala. Nggak papa kok kalo pacaran. Kalian cocok banget." Yuda memilih untuk pamit undur diri dengan alasan menyapa tamu lainnya. Elsa pun merasa lega akan hal itu. Bagaimana bisa orang-orang berpikir dirinya berpacaran dengan Yuda. Elsa yakin tipe perempuan Yuda bukanlah yang seperti dirinya. "Maaf ya, Sa. Jadi salah paham gini." "Iya nggak papa, Yud. Keluarga lo rame banget ya." "Iya, keluarga besar soalnya." --------- Saat ini Elsa dan Yuda sedang menikmati makanan yang dihidangkan. Mereka duduk bersama dan hening karena sedang sama-sama makan. Elsa sendiri makan sambil memperhatikan seisi ruangan. Sebenarnya ia cukup sering datang ke acara seperti ini karena kadang beberapa teman lelakinya meminta untuk mengantar. Bahkan Elsa pernah membuka jasa pendamping wisuda. Entah sudah berapa orang tua yang ia temui dan bohongi. Tiba-tiba Yuda terbatuk ketika makan. Elsa yang melihat hal itu pun secara reflek memberikan gelas berisi air mineral di hadapannya. Ia juga menepuk lembut bahu Yuda untuk membantu meredakan batuknya itu. "Makasih, Sa." "Udah baikan?" tanyanya.  Yuda menganggukkan kepalanya kemudian mereka melanjutkan acara makannya. Sebelum ia makan, Yuda mengajaknya untuk menyapa semua keluarga yang hadir juga pengantin. Semuanya mengira bahwa Elsa adalah kekasih Yuda dan terlihat begitu mendukung hubungan mereka. Dalam hati Elsa merasa sedikit miris. Entah akan seperti apa reaksi orang-orang tadi saat mengetahui bahwa dirinya adalah orang miskin yang terlilit begitu banyak hutang. Selesai acara makan, Elsa merasa ingin ke toilet. Ia pun meminta izin kepada Yuda kemudian bertanya letak toilet kepada salah satu petugas wedding organizer yang dilihatnya. -------- Ketika telah selesai dengan urusannya, Elsa menghela napas dan menatap cermin. Kemudian Elsa memberikan senyuman terbaiknya. Ia lantas keluar dari toilet. Jam tangannya menunjukkan pukul delapan malam. Seharusnya sebentar lagi ia pulang karena Yuda mengatakan bahwa mereka akan pulang pukul delapan malam. Kakinya sebenarnya sudah terasa tidak nyaman karena terlalu lama menggunakan high heels. Tentu saja ini milik Angel. Semua yang Elsa kenakan di tubuhnya adalah barang milik Angel. Gadis itu ingin dirinya terlihat sangat cantik jadi meminjamkan semua aksesoris pendukung seperti anting, kalung, jam tangan, dan high heels. "Kak Elsa." Elsa menoleh dan terkejut melihat Lano berada di depan pintu toilet pria. "Hei." Toilet pria dan toilet wanita bersebrangan dan pintu masuknya berhadapan satu sama lain. "Kamu disini juga? Kok aku nggak liat ya?" Pasalnya selama berkeliling tadi Elsa tidak melihat keberadaan Lano di pesta ini. "You look so beautiful." Elsa tersenyum kemudian memberikan terima kasih. "And you look so handsome with that tuxedo." "Lano," Suara itu membuat Elsa mengalihkan pandangannya kemudian matanya pun bersitatap dengan Devan. Laki-laki itu terlihat sangat gagah dengan jas hitamnya.  "Kamu balik duluan ya. Temenin Kak Meisya di dalem." "Aku ingin ngobrol dengan Kak Elsa." "Help me please." Lano terlihat cemberut namun kemudian menganggukkan kepalanya. Ia lantas menatap Elsa seraya melambaikan tangannya. "Bye, Kak Elsa." Elsa juga ikut melambaikan tangannya kemudian menatap Devan sebentar. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan seperti biasa yang tajam dan seolah penuh selidik. Elsa lantas melangkahkan kakinya berniat pergi dari sana. "Duluan, ya."  Saat kakinya sudah melangkah, tangannya pun dicekal oleh Devan. "Kenapa lo bisa disini?" tanyanya.  Orang-orang yang masuk dan keluar dari toilet pun mulai memperhatikan mereka karena berbincang di tengah jalan. "Gue dateng sama Yuda." Devan lantas melepaskan cekalan tangannya dan hanya menatap Elsa tanpa mengatakan apapun. Elsa lantas pamit untuk pergi lebih dahulu. Melihat Elsa yang melangkah pergi, Devan pun kemudian ikut melangkah untuk kembali ke ballroom. "Itu yang namanya guru les?" gumamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD