Hari ini merupakan hari dimana kelompok KKN Elsa akan bertemu dan membahas terkait KKN mereka. Pertemuan dilakukan di sebuah kafe. Elsa sebenarnya tidak terlalu suka jika melakukan pertemuan apapun di kafe karena itu akan membuatnya mengeluarkan uang. Hanya saja dirinya tidak bisa menolak ataupun mengajukan usul tempat lain. Teman-teman kelompoknya sudah sangat setuju dengan kafe itu.
Untungnya ada Bram dalam kelompoknya. Lelaki itu berinisiatif untuk menjemput Elsa kali ini. Jadi Elsa tidak perlu mengeluarkan ongkos perjalanan karena ia pergi bersama Bram. Terlebih lagi Elsa tidak perlu merasa tidak enakan karena lelaki itu sendiri yang ingin menjemputnya, bukan atas permintaan Elsa. Bram memang benar-benar baik dan pengertian.
"Denger-denger lo abis jalan sama Yuda."
Ketika Elsa masuk ke dalam mobil Bram, ucapan itu yang pertama kali menyambutnya.
"Jalan?" tanya Elsa. Ia mengernyitkan keningnya. Bila jalan bersama Yuda yang Bram maksud adalah sebuah kencan bersama Yuda, tentu dirinya tidak pernah melakukan hal tersebut.
"Iya. Mama Papa gue ngeliat lo waktu kondangan di Jakarta."
Rupanya itu yang dimaksud oleh Bram. Bila untuk hal tersebut, dirinya hanya mengantar Yuda saja. Elsa sendiri tidak sadar bahwa ternyata ada orang tua Bram disana. Dirinya cukup mengenal orang tua Bram sehingga bila melihatnya maka Elsa akan menyapa. Hanya saja saat kemarin dirinya tidak melihat orang tua Bram dalam acara tersebut.
"Yaelah itu mah gue kondangan bukan jalan, Bram."
Bram pun terkekeh mendengarnya.
"Tapi gue liat-liat, kalian cocok loh."
"Lo nggak cemburu kan, Bram?" tanya Elsa.
Detik kemudian tawa menggelegar terdengar di dalam mobil. Elsa pun ikut tertawa. Bram saat ini tengah menyukai seorang perempuan yang juga bergelut di bidang bisnis. Bram hanya menceritakannya kepada Elsa karena penasaran ingin tahu bagaimana trik mendekati perempuan. Mengingat perempuan yang disukainya itu cukup sulit untuk didekati. Itu sebabnya dia bercerita kepada Elsa mengenai karakter perempuan yang sedang didekatinya itu. Meskipun Elsa tidak tahu secara spesifik siapa perempuan yang Bram bicarakan, hanya saja Elsa tahu dengan baik bagaimana sikap perempuan itu. Yang jelas, Bram menyukai perempuan yang lebih tua dari dirinya.
Tidak berapa lama kemudian mereka tiba di kafe tempat janjian. Elsa lantas memeriksa grupnya. Agus mengatakan sudah reservasi meja nomor 12 atas nama dirinya. Mata Elsa menjelajah seisi kafe untuk mulai mencari. Setelah pandangannya mengelilingi sekitar, akhirnya Elsa menemukan meja nomor 12. Disana nampak ada dua orang perempuan dan tiga laki-laki. Sudah ramai rupanya. Itu artinya teman kelompoknya bukan tim ngaret. Bisa dilihat dari setengah anggota kelompok sudah berada disana padahal ini masih sepuluh menit sebelum waktu perjanjian mereka. Biasanya waktu perjanjian dianggap sebagai waktu patokan untuk mulai bersiap atau mulai berangkat bagi para kaum golongan 'ngaret'. Elsa pun merasa bersyukur karena memiliki teman kelompok yang cukup on time. Setidaknya itu akan menggambarkan bagaimana mereka akan bekerja sama selama beberapa minggu ke depan.
Elsa pun menempuk pundak Bram dan menunjukkan tempat kemana mereka harus menuju. Keduanya melangkah mendekati meja 12.
"Haloo.."
Elsa menyapa beberapa orang yang ada disana.
"Elsa ya?" tebak seorang perempuan.
"Iya."
"Gue Lina. Anak AGB."
Elsa menjabat tangan Lina.
"Elsa, jurusan mankeu."
"Hai, Elsa. Gue Sarah, anak manbis."
"Temen lo berarti, Bram?" tanya Elsa. Bram yang duduk dengan santai seolah tidak terlihat tertarik untuk berkenalan pun menganggukkan kepalanya.
"Iya, gue satu jurusan sama Bram."
"Gue Agus, Sa. Teknik sipil."
"Billy, sama kayak Agus."
"Risky, AGB juga kayak Lina."
Setelah sesi perkenalan dengan Elsa selesai, mereka mulai berbincang tiga orang lainnya yang belum datang. Bisa dibilang untuk kesan pertama ini mereka semua cukup ramah di awal. Semoga saja mereka semua adalah orang-orang yang menyenangkan. Selain itu Elsa juga berharap bahwa mereka semua adalah orang yang bisa diandalkan. Mengingat mereka akan melakukan KKN di daerah pedesaan. Elsa hanya tidak ingin ada beberapa orang yang sudah terbiasa dimanjakan sehingga tidak bisa mandiri selama melaksanakan KKN. Hal tersebut tentu akan sedikit menyulitkan mengingat tempat mereka melakukannya adalah di pedesaan yang beberapa fasilitasnya berbeda dengan di kota.
"Tinggal Rena, Andro, sama Devan." ujar Agus.
"Nggak papa tunggu aja dulu," Sarah berbicara.
Elsa jadi penasaran apakah Devan akan datang tepat waktu atau justru terlambat. Lelaki itu bahkan baru bergabung dengan grup keesokan harinya setelah Elsa meminta. Sepertinya Devan tidak terlalu semangat untuk menjalani hal seperti ini. Atau jangan-jangan dugaan Elsa akan meleset drastis. Bisa saja lelaki ini justru tidak datang ke pertemuan hari ini. Devan saja tidak pernah merespon percakapan di grup, entah lelaki itu membaca percakapan di grup atau tidak.
"Anak jurusan Mankeu lo doang ya, Sa?" tanya Sarah.
"Iya nih."
Bisa dibilang Elsa merasa sedikit kecewa karena dia tidak memiliki teman satu jurusan di kelompok ini. Bila ada, setidaknya ada satu orang yang telah ia kenal dengan baik. Hanya itu tidak masalah setelah dirinya mengetahui Bram ada di kelompok ini. Satu kelompok dengan Bram bisa dibilang adalah keuntungan ekstra baginya. Dia sudah mengenal Bram dengan baik dan tahu bagaimana cara bersikap terhadap lelaki itu. Bram juga adalah orang yang sangat cepat tanggap bila Elsa meminta bantuan. Setidaknya ia sudah memiliki Bram untuk diandalkan selama KKN berlangsung. Hanya perlu mengenal teman kelompok yang lainnya saja. Semoga semuanya benar-benar baik.
"Kelompok kita jurusan apa aja emangnya?" tanya Lina.
"AGB 2, Mankeu 1, Teknik Sipil 2, Biologi 1, Pendidikan Bahasa Inggris 1, Manbis 3." sahut Agus.
"Manbis satu lagi siapa emangnya?" tanya Billy.
"Si Devan," ujar Bram.
"Gilak sih gue nggak nyangka bisa satu kelompok sama Devan."
Elsa menoleh ke arah Lina dan memperhatikan gadis itu. Sepertinya dia sama seperti Angel yang merasa sangat beruntung jika bisa satu kelompok dengan Devan. Dia sendiri belum tahu apa yang membuatnya harus beruntung berada dalam satu kelompok dengan Devan. Lelaki itu terlihat pendiam. Menurut tebakan Elsa pasti dia anak manja yang tidak pernah merasakan susahnya hidup. Rumahnya sangat besar dan memiliki begitu banyak asisten rumah tangga. Untuk mendapatkan apapun, pasti lelaki itu hanya tinggal bicara saja.
Elsa justru berharap akan satu kelompok dengan Yuda. Lelaki itu lebih bisa diandalkan dalam banyak hal. Sayangnya dia berada di kelompok lain dan justru ditunjuka menjadi koordinator kabupaten. Koordinator kabupaten akan sangat sibuk nantinya. Menjadi koordinator kabupaten saja sudah menjadi bukti bahwa Yuda adalah orang yang sangat bisa diandalkan dan pintar menjadi pemimpin.
"Wah udah rame."
Seorang gadis datang bersama laki-laki.
"Hai, gue Rena. Ini Andro."
Mereka lantas kembali berkenalan dengan Rena dan Andro. Rupanya Rena dan Andro adalah sepasang kekasih. Suatu kebetulan sekali mereka bisa berada dalam kelompok KKN yang sama.
"Kayaknya harus tahan banting melihat keuwuan selama KKN nich," sahut Lina.
Sepertinya Lina adalah orang asik. Dia pandai membuat topik sejak tadi sehingga perbincangan mereka tidak menjadi kaku. Elsa bersyukur memiliki teman sejenis itu di dalam kelompok KKN mereka.
Ia melirik jam tangannya. Ini sudah terlambat lima menit dari waktu kumpul yang mereka janjikan. Tebakan Elsa rupanya benar. Lelaki itu sepertinya tidak tertarik dengan KKN ini. Devan bahkan tidak pernah merespon percakapan apapun di grup. Lalu sekarang dia menjadi satu-satunya yang datang terakhir dan sudah pasti terlambat. Elsa bahkan mulai ragu apakah lelaki itu akan datang kemari atau tidak.
"Woi, Devan! Sini."
Suara Bram membuat semua orang ikut menoleh ke arah mana Bram melihat. Lina terlihat sangat terkesima dengan ketampanan Devan yang mengenakan kaos putih dan jaket jeans biru. Laki-laki itu sepertinya hanya memiliki ekspresi wajah datar karena Elsa belum pernah melihatnya tersenyum.
"Nah lengkap akhirnya." sahut Billy.
Devan duduk di kursi kosong sebelah Elsa. Setelah itu keheningan pun terjadi.
"Ayo mulai," ajak Elsa.
"Bentar, kenalan dulu lagi semuanya ya." Agus mulai bersuara.
"Gue Agusatya Prayoga, biasa dipanggil Agus, Teknik Sipil. Lanjut, Bil."
"Oke. Billy Kertayasa Rendra, dipanggil Billy, Teknik Sipil."
"Sellina Wati, AGB, kalian bisa panggil gue Lina."
"Veronica Sarah, dipanggil Sarah, jurusan Manbis."
"Risky Andreas, dipanggil Risky pake y bukan i. AGB."
"Alexandro Martin, panggilan Andro, Biologi."
"Renata Cantika, biasa dipanggil Rena. Gue dari Pendidikan Bahasa Inggris."
"Bramantyo Wiguna, panggil aja Bram. Jangan panggil sayang nanti Elsa marah, jurusan manbis."
"Ihiyy.." Billy mulai menggoda diikuti Agus dan Risky. Sementara para perempuan nampak senyum-senyum menatap Elsa.
"Pantes dateng tadi barengan ya," ucap Lina.
"Bram, serius dikit dong." Elsa memperingatkan. Dirinya menjadi canggung jika sudah seperti ini.
"Kenalin gue Elsa Anindia, biasa dipanggil Anin. Dari jurusan Manajemen Keuangan dan satu-satunya anak Mankeu di kelompok ini."
Keheningan pun kembali muncul ketika tiba giliran Devan untuk berbicara. Semua mata mengarah kepadanya kecuali Elsa. Devan yang tadinya menatap Elsa pun kini mulai berbicara.
"Devan, Manbis."
Sepertinya semuanya mulai memiliki pemikiran masing-masing mengenai Devan. Lelaki itu terlihat begitu cool dan irit bicara.
"Oke, lanjut." potong Bram. Dirinya sudah biasa dengan sikap Devan yang seperti itu. Meskipun dia jarang masuk kelas tapi Bram sudah mengenal Devan dengan baik. Sarah yang juga teman satu jurusan Devan hanya bisa memaklumi karena sudah mengenal seperti apa irit bicaranya Devan.
"Pertama-tama kita perlu ketua, sekretaris, sama bendahara kelompok nih. Yang pertama ketua dulu. Menurut kalian, siapa yang cocok jadi ketua kita?" tanya Agus.
"Lo aja," sahut Andro.
"Iya lo aja, Gus. Paling inisiatif soalnya." Sarah menanggapi.
Semuanya pun mengangguk menyetujui pendapat Andro dan Sarah.
"Iya. Gue setuju kalo lo jadi ketua kelompok, Gus." Elsa menimpali.
Melihat Devan hanya diam saja, Agus pun mulai bertanya kepadanya.
"Menurut lo gimana, Van?"
Devan lantas menganggukkan kepalanya.
"Oke karena kalian semua udah pada milih dan setuju. Ketua kelompok kita berarti gue. Terima kasih atas kepercayaannya. Nah selanjutnya sekretaris nih. Gue yakin kalian semua pasti setuju kalo sekretarisnya cewek."
"Lina sih, fix." sahut Risky.
"Tulisan gue aja nggak kebaca, Ky."
"Gue mau deh jadi sekre," sahut Sarah.
"Nah, mantap banget." Billy memberikan jempolnya.
"Yang lain ada lagi yang mau jadi sekre?" tanya Agus.
Ketiga perempuan lainnya kompak menggelengkan kepala sehingga keputusan bahwa sekretaris mereka adalah Sarah pun diterima. Lantas tiba saat penentuan bendahara.
"Kalo bendahara? Gue juga lebih prefer cewek yang jadi bendahara."
Semuanya nampak diam dan saling memandang satu persatu dari empat perempuan yang ada dalam kelompok. Tersisa pilihan antara Elsa, Rena, dan Lina.
"Menurut gue Elsa cocok jadi bendahara," sahut Lina.
Elsa yang mendengarkan hal tersebut pun terkejut kemudian langsung menggelengkan kepalanya. Dirinya sungguh menghindari jabatan dalam sebuah organisasi atau kelompok yang bersinggungan dengan uang. Ia sendiri sudah cukup pusing mengatur uangnya agar cukup untuk membayar hutang. Menambah tanggung jawab dengan menjadi bendahara hanya akan membuatnya menambah beban hidup saja.
"Jangan Elsa deh, yang lain aja." sahut Bram.
"Gue nggak bisa jadi bendahara kelompok ini. Soalnya gue udah jadi bendahara BEM FKIP. Takut nggak fokus kalo double job." Rena bersuara.
"Jangan gue ya, please."
"Gue mah nggak bisa kalo masalah duit. Gue mikirnya Elsa karena dia jurusan Mankeu. Pasti lebih banyak paham dibanding kita-kita soal keuangan walaupun kebanyakan anak kelompok ini jurusan ekonomi." Lina mengeluarkan pendapatnya.
"Nah gue setuju tuh sama Lina. Seenggaknya Elsa udah ada basic ilmu keuangan yang lebih mendalam dibanding kita-kita," Billy ikut menimpali.
"Gimana, Sa?" tanya Agus.
"Direstuin nggak nih, Bram?" tanya Billy setengah meledek karena sedang bercanda.
"Yakin Elsa bisa?" sahut Devan tiba-tiba membuat semuanya menoleh kepada lelaki itu. Bahkan Elsa juga ikut melihat ke arah Devan. Devan pun menatap Elsa sehingga terjadi adu pandang antara mereka selama beberapa detik.
"Oke," sahut Elsa akhirnya pasrah. Semoga saja dia bisa menjalani ini. Dia menjadi kesal karena melihat tatapan mencemooh yang ditunjukan Devan. Lelaki itu kentara sekali dalam hal meremehkan dirinya.
"Kalau lo terpaksa nggak papa, Sa. Kita bisa pilih yang lain. Cowok juga nggak papa deh. Gimana?" tanya Agus sekali lagi.
"Oke, nggak papa."
"Oke deh. Berarti sepakat ya untuk ketua gue, sekre si Sarah, dan bendaharanya Elsa?"
Semuanya menganggukkan kepala.
"Sarah, lo sekalian tolong notulensi rapat kita hari ini ya."
Sarah pun menganggukkan kepalanya kemudian mengeluarkan ponsel dan mulai mencatat.
Pembicaraan pun dilanjutkan dengan membahas program kerja apa saja yang akan mereka bawa untuk desa tempat mereka akan menjalankan KKN nantinya.