Chapter 12

1729 Words
Cukup banyak ide yang berhasil ditampung setelah pembicaraan mereka tadi. Pertemuan pun berakhir dua jam kemudian.  Rena dan Andro tidak pulang dan tetap berada disana untuk melanjutkan kencan. Sementara yang lainnya pulang. Agus datang bersama Billy dengan mengendarai mobil mereka. Lina dibonceng oleh Risky sementara Sarah datang dengan naik mobil sendiri. Devan mengendarai motornya. Motor yang sama dengan yang waktu itu pernah dilihatnya ketika mereka bertemu secara tidak sengaja di bioskop. Mereka lantas berpisah pulang masing-masing. Elsa yang berada di dalam mobil Bram pun memeriksa teleponnya. Santi memintanya datang ke rumah untuk membantu belajar. Besok ia memiliki jadwal ulangan harian. "Bram. Nanti gue turun di pangkot yang biasa ya." "Mau kemana, Sa?" "Rumahnya Yuda." "Ketemu mertua?" "Bramm," ucap Elsa mengingatkan. Lelaki itu sudah tahu kesibukan Elsa lainnya adalah menjadi guru les privat di rumah Yuda. "Gue anterin sampe rumah Yuda aja, ya?" "Ih nggak usah Bram." "Nggak papa. Penasaran liat reaksi Yuda kalo lo dianter gue." "Kenapa si emangnya?" "Penasaran," Bram lantas terkekeh. "Btw, lo serius nggak papa jadi bendahara?" tanya Bram dengan nada serius. "Nggak papa. Nambah pengalaman." "Oke deh. Kalo perlu bantuan bilang aja ya." "Gue udah nggak sabar ngerepotin lo selama KKN, Bram." "Sialan." Mereka berdua kemudian tertawa. ------- Bram benar-benar mengantarkan Elsa menuju rumah Yuda. Ketika tiba di depan gerbang rumah lelaki itu, Pak Rudi nampak kebingungan karena tumben melihat mobil seperti itu datang kemari. Elsa membuka kaca jendela kemudian menyapa Pak Rudi. "Halo, Pak." "Loh, Mbak Elsa toh." Elsa lantas melambaikan tangan dan mobil memasuki pekarangan rumah Yuda. "Makasih loh ya udah nganterin gue." "Gue tunggu Yuda keluar dulu ya." "Paling yang keluar bukain pintu nanti bibinya." "Oke deh. Gue tetep nunggu." Elsa melepas sabuk pengamannya. "Makasih ya, Bram. Hati-hati. Langsung pulang lo." "Siap, sayang." "Geli gue, Bram." Elsa kemudian turun dari mobil. Ketika mengetuk pintu, tidak lama kemudian pintu pun terbuka. Sepertinya keberuntungan berpihak pada Bram saat ini karena yang membuka pintu adalah Yuda. "Oh, Elsa. Bukannya sekarang nggak ada jadwal ya?" tanyanya. "Hai, Yud. Adek lo besok ada ulangan katanya." "Oalah. Itu siapa?" tanya Yuda menatap mobil yang berada di depan rumahnya. Kaca jendela mobil pun terbuka. Bram melambaikan tangannya dari balik kemudi. "Balik ya, Sa." Elsa melambaikan tangannya kemudian terdengar suara klakson. Mobil Bram pun melaju meninggalkan pekarangan rumah Yuda. "Ayo masuk, Sa." ajak Yuda. "Kak, Elsaa!"  Santi menghambur keluar dengan semangat. "Mau belajar dimana?" tanya Elsa. Jika saat siang atau sore hari, Santi akan memilih tempat yang berbeda-beda untuk belajar. Jika belajar di kamar akan terasa mengantuk.  "Ruang makan aja gimana, Kak?" "Nanti malah laper teros." sindir Yuda. Suara ketukan pintu membuat mereka bertiga langsung fokus ke arah pintu. "Ada tamu?" tanya Elsa. "Akhirnya," Yuda melangkah dengan semangat menuju pintu. "Wah, akhirnya lo dateng." Elsa mengernyitkan keningnya kala melihat Devan dengan wajah kesal memberikan sebuah box kepada Yuda. Lelaki itu tampak memberikannya dengan sedikit melempar ke arah Yuda. Pandangan matanya pun bertemu dengan Elsa. "Makasih banget, Bro Dev."  "Ayo, Kak." ajak Santi kepada Elsa menuju ruang makan. Mereka lantas melangkah menuju ruang makan.  Yuda yang keheranan menatap Devan masih berdiri di tempatnya pun mengenyitkan keningnya. Ia menggeser Yuda agar memiliki jalan untuk bisa masuk ke dalam rumah. "Loh, bukannya lo bilang buru-buru mau nganterin Meisya ke mall?" tanya Yuda heran saat melihat lelaki itu justru masuk ke rumahnya. "Mau ngadem." Devan kemudian duduk di ruang tamu dan melepaskan jaket kulitnya. Peluh terlihat membasahi wajah lelaki itu. Setelah melepas jaketnya, ia kini hanya mengenakan kaos putih. "Mau kemana, Van?" "Dapur." "Gilak ngapain. Disini aja gue minta bibi buatin." Devan melangkah menuju dapur sehingga melewati meja makan. Nampak Elsa tengah mengajari Santi. Devan hanya melirik sekilas sebelum akhirnya membuka kulkas.  "Bi, tolong buatin jus mangga ya." pinta Devan kepada Bi Wati yang kebetulan berada di dapur. "Baik, Den." Yuda juga ikut menuju dapur. Dapurnya didesain layaknya bar sehingga ia duduk di kursi tinggi dan menumpukan tangannya pada meja. Devan duduk di hadapan Yuda sehingga tubuhnya menghadap meja makan. "Kenapa Elsa ikut kondangan?" tanya Devan. "Nemenin aja." Yuda memainkan ponselnya sehingga kepalanya menunduk. "Lo suka sama dia?" tanya Devan. Yuda pun langsung menoleh ke arah Devan. "Kenapa, Van? Tumben lo kepo gini." "Dia deket ke banyak cowok." "Dia mah emang asik anaknya. Baik juga sama siapapun." Devan menatap Elsa dengan lekat. Hal itu membuat Elsa pun merasa diperhatikan. Sehingga ketika ia mendongakkan kepala, matanya pun beradu pandangan dengan Devan. Lelaki itu tengah menatapnya lekat dengan tajam, kemudian disusul Yuda yang kini ikut menatapnya. Elsa lantas memilih untuk menghentikan kontak mata mereka dengan menunduk dan menatap buku Santi. "Meisya udah nungguin lo nih pasti." "Biarin." "Idih. Tumben banget. Biasanya juga gercep." "Dia bisa pergi sama supir." "Permisi, Den. Ini jusnya." Bi Wati menghidangkan segelas jus kepada Devan. "Makasih, Bi." "Sejak kapan di ngajar Santi?" "Setahun lalu. Kenapa, Van? Gue jadi penasaran deh. Ini pertama kalinya lo kepo dan tanya-tanya soal cewek." "Dia kayaknya udah akrab banget sama keluarga lo." Jika di depan orang-orang, Devan akan sangat pendiam. Hanya di depan keluarganya, Yuda, dan Meisya saja Devan akan banyak bicara. Selain itu, jumlah kata setiap kali dirinya bicara dapat dihitung. "Iya, Van. Udah sering kesini soalnya. Santi juga seneng sama dia." "Lano juga." "Hah, Lano? Kok bisa kenal Lano?" "Dari Bram." "Bram yang tadi nganter dia kesini?" tanya Yuda. ---------- Elsa selesai mengajar Santi ketika hari menjelang malam. Tadi ia tiba disini sekitar jam tiga siang. Ternyata waktu benar-benar tidak terasa. Awalnya Elsa merasa sedikit terganggu karena merasa diperhatikan. Rupanya Devan menatapnya selama ia mengajar Santi di ruang makan. Entah apa yang membuat lelaki menatapnya dengan tajam. Untungnya  lelaki itu lantas pergi meninggalkan dapur.  "Gue anter ya, Sa." "Nggak usah, Yud. Gue nggak enak pulangnya dianterin terus." "Nggak papa, Sa. Ucapan terima kasih gue karena kemaren lo udah mau nganterin kondangan." "Seriusan deh, nggak usah. Makasih banget." "Tapi-" "Please." Elsa mengeluarkan ekspresi memohonnya.  Yuda akhirnya menganggukkan kepala. "Hati-hati ya, Sa." "Oke, Yud. Titip salam buat Mama Papa lo ya." Setelah itu Elsa meninggalkan rumah Yuda. Dirinya lantas mengendarai angkot untuk menuju rumahnya. Besok agendanya hanyalah menghadiri sosialisasi KKN di gedung serbaguna kampus. Bisa dibilang dirinya memiliki banyak waktu akhir-akhir ini untuk bekerja. Ketika tiba di rumahnya, Elsa langsung mandi kemudian makan. Lantas dirinya mulai memainkan laptop agar dapat mencari proyek freelance yang bisa dikerjakannya sebelum berangkat KKN. Sebuah sambungan telepon masuk rupanya itu dari Bram. "Halo?" "Sa. Lo pasti lagi gabut kan sekarang?" "Enggak." "Anterin gue yuk." "Kemana?" "Beliin kado ulang tahun keponakan gue. Cewek." "Ya elah, Bram." "Seriusan." "Lo nggak punya temen cewek yang lain?" "Kagak ada yang nggak baperan kayak lo." Elsa memutar bola matanya malas. "Traktir makan pokoknya," "Gampang. Lima belas menit lagi gue sampe nih depan rumah." "Gilakk.." "See you, Elsayang." Sebenarnya Elsa hanya bercanda perihal meminta traktir makanan. Akan tetapi ya sudahlah. Ia masih bisa mencari proyek dengan memainkan ponselnya. Lima belas menit kemudian, Bram benar-benar tiba di  depan rumah Elsa. Mereka lantas pergi menuju mall untuk mencari hadiah yang bisa diberikan kepada keponakan Bram itu. "Mendadak banget sih, Bram." ujar Elsa yang baru memasuki mobil. "Baru inget tadi dibilangin nyokap." "Gila sih. Bosen banget gue seharian ngeliat lo mulu." "Latihan, Sa. Nanti pas KKN lo bakal lebih sering ngeliat gue dan bareng gue." "Hah, iya juga ya." ------------ "Mau pesen apa, Dev?" tanya Meisya. "Terserah." Meisya menghela napasnya kemudian menatap buku menu. Sementara Devan kini menatap seluruh pengunjung yang hadir. "Kalo mesen Premium Beef BBQ gimana, Dev?" "Terserah." Meisya lantas mengklik menu pilihan Premiun Beef BBQ pada tablet yang disediakan. Ia memesan dua porsi beserta Korean Friedhicken Cheezy Cream dua porsi dengan minuman Korean Lemonade. Sudah menjadi kebiasaan jika makan bersama Devan, lelaki itu hanya akan menurut atas apapun menu yang dipesan oleh Meisya. Lelaki itu masih saja asik memandang orang-orang yang datang ke restoran ini. "Gimana kelompok KKNnya, Dev? Padahal aku pengen banget sekelompok sama kamu." "Biasa aja." "Abis ini kita nonton gimana?" ajak Meisya. "Lo bilang mau makan aja kesini." "Ya biar sekalian gitu, mumpung disini." Pandangan Devan seketika terkunci pada dua orang yang baru saja memasuki restoran. Ia memperhatikan interaksi keduanya dengan lekat. "Ngeliatan apa, Dev?" tanya Meisya keheranan. Ia berusaha mengikuti arah pandang Devan dan akhirnya tahu siapa yang sedang ditatapnya seperti itu. "Itu kan Bram. Tumben ngeliat dia sama cewek." "Oh iya, itu juga cewek yang waktu itu di rumah Yuda kan? Dia lagi deket sama Yuda bukan sih? Kok sekarang malah jalan sama Bram?" ---------- "Kenapa nggak di tempat makan yang biasa aja, Bram? Yang makanan sejenis ayam atau apa gitu. Gue nggak pernah makan makanan Korea." "Nah justru itu biar lo nyoba. Biasanya cewek-cewek pada suka yang ke-Korea'an gitu." Angel pernah mengajaknya untuk makan di restoran makanan Korea. Tepatnya saat itu Angel mengajaknya untuk makan di restoran ini. Hanya saja ia merasa tidak tertarik. Ia khawatir rasa masakan Korea justru aneh dan tidak cocok di lidahnya. Itu sebabnya Elsa selalu menolak ketika Angel mengajaknya makan disini. Ini akan menjadi pertama kalinya Elsa makan di restoran Korea. "Mau pesen apa, Sa?" "Nggak tau gue. Namanya asing-asing." Bram pun tertawa mendengar hal tersebut. "Gue pesen ini aja deh yang Korean Fried Chicken Cheezy Cream." "Yang Premium Beef BBQ enak loh, Sa." "Gue pesen yang  Korean Fried Chicken Cheezy Cream aja ya." Bram kemudian menganggukkan kepalanya. "Minumnya.." Elsa nampak menatap menu-menu minuman yang ada. Bram menunjukkan salah satu minuman di layar. Setelah itu ia pun menganggukkan kepalanya merasa setuju dengan pilihan Bram. Setelah selesai memesan, dirinya lantas pamit untuk pergi ke toilet terlebih dahulu. Mengantar Bram keliling mall untuk mencari ide kado yang bagus rupanya membuat ia ingin buang air kecil.  --------- Ketika keluar dari toilet kemudian menuju wastafel untuk membasuh tangannya, Elsa dikagetkan oleh gadis di sebelahnya yang mengajaknya berbicara. "Ternyata lo gatel banget ya jadi cewek." Ketika Elsa menoleh, rupanya itu Meisya. Gadis itu tengah mengoleskan pelembab bibirnya. Elsa tidak merasa dirinya seperti apa yang dituduhkan oleh gadis itu jadi ia hanya diam saja dan fokus mencuci tangannya. "Kemarin di rumah Yuda sekarang tiba-tiba jalan sama Bram." Elsa memilih untuk berpura-pura tidak mendengar saja. Ternyata gadis ini memang menyebalkan seperti yang diucapkan Angel.  "Awas aja kalo sampe lo deketin Devan." Gerakan Elsa terhenti sejenak namun ia segera membasuh kedua tangannya. Bisa-bisanya ia bertemu dengan Meisya disini. Sebuah kebetulan yang sangat menyebalkan baginya. Ia jadi teringat dengan nasib Angel. Pantas saja sahabatnya itu sangat mengeluh ketika Meisya menjadi teman satu kelompok KKN-nya. "Selain gatel, b***k juga ternyata. Atau mungkin bisu?" sindir Meisya. Elsa sangat menyayangkan perempuan yang terlihat begitu anggun ini memiliki etika berbicara yang sangat buruk. Mereka tidak saling mengetahui satu sama lain bahkan tidak saling mengenal. Akan tetapi gadis itu berbicara seolah sudah mengenal Elsa dengan baik saja. Lagi pula yang dikatakan Meisya tidak lah benar. Dirinya tidak pernah bersikap seperti itu.  Elsa langsung pergi begitu saja meninggalkan toilet dan membuat Meisya tercengang. "Cewek s****n," umpatnya kesal. Ketika Elsa keluar dari toilet dan berniat melangkah untuk kembali ke mejanya. Tanpa sengaja ia melihat Devan duduk di sebuah kursi. Lalu hanya beberapa menit saja, lelaki itu tiba-tiba mendongakkan kepala sehingga matanya bertatapan dengan mata Elsa. 'Ketemu terus perasaan,' gumam Elsa dalam hati. Rupanya Meisya datang kemari bersama Devan. Menarik juga. Angel bilang bahwa selama ini hanya Meisya perempuan yang berhasil mendekati Devan. Bahkan Meisya sering terlihat menghabiskan waktu bersama Devan. Sayangnya tidak pernah terdengar kabar bahwa keduanya jadian meskipun sangat dekat. Elsa jadi penasaran jika suatu saat nanti tiba-tiba Devan dekat dengan gadis lainnya, akan seperti apa reaksi perempuan itu. Elsa sungguh ingin menyaksikannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD