"Sumpah ya, Sa. Gue sebel banget sama itu nenek lampir. Udah manja, banyak omong, sok ngatur pula."
Angel mengeluarkan keluh kesahnya setelah melakukan pertemuan dengan kelompok KKNnya. Yang paling membuatnya kesal adalah sikap Meisya. Gadis itu seolah menjadi perusak atas segala rencana yang mereka susun. Sepertinya Angel akan naik darah setiap berhubungan dengan gadis itu. Karakter Meisya yang cenderung egois dan selalu ingin agar pendapatnya yang diterima membuat Angel benar-benar kehabisan kesadaran. Angel yakin nantinya ketika sudah melaksanakan KKN, gadis itu hanya akan berkomentar saja tanpa melakukan apapun.
"Masak nih ya. Dia maunya perbanyak kegiatan di sekolah aja. Katanya pendidikan itu penting. Ya iya sih penting. Tapi kan aspek lainnya masih bisa dibantu, bukan cuma fokus. Padahal warga desa gue banyak punya kolam ikan. Pada mau ngembangin itu. Eh dianya sibuk pengen pencitraan ke anak-anak sekolah mulu."
Angel merasa kesal karena Meisya hanya ingin fokus ke sektor pendidikan. Padahal menurut dirinya dan teman-teman yang lain, selain sektor pendidikan masih ada sektor lain yang dapat ditingkatkan dari desa tersebut.
Elsa ingin terkekeh namun ia juga merasa kasihan terhadap Angel. Angel memang kadang suka sedikit cerewet jika sedang kesal terhadap seseorang. Angel hanya butuh seorang pendengar agar rasa kesalnya mereda. Elsa sudah terbiasa dengan hal itu dan dia akan mendengarkan segala keluh kesah Angel dengan baik. Hari ini Angel menceritakan keluh kesahnya mengenai Meisya, teman kelompok KKN-nya. Sejak awal Angel sudah bercerita bahwa ia tidak terlalu suka dengan gadis itu. Angel berasumsi bahwa Meisya akan membuatnya merasa kesal selama KKN berlangsung. Rupanya hal tersebut bisa saja menjadi benar. Mengingat sekarang, baru pertemuan-pertemuan awal namun Angel sudah merasa kesal dengan gadis itu.
"Lo harus tarik napas dan tenang dulu, Ngel. Jangan lupa bernapas dengan baik pokoknya. Kalo Yuda gimana?" tanya Elsa.
Yuda adalah orang yang cukup dapat diandalkan. Lelaki itu memiliki pemikiran yang baik serta public speaking yang mumpuni. Hanya saja dirinya bila Yuda tidak merasa nyaman dalam sebuah kelompok, maka lelaki itu akan diam saja dan tidak menunjukkan kemampuannya.
"Dia kan korkab, pasti sibuk. Cuma sejauh ini, si Yuda doang yang berani ngebantah semua omongan Meisya. Tau sendiri dia cantik. Yang cowok mah pada iya iya aja kecuali Yuda. Yang cewek-cewek pendiem semua."
Benar saja, Yuda memiliki pemikiran yang luas jadi lelaki itu pasti akan mengutarakan pendapatnya. Yuda menjadi koordinator kabupaten, itu adalah sebuah bukti bahwa dirinya memang benar-benar dapat dipercaya. Mengingat koordinator kabupaten dipilih oleh pihak departemen atau dosen. Orang yang dipercaya menjadi koordinator kabupaten tentu saja bukan sembarang orang. Tentu yang terpilih adalah orang-orang dengan track record yang baik.
"Termasuk lo juga?" tanya Elsa.
"Gue udah berusaha mendebat dia, Sa. Tapi sumpah ya orangnya nyebelin banget."
Elsa menganggukkan kepalanya karena memahami apa yang Angel rasakan. Hal itu terasa wajar karena dalam perbedaan pendapat akan terjadi perdebatan. Yang menjadi permasalahan bukanlah mengenai apa yang diperdebatkan, melainkan bagaimana sikap seseorang selama perdebatan terjadi. Lalu menurut Angel, sikap Meisya benar-benar menyebalkan.
Tidak lama kemudian mereka tiba di gedung serbaguna. Suasana begitu ramai karena satu angkatan berkumpul disini. Jumlah angkatan mereka sekitar lima ribu orang. Tentu saja itu jumlah yang sangat fantastis bila dikumpulkan dalam satu gedung.
"Yah, mana duduknya pisah perkelompok lagi."
Mereka berhenti sejenak untuk memeriksa ponsel masing-masing. Tadi pagi sudah ada pemberitahuan beredar mengenai letak tempat duduk tiap kelompok KKN.
"Gue di bawah, Sa. Lo dimana? Tribun atas jangan-jangan?" tanya Angel.
"Iya nih, beneran dong gue di tribun atas."
Elsa menghela napasnya. Pasalnya bila ia mendapatkan tribun atas maka memerlukan tenaga ekstra untuk naik tangga terlebih dahulu. Hal itu lumayan menguras tenaga. Belum lagi suasana yang sudah ramai membuat dirinya harus memperhatikan dengan baik dimana tempat duduk kelompoknya.
"Semangat naik tangga lo. Bye."
"Bye, Angel. Yang sabar yah sama kelompok KKN lo." Elsa melambaikan tangannya. Ia berharap Angel tetap merasa nyaman berada di kelompok KKN-nya. Setidaknya ada Yuda disana. Meskipun Angel merasa sebal berada di kelompok itu karena kehadiran Meisya, syukurnya hubungan Angel dengan teman lain di kelompok itu cukup baik.
Mereka berpisah menuju tempat duduk kelompok masing-masing. Biasanya Angel akan bersama Elsa bila ada acara-acara seperti ini dan mereka akan berbincang sambil berbisik bila bosan selama acara. Sekarang hal itu tentu tidak bisa mereka lakukan karena perbedaan tribun tempat duduk. Bila Angel duduk di sebelah Elsa, Elsa berani bertaruh gadis itu pasti akan mengajaknya berbincang mengenai banyak hal agar tidak bosan. Salah satu topiknya adalah mengenai rasa kesal gadis itu terhadap kelompok KKN-nya.
Elsa lantas mulai naik tangga menuju tribun A. Tribun A letaknya paling di samping. Jadi sebenarnya kurang nyaman untuk posisi menyaksikan sosialisasi seperti ini. Akan tetapi apa boleh buat, kelompoknya mendapatkan slot tempat duduk disana.
Nampak Rena melambaikan tangannya kepada Elsa. Elsa tersenyum lantas menatap deretan kursi di sekitar Rena. Rupanya teman satu kelompoknya sudah berada disana semua, termasuk Devan. Hanya tersisa satu kursi kosong dan itu terletak di sebelah kiri Devan. Sebelah kanan Devan adalah Risky lalu di sebelah kiri kursi kosong itu adalah batas tempat duduk tribun. Selain itu sudah tidak ada slot kosong lagi. Elsa pun terpaksa duduk di sebelah Devan. Setidaknya di depan bawahnya ada Bram.
Setelah melewati beberapa orang untuk dapat lewat kesana, Elsa akhirnya bisa duduk di kursi kosong tersebut. Jika sudah duduk di ujung seperti ini, akan sulit untuk berbincang dengan yang lainnya. Terlebih di sebelahnya adalah Devan yang sangat pendiam. Elsa pun menyandarkan tubuhnya pada kursi. Seraya menunggu acara dimulai, seharusnya Elsa bisa berbincang. Akan tetapi dengan keadaan yang seperti ini, ia memilih untuk memainkan ponselnya saja. Ia harus menyicil mengerjakan proyek freelance-nya.
Ketika hendak mulai mengerjakan, sebuah pesan masuk. Pesan tersebut dikirimkan oleh Santi. Gadis itu menanyakan keberadaan Yuda kepadanya. Elsa sendiri tidak melihat lelaki itu. Hanya saja tadi Angel mengatakan bahwa kelompoknya duduk di tribun bawah. Yuda satu kelompok dengan Angel, itu artinya Yuda ada di bawah sana. Pasti akan sulit untuk memberitahu Yuda untuk memeriksa pesan yang dikirimkan Santi. Untuk itu, Elsa kemudian mengirimkan pesan kepada Angel. Berharap sahabatnya itu yang bisa menyampaikan kepada Yuda.
"Lano nanyain lo."
Suara itu muncul dari seseorang di sebelah Elsa. Secara otomatis, Elsa pun langsung menoleh ke sebelah, dimana Devan adalah orang yang duduk di sebelahnya. Lelaki itu nampak tengah menatap layar ponselnya. Devan kemudian menoleh ke arah Elsa lantas mengarahkan ponsel itu ke hadapan Elsa. Elsa menoleh ke arah ponsel itu dan merasa terkejut karena rupanya Devan tengah mengarahkan kamera dan mengambil foto. Ketika baru sadar akan apa yang dilakukan oleh Devan, lelaki itu sudah kembali asik dengan ponselnya. Elsa berani bertaruh bahwa foto tadi telah tersimpan di ponsel lelaki itu.
"Ngapain?" tanya Elsa bingung. Pasalnya tidak ada angin tidak ada hujan, lelaki itu justru mengambil potret dirinya. Bahkan tanpa izin terlebih dahulu.
"Diminta Lano."
Devan lantas menunjukkan roomchat antara dirinya dengan adik bungsunya itu. Elsa meliriknya sekilas kemudian akhirnya paham apa yang sebenarnya sedang terjadi. Lano menanyakan apakah Devan mengetahui Elsa dengan baik di kampusnya dan Devan memberikan jawaban bahwa dirinya sekarang sedang bersama Elsa. Hal itu membuat Lano meminta Devan mengirimkan bukti bahwa dirinya benar-benar bersama Elsa sekarang.
Melihat hal tersebut, Elsa pun menganggukkan kepalanya. Meski sebenarnya ia merasa sedikit aneh dengan hal tersebut namun akhirnya membiarkannya saja. Lagipula Elsa sudah kenal dengan Lano dan anak itu adalah anak yang baik.
"Oke," ucap Elsa.
Ia kemudian kembali fokus pada ponselnya.
"Lo ngasih apa ke Lano?"
"Maksudnya?" tanya Elsa menoleh ke arah Devan.
"Dia nggak pernah langsung suka sama orang asing."
"Terus? Maksud lo gue pake pelet atau guna-guna?"
Devan mengangkat bahunya acuh.
"Who knows?" sahutnya.
"Kurang kerjaan banget gue melet anak kecil."
Elsa tidak paham dengan jalan pemikiran Devan. Memangnya apa yang ia dapatkan dari 'memelet' Lano? Bila memang akan melakukan hal tersebut, tentu dirinya membutuhkan uang untuk membayar jasa orang agar bisa 'memelet' Lano. Hal yang menyebabkan pembuangan uang bagi Elsa.
Seperti tidak memiliki kesibukan saja jika dirinya melakukan hal seperti itu. Lagipula Elsa harus mengeluarkan uang jika ingin 'memelet'. Jika pun bisa melakukan hal itu, pasti Elsa sudah 'memelet' para penagih hutangnya agar mereka mau melunaskan hutang dirinya begitu saja. Ah, benar juga. Devan justru memberikan ide yang sangat cemerlang. Mungkin Elsa akan melakukannya nanti jika ia begitu frustrasi dan ingin meninggal karena terlilit hutang. Sayangnya mungkin itu tidak akan pernah ia lakukan. Dirinya masih ingin menikmati hidup. Itu sebabnya Elsa selalu berusaha agar dirinya dapat segera melunasi segala hutang yang ada. Lalu setelah hutang itu lunas, bila memang masih ada waktu maka Elsa akan menjalani kehidupannya dengan tenang. Bahkan meskipun dirinya sudah tua pun tidak masalah asalkan ia terbebas dari hutang. Dirinya tidak masalah bisa menua sendiri. Dia sudah menjalani kehidupannya sendiri selama ini. Akan tetapi bila memang nanti ia sudah bertemu seseorang yang benar-benar bisa membuatnya jatuh cinta, Elsa tidak akan mencegah hal itu. Ia hanya berharap ketika dirinya sudah jatuh cinta nanti, semua hutangnya sudah lunas.
-------------
Sosialisasi pun berlangsung selama dua jam. Waktu yang lumayan lama dan Elsa sungguh merasa ngantuk. Ia rasanya ingin tidur saja. Akan tetapi ia berhasil menahannya. Elsa berhasil melakukannya karena ia berusaha mendengarkan dengan baik dan mencatatnya. Hal itu agar ia tahu apa yang harus dilakukan selama KKN berlangsung. Kadang bila memang sudah begitu bosan, Elsa akan melanjutkan pekerjaannya.
Ketika acara sosialisasi telah berakhir, semuanya langsung berhambur keluar meninggalkan gedung. Hal itu membuat antrian yang cukup panjang karena semuanya nampak tidak sabar keluar gedung.
"Sa, ayo balik." ajak Lina yang duduk berjarak dua kursi dari tempat duduk Devan.
Melihat antrian yang begitu panjang, Elsa pun memilih untuk keluar saat sudah sepi. Lagi pula ia ingin beristirahat sejenak setelah begitu fokus memperhatikan sosialisasi selama dua jam. Bersikap tidak sabaran dengan keluar disaat situasi tidak kondusif seperti itu hanya akan menyebabkan dirinya merasa lelah mengantri. Lebih baik ia duduk disini dan menunggu hingga mulai sepi. Perjalanan menuju pintu keluar akan terasa nyaman dan tidak begitu sesak.
"Duluan aja, Lin."
"Seriusan?"
"Iya."
"Oke deh, see you."
Elsa lantas melambaikan tangannya. Setelah ini kelompoknya memiliki janji untuk kumpul kelompok KKN. Hanya saja diberikan waktu setengah jam bagi yang ingin beristirahat atau melakukan hal lain. Elsa akan memanfaatkan waktu itu.
Elsa kembali fokus melanjutkan pekerjaannya. Baginya, setiap waktu sangat berharga untuk menghasilkan uang. Jadi ia tidak boleh membuang waktu seperti ini. Bahkan satu menit pun sangat berharga bagi Elsa. Waktu satu menit bisa menjadi uang bila ia memanfaatkannya dengan benar, bukan hanya sekadar untuk bernapas saja.
"Halo."
Suara itu membuat Elsa secara reflek menoleh ke sebelahnya. Rupanya Devan masih tetap duduk di tempatnya sama seperti yang Elsa lakukan. Lelaki itu saat ini tengah mengangkat telepon. Entah apapun yang menjadi alasan lelaki itu tidak kunjung beranjak. Elsa hanya berharap Devan bisa segera pergi. Rasanya akan lebih menenangkan bila ia duduk sendiri disini tanpa ada Devan di sebelahnya.
"Gue ada kumpul KKN."
"Sama supir aja."
"Nggak bisa."
Devan pun mematikan sambungan telepon. Akhir-akhir ini Meisya mulai bertingkah terlalu manja. Ia sendiri sebenarnya tidak menyukai gadis yang manja. Apalagi Meisya masih bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya, bahkan tanpa Devan sekali pun. Seperti beberapa detik lalu misalnya. Gadis itu menelponnya untuk menanyakan keberadaan Devan agar mereka bisa pulang bersama. Tentu saja Devan menolak hal itu karena dia memiliki janji berkumpul dengan kelompok KKNnya. Meisya tetap memaksa sehingga Devan memintanya untuk bersama supir saja. Perempuan itu memiliki supir yang bisa mengantar jemput kemana saja bila Meisya mau. Sikap Meisya yang mulai menyebalkan seperti membuat Devan menjadi tidak nyaman. Dirinya tidak keberatan bila diminta mengantar sekali dua kali. Akan tetapi bila harus setiap saat mengantar Meisya kemana pun, Devan tentu tidak mau melakukannya. Lama-lama Devan mulai risih jika diminta untuk mengantar dan menemani kesana kemari. Dibandingkan menjadi supir Meisya, lebih baik Devan menghabiskan waktunya untuk melakukan hal-hal yang diinginkan.
"Lo tau tempat kumpul?" tanya Devan. Ia menatap kepada Elsa di sebelahnya. Perempuan itu nampak fokus memainkan ponselnya. Pandangan Devan pun menuju buku kecil yang berada di pangkuan gadis itu. Devan menghela napasnya. Ia tidak menyangka bisa-bisanya perempuan itu mencatat hal-hal yang disampaikan selama sosialisasi. Padahal nantinya bahan materi sosialisasi akan dibagikan dalam bentuk softfile di grup kelompok.
"Tau."
"Bareng. Gue nggak tau."
"Ada teknologi yang bernama-"
"Sekalian aja sama lo."