Chapter 5

2334 Words
Berkali-kali Ali melayangkan tangannya untuk menekan bel rumah besar itu namun berkali-kali juga ia kembali menurunkan tangannya karena merasa ragu. Ia menghela nafas dalam-dalam mencoba untuk membuat dirinya merasa lebih tenang, ini tidak akan seburuk yang ia pikirkan. Ia hanya akan masuk, lalu meminta maaf kepada ayahnya, setelah itu ia bisa kembali ke kosnya lalu memberi tahu Sisi bahwa ia sudah melakukan apa yang Sisi minta. Dengan lebih yakin kini Ali menekan bel itu. Ia kemudian mundur beberapa langkah untuk menunggu seseorang membukakan pintu untuknya. Tak perlu menunggu lama, pintu berukuran besar dengan sedikit sentuhan warna emas itu terbuka memperlihatkan wanita tua yang tampak cukup kaget atas kehadiran Ali. “Den Nata,” panggilnya kaget. Ia sampai mengerjapkan matanya berkali-kali untuk memastikan penglihatannya melihat sosok seorang lelaki tampan di hadapannya yang sudah sangat lama tidak mendatangi rumah ini. “Papa ada Mbok?” “Ada Den, baru aja pulang kantor. Mari masuk.” Ali mengangguk kemudian memasuki rumahnya. Ia merasa cukup aneh memasuki rumah ini karena memang sudah cukup lama ia tidak kesini. Matanya mengedar melihat sekeliling ruangan yang tampak tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Ali duduk di sofa ruang tamu, sementara mbok Minah asisten rumah tanggal Ali yang bekerja sudah sangat lama disana pergi untuk memanggil Arya, ayah Ali. Sebenarnya tadi ia sudah menawarkan Ali sendiri untuk mendatangi kamar ayahnya dan menemuinya disana, namun Ali menolak. Sembari menunggu, Ali menatap rindu pada bingkai foto besar yang dipajang di dinding ruangan, foto keluarga mereka. Mereka tampak begitu bahagia. Ada pula beberapa foto Ali kecil dengan ayah dan ibunya yang masih terpajang rapi di lemari sebagai hiasan. Ali selalu merindukan keluarganya, bahkan selama ini ia hanya pura-pura tidak peduli jika harus tinggal sendiri. Namun sesungguhnya, terkadang di tengah malam Ali termenung sendiri memikirkan keluarganya, harusnya tempatnya disini, bukan di kos sempit yang ia tinggalkan sekarang. Seharusnya ia kini tinggal bersama kedua orang tuanya dan hidup bahagia, bukan sendiri seperti sekarang. “Nata.” Arya tampak sangat terkejut saat melihat ternyata putranya benar-benar datang. Tadi ia sempat tidak percaya saat mbok Minah mengatakan bahwa Ali datang. Tapi setelah melihat Ali yang kini tengah menatapnya karena ia panggil tadi membuat ia benar-benar yakin bahwa kini putranya sedang disini. “Pa.” Ali berdiri dari duduknya menyambut kedatangan ayahnya. “Duduk lagi aja Nak,” ucap Arya kemudian mengambil posisi duduk di hadapan Ali. Ali mengangguk kecil dan kembali duduk. “Ada apa kamu tiba-tiba datang? Ada masalah? Atau ada yang bisa papa bantu?” tanya Arya mencari tahu maksud kedatangan putranya. Sebenarnya apa pun maksudnya putranya datang, meskipun itu hanya untuk meminta bantuan atau sebagainya, Arya sudah sangat senang. Ali terdiam beberapa saat. Jujur cukup sulit baginya sekarang untuk mengucapkan apa yang ada di hatinya, pasalnya sudah begitu lama Ali memendam perasaan ini. “Nata kesini mau minta maaf sama Papa.” Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Ali setelah menunggu beberapa saat. Arya lagi-lagi dibuat terkejut. Tidak ada terpikir olehnya sedikitpun bahwa kedatangan Ali ke rumah adalah untuk meminta maaf mengingat bagaimana sikap putranya itu selama ini kepadanya sejak kematian ibunya. “Gak seharusnya Nata kayak gini. Nata mungkin memang marah sama keadaan, sama Papa karena Nata pikir Papa gak usaha buat mama bertahan. Tapi Nata gak mikir gimana perasaan mama disana ngelihat Nata kayak sekarang. Nata seolah-olah nyalahin orang lain, padahal disatu sisi Nata juga salah.” Ali tertunduk menyesal. Selama ini ia terlalu sibuk menyalahkan ayahnya sampai ia tidak punya waktu untuk memikirkan kesalahannya sendiri. Harusnya kepergian ibunya menyisakan ketenangan, bukan permusuhan seperti ini. Arya menatap sendu putranya. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Ali. Tangannya terulur mengelus pucuk kepala putra satu-satunya itu. Ali adalah putranya, ia sangat tahu bagaimana sifat keras kepala Ali selama ini yang tidak bisa ia pungkiri adalah turunan dari sifatnya. Ia sudah menduga saat ini akan tiba, putranya selama ini hanya sedang dipengaruhi oleh emosinya. “Kamu gak salah Nak, kita cuma terlalu sama-sama keras kepala sementara gak ada mama yang mencairkan kita. Demi Tuhan, papa sangat ingin mama masih bersama kita sekarang. Tapi mama yang minta untuk kita berhenti menunggu, mama juga kasihan lihat kamu setiap hari tidur di rumah sakit buat nemenin dia. Ini yang terbaik buat mana kamu Nat.” Arya menarik lembut putranya untuk ia peluk. Ali dengan cepat menyeka air matanya yang sedari tadi ia tahan jatuh dari sudut matanya. Seharusnya saat ini ia berbahagia, ia yakin ibunya di surga juga berbahagia melihat mereka saat ini. “Mulai sekarang kita lupain semuanya, kita buka lembaran baru ya,” ucap Arya. Ali mengangguk setuju kemudian mereka sama-sama tersenyum. “Ya udah Pa, Nata pulang dulu ya. Udah malam soalnya.” “Pulang kemana? Ini rumah kamu sekarang.” “Tapi Pa...” “Nat, kalau kamu udah maafin papa dan papa udah maafin kamu, kenapa kita gak bisa jadi keluarga lagi? Ini rumah kamu, dan udah seharusnya kamu ada disini.” “Tapi barang-barang Nata disana?” “Kamu gak butuh barang-barang itu karena kamu udah punya lebih disini. Jangan pergi lagi Nak, rumah ini sepi tanpa kamu.” Ali kembali tersenyum mendengar penuturan ayahnya. Ali bangkit dari duduknya dan berhamburan ke pelukan Arya. “Selamat datang kembali jagoan.” Arya mengacak-acak rambut putranya penuh sayang seperti yang biasa ia lakukan. Mereka terdengar sama-sama tertawa bahagia. “Aaaaaaaaa aku bahagia banget dengarnya,” sorak Sisi bahagia setelah mendengar cerita pertemuan antara Ali dan ayahnya tadi malam. Sepanjang perjalanan menuju sekolah Sisi selalu bertanya apa yang terjadi semalam antara mereka. “Ini berkat kamu,” ucap Ali. Salah satu tangannya yang sedari tadi mengendalikan setir mobil ia ulurkan untuk mengelus pipi Sisi. “Bukan, ini memang karena kemauan kamu.” “Seperti yang papa bilang, selama ini kami cuma sama-sama keras makanya gak ada yang bisa lunakin karena gak ada mama. Tapi kan aku punya kamu yang selalu bisa lunaki sifat keras kepala aku.” Sisi tersenyum mendengar penuturan Ali. “Aku cinta kamu,” ucap Ali tulus. Ia membawa salah satu tangan SIsi untuk ia genggam kemudian menciumnya. “Ya, kamu cinta aku.” Sisi mencibir kemudian tertawa geli. Mau tidak mau Ali ikut tertawa. “Jadi mobil ini dibelikan papa kamu?” “Iya, tiba-tiba aja tadi pagi mobil ini udah ada di garasi. Kata papa mobil ini buat aku, jadi ya aku bawa.” “Beda ya rasanya, biasanya berangkat bareng pakai motor, sekarang pakai mobil mewah gini.” “Kamu suka?” Tanya Ali. “Bukan mobilnya yang bikin aku suka, tapi kamunya. Mau pakai mobil atau motor sama aja, yang penting sama kamu.” “That's my girl.” Ali mencubit pipi Sisi gemas. Mobil yang Ali bawa mulai memasuki pekarangan sekolah. Baru saja mobil itu masuk, semua mata sudah tertuju padanya. Bagaimana tidak, belum pernah sebelumnya mereka melihat ada penghuni sekolah yang membawa mobil mewah itu. Para siswa mulai berbisik-bisik dan saling menerka siapa yang berada di dalam mobil mewah itu. Ali memarkirkan mobilnya di parkiran khusus mobil. Ia tersenyum simpul saat melihat dari dalam mobilnya sekarang semua orang sedang menatap ke arah mobilnya dengan tatapan penasaran. Pasti mereka sedang menunggu siapa sosok yang akan keluar dari mobil ini. “Semuanya pada lihatin kita gini Li, pasti karena mobil kamu deh,” ucap Sisi melihat ke sekeliling. “Cuek ajalah, yuk keluar.” Ali keluar terlebih dahulu diikuti dengan Sisi. Para penghuni sekolah tampak mengernyitkan dahinya melihat siapa yang keluar dari mobil itu. Mereka sempat berpikir bahwa mobil mewah itu adalah milik salah satu murid populer di sekolah, namun sepertinya mereka salah. Diantara mereka ada yang sama sekali tidak kenal dengan Ali maupun Sisi karena memang mereka tidak terkenal di sekolah. Namun ada juga beberapa dari mereka tahu Ali dan Sisi karena mereka teman sekelasnya namun selama ini tidak peduli dengan kehadiran mereka. Baru para siswa akan membicarakan soal kehadiran mereka berdua bel masuk sudah berbunyi dan terdengar pengumuman bahwa mereka harus berkumpul di aula sekolah. Semua murid pun berbondong-bondong pergi ke aula termasuk Ali dan Sisi. Terlihat kepala sekolah berdiri di podium menyampaikan kata sambutannya. Ternyata hari ini ada kunjungan beberapa donatur sekolah serta pemilik saham sekolah ini. Satu persatu para donatur diperkenalkan oleh kepala sekolah, hingga pemilik sekolah baru pun diperkenalkan karena ternyata sejak beberapa bulan yang lalu pemilik saham sekolah ini sudah berpindah tangan. “Mari sambut dan berikan tepuk tangan kepada pemilik saham sekolah kita yang baru, pak Arya Hermawan. Kepada pak Arya Hermawan silakan naik ke podium dan memberikan pidato singkatnya,” ucap kepala sekolah membuat para siswa bertepuk tangan. Tampak seseorang yang ternyata sedari tadi duduk di salah satu kursi bagian depan menaiki podium. Beberapa siswi perempuan terdengar berbisik-bisik melihat pemilik sekolah mereka ternyata tampan meskipun sudah berumur. “Li, bukannya itu papa kamu?” bisik Sisi. Sisi melirik Ali yang tampak terpaku. Sepertinya Ali juga terkejut atas kehadiran ayahnya yang tiba-tiba. Bahkan ayahnya tidak mengucapkan tentang hal ini padanya tadi pagi. “Kenapa papa bisa disini?” Terdengar suara Ali pelan. Arya tampak memberikan pidatonya. Ia membicarakan tentang rencananya untuk sekolah ini ke depannya agar lebih maju serta memotivasi para murid agar lebih giat belajar dan mengembangkan bakatnya. “Oh ya, disini saya juga ingin memperkenalkan putra saya. Mungkin jika nanti ada yang ingin disampaikan kepada saya mengenai sekolah ini, atau para murid memiliki aspirasi yang tidak tersampaikan kepada guru, bisa juga melalui anak saya. Saya ingin kita semua bekerja sama untuk memajukan sekolah ini.” Para murid langsung berbisik-bisik satu sama lain untuk menerka siapa kira-kira anak pemilik sekolah ini. “Ali Arnata, putra saya. Nata kemarilah Nak,” panggil Arya. Semuanya langsung mencari-cari siapa sosok Nata yang dipanggil itu. “Maju sana, kamu dipanggil tu.” Sisi menyadarkan Ali dari keterkejutannya. Meskipun agak ragu, namun akhirnya Ali menyusul ayahnya. Seisi sekolah dibuat terkejut, bukannya lelaki itu adalah seseorang yang membawa mobil mewah tadi? Jadi dia adalah anak pemilik sekolah ini? Bagaimana bisa mereka tidak menyadari bahwa ada lelaki tampan dan kaya di sekolah seperti orang bernama Nata itu selama ini? Gino CS tampak begitu terkejut, apalagi Gino. Ia tahu betul bahwa lelaki itu adalah orang yang beberapa hari belakangan ini sudah menjadi musuhnya. Sementara itu para siswi tampak mulai mengeluarkan ponselnya untuk mencari akun media sosial Ali Arnata, mereka sudah memasukkan Ali ke dalam daftar lelaki idamannya. Sisi yang melihat dari kejauhan tampak tersenyum saat Ali terlihat gugup dan kikuk saat diperkenalkan di depan orang banyak oleh ayahnya. Sisi tidak menyangka bahwa kehidupan kekasihnya akan berubah hanya dalam waktu satu malam. Namun memang seperti inilah yang harus Ali dapatkan selama ini. *** “Makasih ya udah nganterin aku pulang.” “Udah berkali-kali aku antar jemput kamu, udah berkali-kali juga kamu bilang makasih. Gak perlu Sayang, antar jemput kamu udah jadi hobi aku.” Ali mengelus pucuk kepala Sisi diakhiri dengan acakan gemas di rambutnya. Sisi terkekeh mendengar balasan Ali. Tangannya langsung merapikan rambutnya yang sudah diacak oleh Ali. “Jadi, gimana hari ini?” Sisi menyandarkan tubuhnya pada mobil Ali. Sepertinya membahas hari yang cukup mengejutkan ini adalah sesuatu yang menarik sebelum mereka berpisah untuk melanjutkan aktivitas masing-masing. Sisi dengan aktivitas di toko kuenya dan Ali dengan aktivitas barunya karena Ali kini sudah tidak bekerja di kafe. Ali ikut menyandarkan tubuhnya di mobil. Ia berpikir sejenak seolah memikirkan kata yang pas untuk menggambarkan harinya hari ini. “Entahlah, semuanya berubah cepat banget. Aku gak nyangka baikan sama papa bakal berdampak kayak gini.” Sisi ikut tersenyum saat melihat mendengar cerita Ali. Ia bisa melihat Ali merasa seperti tidak ada beban saat ini, berbeda dengan hari-hari yang lalu. Dimana saat pulang sekolah ia harus bekerja hingga malam. “Dan anehnya nih, hari ini aku sama sekali gak ketemu sama Gino CS.” “Mungkin mereka takut sama kamu, siapa sih yang berani ngerjain anak pemilik sekolah,” tebak Sisi. Ali mengangguk-anggukkan kepalanya setuju, mungkin saja seperti itu. Mungkin mereka sedang berusaha menghindari Ali. “Dan hal yang berubah lainnya hari ini adalah, semua mata cewek di sekolah gak pernah lepas dari kamu.” Ali tersenyum jahil mendengar ucapan kekasihnya itu. “Cieee cemburu, akhirnya aku dicemburui juga.” “Bukan cemburu, cuma gak terbiasa aja dan kayaknya harus membiasakan diri.” “Terserahlah mata mereka mau ke aku, tapi kan mata aku cuma ke kamu.” “Gombal...” Sisi mencubit pipi Ali membuat mereka sama-sama tertawa. “Ya udah aku pulang dulu ya.” “Oke, hati-hati ya.” Ali mengangguk kemudian memasuki mobilnya. Namun sebelum benar-benar masuk, Ali kembali menatap Sisi. “Kamu cinta aku.” Sisi selalu dibuat tertawa setiap kali mendengar kalimat itu. “Ya, aku cinta kamu,” balas Sisi seolah mengalah. Ali tersenyum puas mengedipkan sebelah matanya kemudian memasuki mobilnya dan bergegas pergi. Sisi melambaikan tangannya saat mobil Ali sudah mulai berlalu dari depan toko kuenya. “Mobil siapa tu?” Tanya Juno penasaran saat bertemu dengan Sisi di depan pintu toko. Pasalnya saat ia keluar dari toko kue dengan beberapa box kue di tangannya, ia melihat sebuah mobil mewah yang sudah akan pergi. “Mobil Ali.” “Ali pacar lo?” “Ya Ali mana lagi?” “Bukannya pacar lo biasanya pakai motor odong-odong ya.” Sisi menatap tajam Juno saat mendengar penuturan yang sarat akan sindiran yang dilontarkan Juno. “Lo sadar gak sih lagi hina cowok di depan ceweknya?” Juno terkekeh. Nada ketus Sisi sudah menggambarkan bahwa ia tidak suka kekasihnya itu dihina. “Tapi kok bisa?” “Ceritanya panjang, tapi intinya dulu kan gue pernah cerita kalau Ali ada masalah sama bokapnya, jadi sekarang mereka udah baikan dan bokapnya kayaknya udah mulai kasih fasilitas lagi sama Ali,” jelas Sisi. Juno mengangguk paham. “Eh lo mau ngantar pesanan?” Tanya Sisi saat melihat bungkusan berisi box kue di tangan Juno. “Iya, abis itu gue mau langsung ke kampus. Ntar kalau ada pesanan minta Megi aja yang ngantar ya.” “Oke, hati-hati.” Juno mengangguk kemudian langsung berlalu menuju motornya dan segera pergi. Setelah memastikan bahwa Juno sudah benar-benar pergi, Sisi langsung memasuki tokonya untuk membuat beberapa pesanan kue yang sudah ia terima kemarin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD