Chapter 6

723 Words
Ali membaringkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Benar-benar terasa begitu nyaman berada di kamar yang sudah cukup lama tidak ia huni ini. Sembari berbaring ia memainkan ponselnya yang dirasa cukup mengganggu sejak ia mengaktifkan suaranya. Biasanya saat sebelum tidur Ali mengubah pengaturan suara ponselnya yang hening menjadi bersuara. Salah satu alasannya adalah ia selalu menghidupkan alarm untuk membangunkannya pagi esok. Namun tidak seperti biasanya, kini ponselnya terdengar lebih berisik karena notifikasi yang masuk. Sebagai besar berasal dari media sosial miliknya. Sebenarnya sejak di sekolah tadi sudah banyak notifikasi, namun karena Ali memang bukan tipe lelaki yang terlalu suka bermain ponsel, ia hanya mendiaminya. Ali membuka instagramnya. lelaki tampan itu dibuat cukup kaget saat melihat followers nya naik drastis. Sebenarnya Ali cukup jarang membuka akun media sosialnya itu, namun ia masih ingat betul bahwa pengikutnya belum sebanyak itu. Ali membaca beberapa komentar di ungahan terakhir fotonya. Ada yang meminta untuk di follback, ada juga yang terang-terangan memuji foto Ali. Selain itu ada juga beberapa akun yang mengirim pesan singkat pada Ali melalui i********:. Ali yang merasa iseng bangkit dari ranjangnya kemudian berdiri di depan cermin. Ia mengambil foto dirinya dari depan cermin. Setelah itu Ali langsung mengunggah foto itu. Tidak butuh waktu lama foto yang baru Ali unggah itu mendapatkan banyak likers dan juga comment. Pakai celana pendek aja ganteng amat Nat. Bego ya gue, gak nyadar selama ini kalau di sekolah ada cogan kayak Nata Cek DM Nat. Please Nata, gakuku Dan sebagainya. Ali hanya mampu tersenyum dan terkadang terkekeh geli membacanya. Ternyata seperti ini rasanya dikenal banyak orang. Dulu semasa Ali berada di sekolah menengah, Ali juga menjadi tidak orang yang menonjol apalagi saat itu ayahnya belum sesukses sekarang meskipun dari kecil Ali sudah berada di keluarga yang berkecukupan. Namun tidak bisa dipungkiri saat ibunya sakit selama bertahun-tahun, kehidupan ekonomi mereka memang sempat menurun. Entahlah, mungkin dulu Ali tidak pernah tertarik untuk menjadi orang yang banyak dikenal. Namun ternyata rasanya tidak terlalu buruk, meskipun agak sedikit risih memang. Teringat sesuatu, Ali beralih dari akun instagramnya. Ia merasa ada yang lebih menarik lagi untuk di lakukan. Ali menghubungi seseorang dan kembali berbaring mencari posisi yang nyaman sembari menunggu orang di seberang telefon mengangkat panggilannya. Halo, selamat malam, Laeta Bakery. Ada yang bisa saya bantu? Tapi maaf sebelumnya, kalau mau pesan kue, kuenya udah habis. Ali tersenyum mendengar sapaan seseorang di seberang sana dari kekasihnya itu. Saya lagi gak mau pesan kue Mbak, mau pesan Mbaknya aja. Soalnya lebih manis. Ali mendengar suara tawa lepas dari kekasihnya melalui telefon. Maaf mas, i'm not for sale! Yes, because you’re just for me. BIG YES! Mereka sama-sama tertawa geli menyadari apa yang sedang mereka bicarakan. Pembukaan pembicaraan yang cukup menarik. Kamu lagi ngapain Sayang? Baru aja selesai mandi. Hari ini Alhamdulillah pesanan kue banyak, jadi agak sibuk dan baru bisa mandi. Kasihan pacar aku, kecapekan ya? Ya udah kamu tidur gih. Nelfon aku cuma mau ngomongin itu doang? Cuma mau dengar suara kamu aja. Besok-besok save suara aku buat didengar sebelum tidur. Ide bagus, bisa dicoba. Lagi-lagi mereka sama-sama tertawa. Ya udah kamu juga istirahat ya. Good nite Sayang. Good nite too Mine. Bye Ali menjauhkan ponselnya dari telinga saat Sisi sudah mematikan sambungan telefon. Senyuman manis belum lepas dari bibirnya saat suara lembut mirip Sisi masih serasa terdengar olehnya. “Belum tidur Nat?” Ali mengalihkan pandangannya menuju ambang pintu kamar. Ia mengubah posisi menjadi duduk bersandar di kepala ranjang saat tiba-tiba ayahnya, Arya memasuki kamar. “Belum Pa. Papa baru pulang kantor?” “Iya nih. Papa langsung ke kamar kamu, kirain udah tidur. Udah lama gak lihat kamu tidur.” Ali dan Arya sama-sama tertawa. Terdengar aneh bagi Ali, ada-ada saja penuturan ayahnya itu. Apa menariknya melihat Ali tertidur? “Oh iya, Papa kok gak bilang Nata kalau Papa udah beli sekolah?” “Sengaja buat kejutan. Papa belinya udah beberapa bulan yang lalu. Awalnya papa beli buat ngawasin kamu karena saat itu kan hubungan kita masih belum ada tanda-tanda akan membaik.” Ali mengangguk paham. “Ya udah kamu tidur ya, papa mau ke kamar. Good nite Boy.” Arya mengacak-acak rambut putranya itu. Ia merasa sangat bahagia bisa merasakan ini lagi. Dulu ini adalah salah satu kebiasaannya. “Good nite too Pa.” Arya keluar dari kamar Ali. Merasa kantuk sudah mulai menyerang, Ali pun memutuskan untuk segera tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD