Chapter 7

2018 Words
Ali dan Sisi berjalan memasuki kantin yang sudah ramai dengan para murid. Awalnya Sisi menolak, namun Ali membujuknya hingga akhirnya ia mau. “Kayaknya udah gak ada kursi yang kosong deh Li.” “Kalau gak ada, kita adain.” Sisi mengerutkan dahinya mendengar balasan Ali. Meskipun tidak paham, Prilly hanya mengikuti kemana Ali akan pergi. “Kami mau duduk disini,” ucap Ali pada sekelompok orang yang duduk di bagian sudut kantin. Tadinya mereka terlihat sangat seru bercerita hingga kantin ini didominasi oleh suara mereka. Namun saat Ali datang, tiba-tiba saja suasana menjadi hening. “Dengar gak lo gue barusan ngomong apa?” Kini suara Ali terdengar meninggi. “Kami duluan yang dapatin ni kursi. Jadi kalau lo mau duduk, cari tempat lain aja.” Akhirnya Gino angkat suara. Ia menatap Ali tidak suka. “Menurut lo, kalau lo yang dapatin kursi ini duluan, itu tandanya ini punya lo? Atau lo pikir kantin ini punya lo? Oh atau sekolah ini punya lo juga? Lo gak lupa dong kalau sekolah ini punya siapa.” Ali tersenyum miring, sementara Gino mengepalkan tangannya kesal. “Li, udah,” Sisi berbisik untuk memperingati Ali agar tidak terbawa emosi. “Songong banget ya lo.” Gino maju untuk siap melayangkan kepalan tangannya. Dengan cepat teman-teman Gino menahannya. Jika biasanya mereka akan ikut maju, namun kali ini lain halnya. Mereka harus bisa menenangkan Gino karena tidak ingin mencari masalah. “Udahlah No, kita pergi aja.” Dengan menatap Ali tajam, dengan terpaksa Gino pergi dari sana. Ia sebenarnya sangat ingin melayangkan pukulannya pada Ali, namun sepertinya waktunya tidak pas. Apalagi kini mereka sudah menjadi pusat perhatian. Sementara Ali tampak tersenyum penuh kemenangan. “Kamu gak seharusnya kayak gitu Li.” “Kalau gak digituin, dia akan selalu merasa berkuasa. Sekali-kali orang kayak gitu memang harus dikasih pelajaran,” balas Ali. Sisi hanya mampu mengangkat bahunya pasrah. “Kamu duduk dulu ya, biar aku pesanin.” “Kamu gak tanya aku mau makan apa?” “Bakso kan?” “Ya, sambalnya 2 sendok.” “No! Jatah dari aku cuma 1.” Sisi mengerucutkan bibirnya kesal. Ia selalu saja mendapat jatah sambal cabai yang sedikit jika makan bakso dengan Ali, dengan alasan Ali tidak ingin Sisi sakit perut. Padahal sebenarnya Sisi biasa saja jika, bahkan ia sudah sangat terbiasa dengan pedas. Biasanya mereka makan bakso di pinggir jalan, ah Sisi jadi rindu makan bakso di pinggir jalan. *** Sisi merapikan seragamnya saat keluar dari toilet sekolah. Tadi saat bel pulang berbunyi, ia langsung berlari menuju toilet karena ingin buang air kecil. Tentunya Sisi tidak lupa memberi tahu Ali melalui pesan singkat agar Ali tidak kebingungan saat tidak mendapati Sisi di dalam kelas. Sisi sempat melihat penampilannya di cermin toilet sebelum keluar. Setelah dirasa siap, Sisi langsung keluar dari toilet. “Sisi....” “Ana....” Sisi tersenyum tidak percaya saat bertemu dengan seseorang yang tidak ia duga-duga di depan toilet. “Ya ampun, kok lo bisa ada disini? Bukannya lo sekolah di Malang ya?” Tanya Sisi. Bagaimana tidak heran, Fayana Nazifa adalah teman baik Sisi saat SMP. Namun setelah lulus, Ana melanjutkan sekolahnya di Malang. “Gue baru pindah kesini hari ini, bokap gue pindah tugas ke Jakarta. Sebenarnya gue udah nyari-nyari lo sejak tadi. Eh baru ketemu sekarang,” jelas Ana. Sisi mengangguk paham. “Gue senang banget bisa ketemu lo lagi, udah lama kita gak ketemu.” “Gue juga, pokoknya kita harus sering-sering ngobrol.” “Sisi...” percakapan melepas rindu kedua gadis itu harus terhenti saat Ali tiba-tiba datang. Merasa Sisi sudah cukup lama di toilet hanya untuk buang air kecil, Ali memutuskan untuk menyusul kekasihnya itu. Sisi dan Ana kini beralih menatap Ali. “Kamu kok kesini?” “Kamu lama banget, aku kira kamu kenapa-kenapa. Makanya aku susulin.” “Oh iya Na, ini Ali pacar gue, dan Ali ini Ana sahabat aku dari SMP.” Sisi memperkenalkan kedua orang di hadapannya ini. Ana yang sejak kedatangan Ali tampak kaget melempar senyum sebagai awal perkenalan mereka yang juga dibalas senyum oleh Ali.  “Loh ini bukannya Nata ya? Anak yang punya sekolah,” tanya Ana bingung. “Iya ini Nata, tapi gue lebih suka panggil dia Ali.” Sisi tersenyum pada Ali. Ali ikut tersenyum dan mengelus lembut pucuk kepala Sisi. Ia tidak masalah jika Sisi tidak ikut memanggilnya Nata seperti orang lain. “Kalau gitu gue panggil Nata aja deh, kayaknya Ali khusus buat Sisi aja.” Mereka sama-sama tertawa mendengar ucapan Ana termasuk Ali. “Ya udah yuk pulang,” ajak Sisi pada Ali. Ali mengangguk kemudian mereka semua sama-sama berlalu meninggalkan toilet. Sisi dan Ana tampak sibuk bercerita, maklum saja mereka sudah lama tidak bertemu. “Nat....” baru saja beberapa langkah mereka berjalan terlihat seorang lelaki menghampiri mereka. Jujur Ali maupun Sisi tidak kenal siapa lelaki itu, namun tidak heran jika dia bisa kenal Ali. Seperti sekarang semua orang yang berada di sekolah ini sudah kenal siapa Ali. “Gue cariin lo dari tadi, rupanya ada disini.” “Memangnya kenapa cariin gue?” “Pak Riki nyariin lo.” Ali menautkan alisnya mendengar ucapan lelaki itu. Untuk apa guru olah raganya itu memanggilnya? Tumben sekali. “Lo disuruh ke lapangan basket sekarang. Buruan kesana, gue balik dulu ya.” “Thanks ya Bro.” Lelaki itu mengangguk kemudian pergi dari mereka. “Ngapain pak Riki manggil kamu?” “Aku juga gak tau.” "Ya udah kamu kesana aja.” “Terus kamu gimana? Aku antar kamu pulang dulu deh, entar biar aku balik lagi,” balas Ali. Rasanya tidak mungkin ia meninggalkan Sisi. Namun jika ia meminta Sisi untuk menunggunya, ia tidak tahu apakah urusannya dengan pak Riki akan sebentar atau lama. “Bakal lama dong kalau gitu. Gak papa kok aku pulang sendiri.” “Sisi pulang bareng gue aja. Lagian gue kan kepingin mampir ke toko kue Sisi,” ucap Ana angkat suara. Sedari tadi ia hanya diam membiarkan sepasang kekasih itu berbicara. “Iya aku bareng Ana aja, lagian aku masih mau ngobrol banyak sama dia.” “Benaran gak papa Na?” tanya Ali meyakinkan. “Gak papa Nat, santai aja.” “Ya udah gue titip Sisi ya.” “Kamu mah aku kayak barang aja dititipi.” Sisi mengerucutkan bibirnya kesal. Ali mencubit gemas pipi Sisi yang terlihat sangat menggemaskan itu. “Aku pergi dulu ya. Kamu hati-hati. Gue duluan ya Na.” Sisi dan Ana sama-sama mengangguk diiringi senyumnya mengiringi kepergian Ali. “Cieeee romantis banget sih, lo beruntung banget punya pacar kayak Nata.” Ana menyenggol bahu Sisi menggoda. Sisi hanya mampu tersenyum menanggapi ledekan sahabatnya itu. Kedua gadis cantik itupun langsung bergegas pergi meninggalkan sekolah. Mereka terlihat sangat antusias mengingat masa lalu. *** “Jadi bapak panggil kamu kesini karena bapak mendengar bahwa kamu punya keahlian bermain basket. Jadi bapak ingin lihat kemampuan kamu karena hari ini tim basket sekolah akan melalukan seleksi untuk memilih tim inti yang akan bertanding di turnamen antar sekolah se-Jakarta,” jelas pak Riki. “Jadi gimana Nat, Kamu mau?” Ali tampak berpikir sejenak. Pasti ayahnya yang sudah memberi tahu pak Riki bahwa ia bisa bermain basket. Sebenarnya Ali memang suka bermain basket, bahkan di belakang rumah ia memiliki lapangan basket yang cukup besar. Namun ia tidak pernah serius dalam bidang ini, maksudnya meskipun ia bisa ia hanya menjadikan basket untuk olah raga saat ia merasa bosan, ia tidak pernah masuk tim di sekolah. Apalagi saat Ali melihat Gino dan juga Luki yang masuk dalam kelompok Gino CS merupakan anggota tim basket yang lama. Kini Gino bahkan sedang menatapnya sengit. Merasa ini adalah salah satu waktu yang tepat untuk memberi pelajaran pada Gino, akhirnya Ali memberi jawabannya kepada pak Riki. “Saya bersedia Pak.” Pak Riki tampak tersenyum senang. Tangannya terulur menepuk pelan bahu Ali. “Baiklah, sekarang kita mulai seleksinya. Kalian islahkan bermain di lapangan, bapak akan memperhatikan dari sini. Bagi menjadi dua tim.” Para murid yang ikut dalam seleksi tim basket putra itu mengangguk paham dan langsung berlari ke lapangan. Ali sempat berkenalan dengan beberapa orang yang satu tim dengannya. Meskipun beberapa dari mereka wajahnya sudah cukup sering Ali lihat, namun ada beberapa orang yang tidak ia ketahui namanya. Maklumlah, selama ini Ali kurang peduli dengan sekitar. Apalagi dengan anak-anak basket yang menurutnya angkuh, seperti Gino misalnya. Ali tampak begitu lincah di lapangan. Dulu saat masih bekerja di kafe, Ali juga sering menghabiskan waktu untuk bermain basket dengan pekerja yang lain. Sesekali Ali dan Gino yang berlawanan tim itu saling melempar tatapan tidak suka. Ali dan teman-teman satu timnya bersorak gembira saat tim mereka menang. Ali tersenyum meremehkan saat ia dan Gino saling berhadapan. “Gak usah bangga dulu, lo lupa kalau gue kapten tim basket tahun lalu?” Gino berkata tanpa menatap Ali. “Kita lihat aja,” balas Ali santai kemudian mengikuti yang lainnya menghampiri pak Riki di pinggir lapangan. Pak Riki memberikan sedikit arahan dan juga komentar tentang penampilan mereka di pertandingan tadi. Ali tersenyum saat ia mendapat banyak pujian dari pak Riki bahkan dari beberapa temannya. Saat dirasa cukup, pak Riki pun membubarkan mereka dan membiarkan mereka pulang. “Ternyata lo hebat juga. Kemana aja selama ini?” “Biasa aja kok,” balas Ali. Ia kini sedang berjalan beriringan dengan Farel. Mungkin Farel ini adalah sedikit orang yang Ali tahu namanya karena ia merupakan tim basket inti sebelumnya. Lagi pula siapa yang tidak kenal Farel Ganendra? Siswa yang kata para kaum hawa 2T itu, tampan dan tajir. Ya sebenarnya Ali tidak peduli, tapi mau tidak mau ia harus tau siapa Farel. “Lo kelihatannya gak suka sama Gino ya?” Tanya Farel. Sebenarnya ia sedari tadi ia memperhatikan gerak-gerik Ali dan Gino. Selain itu ia menanyakan ini karena ia ingin membuka pembicaraan dengan Ali. Ia rasa berteman dengan Ali seru juga. “Gak ada alasan buat suka sama dia,” balas Ali. Farel mengangguk paham. Ia tahu betul bahwa Gino memang angkuh, namun selama ini Farel tidak pernah memiliki masalah dengan Gino. “Honey....” langkah Farel dan Ali terhenti saat melihat seorang gadis berjalan menghampiri mereka. Farel tampak tersenyum menyambut kedatangan gadis itu, sementara Ali hanya memilih untuk diam. Ali tahu gadis itu adalah Salsa, dan Ali juga tahu bahwa Salsa dan Farel adalah sepasang kekasih. Mereka adalah salah satu pasangan yang banyak dibicarakan di sekolah. Ali bingung, apa enaknya saat hubungan dibicarakan banyak orang? Selama ini hubungannya dengan Prilly benar-benar jauh dari perhatian orang-orang. Sebenarnya ia ingin pergi saja, namun ia merasa tidak enak, mungkin ia akan berpamitan dulu pada Farel. “Kamu belum pulang?” Tanya Farel. “Belum, tadi lagi latihan cheers dulu. Ni baru kelar.” “Kamu mau pulang sama aku?” “Aku udah janji pulang bareng Niken, tu dia.” Salsa menoleh ke belakang menatap Niken sedang berjalan menyusulnya. “Hai Nik,” sapa Farel. Gadis cantik bernama Niken itu tersenyum membalas sapaan dari Farel. “Wah Nat, lo ikut tim basket juga?” Tanya Salsa beralih ke Ali yang sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka. “Ikut seleksi doang, gak tau keterima apa enggak.” “Ya keterima lah, lo mainnya keren,” sahut Farel. “Oh iya, kenali Nat, ini Niken sahabat gue, anak cheers juga.” Niken dan Ali saling melempar senyum sebagai tanda perkenalan. Sebenarnya Ali sudah tahu Niken sebelumnya. Hampir seluruh lelaki normal di sekolah ini memuja kecantikannya. Meskipun Ali normal, namun selama ini ia tidak pernah memperhatikan Niken, mungkin karena terlalu sibuk dengan kekasihnya. Ah memikirkan tentang Sisi, ia jadi kepikiran, apakah Sisi sudah sampai di toko kuenya? Selama ini Ali tidak pernah absen mengantar Sisi pulang. Jadi agak beda rasanya saat tidak mengantarkan gadis cantik itu pulang. “Aku sama Niken balik dulu deh ya. Kamu hati-hati pulangnya. Gue duluan ya Nat,” pamit Salsa. “Hati-hati Hon.” “Gue duluan ya Rel, Nat.” Ali dan Farel mengangguk menatap kepergian kedua gadis itu. Setelah kedua gadis itu pergi, Ali dan Farel melanjutkan langkah mereka ke parkiran. Mereka terlibat perbincangan cukup seru. Awalnya Ali kira akan susah menyesuaikan diri dengan Farel, ternyata tidak juga. Ia adalah orang yang mudah bergaul.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD