“Si bahan-bahan kue habis nih. Gue belanja dulu deh ya. Mumpung masih sore.” Sisi yang sedang menyusun sisa kue hari ini menghentikan aksinya sejenak saat kehadiran Megi.
“Oh ya udah, bentar gue ambil uang dulu.” Sisi mengambil uang yang memang sudah ia sisihkan untuk membeli keperluan membuat kue kemudian memberikannya kepada Megi. Setelah mendapatkan uangnya, Megi pun langsung pergi ke tempat biasa ia maupun Sisi membeli bahan membuat kue. Sementara Sisi melanjutkan aktivitasnya.
“Mbak pesan Red Velvetnya dong. Saya mau red velvet yang dibikin pakai tangan masa depan saya ya.” Sisi kembali terhenti saat mendengar suara itu.
“Ali....” Ali tersenyum puas karena sepertinya sukses membuat gadisnya itu kaget.
“Mau red velvet dong Sayang,” pinta Ali. Sisi tersenyum kemudian langsung mengambilkan apa yang Ali inginkan, sementara Ali memilih duduk di salah satu kursi yang tersedia di toko itu.
“Red velvet dan secangkir coklat hangat buat pacar aku,” ucap Sisi memberikan sepotong kue dan secangkir coklat hangat pada Ali.
“Makasih Sayang.” Sisi mengangguk dan ikut duduk di hadapan Ali. Ali mulai melahap kue buatan Sisi itu. Rasanya selalu saja enak dan membuat ia ketagihan.
“Jadi tadi pak Riki ngapain manggil kamu?” Tanya Sisi.
“Pak Riki minta aku ikut seleksi masuk tim basket inti.”
“Wah, terus gimana hasilnya? Kamu keterima?”
“Belum tahu sih, besok bakal dikasih tahu hasilnya.”
“Cieeeee yang bentar lagi jadi anak basket.” Sisi mencolek pipi Ali menggoda.
“Apaan sih... tambah dong Sayang, udah habis.” Ali menunjukkan piringnya. Kue sudah habis tanpa tersisa. Sisi menggeleng kecil sembari tersenyum. Diambilnya kembali piring itu kemudian mengambilkan lagi sepotong kue untuk Ali. Ali kembali melahap kue itu.
“Kamu tumben banget sore-sore kesini, kenapa?”
“Karena tadi aku gak ngantar kamu pulang, jadi aku kesini.”
“Loh ngapain? Aku kan udah sampai di toko dengan selamat.”
“Itu dia masalahnya, aku harus mastiin tulang rusuk aku baik-baik aja.” Siis menahan senyumnya dengan pipi yang merona mendengar ucapan Ali. Sementara Ali tersenyum penuh kemenangan karena pipi itu merona untuknya.
“Cieeee pipinya merah kayak red velvet.”
“Aliiiiii.....” Sisi memekik karena Ali mencolek pipinya dengan sisa krim kue di piringnya. Seketika tawa mereka sama-sama pecah. Mereka selalu suka saat-saat seperti ini. Rasanya begitu mudah membuat satu sama lain bahagia.
***
“Selamat bergabung di tim basket inti sekolah kita Nata.” Ali tersenyum diiringi dengan anggukan, sementara teman-teman yang lainnya memberi tepuk tangan sebagai ucapan selamat sekaligus tanda selamat datang di tim basket itu.
Setelah melakukan seleksi, Ali terpilih menjadi tim basket inti bergabung dengan anggota yang lama, sementara 5 orang lagi yang juga mengikuti seleksi masih ditempatkan sebagai cadangan. Awalnya Ali pikir tidak begitu menarik menjadi salah satu anggota tim basket yang identik dengan teriakan para wanita pada saat mereka sedang mati-matian mengejar bola. Namun sepertinya Ali harus mencoba, tidak begitu buruk. Lagi pula ia bisa menyalurkan hobinya selama ini dan tidak hanya bermain di belakang rumahnya.
“Semoga dengan adanya pemain baru ini tim basket sekolah kita bisa lebih kuat lagi. Bapak harap kalian semua semangat berlatih untuk menghadapi turnamen dalam waktu dekat ini.” Semuanya tampak mengangguk paham bersemangat.
“Oh iya Nata, kamu bisa mengisi posisi sebagai forward, sementara yang lain bisa mengisi posisi seperti biasanya. Karena bapak lihat Nata kemampuan mencetak poin yang baik. Jika ada perubahan, kita lihat nanti saat latihan. Semangat...” pak Riki sebagai pelatih tampak memberi semangat diikuti dengan sorakan semangat dari yang lainnya.
Setelah pengumuman hasil seleksi itu pak Riki pun membubarkan mereka semua karena waktu istirahat sudah akan selesai. Semuanya satu persatu tampak keluar dari aula tempat diumumkannya hasil seleksi itu.
“Apa kan gue bilang, lo pasti bakal masuk.” Ali tersenyum mendengar ucapan Farel yang terdengar memuji itu.
“Thanks Rel, tapi kayaknya gue harus banyak belajar dari lo juga deh. Gue kan biasanya cuma main basket ngasal aja,” balas Ali. Farel terkekeh, ngasal? Yang benar saja, bahkan Ali terlihat begitu lincah.
“Masih belum bel, mau ke kantin dulu gak?” Tawar Farel. Ali tampak berpikir sejenak. Sebenarnya ia ingin menemui Sisi, ia merasa tidak enak karena tidak menemani Sisi dalam jam istirahat hari ini. Namun kalau dipikir-pikir, pasti sekarang Sisi sedang dengan Ana. SIsi terlihat begitu senang kini sudah memiliki teman dekat. Sepertinya Ali akan menemui Sisi saat jam pulang sekolah saja nanti. Lagi pula sekarang ia merasa sangat haus. Setelah sekian lama berpikir akhirnya Ali mengangguk menerima ajakan dari Farel.
Kedua lelaki tampan itu pun berjalan menuju kantin. Bagi para kaum hawa ini adalah pemandangan yang sangat indah. Melihat Farel idola lama mereka sedang berjalan dengan Nata idola baru mereka. Namun mereka harus patah hati menerima kenyataan karena Farel sudah lama memiliki kekasih, tidak ada murid sekolah itu yang tidak tahu bahwa Farel adalah kekasih Salsa. Sedangkan Nata, mereka masih dibuat bingung. Ada beberapa orang yang menyebutkan bahwa Nata sudah memiliki kekasih bernama Sisi karena mereka terlihat selalu bersama serta postingan di i********: mereka yang memperlihatkan kedekatan yang tidak biasa diantara mereka. Namun ada juga yang beranggapan bahwa Nata belum memiliki kekasih, hubungannya dengan Sisi mungkin hanya sebatas teman. Lagi pula belum ada pernyataan pasti dari Sisi maupun Nata yang menyebutkan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
“Ni buat lo.”
“Thanks.” Ali meminum minuman kaleng yang diberikan Farel untuk menghilangkan dahaganya.
“Gue heran deh, kok selama ini lo gak pernah kelihatan ya? Maksud gue, lo punya kemampuan di bidang basket, lo juga punya kemampuan di bidang musik, tapi kenapa lo gak pernah tunjukin itu dan kenapa kayak gak ada yang tahu bakat lo itu?” Tanya Farel. Sebenarnya ia sangat ingin menanyakan hal ini pada Ali sejak pertemuan pertama mereka. Tapi menurut Farel, terlalu berlebihan jika pada kesan pertama ia sudah menanyakan hal seperti ini.
“Ya menurut gue gak penting aja nunjukin kemampuan buat dikenal orang. Walaupun gue gak dikenal, kemampuan itu tetap ada dalam diri gue.” Farel mengangguk paham, setiap orang memang memiliki pendapat tersendiri. Meskipun menurut Farel agak aneh kenapa ada orang yang tidak suka bila dikenal banyak orang. Mungkin saja ia belum merasakan bagaimana enaknya bila banyak dikenal. Lagi pula selama ini Ali dan Farel tidak pernah sekelas, Ali kelas 11 IPA 2 sementara Farel 11 IPS 1, wajar saja ia Farel tidak pernah melihat Ali.
“Eh btw, cewek yang sering sama lo itu pacar lo? Gue juga lihat di i********: lo soalnya,” tanya Farel lagi makin ingin banyak tahu.
“ Sisi?”
“Oh namanya Sisi, pacar lo?”
“Iya.”
“Kirain sahabat, kan sekarang lagi zamannya tu cewek sama cowok sahabatan,” balas Farel dengan nada bercanda membuat dua orang itu tertawa kecil.
“Cewek lo mana?” Tanya Ali. Sepertinya sedari tadi Farel terlalu banyak bertanya, tidak ada salahnya jika ia bertanya kali ini.
“Lagi sibuk kayaknya bantuin Niken menyeleksi. Soalnya anak cheers kan juga mau ngadain seleksi untuk anggota baru.” Ali mengangguk paham tidak berniat untuk bertanya lebih. Hanya sekedar basa-basi tadinya.
“Enak tahu punya pacar anak cheers, istilahnya tu sama aja kayak kerja bareng, dimana ada anak basket, pasti ada anak cheers,” cerita Farel. Ali hanya diam menanggapi, ya memang benar yang dikatakan Farel. Mungkin itulah sebabnya Farel dan Salsa menjadi pasangan paling dikagumi oleh para murid. Selain mereka memang serasi, mereka juga terlihat sangat kompak saat pertandingan. Tapi jika Ali pikir-pikir, apa enaknya hubungan yang diperhatikan orang-orang seperti tidak ada privasi?