Chapter 9

884 Words
“Kita mau kemana sih? Biasanya langsung pulang.” “Udah kamu ikut aja, nanti juga bakal tau.” “Iya bilang dulu kita mau kemana?” Sisi berdecap kesal saat Ali tidak kunjung menjawab pertanyaannya dan malah menarik Sisi untuk mengikutinya. Sisi pasrah mengikuti, seperti yang Ali bilang, ia akan tahu nanti. “Kamu ngapain ngajak aku kesini?” Sisi bertanya heran. Kini mereka sedang berada di aula. Bukannya hanya karena Ali membawanya ke aula yang membuat Sisi heran, namun sekumpulan perempuan yang berada di tengah-tengah aula itu juga membuatnya makin heran lagi. “Aku udah daftarin kamu ikut seleksi pemilihan anggota cheers yang baru,” jawab Ali tersenyum mengutarakan rencananya yang sudah ia persiapkan sejak perbincangannya dengan Farel di jam istirahat tadi. “Ha????” Sisi dibuat terkejut. Bagaimana tidak, ikut seleksi cheers? Yang benar saja. “Kamu apaan sih? Kan aku gak bisa ngedance atau nari gitu.” “Kamu pasti bisa kok, coba aja. Lagian kamu pernah lihatin foto kecil kamu waktu lagi nari kan.  “Itu kan udah lama banget. Aku gak mau ah.” Sisi berniat pergi dari tempat itu, namun dengan cepat Ali menahannya. “Dicoba dulu deh, kamu pasti bisa kok. Aku udah daftarin kamu, dan Salsa kayaknya udah nunggu kamu.” “Sal....” baru Sisi akan kembari protes, Ali sudah memanggil Salsa terlebih dahulu. Salsa dan para siswi lainnya langsung menoleh kepada Ali dan Sisi. Melihat kehadiran Ali dan Sisi, Salsa pun langsung menghampiri mereka. Tadi Ali dan Farel memang menghampirinya sebelum bel masuk untuk mendaftarkan nama Sisi ikut seleksi pemilihan anggota cheers baru. “Sal, ini Sisi yang bakal ikut seleksi.” “Oh oke Nat, yuk Si ikut gue.” Sisi menatap Ali dengan sendu berharap Ali akan mengubah pikirannya dan membawa Sisi dari tempat ini. Namun yang Ali lakukan adalah tersenyum seolah memberi semangat. Sisi menghela nafas pasrah. Sepertinya ia akan mencoba. Melihat Ali yang terlihat begitu bersemangat membuat Sisi merasa tidak enak jika menolaknya. Beberapa siswi tampak menatap Sisi sinis. Apalagi melihat seorang Nata datang bersama gadis itu. Namun beberapa orang lagi tampak biasa saja, pasti mereka adalah sekumpulan orang yang mendukung hubungan Ali dan Sisi. “Oke, kita mulai aja ya. Buk Dewi minta gue dan Salsa buat ngambil alih seleksi ini karena beliau lagi ada urusan.” ucap Niken selaku kapten tim cheers “Gue bakal panggil satu persatu, nanti kalian bisa tunjuki bakat dance kalian. Karena yang kita butuhin punya basic dance dan gak kaku,” jelas Salsa. Semuanya tampak mengangguk paham. Salsa mulai memanggil satu persatu nama peserta. Mereka mulai menunjukkan kemampuannya. Makin banyak peserta yang dipanggil, semakin ciut nyali Sisi rasanya. Mereka terlihat benar-benar bisa menari, sementara dirinya? Jangankan menari, menggerakkan badan untuk olah raga saja ia sangat jarang. “ Sisi.” Sisi tersentak kaget saat mendengar namanya dipanggil. Dengan ragu Sisi berjalan untuk menempatkan posisi di tengah-tengah mereka. Sisi benar-benar merasa gugup saat ini. Ia kembali melirik kearah Ali yang sedang duduk cukup jauh darinya sembari memperhatikannya. Musik mulai dinyalakan. Sisi benar-benar bingung gerakan seperti apa yang harus ia tunjukkan. Otaknya seolah mentransferkan gerakan apa yang harus Sisi lakukan kepada badannya, namun sepertinya badannya tidak menerima dengan baik hingga gerakan yang terlihat begitu kaku lah yang ia lakukan. Bahkan gerakannya terkesan tidak sejalan dengan tempo musiknya. Para peserta yang lain terlihat menahan tawanya melihat Sisi yang terlihat aneh. Beberapa dari mereka terlihat berbisik dengan tatapan mencemooh. Mungkin karena terlalu gugup Sisi tidak bisa menjaga keseimbangannya hingga ia terjatuh. Tawa mereka semua langsung pecah saat melihat gadis yang memang tidak ia sukai itu sudah terduduk di lantai. Sisi merutuki kebodohannya, harusnya ia tidak ikut audisi s****n ini yang mempermalukan dirinya sendiri. Tidak ingin mempermalukan dirinya lebih lama lagi, Sisi langsung bangkit dari posisinya dan berlari menjauhi tempat itu. Salsa yang tadinya ingin membantu Sisi langsung memanggil-manggil nama Sisi. Namun Sisi sama sekali tidak mendengarkan dan terus berlari. “Si...” Ali berlari menyusul Sisi. Ia tampak begitu khawatir. Saat melihat Sisi jatuh tadi, Ali langsung berlari hendak menghampiri Sisi, namun Sisi sudah terlebih dahulu berlari keluar dari aula. Ingin sekali rasanya Ali memaki orang-orang yang menertawakan gadisnya itu. Namun sepertinya sekarang mengejar Sisi lebih penting. “Heiii.... Si.... please dengerin aku.” Sisi terus saja berlari. “Sayang, please dong.” Akhirnya Ali bisa menggapai lengan Sisi membuat langkah gadis itu terhenti. “Kamu nangis?”Ali sangat kaget melihat kekasihnya itu menangis. Sisi dengan cepat mengusap kasar air matanya sebelum Ali yang menyekanya. “Aku kan udah bilang sama kamu kalau aku gak bisa. Tapi apa? Kamu gak mau dengerin aku. Kamu tetap maksa-maksa aku.” Gadis itu terlihat meluapkan kekesalannya. “Iya... iya aku tau aku salah, aku minta maaf ya. Aku cuma mau kamu bisa masuk anggota cheers. Aku mau saat aku main basket nanti ada kamu yang semangati aku, aku mau saat aku latihan nanti ada kamu. Aku minta maaf ya.” Ali terlihat benar-benar menyesal. Ia tidak pernah membuat Sisi menangis sebelumnya. Dan ia benar-benar merasa bersalah kini. “Pacar kamu ini tukang roti, bukan anak cheers!” Sisi langsung berlari setelah mengucapkan kalimat itu meninggalkan Ali yang entah kenapa langsung terdiam. Ia menatap Sisi yang sudah berlari makin jauh dengan sendu. Ia mengusap wajahnya kasar. Kenapa ia mempunyai ide s****n dengan mendaftarkan Sisi? Argghhhh!!!! Ali merasa dirinya sangat bodoh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD