Mobil ferrari merah milik Ali berhenti di depan halaman rumah yang didominasi oleh warna abu-abuh milik Sisi. Masih di dalam mobil, Ali mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman rumah Sisi. Biasanya gadis itu sudah duduk di teras menunggunya. Namun kini kemana dia? Kenapa teras itu kosong? Apa Sisi masih marah? Ali mendengus kasar, tentu saja masih. Bahkan puluhan panggilan dan pesannya sejak kemarin tidak ada satupun yang direspons oleh gadis itu. Ali memutuskan untuk keluar dari mobilnya. Sepertinya Sisi masih di dalam, ia harus memanggil Sisi dan meminta maaf. Ia ingin masalah ini selesai saat ini juga sebelum mereka pergi ke sekolah. “Si...” Ali mengetuk pintu rumah itu beberapa kali sembari memanggil nama kekasihnya. Saat melihat pintu itu terbuka, Ali mundur beberapa langkah.

