“Na, makannya buruan dong. Lagian lo ngapain sih makan disini. Inikan tempat Gino sama teman-temannya. Kalau mereka lihat, pasti kita diusir. Lo sih belum rasai, gue dulu udah pernah.” “Santai aja Si, gue tadi pagi gak sarapan, jadi lapar banget. Lagian kan lo sama Gino udah temanan, masa iya dia berani ngusir lo.” “Ya iya sih, tapi lo tahu sendiri gimana Gino, seram tau.” “Ya gue taulah, Ginokan monster paling manis yang pernah tercipta.” Sisi memutar bola matanya jengah mendengar jawaban demi jawaban yang dilontarkan oleh sahabatnya itu. Bukannya mempercepat makannya, ia malah terlihat sangat menikmati suapan demi suapan bakso yang memasuki mulutnya. Ia bahkan tidak memedulikan Sisi yang duduk dengan gelisah di kursi yang terdapat di sudut kantin. Ia tahu betul bahwa bangku ini adalah

