"Kamu berpendidikan, tapi kelakuanmu seperti binatang, Mas!" nyalak Zoeya sambil terus meronta mengelak hujaman gairah Alex.
Perkataan Zoeya seperti seember es yang disiramkan tepat ke atas kepala Alex. Gerakan yakin sang profesor menyetubuhinya langsung merajuk ragu.
"Kamu memperlakukanku yang tulus mencintaimu seperti sampah, Mas. Kamu bahkan menuduhku tanpa bukti, untuk sesuatu yang tak pernah kulakukan." Iliana mendorong sepenuh tenaga tubuh Alex yang lengah.
"Aku telah memberikan keperawananku padamu dengan tulus, aku tak pernah menuntut apapun. Aku tak meminta uang, aku tak meminta status, aku tak meminta apapun darimu, Mas. Tidak bisakah kamu merasakan ketulusanku?" hardik Iliana putus asa, sorot matanya menyiratkan kekecewaan yang mendalam.
Kejantanan Alex lunglai akibat semburan kata-kata Zoeya, yang menindas harga dirinya. Alex lemas dalam rasa bersalah.
Kurasa Zoeya memang tak selicik anggapanku. Mungkin aku yang telah salah menilai.
Iliana mengusap air matanya, merapikan pakaian, lalu pergi tanpa menghiraukan Alex.
Iliana memang berhasil menyayat hati suaminya dengan kata-kata sadis. Namun, entah mengapapa batinnya sendiri ikut teriris. Meski tak tega, tetapi Iliana harus menepati janjinya pada Zoeya. Kesempatan yang Zoeya berikan harus digunakan sebaik mungkin.
Iliana keluar dari kamar hotel dengan kondisi acak-acakan. Naasnya lagi, celana dalamnya telah disobek oleh Alex. Sehingga ia keluar kamar hotel tanpa menggunakan celana dalam.
Sial!
Saat melangkahkan kaki menuju lift, semriwing angin meniup rok Zoeya. Perasaan seperti digelitik membuat darah Iliana berdesir. Ia menakup rok dengan kedua tangan agar tak sampai menyibak karena tertiup angin. Beruntung, ada toko baju yang bangunannya jadi satu dengan mini market di samping hotel. Iliana masuk ke toko tersebut dan memilih sebuah celana dalam pink dengan renda ungu.
Saat tiba di kasir, sang penjaga kasir yaitu pemuda yang berusia sekitar dua puluhan bertanya pada Iliana.
"Itu saja, Mbak?" tanyanya ramah.
Iliana mengangguk sambil mengulurkan uang. Saat si kasir hendak memasukan barang yang Iliana beli ke dalam kantong belanjaan, ia segera memintanya.
"Ee, enggak usah kantong, Mas. Langsung aku pakai saja." Pramuniaga itu membelalak. Ekspresinya seakan tak percaya mendengar perkataan Iliana. Matanya mengekori Iliana yang bergegas ke ruang ganti.
Saat sang hantu kembali dengan tubuh Zoeya ke meja kasir, pemuda gemuk di belakang mesin kasir tadi mengulurkan uang kembalian.
"Pas Mbak?" goda kasir sambil cengar-cengir.
Iliana menghitung sejenak lembaran rupiah yang diberikan sebelum menjawab singkat, "Pas."
"Maksud saya dalemannya," tambah pemuda tadi malu-malu.
Sialan. Dasar buaya kurap!
Begitulah, seksi bukan tentang pakaian semata. Seksi itu pemikiran. Tanpa berpakaian seksi sekalipun, jika tindakanmu memicu orang lain berpikir seksi, maka itu adalah seksi.
***
Barang yang Iliana pesan di hari pertama ia meminjam tubuh Zoeya akhirnya selesai dikerjakan. Toko tempatnya memesan telah mengirim pemberitahuan bahwa pesanan Iliana siap diambil. Sambil mengambil barang pesanannya ke salah satu toko aksesoris di Grand Indonesia, Iliana juga membeli sebuah ponsel. Setelah mendapatkan barang yang ia butuhkan, Iliana langsung pulang ke apartemen.
Tiba di apartemen, Iliana keluar dari raga Zoeya. Raga Zoeya tergeletak ke sofa, tetapi beberapa detik kemudian matanya perlahan-lahan terbuka.
"Kamu sudah selesai meminjam tubuh saya?" Zoeya cukup heran, lebih heran lagi saat ia melihat jam dan tanggal digital di meja. "Cepat sekali? Ini bahkan belum satu hari."
"Hari ini tak banyak yang bisa kulakukan, semua rencanaku buyar karena Mas Alex menuduhku perempuan penggoda yang sengaja mendekati untuk menjebaknya dalam sebuah skandal." Iliana terlihat sedih. Ia sibuk membongkar belanjaannya, mencari-cari sesuatu.
"Hah, lalu bagaimana kamu akan meyakinkannya?" tanggap Zoeya penasaran.
"Aku akan membuatmu menjadi seseorang yang tak bisa dipandang sebelah mata lagi oleh Mas Alex. Sehingga dia akan menaruh simpati terhadapmu dan akan percaya sepenuhnya padamu." Iliana berkata sambil terus berkutat dengan briefcase yang ia bawa tadi.
"Apa itu?" Zoeya mendekat ingin tahu, ia merapatkan duduknya di samping Iliana.
"Zoeya, aku sudah berjanji padamu untuk tidak menyalahgunakan tubuhmu lagi, dan aku berjanji akan merubah hidupmu menjadi normal. Itulah sebabnya aku membeli alat ini agar kita lebih mudah berkomunikasi," jelas Iliana yang masih belum menemukan benda yang ia cari.
"Jelaskan lebih detil, agar saya bisa mengerti," pinta Zoeya membuat konsentrasi Iliana sedikit terpecah. Namun, beberapa saat kemudian mata Iliana berbinar. Benda yang ia cari akhirnya ketemu.
"Nah, ini dia. Zoeya, ini adalah alat penyadap." Iliana menunjukan kalung dengan liontin bulat berbentuk matahari. "Penyadap ini sudah dikoneksikan ke ponsel menggunakan wireless. Sehingga semua pembicaraanku maupun pembicaraanmu dengan siapa pun, selama kita berbagi tubuh, akan terekam dan tersimpam di ponsel." Iliana memakaikan liontin ke leher Zoeya, lalu memberikan ponsel pintarnya untuk menunjukkan aplikasi tempat memutar hasil rekaman.
"Wahhh bagus sekali ponsel ini," decak Zoeya kagum.
"Ingat jangan pernah lepaskan kalung ini, dengan kalung ini aku tak perlu menceritakan segala sesuatu yang kulalui bersama Dhani ataupun Mas Alex. Kamu bisa langsung mendengar pembicaraan kami, jadi apapun pertanyaan mereka kamu bisa dengan mudah mengerti. Ini akan sangat membantu supaya kita tidak terlihat aneh. Ponsel ini adalah milik kita, jadi kamu juga harus membawanya ke manapun."
"Kenapa saya harus menemui Profesor Alex?"
"Zoeya, aku tak bisa setiap waktu ada di sampingmu. Setidaknya saat aku tak ada, jika kamu bertemu dengan Mas Alex kumohon jangan mengatakan hal-hal yang menyakiti hatinya. Dia adalah pria yang paling kucinta." Iliana memohon tulus.
Zoeya mencoba mengerti, ia mengangguk memberi kemantapan pada hati risau Iliana.
"Bersiaplah Zoeya, mulai besok hidupmu akan sangat berubah. Kamu harus siap." Iliana menepuk bahu Zoeya, menatapnya netra gadis itu dalam-dalam.
"Apa maksudmu?" Wajar jika Zoeya menjadi bingung. Iliana mengatakan semua hal dengan samar, bagaimana Zoeya mampu mengerti.
Alih-alih menjawab Iliana justru pergi, ia tersenyum sesaat sebelum meninggalkan Zoeya.
Zoeya yang bingung akhirnya memutuskan pergi ke kampus. Ia tertinggal banyak pelajaran selama berurusan dengan Iliana. Sudah lama ia butuh untuk meminjam beberapa buku, karena belum ada waktu, Zoeya baru bisa pergi ke perpustakaan hari ini. Saat duduk di perpustakaan dan asyik memilah setumpuk buku, seseorang tiba-tiba duduk di samping Zoeya.
"Kamu baik-baik saja 'kan, Zoeya?" bisik Dhani pelan.
Zoeya yang terkejut segera menutupi wajahnya dengan buku yang tengah ia pegang. Dhani heran dengan reaksi Zoeya yang kembali pemalu.
"Aa-a-aku baik, kok." Zoeya terbata menjawab.
Sebuah lukisan Dhani sodorkan ke hadapan Zoeya. Melihat lukisan yang mirip dengan wajahnya, membuat pipi Zoeya merona.
"I-i-ini aku??" Zoeya merutuki lidahnya yang selalu tergagap saat berbicara pada Dhani.
Kenapa selalu seperti ini?
"Iya, lihatlah betapa cantiknya dirimu saat kamu percaya diri menunjukan wajahmu pada dunia."
Kata-kata Dhani membuat Zoeya tertegun.
Ini adalah Iliana, mata lembutnya, senyumnya yang lepas dan ceria. Meski ini adalah wajah saya, tetapi yang Dhani lukis adalah senyuman Iliana.
***
Semua media heboh membicarakan kemunculan penulis novel misterius Sveta. Berita kemunculan Sveta langsung viral karena ia adalah penulis paling diminati beberapa tahun ini. Novel-novel karya Sveta selalu bestseller tak hanya di Indonesia, tetapi juga di Asia. Banyak novel karya Sveta yang sudah diangkat menjadi film layar lebar. Namun, Sveta tak pernah mau memunculkan batang hidungnya.
Kemarin, penerbit melansir bahwa Sveta akan melakukan konferensi pers untuk memperkenalkan dirinya secara resmi. Mereka bahkan akan mengadakan acara bedah buku yang akan dihadiri langsung oleh Sveta.
Pihak penerbit mengadakan acara bedah buku dan konferensi tersebut di salah satu gedung tempat Alex mengajar. Kebetulan permintaan khusus Sveta dikabulkan, mereka menyetujui Profesor Alexander Nelson Tamsi, Ph.D sebagai pembedah. Kebetulan salah satu novel Sveta menuai kontroversi karena mengangkat konflik resersi ekonomi makro, Alex yang merupakan profesor termuda sekaligus dekan fakultas Ekonomi salah satu PTN, sangat sesuai untuk mengkritisi relevan atau tidak konflik yang diangkat Sveta.
Pemberitaan yang ramai tentang pastisipasi Profesor Alex, membuat Alex turut diberondong media dengan pertanyaan seputar keikutsertaannya.
"Terpilih sebagai pembedah dalam acara Sveta, tentunya saya merasa bangga." Alex hanya memberikan jawaban singkat, kemudian bergegas pergi meninggalkan kerumunan wartawan.
Sejak kejadian di hotel kemarin Alex memang menjadi pendiam dan kurang fokus. Pikirannya jauh melayang memikirkan Zoeya. Perasaan Zoeya, sakit hati Zoeya, kecewanya Zoeya. Alex malu jika harus pergi menemui Zoeya, sementara hatinya ingin sekali bertemu gadis itu.
Gara-gara terus memikirkan, Zoeya, Alex tidak bisa konsentrasi sama sekali membaca novel Sveta. Bukannya fokus ke konflik ekonomi yang harus ia kritisi, Alex justru tersentuh oleh kisah cinta tokoh wanitanya yang tulus mencintai pria dengan hati membeku. Diksi yang digunakan ringan tetapi manis, karakter tokoh kuat dan keluwesan penulis mengeksplorasi emosi tokoh benar-benar meremas sentimen pembaca. Alex saja tanpa sadar meneteskan air mata saat bagian sang perempuan akhirnya mati meninggalkan sejuta kenangan indah tentang cinta tulusnya.
Entah sedih terbuai alur novel Sveta, atau sedih karena terpikir tentang perasaan Zoeya, serta kemungkinan Zoeya sedang sakit keras seperti yang dikatakan sebelumnya.
Terhanyut dalam cerita novel membuatnya lupa waktu. Lima menit lagi acara dimulai, Alex buru-buru menuju tempat acara yang jaraknya kurang dari 500 meter dari ruang kerjanya. Saat tiba di lokasi, netra Alex menangkap sosok Zoeya tengah duduk di kursi tempat seharusnya Sveta duduk. Penampilan Zoeya begitu elegan hari itu, ia tampak dewasa dengan rok span selutut, kemeja putih, dan blazer escape putih, serta high heels dengan warna sama setinggi tujuh senti.
Alex terperanjat, matanya tak sanggup berkedip untuk sesaat.
"Zoeya," lirih Alex, hatinya gemetar sekaligus nyeri menatap sosok cantik di sampingnya.
Jadi Zoeya itu Sveta?
Penulis besar yang selama ini misterius dan menggemparkan publik?
GILA. Aku kemarin sudah memperlakukannya begitu buruk. Bagaimana aku akan menunjukan wajahku di depannya sekarang?
***
Bersambung....