"Dasar hantu gila! Kemana saja kamu selama ini?" semprot Zoeya begitu Iliana menampakkan batang hidungnya di apartemen.
"Maafkan aku, Zoeya." Iliana penuh penyesalan mengatakan dengan lemah. Sesaat kemudian tangis Iliana meledak, dia lemas dan jatuh tersungkur ke lantai sambil terus mengucurkan air matanya.
"Cukup. Jangan menangis. Saya tidak akan tertipu dengan akting murahanmu. Sekarang jalaskan apa yang sudah terjadi pada saya selama kamu meminjam tubuhku?" Zoeya mencecar tanpa menghiraukan kesedihan Iliana.
"Ibuku, tenyata ibuku selama ini di kurung dalam rumah sakit jiwa. Jihan telah menjadikan ibuku gila karena ibu satu-satunya saksi mata saat Jihan membunuhku, aku sungguh tidak menyangka dia akan sekeji itu," kata Iliana sedih di sela sesengguknya.
"Cukup! Saya tidak ingin tahu urusan pribadimu, sekarang yang terpenting jelaskan kenapa seorang Profesor Alex datang mencari saya?" sungut Zoeya kesal.
"Mas Alex?? Dia datang mencarimu?? Kapan?? Apa yang kau katakan padanya?" Iliana segera bangkit dan memburu Zoeya dengan berbagai pertanyaan.
"Jawab dulu pertanyaanku, lalu aku akan menjawab pertanyaanmu."
"Mas Alex itu suamiku, pernikahan kami dikaruniai seorang putra bernama Evan." Iliana menjelaskan lalu menarik napas berat.
"Jadi Professor ganteng itu suamimu? Wahh-waahhhh, kamu benar-benar hantu yang luar biasa, bahkan setelah menjadi hantu pun kamu tetap bisa membuat saya kagum dengan track record-mu. Lalu siapa iblis yang tadi kamu ceritakan padaku?" Zoeya tampak mulai penasaran dengan kehidupan Iliana.
"Jihan! Iblis itu adalah jihan. Saat aku berusia 10 tahun, ayah meninggal dan tiga tahun kemudian ibu menikah dengan seorang duda beranak satu. Dari situlah aku mendapatkan seorang adik tiri bernama Jihan, kami tumbuh bersama dan sekolah di Universitas yang sama. Jihanlah yang mengenal Mas Alex lebih dulu, tapi pada akhirnya yang dicintai Mas Alex adalah aku. Sikap Jihan dulu sangat baik. Ia sering membantuku menjaga Evan, ketika aku banyak kesibukan di butik. Tetapi kebaikkan yang selama ini ia tunjukan ternyata hanya kedok untuk menutupi kebusukannya, dari seorang pembantu aku mendapat laporan bahwa Jihan diam-diam memasukkan suatu obat kedalam s**u Evan. Aku meminta Bik Inah menyimpan sisa s**u Evan sebagai sampel agar bisa kuuji kandungan di dalamnya. Bik Inah berhasil.
"Aku membawa sampel s**u itu ke laboraturium untuk memastikan obat apa yang Jihan berikan pada anakku. Ke esokan harinya, saat aku hendak mengambil hasil lab. Jihan meneleponku, di tengah perjalananku menuju lab. Ia mengatakan padaku untuk tidak perlu repot-repot mengambil hasil lab itu, karena Jihan sudah mengambilkannya untukku.
"Dia juga mengatakan, 'Selamat tinggal kakak tiriku yang malang, aku akan menjaga suamimu dengan sangat baik.' Aku hanya tercengang mencerna perkataan Jihan, beberapa detik kemudian sebuah lampu merah membuatku tahu apa arti kata terakhir Jihan. Rupanya dia telah memutus handle rem mobilku, lampu merah tak terelakkan mobilku tak bisa direm dan kecelakaan beruntun itu seketika merenggut nyawaku." Iliana menghentikan sejenak kata-katanya.
"Ibuku rupanya melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Jihan menyabotase mobilku. Maka dari itu, dengan kejamnya Jihan mengurung ibu yang selama ini merawatnya di rumah sakit jiwa," jelas Iliana dengan tatapan kesedihan bercampur dendam.
"Malang nian nasibmu," lirih Zoeya seraya memeluk Iliana.
"Zoeya kemarin aku khilaf. Aku minta maaf telah menggunakan tubuhmu untuk melampiaskan hasratku pada Mas Alex. Aku menyesal Zoeya." Iliana mengakui kesalahan dan bersungguh-sungguh minta maaf.
"Kamuuu ... ohhh, shitttt!" Zoeya mendorong tubuh Iliana dan memukul-mukulnya. Tak puaa, Zoeya melempar bantal ke wajah Iliana, tapi bantal itu hanya menembus arwah Iliana yang transparan, kemudian jatuh ke lantai begitu saja tanpa membuat Iliana merasa tersakiti sedikit pun. "Kamu keterlaluan." Zoeya memaki penuh tekanan.
"Zoeya, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku janji tidak akan menggunakan tubuhmu untuk tidur dengan siapapun lagi tanpa seizinmu. Kumohon, aku harus menyelamatkan ibu dan anakku dari Jihan." Iliana berlutut, mengiba setulus jiwa pada Zoeya.
"TIDAK! Jangan harap aku akan percaya lagi padamu." Zoeya jelas menolak mentah-mentah. Ketakutan dan kebingungannya masih belum reda, bagaimana mungkin ia meminjamkan lagi tubuhnya? Apa ia sudah sinting?
"Zoeya kumohon, hanya kamu satu-satunya harapanku," rengek Iliana memelas.
"Mulai sekarang berhenti mengganggu saya. Biarkan saya hidup tenang dan normal seperti sebelumnya."
"Hidup normal? Apa hidupmu selama ini bisa disebut sebagai kehidupan normal?? Kamu bahkan hidup seperti hantu yang bertahun-tahun bersembunyi di balik poni?" koreksi Iliana dengan senyum sinis.
"Sudahlah, ini hidup saya. Ini cara saya agar saya merasa normal, meski semua mengatakan saya aneh. Buktinya hanya ini cara untuk bisa bertahan menghadapi manusia munafik dan hantu usil seperti kalian." Zoeya memuntahkan kemarahannya sebelum pergi meninggalkan apartemen Iliana.
"Zoeya, apa kamu tidak ingin tahu rasanya dicintai dan mencintai? Apa kamu ingin selamanya hidup sendiri dan kesepian seperti ini? Aku bisa membantumu Zoeya, aku akan membuatmu menjadi gadis normal yang mempunyai masa depan cerah dan mimpi indah. Kamu ingat teman kampusmu yang biasanya hanya mengamatimu dari jauh, dia tiba-tiba tertarik padamu saat penampilanmu berubah. Saat kamu menjadi Zoeya yang percaya diri dan ceria." Iliana mencoba membujuk Zoeya yang hampir pergi dan kini sudah sampai di ujung pintu.
Langkah Zoeya benar terhenti oleh secuplik penjelasan Iliana. Ia menoleh dan memandang Iliana dengan tatapan tak terbaca. "Kamu bilang teman kampus saya? Maksudmu Dhani?" tanya Zoeya serius.
"Ahhh iya, namanya Dhani. Kurasa Dhani menyukaimu, Zoeya." Iliana membalas cepat.
Penuh keraguan Zoeya bertanya, "Kamu yakin?" Ada rona merah di pipinya.
Iliana menangkap bahwa Zoeya menyimpan perasaan pada Dhani. Ia pun segera membuat kesepakatan baru dengan Zoeya yang Iliana yakini akan berhasil.
"Apa wajahku ini wajah seorang yang sedang bercanda? Tentu aku serius, Zoeya. Mari kita buat kesepakatan baru, selain uang sebagai imbalan atas kebaikanmu membantuku. Aku akan membantumu mendapatkan hati Dhani. Bagaimana? Kumohon bantulah aku. Ibu dan puteraku kini dalam bahaya, Zoeya."
Zoeya berpikir sejenak, sebelum tersenyum dan mengangguk ke arah Iliana. Tanpa membuang waktu, Iliana meminta Zoeya kembali menarik arwahnya ke tubuh Zoeya. Hanya butuh tiga detik, raga Zoeya membuka mata dengan tatapan Iliana dalam netra cokelatnya. Tubuh Zoeya yang tengah dirasuki Iliana itu langsung bergerak tangkas menjalankan misinya. Ia mandi, merias diri. Kali ini Iliana memilih mini dress warna kuning cerah dengan kombinasi putih miliknya.
Tempat pertama yang ingin Iliana datangi adalah kampus suaminya. Ia ingin menemui Alex. Sayangnya, saat Iliana tiba di sana, Alex sudah pergi meninggalkan kampus satu jam yang lalu. Kecewa, Iliana pun akhirnya pergi meninggalkan kampus Alex. Saat berdiri di pinggir jalan untuk mencari taksi, tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapan Iliana.
"Zoeya? Ngapain kamu di sini?" suara tenor pemuda menyapanya.
"Dhani? Ahh, aku sedang menunggu taksi." Iliana tersenyum manis dan melambaikan tangannya ke Dhani.
"Masuklah. Aku anterin kamu. Mau ke kampus 'kan?" ajak Dhany sambil turun membukakan pintu.
Iliana berpikir sejenak, memang dia ingin menjalin kedekatan dengan Dhani, tapi Iliana juga sedang tidak ingin ke kampus Zoeya. Buat apa Iliana keluyuran di kampus Zoeya?
Beberapa saat merenung, pada akhirnya Iliana merasa segan menolak tawaran Dhani. Ia merasa ini adalah kesempatan baginya untuk membuat Zoeya dan Dhany semakin dekat.
"Baiklah aku akan ikut denganmu."
Dhany dan Iliana banyak bersenda gurau selama peejalanan. Mereka bercerita tentang hal-hal favorit masing-masing.
"Jadi kamu hobi menggambar?" tanggap Iliana antusias.
"Ya begitulah." Dhan mengangguk malu-malu.
"Kapan-kapan lukis juga wajahku juga, ya. Aku ingin jadi model dari salah satu karyamu."
"Dengan senang hati." Dhani mengangguk riang. Sebenarnya sudah puluhan lukisan Zoeya Dhani lukis secara diam-diam. Sayangnya, semua lukisan itu tak menampakkan wajah cantik Zoeya. Dhani tak pernah berkesempatan melihat wajah di balik poni itu sebelumnya.
Mobil Dhani tiba di tempat parkir gedung Fakultas Sastra dan Budaya. Zoeya turun dengan senyum semringah bersama Dhany dengan wajah yang tak kalah cerah. Beberapa langkah mereka berjalan, datang lah seorang pria tinggi tegap menghadang jalan mereka. Iliana terbelalak memandang sosok yang kini di hadapan mereka.
"Hai, nak kau membohongiku rupanya?" Tegur Alex sambil memegang bahu Dhani.
"Aku tidak bohong. Aku juga baru bertemu dengan Zoeya hari ini, Om." Dhani sedikit takut, mata tajam Alex dengan garang mengulitinya.
Alex mengalihkan pandangan kesalnya ke wajah Zoeya.
"Kamu lari ke mana saja selama ini, hah?" semprot Alex kesal.
"Aku. Eung ... emm." Belum sempat Iliana menjawab pertanyaan Alex, tangan kekar Alex menarik Zoeya pergi menuju mobilnya.
Dhani sangat tidak terima melihat Zoeya diperlakukan kasar oleh Alex, dengan emosi yang meledak-ledak Dhani menghampiri Alex yang bersikukuh membawa Zoeya.
"Jangan sakiti Zoeya!" Teriak Dhany lantang sambil terus berusaha merenggut kembali Zoeya.
Iliana berusaha memberi pengertian semampunya.
"Aku tidak apa-apa, Dhani. Jangan khawatirkan aku. Pergilah," pinta Iliana sambil pasang badan melindungi Alex.
Meski berat, Dhani memilih menuruti permintaan Zoeya. "Baiklqh, aku pergi. Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan mengampuni Om-om ini," tandas Dhani memperingati Alex.
"Jangan campuri urusanku dengan gadis penggoda ini!" tegas Alex dingin.
"Siapa gadis penggoda? Zoeya maksudmu?? Tidak mungkin, Zoeya bukanlah gadis seperti itu. Anda salah orang! Zoeya bahkan tak pernah mampu menatap mata seorang pria, jadi bagaimana mungkin dia wanita penggoda." Teriak Dhany tak terima. Rasa takutnya sirna, ia tak ragu menghantam wajah Alex saat ini.
"Ini mungkin kesalahpahaman. Sudah, hentikan, Dhan. Aku akan menjelaskan apa yang terjadi, nanti." Iliana terus pasang badan melindungi Alex. Sementara Alex dengan senyum sinisnya menertawakan tingkah dua mahasiswa di hadapannya yang ia pikir sedang bermain peran.
Dhani pergi, Iliana dan Alex masuk ke dalam mobil. Perjalanan mereka diselimuti atmosfir dingin, keduanya hening dalam diam. Iliana berpikir untuk menceritakan pada Alex bahwa dia adalah Iliana yang meminjam raga Zoeya, agar kesalahpahaman ini segera lurus. Sementara Alex memikirkan banyak hal, otaknya yang marah menyusun rencana untuk memberi pelajaran pada Zoeya. Sementara hatinya yang gundah terasa amat bahagia akhirnya bisa menemukan Zoeya.
Profesor Alex berpikir keras, apa yang harus ia perbuat pada gadis yang beberapa hari ini datang ke dalam mimpinya itu.
"Kita akan ke mana, Mas?" tanya Iliana halus.
Alex diam membisu, enggan menjawab pertanyaan Zoeya. Tidak lama kemudian mobil Alex tiba di basemen sebuah hotel bintang lima.
"Turun!" perintah Alex dingin.
Hah hotel lagi?
Apa yang harus aku lakukan?
Aku sudah berjanji pada Zoeya untuk tidak tidur bersama pria mana pun dengan menggunakan tubuhnya.
Harus bagaimana aku menghentikan Mas Alex??
Iliana masih mematung di dalam mobil. Bulu kuduknya meremang, bukan karena dinginnya ac mobil, tapi karena dinginnya tatapan mata Alex yang tak kunjung mencair.
"Apa kamu tidak akan turun?" tanya Alex membukakan pintu untuk Zoeya.
Iliana akhirnya turun dan mengikuti langkah Alex. Usai chek in ke meja receptionists Alex mengajak Zoeya masuk ke sebuah kamar yang cukup luas. Ada satu ranjang berukuran king, satu sofa panjang, satu set meja makan dengan dua kursi kayu, serta satu kamar mandi. Jendela dengan gorden tosca merumbai indah, menghalangi cahaya matahari mengintip ke dalam.
Kaki Iliana terasa berat melangkah memasuki kamar itu.
"Mas, apa yang akan kita lakukan di sini?" gugup Iliana menahan dentam jantungnya.
"Aku tahu tujuanmu mendekatiku. Jadi apapun rencanamu, segera urungkan! Berikan rekaman video itu padaku, atau kau akan menyesal," tegas Alex sambil menyudutkan Zoeya ke dinding.
Tangan kiri Alex menepis tangan Zoeya sedangkan tangan kanannya mencengkeram kerah baju Zoeya.
"Rekaman video apa, Mas? Aku tak mengerti maksudmu?" Iliana gelagapan. Ia bingung dan tak mengerti sama sekali arah pembicaraan Alex.
"Berhenti pura-pura dan cepat berikan rekaman itu padaku. Selagi aku memintanya baik-baik!" Nada suara Alex memang datar tapi terlihat jelas ada emosi yang tertahan disetiap penekanannya.
Ini masalah serius.
Mas Alex tidak main-main, baru kali ini aku melihat suamiku dengan ekspresi sehoror ini.
"Oke. Aku akui aku bersalah, saat itu meninggalkanmu begitu saja. Dan maaf untuk sikapku yang mungkin membuatmu bingung. Aku sakit beberapa hari yang lalu, saat sakitku kambuh pikiran dan emosiku selalu tak terduga. Sekenario terburuknya mungkin aku akan lupa untuk sementara apa yang telah kulalui denganmu? siapa kamu? dan bagaimana perasaanku padamu? Aku menjadi orang lain saat sakitku datang, " jelas Iliana panjang. Entah darimana ia mendapat alasan tidak masuk akal tersebut, yang pasti itu alasan terbaik untuk saat ini.
Alex mengertakan giginya, telapak tangan kekarnya mencengkeram d**a Zoeya. Ada rasa takut bercampur gairah mulai berdesir ke seluruh pembuluh darah Iliana.
"Aku tak akan tertipu olehmu." Alex berbisik di telinga Zoeya.
"Aaahhhh." Remasan Alex tak hanya menginvasi satu bagian Zoeya saja. Kini tangan dari suami Iliana itu mencengkeram dua busungan di d**a Zoeya. Membuat Iliana makin kalut dalam hasrat sialannya. "Tadi kamu menyebutku w*************a, lalu sekarang kau menuduhku memiliki rekaman video yang kau cari? Itu membingungkanku, Mas? Aku benar-benar tidak tahu video yang kamu maksud." Suara Iliana agak gemetar.
"Mau sampai kapan kamu membohongiku? Kamu menunggu sampai aku memberi pelajaran padamu!" bentak Alex membuat Iliana bergidik. Tak pernah suaminya sekasar ini. Iliana syok, ia sadar bahwa kecerobohannya akan menyeret Zoeya ke dalam bahaya.
Alex dengan kasar menarik dan mendorong Zoeya ke sofa. "Baiklah, jika kamu bersikukuh tidak memiliki video itu. Kenapa kita tidak membuatnya saja sekarang! Kurasa video kemarin terlalu biasa untuk dijadikan skandal. Politikus berselingkuh atau menikah lagi sudah banyak. Skandalmu akan lebih menarik jika videonya berupa adegan pemerkosaan yang dilakukan seorang Profesor ALEX. Bukankah begitu, Zoeya!" Alex menyeringai sambil melepaskan ikat pinggang beserta celananya. Iliana menggeleng dan beringsuk mundur ketakutan.
"Ada takut juga rupanya di matamu? Lalu kenapa kamu berani-beraninya menggodaku??" sengit Alex sambil menarik kaki kiri Zoeya.
"Soal aku menggodamu, sungguh aku tak bermaksud menggodamu, Mas. Malam itu terjadi karena aku mencintaimu," lirih dengan mata berkaca-kaca.
Apa yang harus kulakukan.
Aku tak boleh melanggar janjiku pada Zoeya.
Alex tersenyum konyol mendengar pengakuan cinta Iliana. Siapa sangka, pengakuan Iliana tak ubah bara api yang membakar gairah di dalam mata Alex. Usai mendengar pengakuan itu, Alex semakin menggebu-gebu untuk menyetubuhi Zoeya.
Iliana meronta sekuat tenaga, merangkak menjauh tapi sia-sia. Alex tak perlu banyak usaha untuk menyibak rok Zoeya dan menyobek celana dalam merah marunnya. Kedua kaki Zoeya yang ia kuasai sejak tadi, memuat Alex leluasa melesakkan miliknya ke dalam Zoeya.
"Hentikan, Mas. Kumohon," rengek Iliana yang tak lelah meronta di bawah gerakan kasar Alex menghujami liang Zoeya.
"Akan kuberikan kamu pelajaran tak terlupakan!"
Tidak....
***
Bersambung....