Misteri Zoeya

1844 Words
Jihan pulang pukul 07.00 malam. Seperti biasanya rumah tampak tenang, Evan selalu mengunci diri di kamarnya setelah pulang dari sekolah. Tingkah Evan semakin hari semakin aneh. Melihat tingkah anak kakak tirinya Jihan tersenyum jahat sambil menatap pintu kamar Evan. "Tunggu beberapa saat lagi akan tiba giliranmu menyusul nenekmu ke rumah sakit jiwa. Bersiaplah Evan."  Jihan berseloroh kejam tanpa rasa bersalah sedikit pun. Langkah angkuh Jihan menapak mantap memasuki kamarnya. Matanya  terbelalak lebar tatkala pandangannya bertemu cermin. Tangan Jihan gemetar. Lututnya terasa lemas. Jihan menggigit bibir menahan syok. Ia ketakutan membaca sebuah kalimat yang ditulis di cermin dengan lipstik berwarna merah. "Aku kembali untuk membongkar kebusukanmu Jihan. Dasar PEMBUNUH!!!" Kata demi kata yang tertulis dicermin itu seolah mencambuk hati Jihan. Tulisan tangan yang amat sangat familiar bagi Jihan, yaitu tulisan tangan Iliana. Kakak tiri, yang telah dibunuhnya satu tahun yang lalu. Bulir-bulir keringat dingin menetes di pelepis Jihan, bulu kuduknya berdiri punggungnya terasa berat. "Tidak, ini tidak mungkin! Pasti bukan Iliana. Si jalang itu sudah mati, tidak mungkin ... tidak mungkin dia bisa melakukan ini. " Jihan berusaha tak mempercayai asumsi aneh yang menggelayuti benaknya. Teror tulisan di kaca meja rias membuat Jihan tak bisa tidur. Sepanjang malam dia ketakutan dan cemas. Beberapa kali Jihan mencoba menghubungi Alex, tapi ponsel Alex tak bisa di hubungi. Semua panggilan Jihan dialihkan ke pesan suara. Jihan makin kalut karena Alex tidak pulang malam itu. Setelah berpikir keras akhirnya Jihan berkesimpulan bahwa Ibu tirinya lah yang melakukan hal konyol ini. Tulisan tangan Ibu tiri Jihan memang mirip sekali dengan tulisan tangan Iliana. Maka untuk memastikan, Jihan memutuskan mengunjungi ibu tirinya ke Bandung. Malam terasa panjang, Jihan sudah tak sabar menunggu datangnya pagi. Dia ingin cepat-cepat pergi ke Bandung untuk memastikan bahwa Ibu tirinya itu masih mendekam di rumah sakit jiwa. Sebelum pergi, Jihan mengirim pesan pada Alex bahwa dia akan pergi selama tiga hari untuk mengunjungi Ibunya. Ternyata pesan itu dibaca oleh Iliana yang baru saja terhempas dari raga Zoeya.  Jihan akan menemui Ibu. Itu artinya aku bisa mengikuti Jihan untuk mengetahui dimana selama ini dia menyembunyikan Ibuku? Aku harus segera pergi mengikuti Jihan, tapi bagaimana dengan Zoeya?? Dia pasti akan syok dan terkejut jika bangun dalam kondisi seperti ini. Tapi ini darurat. Aku harus tetap pergi untuk menyelamatkan Ibuku. Maaf Zoeya.... Iliana lirih menatap sedih tubuh Zoeya yang sudah akan terbangun, sebelum ia kemudian pergi menembus pintu dan menghilang. *** Zoeya mengumpulkan berbagai informasi tentang Alex. Tangannya mengetak-ketik papan ketik laptop milik Iliana, untuk mendapatkan info lebih detail mengenai pria yang semalam menidurinya. "Profesor Alexander Nelson Tamsi, Ph.D.?? Seorang Dekan Fakultas Ekonomi di sebuah PTN, dia juga aktif dalam dunia politik. Dan menurut kabar yang beredar banyak partai politik yang ingin menggandeng Profesor Alex untuk maju sebagai kandidat menteri di putaran berikutnya," gumam Zoeya sambil membaca sederet informasi yang terpampang di layar laptop. "Wahhh, bukan main hantu gila itu berani-beraninya menggoda orang yang luar biasa hebat ini." Zoeya menggeleng tak percaya, setelah mengetahui latar belakang Profesor Alex. Zoeya merebahkan tubuh lelahnya di springbed empuk Iliana, dia memutuskan untuk tidak sekalipun meninggalkan apartemen ini sebelum bertemu Iliana. Bagaimana juga fisik dan mental Zoeya sangat kurang baik. Ia kehilangan kegadisan, terjebak dengan situasi membingungkan. Di tambah terlibat dengan orang yang luar biasa tidak masuk akal. Zoeya butuh waktu menenangkan diri.  Satu hari berlalu, Zoeya benar-benar tidak beranjak dari apartemen Iliana. Ia bahkan tidak pergi ke kampus. Zoeya tetap mendekam dengan gelisah di apartemen Iliana, menghabiskan waktunya untuk tiduran, nonton tv, dan makan. Tiga hari berlalu, setiap pagi dan sore kurir delivery makanan mondar-mandir ke apartemen Iliana untuk mengantar pesanan Zoeya. Sudah lama Zoeya tak menjalani hidup tenang dan nikmat seperti ini. Tidur di kasur yang empuk, makan makanan enak, tanpa harus memusingkan makan apa hari esok dan seterusnya. Anehnya, tak sedikit pun Zoeya merasa bahagia. Pikirannya kacau, panik, cemas, dan terus ketakutan.  *** Hampir tiga hari Dhani tak melihat sosok Zoeya, pikiran kemana sebenarnya Zoeya membuat perasaan Dhani resah. Kenapa Zoeya tiba-tiba menghilang, di saat Dhani mulai merindukannya. Saat Dhani mulai menyadari perasaannya pada Zoeya. Dhani mengenal Zoeya sejak mereka duduk di bangku SMA. Di mata Dhani, Zoeya gadis yang unik. Sejak lama Dhani tertarik dengan keunikan Zoeya. Ia jarang sekali bersuara, ia selalu menunduk, ia selalu menutupi wajahnya dengan poni, ia selalu menyendiri dan jarang sekali berinteraksi dengan teman-teman lain. Menurut rumor yang beredar, Zoeya menjadi seperti itu sejak kematian ibunya. Dhani pikir Zoeya trauma atau terpukul hingga menjadi sosok yang begitu misterius. Dhani sering memperhatikan Zoeya, saat dia duduk menyendiri di bangku taman kampus. Bahkan sesekali Dhani melukis sketsa wajahnya. Hobi Dhani memang menggambar, ia melukis apapun yang menurutnya menarik. Zoeya berbeda karena itulah ia menarik. Wajahnya yang selalu misterius di balik poni panjang itu membuat Dhani menebak-nebak bagaimana ekspresi wajah Zoeya di balik poni hitamnya. Semakin diperhatikan, Dhani jadi semakin ingin tahu dan lebih penasaran lagi pada Zoeya. Beberapa hari yang lalu, akhirnya rasa penasaran Dhani terjawab.  Sore saat Dhani mengantarkan mamanya ke mall, kebetulan pas mama Dhani sedang asyik memilih sepatu. Seorang gadis cantik menarik perhatian Dhani. Senyumnya cerah, matanya bersinar. Reflek langkah Dhany tergerak dengan sendirinya mengikuti ke mana gadis itu berjalan Gadis dengan rambut sebagu itu duduk di sofa untuk mencoba beberapa highheels, ketika kepalanya menunduk dan poninya terjatuh menutupi mata. Deggggg...  ZOEYA!! Barulah Dhani sadari, gadis berparas cantik itu mirip sekali dengan Zoeya si cewek misterius yang selama ini ia kenal. Bagaimana mungkin Zoeya bisa secantik ini? Benarkah itu Zoeya? Ragu-ragu Dhani menegurnya "Ka.. Kamu??"  "Hmmm?" tanggapnya bingung. "Kamu bukannya Zoeya yang poninya selalu menutupi mata itu kan?" tanya Dhani lagi, memastikan. Kening Iliana di dalam tubuh Zoeya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.  "Ahhhh. Aku baru saja ingat! Kamu cowok yang diam-diam memperhatikanku dari kejauhan 'kan??" kelakar Iliana ceplas-ceplos. "Ba-ba-gai mana kamu tahu itu?" Gugup dan salah tingkah Dhani berkata. "Aku tahu, tapi itu bukanlah masalah besar. Jadi kamu tak perlu segugup itu." Iliana tertawa kecil, lalu menyunggingkan senyum manis. Dhani menghela napas lega. "Kamu berbeda sekali Zoeya, ini pertama kali aku melihat sisi lainmu sejak SMA hingga kuliah, tak pernah sekalipun kamu menunjukan wajah cantikmu itu di depan umum." Tak henti Dhani menatap kagum, tapi reaksi Zoeya aneh.  Perkataan Dhani membuat Zoeya langsung berubah, sikap santai dan ramahnya sekejap menghilang. Dia bergegas pergi menghindari Dhani.  *** Alex tak habis pikir, sikap Zoeya berubah 180 derajat. Setelah semalam dia datang menggoda Alex dengan penuh cinta dan gairah yang meletup-letup. Keesokannya profesor ganteng ini harus gigit jari dan menelan kekecewaan akibat dicampakkan.  Alex benar-benar emosi dengan kata-kata terakhir Zoeya, dia mengatakan, "Bahwa hanya tidur sekali  bukan berarti mereka memiliki hubungan yang spesial."  Apa aku ini lelucon bagi Zoeya?  Berani sekali gadis itu bermain-main dengan Alex. Coba saja waktu itu tak ada Profesor Tambunan yang memanggil dan menghentikan langkah Alex dalam mengejar Zoeya, pasti ia sudah menangkap gadis itu. Pagi ini Alex ada kelas, tapi ia tak bisa konsentrasi mengajar. Pikiran Alex hanya dipenuhi senyum Zoeya, tatapan mata Zoeya, isapan lembut bibir Zoeya, sentuhan Zoeya, lekuk tubuh indah Zoeya, desahan Zoeya, nafas hangat Zoeya,  Zoeya, Zoeya, Zoeya,Zoeya, Zoeya, Zoeya,Zoeya, Zoeya, Zoeya,Zoeya, Zoeya, Zoeya,Zoeya!!! Ahhhh. Aku bisa mati muda karena kesal. Kenapa beberapa hari ini pikiranku hanya berisi kotoran-kotoran itu?  Selesai mengajar Alex memutuskan pergi ke kampus Zoeya. Ia menurunkan egonya untuk menemui Zoeya lagi. Alex pikir ia harus bicara pada Zoeya agar pikirannya kembali jernih. Alex tak mau menjadi gila sendiri, sudah beberapa hari sejak kejadian malam itu, tapi Zoeya tak pernah menghubungi Alex, satu kalipun. Sombong sekali gadis itu.  Jarak dari kampus Alex mengajar ke kampus Zoeya tidaklah jauh, 30 menit melaju tanpa terhalau macet membuatnya sampai di pelataran gedung putih. Alex bertanya kepada para mahasiswa sastra yang ada di sekitar gedung fakultas, tapi tak ada satu pun dari mereka yang mengenal sosok Zoeya.  Lagi-lagi seperti ini, Alex ingat betul bagaimana sulitnya saat pertama kali ia ke kampus ini untuk mencari Zoeya demi mengembalikan tas gadis tersebut. Yahh seperti saat ini, semua mahasiswa yang ia tanya tak ada yang mengenal Zoeya.  Sebenarnya siapa gadis ini?? APA DIA HANTU?? Kenapa bahkan teman-teman seangkatannya pun tak tahu tentang dirinya?  Alex mengacak rambut frustrasi. Sepertinya ia harus kembali dengan tangan kosong, tiba-tiba seorang menepuk pundaknya.  "Anda sedang mencari Zoeya?" tanya seorang mahasiswa yang segera Alex jawab dengan anggukan. "Kau mengenal Zoeya?" Alex bersemangat menyambut pemuda di hadapannya.  "Sudah tiga hari ini Zoeya tidak datang ke kampus." Dhani menjawab lemas, tersirat sejumput kekhawatiran di matanya. "Kenapa? Apa dia sakit?" sahut Alex tak kalah cemas. "Saya tidak tahu, yang pasti Zoeya berubah terakhir kali saya melihatnya. Dia seperti orang lain." Dhani menjelaskan masih dengan wajah murungnya.  "Maksudmu? Jelaskan lebih detail agar aku bisa memahaminya,"  pinta Alex tidak sabaran. "Tapi kenapa saya harus menjelaskan kondisi Zoeya pada Anda? Anda ini siapanya Zoeya?" Dhani balik bertanya dengan mata membidik tajam pada Alex. "Aku, ahhh ... Aku saudaranya." Alex berkilah sekenanya. "Jadi jelaskan, apapun yang kamu ketahui tentang Zoeya."  "Setahu saya, Zoeya bukanlah gadis yang mau berinteraksi secara personal dengan orang lain. Bahkan dia tak memiliki satu teman pun di kampus ini. Zoeya dan kehidupannya itu misteri," desis Dhani yang kemudian pamit pergi.  Benar. Gadis itu memang misterius! Sikapnya, gaya bicaranya, tatapanya, semuanya berubah. Tapi bagaimana mungkin tak banyak yang mengenalnya, bahkan di kampusnya sendiri?? Pertemuan singkat Alex dengan Dhani membuat rasa ingin tahunya terhadap Zoeya semakin besar. Alex semakin ingin tahu dan semakin ingin menggali lebih dalam tentangnya.  Diliriknya jam yang melingkar pada pergelangan tangan kiri. Alex tahu waktunya tak banyak. Ia harus segera kembali ke kampus karena ada kelas siang. Sambil menunggu waktu kuliahku tiba, Alex memilih kembali ke ruang kerjanya. Para staf yang kala itu sedang bergosip menarik perhatian Alex yang melintasi meja mereka.  Tanpa sengaja Alex mendengar pembicaraan rekan-rekannya. Rupanya gosip tentang skandal seorang menteri yang baru saja dilantik menjadi menu mereka siang itu. Alex awalnya hanya tersenyum sinis mengolok kegiatan rumpi yang menurutnya tidak penting dan membuang-buang waktu. Sesampainya di ruang kerja, Alex membuka laptop. Ada sebuah pemberitahuan e-mail masuk sudah melambai di sudut bawah dekstop. E-mail yang berisi nasihat dari seorang kader partai yang menggandeng Alex untuk maju menjadi calon menteri di putaran berikutnya. Kader tersebut mengatakan bahwasanya beliau meyakini kinerja Alex yang bersih dan terorganisir, sehingga ia mempercayakan sepenuhnya posisi itu padanya. Alex hanya tersenyum membaca kalimat itu, kemudian melanjutkan netra Alex turun membaca kalimat berikutnya.  Sang kader juga menceritakan pada Alex bahwa menteri yang saat ini terlibat skandal, adalah korban dari sebuah konspirasi politik hitam. "Menteri itu di jebak oleh kubu musuh yang menyewa seorang wanita untuk menggoda Sang Menteri, dan Sang Menteri menelan mentah-mentah jebakan tersebut. Beberapa saat kemudian videonya bersama sang wanita tersebar luas di media, sampai viral. Kini Sang Menteri yang sebenarnya jujur ini harus turun dari kursinya. Maka dari itu, aku mengingatkanmu. Waspadalah terhadap siapapun yang berusaha menggoda atau merayumu, jangan sampai tersandung atau terlibat skandal apapun. Aku mempercayaimu Profesor Alex."  Kalimat penutup e-mail itu sukses membuat hati Alex gusar. Deegggggg. Wanita penggoda?? Mungkinkah Zoeya adalah salah satu dari mereka?? Bisa saja Zoeya mendekatiku hanya untuk itu... Karena itulah dia begitu misterius dengan identitasnya! Jika itu benar maka aku tak akan memaafkannya, aku harus menemukannya dan menghapus video itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD