Dingin merabai kulit Zoeya, membuatnya dengan paksa membuka mata.
Ruangan yang asing, aroma yang asing, semua terasa asing bagi Zoeya. Dia merasakan tubuh hangat dan tangan kekar memeluknya dari belakang. Kesadarannya sudah penuh atau masih di awang-awang? Zoeya bingung, apa yang ia lakukan di sini? Siapa pria ini?
Sekali lagi kejutan luar biasa melecut akal sehat Zoeya. Ia syok mendapati dirinya dalam keadaan telanjang di pelukan seorang pria asing. Jantungnya seperti berhenti berdegup, sulit sekali menarik napas dalam kepanikan. Zoeya takut. Sangat takut. Ia mendorong tubuh laki-laki asing di sampingnya sekuat tenaga.
Tindakan Zoeya jelas membuat Alex terbangun, dengan wajah bingung Alex memandang Zoeya yang tampak pucat.
"Ada apa Zoeya?" tanya Alex khawatir.
Dia tahu namaku? Batin Zoeya yang semakin ketakutan.
Zoeya hanya terdiam tak menjawab Alex, ia bahkan menarik selimut putih yang menutupi tubuh mereka untuk menutupi tubuhnya. Gadis yang bulan lalu baru genap dua puluh tahun itu bangkit seperti orang bingung. Mencari-cari kemana hantu penulis yang merasukinha pergi. Kenapa Iliana harus membawa Zoeya dalam kondisi seperti ini? Zoeya marah, tak percaya, sekaligus kecewa.
"Kau sedang mencari sesuatu?" Alex bertanya sambil mengusap punggung Zoeya. Gadis itu menampik kasar.
"Baju! Di mana baju saya?" rancau Zoeya seraya beranjak dari ranjang.
"Bukankah di sofa itu bajumu." Alex menunjuk celana street biru yang sangat-sangat pendek dan atasan putih yang lengannya sobek.
Baju itu milik saya?? Ohh tuhan apa yang sebenarnya terjadi??
Zoeya memungut baju-baju yang ada di sofa dengan perasaan yang masih bingung. Limbung ia berjalan ke kamar mandi untuk memakai pakaian tersebut. Usai mengenakan baju yang menurutnya terkutuk, Zoeya buru-buru meninggalkan kamar. Meninggalkan Alex yang dirundung tanda tanya besar.
Apa aku telah melakukan kesalahan? Pikir Alex, keras.
"Zoeya, kau marah padaku? Kenapa kau pergi seperti ini?" teriak Alex pada Zoeya yang meninggalkannya tanpa sepatah kata.
Zoeya berjalan cepat mencari arah keluar. Saat menemukan lift, ia langsung berlari agar bisa masuk bersama beberapa orang yang saat itu sudah berada di dalamnya. Sayangnya, langkah Zoeya terhenti, karena tiba-tiba saja selangkangannya terasa ngilu. Seperti tersengat sesuatu.
Auuhhhh ... sakit! Apa sebenarnya semua ini? Di mana hantu itu? Kenapa saya tidak melihatnya.
Sadar ada yang aneh pada dirinya, Zoeya memutuskan hentikan taksi alih-alih jalan kaki. Pagi masih buta sekali, penampilannya juga sangat memprihatinkan, selain itu ia berada di tempat yang menurutnya asing. Zoeya tak punya pilihan selain mempercayakan hidupnya pada sopir taksi.
Tiga puluh menit kami menyusuri pagi berembun. Jalanan masih tampak lenggang, taksi telah tiba di depan bangunan apartemen Iliana. Zoeya baru menyadari bahwa ia tak membawa uang sama sekali. Jangankan uang, tas saja tak terbawa.
Hantu itu benar-benar totalitas menyiksa saya...
"Pak uang saya ketinggalan. Bisa Bapak menunggu sebentar,?" Zoeya bertanya tepat setelah turun dari taksi.
Sopir taksi paruh baya itu tampak memperhatikan Zoeya. Penampilan yang sungguh tidak meyakinkan. Rambut acak-acakan dengan baju compang-camping, dan sobek di sana-sini, membuat si sopir taksi tak mempercayai kata-katanya.
"Tidak bisa, bayar dulu baru pergi!! Saya sudah sering ditipu dengan trik seperti ini," jawabnya sopir berkumis, sinis.
Sedikit mengembuskan napas berat, Zoeya terus meyakinkan sopir taksi agar berkenan menunggunya.
"Zoeya, apa yang terjadi?" Tanpa Zoeya duga, seorang pemuda menghampirinya.
Betapa tak terkejut, pemuda yang selama ini mengisi ceruk kecil di hatinya, tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Dha-Dhany." Zoeya terbata dan salah tingkah. Ia ingin menutupi matanya dengan poni, seperti biasanya, tapi poni panjangnya juga musnah. Iliana telah lancang mengubah penampilan Zoeya sampai sejauh itu.
"Masnya kenal cewek ini?" tanya sopir taksi, Dhany mengangguk. "Kalau gitu bayarin tagihannya."
"Berapa, Pak?" Dhany bertanya argo yang harus dibayar, lalu mengeluarkan dompet dari celana trainingnya.
Kalau dilihat penampilan Dhany, sepertinya teman satu kampus Zoeya itu sedang joging.
Jujur saja, di tengah kecemasan dan kepanikan yang Zoeya rasakan, hatinya sungguh girang. Ini adalah kali pertama Dhany memanggil namanya, biasanya pemilik suara tenor itu memanggil "Kamu" saja ke Zoeya.
Dhany seseorang yang Zoeya kenal sejak SMA. Ia merupakan satu-satunya siawa yang tidak anti berinteraksi dengan Zoeya. Di saat semua teman sekelas Zoeya hanya menganggapnya makhluk astral yang tak terlihat dan tak penting. Dhany berbeda, ia menghargai Zoeya sebagai manusia. Oleh sebab itu Zoeya diam-diam menyukai Dhani. Meski begitu, sejak pertama bertemu di bangku SMA hingga kini mereka sudah kuliah di kampus yang sama. Belum pernah sekalipun Dhany memanggil nama Zoeya. Jadi bisa dibilang hari ini merupakan hari ajaib untuk Zoeya.
"Ngapain sih nutup-nutupin muka gitu?Kita kemarin bahkan udah ngobrol dengan nyaman dan saling menatap satu sama lain." Perkataan Dhany menambah kebingungan Zoeya.
Jadi hantu itu ketemu Dhany kemarin?
"Gue suka Zoeya yang seperti kemarin, yang percaya diri menunjukan wajah cantiknya," tambah Dhany dengan pandangan kagum.
Gawat, saya harus segera kabur sebelum Dhany bertanya lebih jauh tentang pertemuan kemarin. Jika saya salah menjawab, Dhani akan menganggap saya gila! T.T
Pujian Dhany membuat Zoeya terbirit berlari meninggalkannya. Terserah saja apa yang mungkin dipikirkan Dhany tentang Zoeya, yang pasti pikiran gadis itu saat ini amat kacau. Hantu wanita sialan telah menjungir-balikan hidup Zoeya.
Betis jenjang Zoeya memasuki pintu apartemen Iliana. Ia memperhatikan jam di dinding. Waktu Zoeya tak banyak, pagi ini dia ada mata kuliah penting yang tak boleh terlewatkan. Zoeya bergegas mandi kemudian bersiap berangkat ke kampus.
"Benar-benar kemana perginya hantu itu? Menghilang setelah semua yang sudah dia lakukan terhadap tubuh saya?" Zoeya menggerutu dalam perjalan ke kelas. Karena kurang fokus dan emosi tinggi, tanpa sadar ia menabrak seseorang. Buku-buku yang Zoeya peluk jatuh berserakan
"Maaf, " kata Zoeya singkat tanpa menatap lawan bicaranya, ia terus menunduk dan memunguti buku-buku.
"Zoeya."
Samar-samar Zoeya menatap pria bermata sipit yang menjulang tinggi di hadapannya. Pria itu mendekatkan wajahnya ke Zoeya, menatap gadis itu lekat-lekat.
"Yahh. Kau benar-benar Zoeya!" Dipeluknya Zoeya erat-erat.
Zoeya tercengang untuk sesaat.
Siapa lagi pria ini? Kenapa dia memperlakukan saya seperti ini?
"Kita perlu bicara Zoeya, ikut denganku." Tangan sang pria menarik lengan Zoeya sisi lain kampus-yang sepi.
Setelah beberapa langkah berjalan, akhirnya kami tiba di belakang kantin kampus yang selalu sepi. Tak banyak mahasiswa berlalu lalang di area ini. Mereka duduk di bangku taman yang biasanya Zoeya gunakan untuk menyendiri.
"Kau baik-baik saja 'kan, Zoeya?" Pertanyaan pria itu menyiratkan kekhawatiran yang begitu besar.
Zoeya hanya diam mematung, sambil terus berpikir. Ia juga terus menunduk tak berani menatap orang asing di sebelahnya.
"Apa kau sakit? Apa kau tak enak badan? Kenapa tadi pagi kau pergi begitu saja? Kau tampak bingung dan ketakutan." Pria itu mengusap muka sebelum melanjutkan, "Apa aku melakukan sebuah kesalahan??"
Apakah ini pria yang tadi pagi bersama saya di hotel?
"Untung saja tas dan dompetmu tertinggal di kamar hotel, sehingga aku bisa melihat kartu mahasiswamu dan mencarimu ke kampus ini." Alex menyerahkan tas Iliana ke Zoeya. "Kumohon bicaralah Zoeya, jangan membisu seperti ini?" pinta Alex nyaris putus asa.
Zoeya bingung. Tak tahu harus bagaimana menghadapi pria asing yang terus memintanya bicara. Akhirnya yang bisa Zoeya lakukan hanya berdiri untuk pergi meninggalkan Alex.
"Apa aku tak berarti sama sekali bagimu? Kenapa kau mengacuhkanku, setelah malam indah yang kemarin kita lalui bersama?" Alex menahan tangan Zoeya. Perkataannya barusan seolah halilintar yang menyambar harga diri Zoeya.
"Apa semalam kita tidur bersama? Di kamar hotel itu?" Zoeya tak percaya apa yang ia lihat.
Alex mengangguk yakin dengan mata penuh penyesalan.
Dasar hantu m***m! Berani-beraninya dia menggunakan tubuh saya untuk menggoda pria ini.
"Kita menghabiskan malam ya-"
"Cukup, saya tidak ingin mendengar," potong Zoeya tegas.
Alex menatap tajam mata Zoeya. "Kau..., " sambungnya yang kemudian terpotong oleh suara berat seorang dosen senior yang sangat Zoeya kenal.
"Lho, Profesor Alex? Wahhh wahh ada angin apa orang besar seperti Anda datang ke kampus kami?" tegur Dosen Zoeya ramah ke arah Alex.
Degggg.
Profesor Alex?
Siapa sebenarnya Profesor Alex?
Apa hubungannya dengan hantu itu?
***