“Pilihlah tempat duduk kosong untuk kau duduki.”
Aku mengangguk dan memilih untuk duduk disamping Sarah.
“Boleh aku duduk disini?”
Sarah hanya mengangguk saja, dia sepertinya masih malu malu denganku, lucunya.
Singkatnya, pelajaran hari itu dimulai, Bu Alice hanya menjelaskan tentang monster saja hari ini, padahal aku sangat menantikan pelajarannya tentang iblis.
Aku sangat bosan sekali saat dikelas, tidak ada jam istirahat dan materi yang diajarkanpun aku sudah mengetahui semuanya, karena guru mengajariku itu semua saat aku masih tinggal digunung.
Ternyata pelajaran di akademi ini tidak selama yang kupikirkan, aku berangkat jam 8 pagi dan pulang jam 12 siang.
Kelas hari ini selesai begitu saja, aku sedikit meregangkan tubuhku, karena terlalu bosan.
“Pelajarannya sangat membosankan, aku harap besok akan jadi lebih menarik sedikit.”
“Emm, Ella.”
“Hm?”
“A-aku sebenarnya ingin minta tolong padamu.”
“Minta tolong apa?”
“Bi-bisakah kau ikut denganku u-untuk memburu monster.”
“Kelihatannya seru, lagipula aku juga sedikit penasaran dengan itu. Baiklah akan kutemani.”
“Benarkah?”
“Iya, lagipula kita ini temankan.”
“Teman?”
“Kau tidak mau menjadi temanku?”
“Tidak tidak, bukan begitu, aku sangat senang kalau kita bisa berteman.”
“Jadi, bagaimana caranya mengambil pekerjaan itu?”
Sarah menjelaskanku tentang caranya mengambil pekerjaannya dengan sangat rinci.
Pertama tama kita harus menemui Pak Elliot, beliau adalah guru yang khusus menangani semua tentang pekerjaan membasmi monster ini.
Dari awal, saat aku tau bahwa akademi ini hanya mengajari tentang monster, iblis, dan sihir lalu juga ada pekerjaan membasmi monster itu, aku mengambil kesimpulan bahwa sepertinya, akademi ini ada hanya untuk mengurangi jumlah monster yang ada agar tidak menyerang kerajaan.
Yahh, bagaimanapun juga, aku tidak menentang adanya akademi ini, karena dari kedua belah pihakpun sama sama diuntungkan, Murid yang membasmi akan mendapatkan uang dan pihak dari akademi akan tetap bisa mengendalikan jumlah monster diwilayahnya.
Yang membuat ide ini sungguh orang yang sangat jenius.
“Kalau begitu, ayo kita buru monsternya.”
“Tunggu.”
Saat aku dan Sarah ingin pergi ke ruangan Pak Elliot tiba tiba ada yang menghentikan kami di belakang, dari suaranya saja aku sudah tau siapa dia. Aku langsung membalikkan badanku sambil menggenggam tangan Sarah.
“Apa yang kau inginkan, Kai?”
Kai mendekatiku dengan tatapan yang serius, sepertinya dia sudah berubah, dia tidak seperti Kai yang aku kenal dulu, yang akan selalu memanggilku cewek gorilla, dimanapun dan kapanpun.
“Ella?”
Sarah memanggilku, sepertinya dia ketakutan.
“Hei, cewek gorilla, mentang mentang sudah punya teman baru sekarang, teman lama malah dilupakan, dasar cewek tidak berperasaan.”
“Hah?”
Aku sangat terkejut, kukira dia ini mau ngapain hingga menatapku seserius itu, ternyata cuman ini.
“Apanya yang hah, kita sudah lama berteman tapi kau bahkan tidak melihat diriku sedikitpun, padahal tempat duduk disampingku juga kosong tadi.”
“Hahahaha, kukira kau ingin macam macam denganku ternyata hanya mengatakan ini saja, hahaha.”
“Kau tidak ingin bertanya kenapa tiba tiba aku tidak mengunjungimu lagi setahun yang lalu?”
Aku tertawa terbahak bahak lalu dalam sedetik saja, aku mengganti ekspresiku dengan ekspresi datar.
“Tidak.”
“A-anu, kalian berdua saling kenal?”
“Iya, aku dan Kai bertemu kira kira 8 tahun yang lalu. Sudahlah, kita ke ruangan Pak Elliot dulu.”
“Tunggu, kau ingin pergi keruangan Pak Elliot untuk mengambil pekerjaan itu?”
“Iya, memangnya kenapa?”
“Aku juga ada urusan dengan Pak Elliot, kita berangkat kesana bersama.”
Akhirnya, kami bertigapun pergi ke ruangan Pak Elliot bersama, sesampainya disana, Kai berbicara kepada Pak Elliot.
Ternyata Pak Elliot adalah orang yang masih muda, kukira umurnya sama dengan guru. Rambutnya berwarna hitam dengan sepasang mata berwarna emerald, terlihat sangat kerennn.
“Aku ingin pekerjaanku, dilakukan dengan mereka, apakah bisa?”
“Jika anda sendiri yang memintanya maka saya tidak akan menolaknya, hari ini yang mulia meminta anda untuk membasmi monster tingkat tinggi yang baru baru ini terlihat di perbatasan antara kota dengan hutan, monsternya lumayan banyak, mohon untuk berhati hati.”
“Terima kasih informasinya, kalau begitu saya akan pergi.”
Aku, Sarah, dan Kai meninggalkan ruangan Pak Elliot. Rasanya saat berbicara dengan Pak Elliot, Kai terlihat seperti orang yang berbeda dan juga Pak Elliot itu sepertinya berbicara dengan sangat sopan kepada Kai, aneh sekali.
Saat sudah berada diluar ruangan dan berjalan untuk keluar dari bangunan akademi ini, akupun bertanya kepada Kai.
“Kenapa Pak Elliot terlihat sopan sekali ketika berbicara padamu?”
“Ella tidak tau?”
“Tau apa?”
“Itu karena dia adalah anak dari yang mulia Wingston.”
“HAHHH!! Jadi si Kai itu pangeran!?”
“Hahaha, kau terkejut kan, setelah mengetahui kalau aku ini pangeran.”
“Tentu saja, aku terkejut, pantas saja kau tidak mengunjungiku digunung 1 tahun yang lalu. Orang sibuk memang berbeda dengan orang yang santai, untung saja aku tidak memiliki identitas yang merepotkan hidup seperti itu.”
Aku sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang dulunya sangat konyol ini malah memiliki status sebagai pangeran.
“Kau tau, dengan statusku ini aku bisa tau segalanya tentang kalian berdua.”
“Ayo kita pergi Sarah. Abaikan saja orang tidak waras ini.”
Aku menarik tangan Sarah dan membiarkan Kai mengoceh seorang diri disana. Mau, tidak mau, Kai harus menghentikan ocehannya dan segera menyusul kami.
Aku, Sarah, dan Kai berangkat menggunakan sihir teleport milik Kai.
“Lain kali ajari aku sihir itu juga.”
“Bukannya kau bisa meminta si tua itu untuk mengajarimu?”
“Kalau dia mau, sekarang aku pasti sudah menguasainya.”
Situasi di lokasi sangatlah tenang, meskipun begitu, waktu yang tenang seperti ini adalah waktu yang diharuskan untuk waspada.
“Kai, kau ingat perburuan kita dulu melawan monster tingkat tinggi kan?”
“Iya, aku ingat.”
Dulu, aku dan Kai pernah melawan monster tingkat tinggi saat berusia 12 tahun, monster tingkat tinggi selalu muncul di waktu yang sangat tenang dan ditempat yang tak terduga, aku dan Kai bahkan sampai kewalahan menghadapinya.
Tunggu, tempat yang tak terduga, jangan jangan…
Saat aku sedang berpikir, tiba tiba monster itu keluar dari atas, kami bertigapun langsung melompat kesamping untuk menghindari monster itu.
Bentuk dari monster tingkat tinggi selalu saja sangat aneh. Awal mulanya monster biasa itu akan terlihat seperti serangga biasa hanya saja besarnya yang sedikit ga ngotak.
Kalau monster tingkat tinggi itu seperti terdiri dari 2 sampai 5 gabungan serangga, semakin banyak gabungannya maka akan semakin tinggi kesulitannya.
Hari ini kami akan melawan monster tingkat tinggi dengan gabungan dua serangga atau bisa disebut dengan monster level 4. Ini bisa disebut kami yang memang sedang beruntung karena melawan monster tingkat 4, tapi jika jumlahnya ada 6, apakah ini masih bisa disebut beruntung?
“Sarah, kau bisa memakai sihir pemotong?”
“Apa itu sihir pemotong?”
“Namanya bukan sihir pemotong sih, tapi fungsinya sama saja dengan memotong. Kau bisa?”
“Aku akan mencobanya.”
“Oke, aku dan Kai akan mengalihkan perhatian mereka, kau tebaslah kepalanya, harus langsung tertebas dua kepala sekaligus, mengerti?”
“Tapi, kau dan pangeran-“
“Aku dan dia akan baik baik saja.”
Sarah akhirnya sepakat, aku harap tidak akan ada masalah.
Aku dan Kai mengeluarkan dua bilah pedang di tangan kanan dan kiri dengan sihir kami. Aku dan Kai maju untuk menyerang lalu diikuti dengan para monster monster itu.
Aku mengerahkan semua kemampuan berpedangku seperti yang diajarkan guru walaupun begitu kemampuan berpedangku masih jelek, meskipun begitu aku sekarang sedang berjuang menggunakan pedang ini dengan memilih jalur yang aman.
Setelah beberapa saat kemudian, Sarah kehabisan tenaganya dan tidak bisa mengeluarkan sihirnya lagi, kebanyakan dari serangannya tadi meleset dan yang terbunuh hanya dua monster saja.
Mungkin karena dia takut jika sihirnya mengenaiku dan Kai, itulah sebabnya dia selalu meleset.
Aku dan Kai memutuskan untuk mundur dulu, karena Sarah tidak bisa bergerak, untuk menghidari hal yang tidak diinginkan, karena bisa saja Sarah diserang di saat saat seperti itu.
“Masih sisa 4 monster lagi, Kai, kau masih bisa bergerak kan?”
“Ya, aku masih bisa.”
“Kau akan jadi pengalih perhatiannya dan aku yang akan menyerang.”
“Meskipun kau sudah tau aku adalah pangeran tapi tetap saja menjadikanku seekor umpan.”
“Kau pikir diperburuan kita yang sudah ratusan ini, kapan kau tidak pernah kujadikan umpan, meskipun berbahaya tapi kau masih hidup sampai sekarang kan dan bagian tubuhmu kuliat liat juga masih lengkap.”
“Ya ya ya, aku akan menjadi umpan seperti yang kau inginkan.”
Kai langsung pergi kehadapan para monster dengan memasang muka yang malas.
“Hei para monster, kemarilah, jarang jarang ada pangeran yang membuat dirinya menjadi umpan lho.”
Keempat monster itu langsung menghampirinya begitu saja, saat monster sudah lumayan dekat dengan Kai, aku langsung melompat ke udara.
Dengan kecepatan tinggi monster itu menghampiri Kai sambil membuka mulutnya dan saat sudah dekat dengan Kai, monster itu menabrak sebuah dinding perisai dan gagal memakan Kai, aku yang berada di udara langsung mengeluarkan sihir pemotong yang melingkar dan dalam sekejap langsung memotong leher para monster itu.
Barusan itu adalah rencana andalanku, Kai menjadi umpan sambil memasang dinding perisai disekitarnya saat monster itu sudah menabrak dindingnya, disitulah ajal menjemput mereka dan aku lah orang yang mengantarkan ajal itu.
Setelah pertarungan disana selesai, aku mengambil inti keenam monster tadi dan Kai menggendong Sarah, lalu kamipun kembali ke akademi.
Saat sampai di akademi…
“Pengeran, tolong turunkan saya, saya bisa berjalan sendiri.”
Kai menurunkan Sarah, Sarah kelihatannya masih kelelahan.
“Kalian tunggu aku disini. Aku akan menyerahkan inti monster ini pada Pak Elliot, kalian bisa mengambil imbalannya besok, ingat!! Tunggu aku sampai kembali.”
Setelah itu Kai pergi menggunakan sihir teleportnya dan 30 detik kemudian dia sudah kembali lagi.
“Aku akan mengantar Sarah pulang, kau tidak perlu khawatir, dia akan baik baik saja, kau bisa pulang duluan.”
“Aku ikut denganmu saja.”
“Kan kubilang tidak perlu khawatir, kau bisa pulang lebih dulu.”
“Itu… sebenarnya aku tidak tau jalan pulang, jadi aku ingin minta dirimu untuk mengantarku pulang sekalian, hehe.”
“Okelah, lagipula ada hal yang ingin kubicarakan denganmu.”
Singkatnya, Kai menggunakan sihirnya lagi untuk teleport kerumah Sarah setelah Sarah dibawa masuk ke dalam oleh orang tuanya, kini giliran aku yang dibawa pulang.
“Sekarang antarkan aku pulang, aku perlu protes dengan si kakek tua itu.”
“Kalau begitu ayo.”
Kai bilang ayo, tapi dia tidak mengeluarkan sihir teleportnya, terus dia mau pulang dengan jalan kaki gitu.
“Tidak teleport saja?”
“Kan sudah kubilang ada hal yang ingin kubicarakan, jadi sekalian dengan jalan saja.”
Sejenak aku berfikir, Kai ternyata bisa memiliki sifat yang elegan juga ya ternyata.