BERKUNJUNG

1739 Words
    “Hei, memangnya kau tidak memiliki pekerjaan di istanamu?”       “Memangnya apa yang harus pangeran kerjakan diistana?”       “Lah, kau kan pangeran, kenapa balik tanya, kalau aku tanya kau terus kau balek tanya aku, aku mau tanya ke siapa.”       “Oh, iya ya, hahaha. Sebagai pangeran, aku tidak perlu mengerjakan apapun lagi sekarang, ingat saat kita berburu monster dihutan dulu?”       “Tentu saja aku ingat, memangnya ada apa?”       Saat itu, Kai menjelaskan semuanya tentang monster yang terdesak karena aku dan Kai memburu monster dihutan, menyebabkan mereka keluar dari hutan dan membuat panik warga.       Sehingga mulai dari tahun lalu dia ditugaskan oleh ayahnya bersama para murid akademi untuk membunuh monster yang menampakkan diri di perbatasan, tentunya murid murid di akademi juga masih mendapatkan imbalan.       Ini sudah menjelaskan kenapa tiba tiba dia tidak mengunjungiku lagi setahun yang lalu.       Kai juga menjelaskan kenapa dia bisa seperti dibebastugaskan atas kedudukannya sebagai pangeran, karena saat masih kecil dulu, agar dirinya bisa mengunjungiku setiap minggunya, dia rela mempelajari semua pengetahuan yang perlu diketahui oleh seorang pangeran.       Oleh karena itu, sekarang dia tidak memiliki pekerjaan untuk mempelajari itu semua karena dia sudah menguasainya, tugasnya yang sekarang hanya perlu membasmi monster yang terlihat di perbatasan.       “Diam diam, pintar juga kau ya.”       “Ya iyalah, kalau sudah seperti ini, aku bisa menepati janji yang kubuat denganmu dulu.”       “Kau ingat janjimu?”       “Tentu saja, aku ini bukan tipe orang yang akan mengingkari janji yang telah dibuatnya.”       “Tapi, malam ini sepertinya aku ingin mengunjungi Sarah deh. Janjimu itu tepati saja lain kali.”       “Kalau begitu, aku ikut denganmu mengunjungi Sarah juga.”       “Kenapa kau ikut?”       “Ayolahh, diistana itu sangat membosankan, tidak ada hiburan sama sekali.”       “Memangnya Raja dan Ratu akan membiarkanmu pergi begitu saja?”       Memangnya seorang pangeran bisa keluar dari istana semudah itu? Padahal jika dalam novel pasti akan sangat sulit bagi sang pangeran untuk keluar dari istana, apalagi biasanya Raja dan Ratu itu biasanya rang yang tegas terhadap anaknya.       “Hei, ayah dan ibuku itu tidak sama seperti yang ada dibayanganmu oke, sampai sampai harus mengurungku didalam istana segala.”       “Ya sudahlah terserah dirimu saja. Oh sudah sampai, terima kasih sudah mengantarku pulang.”       “Aku akan menjemputmu lagi nanti, ingat!! Tunggu a-ku!!.”       Setelah itu, seperti biasa, anak itu akan menghilang menggunakan sihir teleportnya.       Akupun masuk kedalam rumah, saat membuka pintu…       “Ini rumah manusia apa rumah hantu, gelap bener dah.”       Aku meraba raba dinding untuk mencari tombol lampunya. Akhirnya setelah beberapa menit meraba raba tembok kutemukan juga tombolnya.       “Akhirnya, setelah sekian lama cosplay menjadi cicak, ketemu juga nih saklar lampunya. Kenapa guru tidak menyalakan lampunya, apakah saat ini dia tidak dirumah?”       Setelah itu, aku pergi ke kamarku dan mandi. Beberapa saat kemudian aku keluar kamar dengan keadaan yang sudah siap berangkat, tinggal menunggu Kai menjemputku saja.       Saat aku sampai di ruang tamu, aku tercengang akan suatu hal. Ternyata Kai sudah berada di ruang tamu menunggu diriku. Pertanyaannya, siapa yang memberi dia ijin untuk langsung masuk rumah?       “Kai, kau sudah ada disini?”       Saat Kai mengalihkan pandangannya kemari, benar benar kuakui dia sangat tampan dan keren sekaliii, dia mengenakan pakaian yang lumayan formal, pakaian orang orang di dunia ini memang kebanyakan sangat formal sekali.       Tapi saat Kai melihat diriku, entah kenapa dia malah tertawa terbahak bahak, padahal baru saja kupuji, kelakuannya langsung berubah kek gini.       “Kenapa kau tertawa? Ada yang salah denganku?”       “Hahahaha, tidak, tidak ada, aku hanya sedikit tidak menyangka… ahahaha, astaga perutku, hahahaha.”          “Ada apa sih!?”       “Aku hanya tidak menyangka, ternyata gaya berpakaianmu masih saja sama seperti dulu, benar benar gorilla, hahahaha.”       Hari ini aku mengenakan pakaian yang biasa aku gunakan saat masih tinggal digunung dulu.       “Memangnya apa yang salah dengan pakaian seperti ini, ini jauh lebih terasa sangat nyaman.”       “Ini, gantilah dengan ini.”       Kai memberiku drees dengan rok yang panjangnya 30 cm dari pinggang.       “Darimana kau mendapatkan baju ini?”       “Dari gurumu, kaupikir siapa lagi, saat sedang membelikanmu baju, kebetulan dia dipanggil oleh Archduke, saat aku sampai disini dia menitipkan ini padaku karena katanya kau lama sekali tidak keluar keluar dari kamarmu.”       “Oh, terima kasih kalau begitu.”       Aku meletakkan drees itu di meja, drees disini terlihat lebih kuno daripada yang ada diduniaku sebelumnya, tapi drees didunia ini tidak kalah indah dengan drees di duniaku sebelumnya.       “Ayo, kita berangkat kerumah Sarah.”       “Hei, ganti bajumu dulu.”       “Memangnya apa yang salah dengan bajuku?”       “Dasar, cewek gorilla. Kalau orang tua Sarah melihatmu memakai pakaian seperti itu, bukan hanya aku dan guru yang melihat kau seperti gorilla tapi orang tua Sarah pasti juga akan menganggapmu sebagai gorilla, jadi cepatlah ganti pakaianmu dengan ini, aku akan menunggumu.”       “Padahal hanya pakaian saja, entah kenapa orang orang disini sangat merepotkan sekali.”       Aku mengambil drees itu lagi dan kembali ke kamar untuk mengganti baju.       Setelah beberapa saat kemudian, aku menghampiri Kai yang setia menungguku disana.       “Aku sudah selesai mengganti bajuku, oh ya aku juga Mengganti gaya rambutku.”       Saat Kai melihatku, dia langsung berdiri dengan wajah tercengang.       “Bagaimana, rambutku cantik tidak?”       “Wahhh, sejenak aku menjadi sedikit tidak percaya, dari cewek gorilla yang barbar langsung berubah menjadi gadis yang cantik, kau juga mengganti gaya rambutmu, imut sekali.”       “Tapi rasanya agak sedikit aneh.”       “Kenapa? Padahal dandananmu sudah sebagus ini.”       “Apakah penampilan ini memang diperlukan, padahal aku hanya akan mengunjungi Sarah.”       Saat aku sedang bimbang seperti itu, Kai tiba tiba berdiri disampingku dan merangkul diriku.       “Siapa bilang kau hanya akan mengunjungi Sarah saja, malam ini aku juga akan menuntaskan janjiku padamu.”       Dan tanpa bilang apa apa, anak ini langsung menggunakan sihir teleportnya begitu saja dan tibalah kami didepan pintu rumah Sarah.     Setelah itu, Kai mengetuk pintu rumah Sarah.     Tak lama kemudian, ibu Sarah keluar dan terkejut saat melihat Kai.       “Pangeran!! Ada perlu apa tiba tiba kerumah kami?”       “Selamat malam, apakah saya boleh bertemu dengan Sarah?”       “Oh, iya, silahkan masuk, maaf jika agak kotor.”       “Iya, tidak apa apa, lagipula kami juga hanya ingin mengunjungi Sarah.”       Rasanya seperti polisi yang datang untuk mengintrogasi saja.       “Tolong tunggu sebentar, saya akan memanggil Sarah.”       “Jika Sarahnya masih kurang sehat, lebih baik kami saja yang kesana. Apakah boleh?”       “Eh, iya boleh, kalau begitu silahkan ikuti saya.”       Ibu Sarah mengantarkan aku dan Kai kekamarnya Sarah. Sesampainya disana kami melihat Sarah yang sedang terbaring di tempat tidur.       Saat melihat kami, dia langsung beranjak dan berdiri sambil membungkuk disamping tempat tidurnya.       Sepertinya Sarah memberi hormat pada Kai. Astaga, bagusnya tadi tidak usah kuajak dia, suasananya berubah menjadi canggung sekali, bagiku.       “Kau tidak perlu membungkuk padaku, lagipula aku datang untuk mengunjungimu.”       “Kalau begitu silahkan mengobrol, saya akan membuatkan teh.”       “Tidak, tidak perlu, saya tidak akan lama, soalnya masih ada urusan lain.”       “Kalau begitu, saya permisi.”       Setelah itu, ibunya Sarah pergi.       “Kau ini masih sakit, jadi jangan berdiri, duduklah.”       Aku mendudukan Sarah di atas tempat tidurnya dan aku juga ikutan duduk, sedangkan Kai duduk di kursi samping tempat tidur Sarah secara terbalik.       “Rasanya seperti ingin mati saja, canggung sekali. Sarah, bagaimana keadaanmu sekarang?”       “Sudah lebih baik daripada tadi, terima kasih karena kalian berdua sudah menyelamatkanku.”       “Aku ini pangeran tapi berani beraninya menggunakanku sebagai umpan, setidaknya ucapkan minta maaf juga.”       Karena perkataan Kai yang bodoh itu, Sarah yang sedang sakit harus merasa panik dan akhirnya langsung berdiri.       “Eh… i-itu, saya minta maaf kepada pangeran.”       Anak ini…!! Aku tidak tahan lagi, aku langsung berdiri kemudian berjalan kehadapan Kai lalu memukul kepalanya, berharap agar otaknya kembali.       “Ehh, Ella!?”       “Aduh duh, dasar cewek gorilla, kenapa kau memukulku!?”       “Untuk mengembalikan otakmu, karena kurasa kepalamu itu perlu dipukul agar otakmu kembali bekerja dengan benar, dasar bodoh.”       “Padahal tadi aku hanya berniat untuk mencairkan suasana dengan bercanda.”       “Bercandamu tidak lucu. Berani menjahili Sarah lagi, kedua tanganku ini pasti akan melayang dan langsung mendarat di kepalamu dengan kecepatan tinggi.”       Kai hanya memasang muka cemberut sambil mengusap kepalanya yang kena pukul, sementara Sarah hanya melihat kami sambil menahan tawanya.       “Oh ya, Ella, kamu terlihat sangat cantik sekali hari ini, apalagi dengan gaya rambutmu sekarang.”       “Yah, aku juga tidak percaya akan memakai baju dengan gaya rambut seperti ini, tapi terima kasih untuk pujiannya.”       “Apakah biasanya saat dirumah kau tidak pernah berpenampilan seperti ini?”       “Kau tidak akan pernah menyangka begaimana penampilannya saat dirumah, penampilannya saat dirumah itu sudah tidak bisa dibedakan lagi dengan gorilla.”       “Sembarangan!! Tentu saja mulai hari ini aku akan belajar bagaimana caranya hidup seperti wanita yang feminim.”       “Karena sebelumnya dia adalah gorilla.”       Lama lama, kutabok juga mulutnya nih.       “Jangan pernah mendengarkan apapun yang si bodoh ini katakan tentang diriku, semua itu tidak benar.”       Sarah hanya bisa menahan tawa saja melihat kelakuanku dengan anak s****n ini.       “Baiklah, kau istirahat dulu, pulihkan kembali energimu agar besok kau bisa datang ke akademi dan mengambil imbalanmu, aku dan Ella harus pergi dulu, kami masih ada urusan.”       “Kalau begitu aku akan mengantar kalian.”       “Aku dan Kai bisa sendiri, kau tidak perlu mengantar kami, yang perlu kau lakukan sekarang ada beristirahat dengan tenang.”       Aku menidurkan sarah kemudian menarik selimut dan menutupi kaki hingga pinggangnya, entah kenapa, saat itu rasanya aku sangat ingin mengelus kepalanya dan akupun melakukannya.       Saat aku mengelus kepalanya, ingatan ingatan tentang masa lalu muncul dalam benakku, masa lalu yang sangat menyedihkan, disaat aku selalu seorang diri, mungkin Sarah juga begitu sebelum berteman denganku dan Kai.       Merasakan kesepian dan hanya bisa menatap yang lain dari kejauhan.       “Woiii, cewek gorilla!!”       “Ahhh!! Iya, ada apa?”       Akupun tersadar dari lamunanku.       “Kau ini kenapa sih, tiba tiba mengelus kepala Sarah seperti itu, jika kau ingin kepala untuk di sentuh, kau bisa menyentuh kepalaku, dan juga, kau melamun apa tadi, aku dan Sarah sudah memanggil dirimu dari tadi.”       “Ahahaha maaf maaf, habisnya rambut Sarah sangat lembut sekali, aku jadi ingin menyentuhnya. Sarah, maafkan aku karena sudah lancang.”       Benar juga, dikehidupan kali ini, aku sama sekali tidak sendirian, karena sekarang aku memiliki mereka yang bersedia menemaniku, mungkin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD