Singkatnya, aku dan Kai keluar dari kamar Sarah dan bertemu dengan ibu dan ayahnya Sarah.
“Apakah pangeran dan…”
“Oh, perkenalkan, dia bernama Ella.”
“Selamat malam.”
“Selamat malam juga, apakah pangeran dan Ella sudah ingin pergi?”
“Iya, saya dan Ella ada sedikit urusan yang harus diselesaikan, jadi harus pergi sekarang.”
Ayah dan Ibu Sarah tiba tiba menundukkan kepalanya.
“Kalau begitu, saya dan istri saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada pangeran dan juga nona Ella, karena sudah menyelamatkan anak saya dan juga sampai repot repot mengunjunginya.”
Astaga, jadi seperti ini lagi.
“Angkatlah kepala kalian, tidak perlu berterima kasih seperti itu, lagipula sayalah yang mengajak anak anda untuk mengambil pekerjaan itu, sehingga keselamatannya sudah menjadi tanggung jawab saya, kalau begitu kami permisi.”
Aku dan Kai keluar dari rumah Sarah dan berjalan ke tempat yang banyak pedagangnya agar Kai bisa memenuhi janjinya padaku.
“Berhenti.”
Aku menyuarakan kata kata itu dan Kai menghentikan langkahnya sambil melihat kearahku dengan tatapan yang kebingungan.
Aku melintaskan tangan ke depan wajahnya, mengeluarkan sihir yang menciptakan topeng untuk menutupi wajahnya.
“Apa ini?”
“Topeng untuk menutupi wajahmu.”
“Aku tau ini topeng, tapi, kenapa?”
“Tentu saja, agar aku bisa memilih makananku dengan tenang di tempat yang pastinya sangat ramai, wajahmu itu seperti magnet yang akan menarik semua orang untuk membungkuk padamu, karena itu bisa mengganggu kegiatanku jadi pakailah itu untuk sementara.”
Kai terus mengeluh karena topeng itu. Katanya, dia menjadi lebih sulit bernapaslah, pandangannya menjadi terbataslah, topengnya tidak nyamanlah, dan lain sebagainya.
Tapi lebih baik seperti itu daripada harus menghadapi suasana yang canggungnya tidak terbatas.
Saat sampai di lokasi, aku melihat banyak sekali pedagang yang berjejeran sangat rapi, rasanya seperti surga makanan saja.
Malam ini aku bisa makan apa pun yang ku mau dan tidak perlu khawatir tentang uangnya karena bank berjalan ini yang akan membayarnya, hahaha.
Aku langsung menarik tangan Kai untuk pergi ke salah satu toko disana, makanan yang dijual kelihatan sangat enak sekali.
Setelah setengah jam kemudian…
“Kau masih ingin membeli makanan lagi?”
Kai sepertinya sudah terlihat sangat kelelahan karena aku terus menariknya dari toko ini kesana, dari sana kesini, setiap ada pedagang yang menjual makanan aku selalu menarik Kai kesana.
“Tentu saja, setidaknya aku harus memanfaatkan momen momen seperti ini. Kau pikir kapan lagi aku bisa makan makanan yang banyak sekaligus bervariasi seperti ini.”
“Ditangan kirimu itu sudah penuh dengan kantung makanan dan kau masih mau lagi?.”
“Kalau tanganku tidak cukup, kan masih ada tanganmu.”
“Sepertinya aku sudah salah membuat janji seperti ini denganmu.”
Kai dengan terpaksapun harus menuruti keinginanku karena janji yang dibuatnya sendiri.
Setelah satu jam berlalu, akhirnya inilah pedagang makanan yang terakhir, di tangan kiriku dan Kai sudah penuh dengan makanan.
Penjual yang terakhir ini seorang wanita paruh baya, dia berbicara kepadaku…
“Nona, kau memiliki kekasih yang sangat baik ya.”
“Hahh!? Tidak tidak, anda salah paham dia bukan…”
“Tentu saja, saya harus berusaha keras untuk menjadi kekasih yang baik untuknya, agar saat menikah nanti, anak kami bisa mengikuti perilaku ayahnya.”
APAAA!!!? Kai s****n, dia pasti sengaja melakukannya, menikah apaan dan juga anak apaan, itu semua tidak akan pernah terjadi.
“Hahaha, anak muda memang sangat bersemangat sekali, nona, jaga kekasihmu baik baik atau nanti bisa diambil orang.”
“Tentu saja dia menjagaku dengan sangat baik, lihat, dia bahkan memakaikan topeng ini kepadaku, katanya agar tidak ada wanita lain yang melirikku.”
Kai sialannn, dia bahkan mengubah alasanku memakaikan topeng itu padanya, awas saja saat kita sudah lepas dari pandang penjual ini.
Bibi tadi akhirnya memberikan pesananku dan kami pun pergi, jalan setelahnya sangat sepi dan tenang, setelah aku merasa sudah lumayan jauh dari penjual wanita tadi, aku langsung memukul kepalanya menggunakan tangan kananku.
“Aduh!! Kau memukul kepalaku lagi!?”
“Itu salahmu sendiri karena bicara yang bukan bukan didepan penjual tadi.”
“Heii cewek gorilla!! Kau sudah membuatku memakai topeng ini, membawakan makananmu yang super banyak, berlarian kesana kemari, dan sekarang memukulku!! Tidak sopan sekali, walaupun kau sudah tau aku ini pangeran tapi kenapa kelakuanmu masih seperti ini!!”
“Heii, itu karena kau sendiri yang sudah membuat janji kan, jadi terima saja nasibmu karena telah membuat janji itu denganku, hemh.”
Aku mempercepat jalanku dan meninggalkan Kai.
“Heii pelan pelan jalannya, kalau kau jatuh, makananmu juga akan jatuh lho.”
Bodo amat, kan masih ada makanan yang kau bawa. Aku berjalan cepat sambil memakan makanan yang kubeli tadi. Sedangkan Kai masih berusaha menyamakan kecepatan berjalannya denganku.
Setelah beberapa lama kami berjalan, aku melihat ada tempat yang menarik perhatianku dan akupun berhenti secara tiba tiba sambil memandangi tempat itu.
“Kenapa kau tiba tiba berhenti? Sudah lelah berjalan?”
Aku tidak menghiraukan perkataan Kai yang terkesan mengejekku itu dan berjalan ke tempat yang menarik perhatianku tadi.
Tempatnya sangat indah, banyak rerumputan dan kebetulan malam ini ada banyak sekali bintang dengan bulan ditengahnya.
Saat melihat tempat ini, aku teringat dengan taman dekat rumahku didunia sebelumnya.
Aku memegang makananku sambil duduk disana, dengan wajah yang terheran heran, Kai menghampiriku sambil melepas topengnya.
“Kenapa kau duduk disini? Kau sudah lelah berjalan? Jika iya, bagaimana jika aku menggunakan sihir teleportku agar cepat sampai di rumahmu?”
“Aku suka bintang dan bulan, tempat ini sangat tenang dan jauh dari keramaian, dan aku menyukainya, makanya aku duduk disini.”
“Kalau begitu kutemani saja, lagipula aku lumayan lelah berjalan sejauh itu.”
Aku menatap bintang dan bulan sambil memakan makananku. Suasana ini membuatku merindukan ayah dan ibuku, bagaimana kabar mereka? Apa yang sedang mereka lakukan sekarang? Apakah mereka masih menjalankan organisasi itu?
Meskipun mereka diam saja saat melihat aku mati seperti itu, tapi entah kenapa dalam hatiku aku masih menyayangi mereka.
Sepertinya, hingga sampai didunia inipun aku masih tidak bisa melupakan mereka, tidak bisa membenci mereka, meskipun saat aku hidup didunia sebelumnya, aku hanya terlihat sebagai alat.
“Apakah kau segitu sukanya dengan bintang?”
“Ahhh! I-iya, aku sangat menyukai bintang, soalnya lihat mereka, sangat banyak dan indah sekali kan?”
Kai hanya diam saja, keadaannya berubah menjadi sangat sunyi.
Seharusnya aku bisa lebih mengendalikan perasaanku, bagaimana jika tiba tiba dia mencurigai sesuatu, aku tidak boleh melupakan statusnya disini sebagai seorang pangeran.
Guru mengetahui tentang asal usulku dan sedikit cerita tentang kehidupanku sebelumnya , jika Kai bertanya pada si tua itu bukannya dia akan langsung membuka mulutnya, tidak tidak, guru tidak akan mengkhianati kepercayaanku dan membeberkan rahasiaku begitu saja.
Sekarang aku merasa canggung dengan Kai.
“Hei, bocah, apakah kau tidak menyukai bintang?”
“Jangan memanggilku bocah, sekarang aku sudah lebih besar dan tentunya lebih kuat darimu, seharusnya kau sadar diri.”
Baguslah, setidaknya dia merespon perkataanku seperti biasanya.
“Oh ya? Kau lebih kuat dariku? Tidak mungkin.”
“Kau tidak akan pernah tau, setiap ada pertarungan dengan monster, aku yang selalu menjadi umpannya dan tidak punya bagian untuk menyerang, tentu saja aku jadi tidak bisa menunjukkan kekuatanku yang sebenarnya padamu.”
“Aku tidak akan pernah percaya pada pembohong sepertimu.”
“Pembohong!? Kau tidak bisa bilang aku adalah pembohong sebelum membuktikannya kan.”
“Aku tidak perlu bukti, lagipula saat memburu monster dengan guru digunung dulu, kau juga selalu mengatakan hal seperti itu tapi kenyataannya, harus aku yang selalu datang dan menyelamatkanmu.”
“Itukan dulu, sekarang sudah berbeda.”
“Aku tidak percaya padamu.”
Malam itu, dibawah bintang dan bulan, aku berdebat dengan Kai masalah siapa yang lebih kuat daripada siapa.
Singkatnya, akupun pulang diantar oleh Kai, dengan makanan yang jumlahnya sudah berkurang setengah karena termakan saat duduk di rerumputan tadi dan dalam perjalanan pulang.
Setelah itu, Kai pulang ke istananya dengan sihir teleport, aku masuk ke dalam rumah dan ternyata guru sudah menunggu kepulanganku di ruang tamu.
“Aku pulang.”
“Ini sudah sangat larut, kenapa baru pulang!? Kau itu anak perempuan, belajarlah untuk pulang di waktu yang seharusnya.”
“Iya iya, aku mengerti. Aku ingin kedapur dulu.”
Aku pergi kedapur melewati guru yang masih menceramahiku, ceramahnya sangat panjang dan lebar, telingaku bisa bisa rusak dibuatnya.
Saat aku selesai menaruh makanan didapur tiba tiba aku kepikiran sesuatu. Akupun langsung berjalan dengan cepat ke arah guru yang sedari tadi masih mengomel.
“Guru, apakah ada sihir agar aku bisa melihat wajah orang tuaku disini?”
Dengan ajaib, secara tiba tiba guru langsung berhenti mengomeliku dan memasang wajah serius.
“Kenapa kau ingin mengetahui wajah mereka?”
“Hanya ingin tau saja, aku juga ingin tau siapa yang melahirkanku ke dunia ini.”
“Tidak ada sihir semacam itu didunia ini, masuk kekamarmu sekarang dan tidurlah.”
Kemudian guru berjalan pergi menjauhiku. Kenapa dia tiba tiba menjadi seserius itu, padahal aku hanya ingin melihat wajah orang yang sudah melahirkanku ke dunia ini.
Yahh, kalau guru bilang tidak ada, berarti memang tidak ada. Lagipula dia menjadi seserius itu mungkin karena lelah, setibanya di kerajaan ini dia terlihat sangat sibuk karena selalu ada panggilan dari raja untuknya. Lagipula, guru juga tidak mungkin akan sengaja menjauhkanku dari orang tuaku.
Aku sangat mempercayai dirinya.