****
"Maksud Tuan apa?" tanya Revalisha dengan mimik wajah polos yang tentu saja membuat Ghani ingin mencubitnya hingga berdarah. Dalam hitungan sepersekian detik, wajah Ghani mendadak panas dan memerah padam. Pria yang selalu menggunakan apapun bermerek itu sadar dengan apa yang baru saja ia katakan. Memutar bola mata, Ghani berusaha menukar rasa panas di wajahnya dengan pura-pura memperhatian ruangan sekitar.
"Oh, tidak. Jangan terlalu dipikirkan. Sepertinya sudah sore, aku harus segera pulang dan mengistirahatkan tubuhku." Ghani memungkas rasa tidak nyaman akibat ucapannya sendiri. Pria itu menatap jam tangan warna emas yang berada di pergelangan tangan kanannya lalu beranjak berdiri dari kursi dapur. Ghani menyambar cangkir kopi yang masih tersisa sedikit air lalu menyeruputnya hingga habis.
Revalisha tak punya waktu untuk bertanya kembali. Ia memutar tubuh, menyelesaikan tugasnya untuk membuat kopi dan dibawa pulang oleh pria tersebut. Menuangkan kopi pada tempat minum yang tahan akan panas, Revalisha menyerahkan kopi panas itu beserta wadahnya. "Minumlah di rumah. Terima kasih untuk waktunya hari ini, Tuan."
Ghani menganggukkan kepala, ia menyambar botol plastik berisi minuman kopi tersebut dengan terburu-buru. "Tentu saja. Terima kasih juga untuk suguhan kopinya, aku benar-benar menyukainya."
Ghani tidak lupa menebar senyum, senyuman yang jarang ia perlihatkan pada orang lain lalu beranjak keluar dari rumah Revalisha. Tentu saja ada rasa berat yang tidak mampu ia ungkapkan. Jujur saja, ia merasakan perasaan hangat yang merasuk dalam jiwa setibanya ia di rumah sederhana tersebut. Ada perasaan semacam nyaman yang tidak pernah ia rasakan di tempat manapun ia menginjakkan kaki.
Ghani Mahendra buru-buru memasuki mobil, tak ingin menatap Revalisha cukup lama dan membuatnya semakin berat untuk meninggalkan. Pria itu memacu mobilnya meninggalkan kediaman Revalisha yang asri dan teduh, perasaan aneh bergelayut hingga ia sampai ke rumah. Sungguh, perasaan apa ini? Kenapa ia mendadak begitu berat meninggalkan Revalisha sendiri? Gila, ini benar-benar gila.
Mobil yang ditumpangi Ghani membelah jalanan ibukota yang padat. Beberapa kendaraan merayap rapi di atas jalanan aspal menuju satu arah dimana mereka akan menuju ke tujuan masing-masing. Ketika Ghani sibuk memikirkan Reva, ia terlalu resah untuk mengartikan perasaan berat dalam hatinya.
*"Kenapa tidak kau nikahi saja Revalisha? Bukankah kau sudah merasa nyaman dengan dirinya?"*
Batin Ghani mendadak membeo, menyadarkan bahwa sesuatu dalam diri Ghani perlahan berubah. Aura panas kini menyembur dalam tubuh Ghani, itu sungguh perkataan yang lancang tapi—
Ghani menggeleng, menepis kuat perasaan yang kini berkecamuk tidak karuan. Menambah kecepatan mobil, Ghani tidak ingin memikirkan keresahan hatinya dengan sembarangan. Ia harus pulang sekarang dan mungkin sedikit mengadukan perasaannya pada sang ibunda tercinta.
****
Bu Ratih bersenandung kecil seraya menyemprotkan air dari dalam botol spray ke arah pot anggrek koleksinya. Wanita paruh baya tersebut terlihat tenang, sesekali ia tersenyum saat membayangkan Ghani kali ini mungkin tengah berdekatan dengan Revalisha. Ya, ia telah mendapatkan menantu idaman. Dalam hitungan mundur, tidak mungkin Ghani akan menolak pesona Reva yang begitu aduhai.
Cuaca panas ibukota cukup membuat gerah, pantas saja Ghani lebih memilih tinggal di Singapura ketimbang di Indonesia. Wanita paruh baya itu yakin, sebentar lagi Ghani-nya pasti akan berubah dan betah tinggal di Indonesia.
Senandung kecil kembali terdengar, wanita itu melantunkan lagu-lagu kesayangan dengan senang hati. Teras rumah wanita itu kini penuh dengan anggrek kesayangan Bu Ratih yang apabila dijual akan laku jutaan rupiah.
Deru mobil yang memasuki area rumah memecah perhatian Bu Ratih, ia berhenti menyemproti bunganya lalu menebar senyum. Terus memperhatikan hingga Ghani keluar dari dalam mobil, Bu Ratih beranjak berdiri dari kursi yang disediakan di teras rumah.
Ghani nampak keluar dari dalam mobil, ia membawa sebotol minuman yang ditutup rapat dengan wadah anti panas. Pemuda itu menghampiri ibunya lalu tersenyum samar.
"Apa itu Ghani? Bagaimana, kau sudah mengantar Reva pulang 'kan?" Bu Ratih memberondong Ghani dengan dua pertanyaan sekaligus.
"Sudah Bu, tenang saja. Ini minuman kopi buatannya," jawab Ghani singkat seraya meletakkan wadah minuman kopi tersebut di atas meja.
Bu Ratih tersenyum, ia mengamati kopi tersebut sejenak. "Gimana, enak bukan kopi buatannya? Ibu jamin kamu pasti setuju dengan pendapat Ibu."
Wanita yang memakai blues warna biru langit itu kembali duduk di kursi, perhatiannya kini kembali ke arah pot bunga anggrek lalu menyemprotnya lagi.
Ghani terdiam, ia memerhatikan ibunya yang tengah asyik dengan hobinya. Pemuda itu mengembuskan napas panjang, ia lalu mengempaskan bokongnya di atas kursi sebelah Bu Ratih. "Bu, apa kau yakin akan memilih Reva sebagai istriku?"
Bu Ratih terpaku, jari-jari tangannya berhenti menyemprot dedaunan bunga anggrek hitam miliknya. Pandangan wanita paruh baya itu tertuju pada Ghani, ia bisa melihat jika putranya tidak pernah serius seserius ini. "Iya, berapa kali lagi Ibu harus bilang?"
Ghani melirik ibunya sekilas, ia menyugar rambutnya dengan wajah gelisah. "Baiklah kalau itu sudah jadi niat ibu, lamarkan Reva untukku."
"Apa?"
"Iya, lamarkan dia. Aku tidak keberatan jika Revalisha jadi istriku, setidaknya dia adalah gadis baik pilihan ibu." Ghani berkata pelan lagi hati-hati, jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ekspresi wajah tak bisa diungkapkan.
Bu Ratih menelisik wajah putranya dengan seksama. Kini giliran dia yang ragu akan jawaban Ghani. "Kamu yakin? Pikirkan sekali lagi. Ibu tidak ingin kau menyesal dengan pilihan hatimu itu. Reva bukanlah barang, yang kau minati dalam sehari lalu jika kau bosan, kau tinggal begitu saja."
Ghani terdiam, wajahnya makin kusut setelah mendengar penceramahan ibunya tersebut. Menggaruk kepala yang tidak gatal, Ghani merasa kebingungan kali ini. "Aku ingin menurut padamu, Bu. Aku menuruti keinginan Ibu untuk mengambil Reva menjadi menantu. Aku tidak apa-apa, bukankah cinta bisa datang kapan saja?"
Bu Ratih bergeming, ia mengamati putranya dengan wajah terus menelisik. Pada akhirnya ia menghela napas lalu kembali fokus pada bunga anggrek miliknya "Kamu beneran yakin mau menerima Reva sebagai istri? Dia anak yatim piatu loh. Kalau tidak ada Ibu, sepenuhnya ia akan bergantung padamu. Ibu takut keputusanmu itu hanyalah keputusan sesaat."
Ghani kehabisan cara untuk mengungkapkan perasaannya. Pria itu sedikit malu jika harus bicara secara terang-terangan mengenai perasaannya kali ini. Tidak lucu 'kan jika ia langsung bicara bahwa ia tertarik pada Revalisha dan ingin menikahinya tanpa sebab musabab yang mendasar?!
Dengan wajah kusut yang ia punya, Ghani menyambar kopi dalam wadah lalu menyeruputnya. Pada awalnya ia akan memberikan kopi itu pada ibunya namun sang ibu telanjur membuatnya merasa tak bersemangat. Apa daya, Ghani meminum sendiri kopi yang ia bawa dari rumah Reva dengan wajah manyun semanyun-manyunnya.
"Bu, aku merasakan kenyamanan yang berbeda jika berdekatan dengan Reva," jawab Ghani terdengar begitu serius. Bu Ratih kembali menatap putranya, kali ini jauh lebih tajam dari sebelumnya. Ghani menghela napas, "Aku baru mengenalnya tapi aku merasa seperti dekat sekali dengannya. Ada rasa nyaman ketika aku melihat rumahnya, merasa nyaman ketika menikmati kopinya. Bu, aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada diriku saat ini. Hanya saja, sepertinya aku memang harus melamar dia untuk hidupku. Saat ini, aku sudah memutuskan untuk menikahi dia. Bu, menurutmu, apakah kelak aku bisa mencintainya seperti pasangan kekasih lainnya? Seperti yang kau bilang, aku juga takut mengecewakannya. Apakah aku pantas menjadi suami Reva dan, apakah semua ini akan berjalan dengan sempurna?"
****