****
Setibanya di rumah pun, Bu Ratih sama sekali tidak membiarkan Ghani untuk istirahat. Terbayangkan bagaimana susahnya hati Ghani saat ini?! Ya, dia baru saja turun dari pesawat, diberondong ibunya makan di resto kesayangannya, dan sekarang—ia harus mengantar Revalisha pulang tanpa sedikit ijin untuk duduk atau melepas penat sebentar saja.
Bukan Ghani namanya jika ia tidak luluh oleh permintaan ibunya. Ghani memang keras tapu tidak pada ibunya. Hal itulah yang mendasari sang ibu untuk getol mendekatkan Ghani pada Reva. Ya, siapa tahu Ghani benar-benar kecantol dan mau menikahi gadis yatim piatu tersebut.
Menggunakan mobil pribadi milik sang ibu, Ghani tak berkutik saat ibunya terus mendesaknya untuk mengantar Reva pulang. Entah jin mana yang telah merasuki ibunya hingga beliau bisa sebawel ini jika berurusan dengan Reva. Sebenarnya, anak beliau ini siapa? Ghani atau Reva?! Ah, membayangkannya saja Ghani kesal bukan main.
Revalisha memang terlihat baik dan polos tapi hal itu sama sekali tidak menawan perasaan Ghani sedikit pun. Reva bukan tipe gadis pilihannya, dibandingkan Revalisha banyak gadis lain yang lebih enerjik dan menggoda untuk ia jadikan kekasih.
Di dalam mobil mewah, saat keduanya menuju ke kediaman Revalisha, tak ada percakapan. Rasa canggung itu berlomba dengan deru halus suara AC yang dihidupkan oleh Ghani. Pria itu kegerahan, ia tidak terbiasa dengan cuaca Indonesia yang tropis dan panas dari pagi hingga sore bahkan malam hari.
"Apakah rumahmu jauh?" Hanya itu pertanyaan yang keluar dari bibir tipis seorang Ghani Mahendra ketika perjalanan mereka baru menempuh setengah perjalanan.
Reva melirik Ghani sekejap, sadar betul jika pria berpakaian merek terkenal ini setengah hati dalam mengantarnya pulang. Jika bukan karena Bu Ratih mana mau Ghani mengantarnya pulang bak Rapunzel yang tersesat.
"Tuan, kalau Tuan ada urusan lain, Tuan bisa turunkan saya di sini. Biar saya mencegat angkot, kebetulan ada beberapa angkot yang melewati rumah kontrakan saya." Reva menjawab pelan, rasa segan kini menguasai. Gadis itu tidak bisa memaksa Ghani untuk mengantarnya sampai ke rumah, ia cukup sadar diri dengan posisinya sekarang. Semua ini karena Bu Ratih yang begitu mendesak mereka untuk saling berdekatan dan mengakrabkan diri.
Mendengar jawaban itu, Ghani menoleh sesaat ke arah Reva. Pandangan mereka bertemu beberapa saat sebelum akhirnya ia kembali fokus pada jalanan ramai karena memasuki jam makan siang. "Beneran? Ntar kamu laporan sama Ibu lagi kalau aku nurunin kamu di jalan."
Rupanya Ghani masih takut, ia tidak ingin kecurangannya membuat masalah baru antara dirinya dan juga ibunya.
Gadis berwajah manis itu menggeleng pelan. "Tidak Tuan, mana berani saya mengatakannya. Lagipula Tuan baru saja datang, saya tahu Tuan pasti lelah."
"Bagus kalau gitu. Kamu turun di sini saja ya," tawar Ghani dengan wajah semringah. Pria itu tak menatap Reva, ia sibuk menatap celah spion untuk membawa mobil milik ibunya untuk menepi di jalanan trotoar.
Benar saja, mobil mewah itu berhenti. Ghani menatap Reva seolah mempertanyakan kesungguhan dari ucapan Reva barusan. Gadis itu benar-benar tahu posisi, tanpa diminta dengan ucapan maka Revalisha beranjak turun dari dalam mobil.
Ghani menatap Revalisha cukup lama hingga tanpa sadar gadis itu sudah menutup pintu mobil. Pria itu menurunkan kaca mobil, menatap Revalisha dengan tatapan yang sedikit berbeda. Mungkinkah ada rasa iba?
"Kamu yakin ada angkot lewat sini?" Ghani kembali bertanya, ada keraguan yang kini menyelinap dibalik sorot matanya yang berbinar.
Reva menyelipkan anak rambut yang terbawa angin ke belakang telinga, merasa tidak keberaran sama sekali jika ia benar-benar diturunkan dari dalam mobil. Ia tidak ingin Ghani membencinya hanya karena masalah sepele saja. "Ada, mungkin sebentar lagi lewat."
Mendadak keraguan itu menyerang hati Ghani. Jalanan yang ramai dengan kendaraan yang padat membuat Ghani kembali mempertimbangkan keputusannya untuk menurunkan Reva di tengah jalan. "Kamu yakin?"
Reva membalas keraguan Ghani dengan senyum manis yang ia punya. Sadar tidak sadar, hati Ghani terbidik untuk yang pertama kalinya. "Iya."
Pria itu mengembuskan napas berat, ia menggeleng samar. "Ayo masuk, aku antar kamu pulang sampai rumah."
"Apa?" Reva seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar, ia tidak ingin ketidakpercayaannya justru membuatnya malu di depan Ghani.
"Aku akan mengantarmu pulang sampai rumah. Aku tidak yakin ada angkot lewat, jadi ayo kita pulang."Ghani memutuskan, ia menatap Revalisha dengan tatapan yang berbeda.
Walau merasa sedikit ragu, Reva kembali masuk ke dalam mobil. Ketika ia tengah bersiap memakai sabuk pengaman, dari dalam mobil mereka berdua menyaksikan sebuah angkot warna hijau melewati mobil mereka. Wajah Ghani menunjukkan rasa bingung, ia tertegun sejenak saat melihat angkot tersebut.
"Saya sudah bilang kalau ada angkot yang lewat," ucap Reva merasa tidak enak hati. Ia tahu betul bahwa mungkin benak Ghani tengah menyesali keputusannya yang terakhir.
Ghani kembali mengela napas, ia lalu menyalakan mesin mobil. "Biar saja, keselamatanmu lebih penting dari apapun."
Seperti diguyur air jernih lagi dingin dari Grand Canyon, Revalisha merasakan sesuatu yang beda. Ghani orang baik, itu kesan pertama yang bisa Revalisha tangkap dari pria yang duduk di sampingnya.
Kembali mengendarai mobil, kali ini keduanya turut larut dalam sebuah lagu yang diputar dari playlist musik di dalam mobil. Lagu ciptaan Adam Levine mengalun indah, membawa suasana berbeda bagi keduanya. Revalisha tertunduk sejenak, ia mengulas senyum tipis yang mana senyum itu tidak diketahui oleh Ghani sedikitpun. "Terima kasih Tuan. Terima kasih sudah bersedia mengantar saya ke rumah. Semoga Tuhan Yang Maha Baik yang akan membalas Anda."
****
Ghani mengedarkan pandang, beberapa menit lalu ia baru saja turun dari dalam mobil mewah milik sang ibu. Kini kedua matanya menatap sebuah rumah sederhana semi permanen di hadapannya. Tidak besar, tidak pula kecil. Rumah itu cukup untuk dihuni dua atau tiga orang. Memasuki halaman rumah yang sedikit sempit, Ghani membuka pagar kayu yang menjadi batas antara rumah dan juga jalanan raya.
Pria tampan itu terus menjelajah halaman rumah. Tidak luas, hanya ada beberapa pot bunga yang entah apa jenis bunga tersebut tengah mekar dan terlihat cukup indah. Ini pemandangan yang cukup asing untuk matanya namun sisi lain yang ia rasakan dalam hati, Ghani merasakan kehangatan yang berbeda dari rumah tersebut. Seolah pernah datang ke sana, hati kecilnya seolah merindukan sesuatu. Suasana yang mungkin pernah ia rasakan sebelumnya. Mungkinkah ia tengah de javu pada keadaan ini? Entahlah.
"Masuk Tuan, saya akan membuatkan Anda kopi," ucap Revalisha ketika ia berhasil membuka pintu rumah. Ghani tak bersuara, ia terus menatap sekitar dan masuk ke dalam rumah.
Perasaan rindu yang samar kini perlahan menguat ketika bola matanya tertuju ke sekeliling ruangan. Ia bisa melihat sofa berbentuk bulat berwarna salem di dalam ruang tamu, sungguh warna yang indah dan cerah. Ghani mengakui, ia tiba-tiba saja menyukai warna itu.
Tidak hanya sofa di ruang tamu, bola mata Ghani kini tertuju pada ruang dapur dimana Revalisha terlihat sibuk di sana. Gadis itu tengah membuatkan kopi untuk Ghani. Didukung rasa penasaran yang bergejolak dan datang entah dari arah mana, Ghani memberanikan diri untuk melangkah ke arah dapur.
"Kamu tinggal sendiri?" Ghani mencoba mencairkan suasana sepi yang teramat mencekam di ruangan itu. Perlahan ia duduk di kursi makan, menunggu si empunya rumah selesai membuat kopi dari mesin kopi yang tersedia.
Tatapan Ghani lagi-lagi terpukau pada mesin kopi, seolah mengenali suasana aneh itu Ghani merasa mulai nyaman dengan suasana hening yang jarang sekali ia rasakan di Singapura.
"Ya, saya hanya tinggal dengan Ibu. Kini Ibu telah tiada, hanya tinggal saya yang harus merawat rumah kontrakan ini." Reva berkata pelan, ia mengakhiri tugasnya dalam membuat kopi. Gadis itu beranjak pergi dari depan mesin pembuat kopi, datang menghampiri Ghani seraya membawa secangkir kopi buatannya.
Ghani tak bersuara, ia lebih memilih menyambar cangkir itu lalu menyeruputnya ketika masih panas. Iris mata Ghani sedikit berpendar ketika mulutnya merasakan betapa nikmatnya kopi buatan Reva. Benar kata Ibu, Reva pandai dalam membuat kopi.
Menyeruput kembali, Ghani seolah keranjingan dengan kopi tersebut. Sesuatu yang aneh seolah menawan hati Ghani, entah kenapa mendadak ia sangat menyukai aroma dan rasa dari sebuah kopi.
"Bisakah kau membuatkan aku kopi secangkir lagi? Aku akan membawanya pulang dan memanasinya lagi ketika aku ingin minum," pinta Ghani di luar dugaan. Pria itu menatap Revalisha dengan tatapan cukup hangat, sebuah permintaan sederhana untuk membuatkan kopi sekali lagi.
Reva mengukir senyum, bidikan kedua kini memanah hati Ghani sekali lagi. Gadis itu mengangguk, mengiyakan permintaan Ghani yang terasa sedikit cukup aneh. Ya, diluar sana banyak kedai kopi yang menawarkan jasa membuatkan kopi untuk pelanggan lalu kenapa Ghani harus repot memesan kopi padanya?!
Revalisha beranjak dari hadapan Ghani, ia berbalik badan guna membuatkan kopi untuk Ghani sekali lagi. Gadis itu terdiam, kedua tangannya perlahan mulai bekerja. Sadar atau tidak, kebiasaan Ghani mengingatkan ia pada ibuny yang hobi sekali menikmati kopi dari hasil racikan tangannya. Hati Reva mendadak sedih, ia terngiang akan debaran jantung milik ibunya dalam tubuh Ghani. Ia merindukan ibunya, ia ingin mendengarkan detak jantung itu sekali lagi.
Revalisha mengela napas, ia melirik sejenak pada Ghani yang sibuk menyeruput kopi dari cangkirnya. "Tuan, saya sangat mencintai ibu saya. Jantung yang ia miliki kini tengah memompa darah dalam tubuh Anda. Tuan, jaga jantung itu baik-baik. Jantung itu adalah alasan saya untuk bertahan hidup di dunia ini."
Ghani terpaku, ia menatap sosok Revalisha cukup lama. Ada rasa sedih yang mendadak menyelimuti dadanya. Ada perasaan ingin menangis yang kini menggelayut di dalam bola matanya. Entah perasaan apa ini, mendadak Ghani merasa seperti bukan Ghani yang sebelumnya.
"Apakah kau ingin mendengar detak jantung ibumu setiap hari?" tanya Ghani pelan, membuat Reva menatapnya dan bereaksi aneh. "Jika ya, maka aku—aku akan menjaganya dengan baik mulai hari ini. Reva, kamu harus hidup dengan baik. Ibu sangat menyayangimu, jangan kecewakan dia. Kau tidak hanya memiliki ibuku, kini kau juga memilikiku. Jangan khawatir, aku akan selalu ada untukmu mulai hari ini."
****