Bab 3— Debaran Jantung Yang dirindukan

1637 Words
**** Ghani Mahendra tidak habis pikir kenapa ibunya mendadak ingin sekali ia menikah. Menilik dari umurnya, memang umur Ghani lebih dari cukup untuk segera menikah. Menurut Ghani, menikah adalah sebuah ikatan yang mengekang untuk dirinya bisa bebas. Selain ia harus setia pada satu cinta, ia harus belajar mengenai ikatan tersebut. Jujur saja, Ghani malas memikirkan pernikahan. Tak ingin terburu-buru, Ghani lebih memilih diam sebagai jawaban atas ucapan Bu Ratih kepadanya. Ia sangat menyayangi sosok bidadari di sampingnya ini, namun sesayangnya ia dengan ibunya tidak lantas membuatnya harus menuruti setiap ucapan ibunya bukan?! Terlebih Ghani adalah pebisnis muda yang berbakat, selain Revalisha ada gadis lain yang jauh lebih menarik untuk bisa ia jadikan istri. Resto andalan yang dipilih Bu Ratih untuk makan kini sudah terlihat. Keluarga tersebut segera membelokkan mobil memasuki area resto yang lumayan cukup ramai dengan pengunjung bermobil mewah. Bu Ratih terlihat semringah, ia sudah tidak sabar untuk segera makan soto betawi kesukaannya. Setelah mobil benar-benar berhenti, Bu Ratih, Revalisha, dan Ghani segera turun dari dalam mobil. Mereka berjalan beriringan untuk masuk ke dalam resto yang lumayan mewah dan nyaman. "Reva, kamu pesan bebek panggang ya. Biar samaan dengan Ghani, kamu kalau makan menu itu, ehmm... Kamu pasti nagih," ucap Bu Ratih begitu menggebu ketika mendeskripsikan bebek panggang yang menjadi menu adalan resto tersebut. Revalisha hanya tersenyum, rasa canggung yang ia rasa hanya bisa ia tanggung sekuat jiwa. Ia merasa segan ketika berjalan dengan Bu Ratih terlebih dengan Ghani, pemuda tampan yang terlihat begitu parlente dan kaya. Gadis berambut panjang itu hanya bisa menganggukkan kepala untuk menyenangkan hati Bu Ratih. Ia tahu betul bagaimana cara menyenangkan hati orang tua, termasuk mengiyakan segala macam keinginan orangtua. Suasana resto yang ramai membuat orang-orang mulai kehilangan kendali, beberapa diantara mereka terlihat terburu-buru mengejar waktu, ada juga yang berjalan setengah berlari hanya untuk segera makan makanan favorit mereka. Karena berjalan dengan setengah melamun, Revalisha tidak sadar jika dari arah berlawanan terlihat seseorang tengah berlari karena terburu-buru. Alhasil pria paruh baya itu menabrak tubuh Reva hingga nyaris terjengkang ke lantai. Reva terlihat shock, semakin shock ketika Ghani dengan sigap menarik tubuhnya yang oleng dan memeluknya dengan erat. "Hei, awas!" Pelukan itu tak terhindarkan, kepala Reva terantuk ke d**a Ghani yang keras dan bidang. Tanpa sengaja Revalisha pun bisa mendengar degupan jantung Ghani yang terdengar berdegup secara teratur. Reva terpaku, ia merapatkan telinganya ke d**a Ghani. Tinggi badannya yang hanya sebatas d**a Ghani membuat gadis itu bisa dengan leluasa mendengarkan degupan berirama yang tanpa sengaja menggugah rindunya pada sang ibu. "Hei, kalau jalan hati-hati! Ini tempat umum, Pak!" Ghani berteriak pada pria paruh baya tersebut. Pria itu berbalik, memohon maaf pada Ghani dengan wajah memelas. Kelihatannya ia sedang buru-buru hingga tak sadar dengan kondisi sekitarnya. "Kamu tak apa-apa?" tanya Ghani sembari melonggarkan pelukannya yang erat. Wajah tampan itu menatap Reva dengan khawatir. Tentu saja khawatir kalau-kalau karyawan kesayangan ibunya itu terantuk lantai dan jadi amnesia. Lagi-lagi ia yang akan dibully ibunya untuk melakukan pengobatan pada Reva. Gadis itu menyadari posisinya, ia segera beranjak dari pelukan hangat Ghani. Wajahnya memerah, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Tuhan, Revalisha mulai kembali merindukan ibunya. Bu Ratih yang menyadari perubahan wajah Reva lantas khawatir. Ia pun lalu merengkuh Reva ke dalam pelukannya, mirip seperti seorang ibu yang berusaha melindungi putri kecilnya. "Reva, kamu tidak apa-apa Nak? Kalau ada yang sakit bilang ke Ibu, Nak." Bu Ratih menghibur, ia mengusap-usap punggung dan kepala Revalisha secara bergantian. Reva terdiam, ia melepas pelukan Bu Ratih lalu bergegas menghapus air mata yang menetes begitu saja di pipi. "Bu, saya tunggu saja di dalam mobil. Perasaan saya mendadak tidak enak, saya ingin istirahat saja di dalam mobil." Bu Ratih makin bingung, ia tidak dapat membaca perasaan Revalisha kali ini. Menatap Ghani dengan bingung, Bu Ratih mencoba mengurai apa yang tengah terjadi pada Revalisha. "Ghani, kamu apa kan kepala Reva? Kamu jambak rambutnya tadi, ya? Hah? Kenapa Reva jadi mewek?" Ghani kini gantian bingung, ia hanya memeluk gadis itu tanpa menjambak rambutnya lalu kenapa Ibunya mendadak berprasangka buruk padanya. "Tidak Bu, aku tidak ngapa-ngapain." Bu Ratih menggeleng, ia lalu menepuk bahu Revalisha dengan lembut. "Ya sudah, kamu tunggu di dalam mobil sama Pak Andy ya. Ntar Ibu pesenin makanan buat kamu. Istirahat ya." Revalisha hanya mengangguk, ia lalu berjalan menjauh dari Ghani dan juga Bu Ratih. Perasaan gadis itu kacau setelah mendengarkan detak jantung Ghani. Jantung itu milik ibunya, mendengarkannya berdetak seolah melihat sosok ibunya masih hidup. Kenyataan pahit, ia memeluk sosok yang bukan ibunya namun memiliki jantung ibunya. Oh Ibu, Reva merindukanmu. "Bu, Ibu yakin mau jodohin aku sama gadis mewekan kayak dia? Sikap dia bahkan lebih aneh sekarang," protes Ghani dengan nada tegas. Pemuda itu berkacak pinggang lalu menggelengkan kepala tak mengerti. "Karena dia terlalu lembut itulah Ibu pengin dia jadi mantu Ibu. Kalau kamu kerja terus, siapa yang mau nemenin Ibu? Siapa? Calon pilihan kamu pun pasti hanya gila uangmu dan berusaha menghabiskan hartamu." Bu Ratih tak kehabisan kata, ia turut berkacak pinggang di depan anak laki-lakinya. Perdebatan seru itu memancing beberapa pengunjung untuk menatap keberadaan mereka yang begitu strategis. Berdebat di tengah-tengah aula resto, mirip opera yang dipentaskan di saat hari kemerdekaan. Sadar akan tatapan banyak orang, Ghani merasa risih. "Kita jadi makan tidak nih, Bu? Jangan berdebat, banyak orang melihat kita." Bu Ratih sadar posisi, ia membalas tatapan orang yang begitu fokus menatap mereka. Wanita paruh baya itu lalu menyambar lengan Ghani, membawa putranya berjalan menepi dan mencari meja kosong. "Tunggu saja Ghani, Ibu akan kembali memarahimu di rumah!" **** "Loh, mbak, kenapa gak ikut Ibu makan di dalam?" tanya Pak Andy ketika melihat Revalisha masuk ke dalam mobil dengan wajah merah. Pria paruh baya dengan seragam sopir warna hitam menoleh ke belakang, menatap heran pada sosok Reva yang terlihat baru saja menumpahkan air mata. "Nggak, Pak. Saya udah kenyang," jawab Revalisha sekenanya. Ia lalu mencabut tisu dari dalam tas selempang yang ia bawa. Tisu itu ia gunakan untuk menghapus air mata yang terus bercucuran keluar dari pelupuk matanya. "Mbak kenapa nangis?" Pak Andy terlihat begitu penasaran. Tak biasanya Revalisha menangis, ia selalu terlihat seperti sosok yang tegas dan ceria. "Enggak Pak, saya hanya tiba-tiba merindukan ibu saya." Reva membuka suara dengan nada lirih. Entah Pak Andy bisa mendengarnya atau tidak. Pak Andy terdiam, ia turut larut dengan jawaban yang diberikan Revalisha barusan. "Yang ikhlas Mbak, Ibu sudah tenang di alamnya sana. Berdoa ya Mbak, semoga Ibu selalu tenang." Ucapan Pak Andy setidaknya bisa menghibur hati Reva, itu terbukti dengan perlahan tapi pasti air mata Reva tak lagi keluar. Sakit memang ketika kita merindukan seseorang yang sudah tidak berada di dunia ini. Sakit, benar-benar sakit. Untuk menenangkan hati, Revalisha memilih untuk sandaran di dalam mobil sambil sesekali berbincang dengan Pak Andy. Dari hasil perbincangan itu, Revalisha tahu bahwa Pak Andy jauh lebih menderita darinya. Pria paruh baya bertubuh kurus itu bahkan kehilangan anak dan istri ketika mereka melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman. Bus yang mereka tumpangi mengalami rem blong, alhasil Pak Andy kehilangan anak dan istrinya dalam kecelakaan tersebut. Dari kisah Pak Andy, setidaknya Revalisha merasa bersyukur dengan hidupnya. Walau sudah tidak memiliki ibu, ia masih memiliki bos yang baik hati seperti Bu Ratih. Setelah hampir satu jam menunggu Ghani dan Bu Ratih makan, akhirnya kedua ibu anak itu keluar dari resto dengan wajah puas. Mereka berjalan menuju ke mobil sambil membawa dua kotak makanan yang diperuntukkan untuk Reva dan juga Pak Andy. "Reva, ini bebek panggang. Kamu makan di rumah ya," ucap Bu Ratih ketika membuka pintu mobil. Ia menyerahkan bungkusan plastik itu pada Reva, tak lupa juga jatah Pak Andy juga ia berikan. "Tidak usah repot-repot Bu, saya masih kenyang." Reva merasa segan dengan kebaikan hati bu bosnya, ia menerima bungkusan itu dengan ragu. "Rejeki jangan ditolak, kamu bawa pulang aja terus makan di rumah." Ghani menimpali tanpa diminta. Ia pun masuk ke dalam mobil, kali ini ia duduk di dekat sopir. "Ghani, kamu nanti antar Revalisha pulang ke rumah ya?!" Bu Ratih menatap Ghani, ia lalu masuk ke dalam mobil lalu duduk di samping Revalisha. Tuh 'kan, ibunya kumat lagi. Selalu saja ada bahan untuk mendekatkan ia dengan Revalisha. Heran deh! "Nggak usah Bu, saya bisa minta antar Pak Andy saja." Reva menyahut ucapan Bu Ratih, merasa tidak enak ketika melihat wajah Ghani yang begitu bete dengannya. "Nggak bisa, kamu harus diantar sama Ghani. Kamu 'kan udah nyambut dia datang, sekali-kali dong dia berterima kasih padamu lalu antar kamu pulang." Bu Ratih berkata dengan tenang. Jawaban yang sungguh membuat perut Ghani merasa mual. Bagaimana bisa sih dia harus berterima kasih pada gadis itu padahal ia sama sekali tidak minta disambut olehnya?! Duh, ibu di dunia tuh selalu saja maha benar. Disangkal pun, kita yang dituding sebagai anak durhaka. Tidak disangkalpun, kadang omongan mereka ngadi-ngadi. "Gimana Ghan, antar Revalisha pulang ya? Eh, kopi buatan Reva enak loh," ucap Bu Ratih lalu semringah, ia menceritakan rasa kopi buatan Revalisha di hadapan Ghani. Pria itu tak menjawab, ada rasa kesal yang menumpuk dalam hati Ghani. Tak ingin berdebat atau menunjukkan tindak kedurhakaannya pada sang ibu, Ghani menganggukkan kepala dengan berat. "Iya Bu, nanti Reva biar aku antar. Biar Ibu puas juga." Bu Ratih tersenyum manis, merasa puas dengan jawaban Ghani yang terlihat begitu setengah hati. Tatapan Bu Ratih kini tertuju pada Revalisha, ia mengelus rambut gadis itu dengan sayang. "Reva, nanti buatin Ghani kopi yang enak ya. Buat dia betah, nginep sekalian malah bagus." "A-apa Bu?" Bu Ratih terkekeh, ia merasa lucu dengan ucapan yang baru saja ia lontarkan. "Tak apa. Ghani memang pantas untuk ditakhlukkan. Kamu harus sabar ya, Ghani memang seperti itu. Nanti, kalau tiba waktunya, Ibu yakin dia bakal bucin sama kamu." Wajah Reva masih terlihat datar, ia meraba-raba ucapan Bu Ratih kepadanya. Wanita paruh baya itu kembali terkekeh, ia lalu mengusap rambut Reva sekali lagi. "Tak apa, jangan dipikirkan. Duh, kamu ini ya gadis yang sangat polos. Ghani pasti beruntung." ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD