Bab 2. Pertemuan Dengan Ghani

1511 Words
**** Revalisha mana mungkin bisa menolak permintaan Bu Ratih, bos yang selama ini telah baik dan selalu mencurahkan segala perhatiannya pada Reva layaknya ibu kandung. Sesekali Reva bersyukur karena Tuhan tidak henti-hentinya berbuat baik untuk dirinya. Selain dipertemukan dengan bos baik, ia bahkan tidak pernah kekurangan materi atau apapun selama ini. Hari itu Bu Ratih tidak akan membiarkan dirinya keluar ruangan sebelum ia menjawab pertanyaannya. Dari sekian banyak pertanyaan, kenapa harus jenis pertanyaan itu yang dilontarkan sang bos baik? Kenapa beliau antusias sekali menjodohkan putra terbaiknya pada Reva? Apakah iya Ghani bisa menerimanya—gadis yang bahkan tidak dikenalnya dan tidak pernah ia jumpai?! "Saya tidak bisa memutuskan, Bu. Semua keputusan ada ditangan putra Ibu." Revalisha hanya menjawab pasrah sambil tertunduk. Ia tidak ingin membeli kucing dalam karung tapi bukan berarti ia juga akan menjadi gadis tipe pemilih yang begitu menyebalkan. Jika Ghani mau menerimanya, maka ia akan menuruti keinginan Bu Ratih untuk menjadi menantunya. Bagaimanapun hidup sebatang kara di dunia ini sangatlah berat, ia pun merindukan yang namanya keluarga. Bu Ratih tersenyum, seperti dugaannya bahwa gadis cantik yang duduk di hadapannya ini tidak akan mungkin langsung mau dengan permintaannya. Bocah jaman sekarang memang tidak seperti bocah jaman dahulu yang gampang sekali diatur dan penurut. "Kalau begitu Ibu akan minta Ghani untuk segera pulang dan menemuimu. Janji ya sama Ibu, setelah lihat Ghani kamu mau jadi menantu Ibu." Bu Ratih kembali melemparkan candaannya membuat wajah Reva memerah padam. Bu Ratih tertawa lirih, ia memakai kaca mata tebal miliknya lalu menatap Revalisha. "Siapkan dirimu, Sayang. Putraku memang sedikit tegas dan dingin, kamu harus ekstra sabar jika bersama dirinya. Ibu harap kamu adalah jodoh Ghani yang sesungguhnya." **** Ponsel Ghani Mahendra berbunyi keras ketika pria itu masih meringkuk di spring bed ukuran king size di salah satu apartemen miliknya. Di Singapura, Ghani menetap di sebuah apartemen kelas atas dimana di sana hanya pengusaha kelas elite saja yang bisa masuk dengan sandi ketat dan pengamanan langsung. Ponsel yang terus memainkan musik kesukaan Ghani membuat si empunya ponsel menggeliat, ia menjulurkan tangan ke atas meja lalu meraih ponselnya dengan wajah ditekuk. Jika bukan karena ibunya yang menelepon, sudah pasti Ghani akan mengumpat kasar dan membanting ponselnya. "Ya Bu," jawab Ghani berat. Pria itu masih menempelkan wajahnya di bantal dengan mata setengah terpejam. Suasana pagi itu masih terasa dingin, siapapun pasti memilih untuk tinggal di atas kasur berlama-lama guna mengusir dinginnya pagi yang terasa begitu awet. "Sebentar lagi adalah jadwal penerbanganmu, apakah kau sudah siap-siap?" Suara Bu Ratih terdengar sangat khawatir. Ya, ibu mana yang tidak khawatir dengan kemalasan putranya yang tidak ketulungan. Ghani terlalu santai, ia bahkan terlihat malas sekali untuk pulang ke Indonesia semenjak ia memenangkan tender bernilai ratusan milyar atas nama perusahaan milik ayahnya. "Belum Bu, bentar lagi. Aku masih tidur, mataku masih pedas." Ghani menjawab dengan nada kurang terlalu jelas, ia sedikit bergumam membuat sang ibu memutar bola mata dengan kesal. "Ayo segera bangun. Jangan lewatkan penerbangan ini. Ibu menunggumu di bandara," ucap Bu Ratih penuh semangat. Wanita paruh baya itu segera menutup telepon, berharap dengan ditutupnya telepon tersebut Ghani segera bangun dari tidurnya dan mulai membereskan semua barang bawaannya. Ghani meletakkan ponsel, ia masih memejamkan matanya di atas bantal empuk kesayangannya. Rasanya nikmat sekali melewatkan waktu tidur di atas ranjang empuk seperti sekarang. Sayangnya ia tidak boleh melewatkan penerbangan ke Indonesia dan membuat ibunya murka. Ghani perlahan membuka mata, ia menatap sekelilingnya dengan pemandangan yang sama seperti terakhir kali ia beranjak tidur. Pria itu segera bangun, ia lalu melompat dari atas ranjang menuju ke kamar mandi. Ya, bersiap untuk pergi ke Indonesia dimana ibunya tercinta telah menyambutnya dengan suka cita. "Indonesia, aku datang!" **** Lagi-lagi Revalisha harus mendapatkan jatah untuk menjemput Ghani di bandara dari Bu Ratih. Sebenarnya ia sudah berdalih ingin menjaga toko saja, tapi Bu Ratih tidak patah semangat dan mendorongnya untuk tetap ikut menjemput Ghani. Siapa lagi itu Ghani?! Pikiran Reva sudah tentu bercabang. Ia hanya ingin fokus bekerja dan tidak ingin neko-neko namun Bu Ratih terus saja mendorongnya untuk ikut menjemput anak semata wayangnya dari Singapura. Alhasil, Reva harus mengekor di belakang Bu Ratih dan turut menjelajah isi bandara guna menemukan sosok Ghani berbekal foto di ponsel bu bos. "Itu Ghani, Reva!" tunjuk Bu Ratih pada seorang pria berjas warna hitam yang tengah membawa koper besar berwarna senada. Pandangan Reva lantas tertuju pada pria tersebut. Dalam hitungan detik, Reva sudah bisa menilai jika Ghani adalah tipe pria pemilih, dingin, cuek, dan bisa jadi dia adalah pria yang ambisius dan sedikit kasar. "Ghani!" Bu Ratih berteriak, ia melambaikan tangan pada pemuda itu. Ghani Mahendra yang menangkap sosok bayang ibunya hanya melempar senyum tipis lalu menghampiri sang ibu. "Bu, kau tidak perlu menjemputku sampai di bandara. Aku tahu jalan pulang," dengkus Ghani dengan nada manja. Bu Ratih tersenyum lebar, ia menangkup kedua pipi putranya dengan penuh sayang. "Terakhir kau ke Indonesia, kau justru pergi ke rumah orang lain dan tidak datang ke rumah ibumu," tandas Bu Ratih membuat wajah Ghani terlihat bersemu merah. Bu Ratih lalu teringat pada sosok Reva, ia lantas menoleh ke arah Revalisha dan menarik tangannya guna merapat. "Ghani, perkenalkan ini Revalisha. Gadisnya cantik bukan?!" Tatapan Ghani beralih ke arah Reva dalam hitungan detik. Mata bulat berwarna hitam dan tajam setajam mata elang itu kini memperhatikan Reva secara intens. Tak ada senyum, hanya pindaian mata Ghani yang terasa begitu menusuk dan tidak nyaman. "Reva ini karyawan terbaik Ibu loh. Jantung ibunya kini menjadi jantung milikmu," imbuh Bu Ratih sekali lagi. Mendengar informasi tersebut, air muka Ghani berubah dalam sekejap. Ia mengulurkan tangan, berusaha menjabat tangan Revalisha seperti acara perkenalan pada umumnya. "Hai, aku Ghani Mahendra. Terima kasih untuk pertolongan keluargamu, aku tidak akan melupakannya." Revalisha sedikit ragu, ia tak menjawab. Gadis itu hanya berusaha untuk membalas jabatan tangan milik Ghani Mahendra yang terasa sangat dingin mirip seperti gunung es di puncak jaya. Bu Ratih tersenyum, ia merasa kedua anak muda tersebut terlihat canggung satu sama lain. Hingga akhirnya Bu Ratih harus mencari ide lain agar kecanggungan keduanya segera sirna dan berubah menjadi keakraban dan kehangatan. Bukankah Bu Ratih berencana akan menjodohkan mereka?! "Ghani, Ibu mendadak pengen soto betawi ya. Yuk, anterin Ibu makan soto dulu, kan sudah lama kita gak makan sama-sama." Bu Ratih merengek, ia menggelayuti lengan pemuda jangkung di sisinya dengan lagak manja. Ghani menghela napas, kalau sudah begini mana mungkin ia bisa menolak keinginan sang bunda. Walau ia merasa kesal dengan rengekan ibunya, Ghani hanya bisa mengangguk dan mengiyakan. Air muka Bu Ratih mendadak ceria, ia senang sekali karena Ghani kali ini tidak rewel dan tidak melontarkan banyak alasan seperti biasanya. Dalam sekejap mereka kini berada dalam satu mobil menuju ke sebuah resto yang menjual soto betawi kesukaan Bu Ratih. Setiap kali bepergian, Bu Ratih tidak pernah lupa untuk mampir ke resto tersebut walau hanya untuk mencicipi soto betawi favoritnya. "Ghani, tinggallah di Jakarta sedikit lebih lama. Ibu ingin bersamamu," ucap Bu Ratih sembari menoleh ke samping kiri dimana putra semata wayangnya duduk dengan santai. "Kalau aku berlama-lama di Jakarta, bagaimana dengan tenderku di Singapura?" Ghani membalas, seperti biasa jawaban itu adalah tanda bahwa Ghani enggan tinggal berlama-lama di tanah airnya. "Tender biar diurusi ayahmu, lagipula kelihatannya kau senang sekali tinggal bersama ayahmu ketimbang ibumu," singgung Bu Ratih bersungut, ia menyilangkan kedua tangan di d**a. Ghani tersenyum tipis, ia membuang muka ke luar jendela dan menatap gedung-gedung tinggi khas kota Jakarta yang tengah mereka lewati sekarang. "Tidak begitu Bu, sekarang aku memiliki tanggungjawab besar." Bu Ratih terdiam, ia kembali teringat pada Revalisha yang duduk di sebelah kanannya dan terlihat hanya diam saja sedari tadi. "Oh ya, Reva, kamu nanti mau makan apa? Selain soto betawi, ada menu lain loh. Kamu udah nyobain bebek panggang belum? Ghani seneng banget loh sama menu satu itu. Nanti kamu pesen ya?!" Revalisha hanya mengangguk, ia tidak banyak bicara membuat Ghani sedikit meliriknya dengan heran. Apa iya gadis ini se-pendiam ini?! "Reva, rumah kamu dimana? Nanti aku antar pulang ya?" Ghani bersuara datar, Bu Ratih yang mendengarnya justru berbunga-bunga dan berdebar-debar macam anak abege saja. Reva menatap Ghani sekilas, ada rasa tidak enak yang kini menggelayut dalam benaknya. "Ehm, Tuan, saya—" "Panggil Mas Ghani saja, biar akrab. Oh ya, biarkan Ghani antar kamu, biar dia tahu nama jalan di kota Jakarta. Orang Indo kok malah betah di Singapura aja?!" singgung Bu Ratih berpura-pura merengut dengan wajah dibuat kesal. Ghani menggeleng, ia tidak ingin berdebat dengan ibunya. Pemuda itu memilih menatap keluar jendela mobil dan melihat lalu lalang kendaraan yang mulai padat merayap. Bu Ratih tersenyum, ia menyentuh tangan putranya dengan lembut. "Ghani, kapan-kapan ajak Revalisha jalan-jalan ya?! Nonton film atau berkunjung ke wahana. Ghani, kalau Reva jadi calon istrimu, apakah kamu mau?" "A-apa?" Ghani tersentak kaget, ia menoleh heran ke arah ibunya yang hanya senyum-senyum saja. "Iya, Ibu ingin punya mantu. Dan Revalisha adalah kandidat dari Ibu. Ghani, pikirkan Revalisha juga ya?! Pertimbangkan dia. Ibu ingin memiliki keluarga yang utuh, ada seseorang yang merawat Ibu. Ghani, pikirkan matang-matang! Ibu tidak mendesak, hanya menganjurkan. Ghani, sudah saatnya kamu memikirkan masa depan dan juga keturunan. Ibu ingin kamu tidak kecewa di kemudian hari. Sayang, pertimbangkan Reva, ya?!" ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD