Digoda Pria

1150 Words
Richi nampak terlihat kesal dan juga marah. Bibirnya nampak mengerucut ke depan dengan suara mendesis saking kesal menahan marah. "Kenapa?" tanya Berry penasaran dengan raut wajah Richi setelah dia masuk ke dalam mobil. "Aku tidak nyaman berada di pakaian wanita" kata Richi kesal. "Bertahanlah, ini cuma sementara sampai kita berhasil masuk ke pesawat!" Perintah Berry meminta Richi agar bisa bertahan dengan situasi seperti ini. "Aku rindu kehidupan bebasku sebagai Richi Gavino," desah Richi mengeluh. "Kau harus tangguh Tuan Richi, adikmu Rika saat ini bergantung pada mu," tukas Berry berusaha menahan luapan amarahnya itu. Richi menyandarkan kepalanya ke jendela pintu mobil. "Tidurlah!Nanti kita bisa gantian menyetir!" ucap Berry meminta Richi untuk beristirahat dulu agar nanti mereka bisa bergantian menyetir mobil. "Oke aku tidur," jawab Richi tak menoleh. Kemudian dia melepas rambut palsunya karena merasa tidak nyaman dengan rambut yang menghalangi wajah dan selalu membuat mulutnya terganggu dengan helaian rambut itu. Dia menjadi takjub jika seorang gadis berambut panjang tidak merasa gerah dan kesulitan mengatur rambutnya. Richi menjadi ingat adiknya Rika lagi gara-gara rambut panjang. Dia membayangkan lagi wajah adiknya yang tersenyum dengan rambut panjangnya yang tergerai. "Berry, katamu keluarga Pablo dibantu dengan keluarga Masimmo, apa itu benar?" tanya Richi malah tidak bisa tidur. "Iya dia sekarang bergabung dengan Massimo," jawab Berry. "Bagaimana dia bisa bersama dengannya?" tanya Richi kembali penasaran. "Ceritakan padaku detailnya Berry, siapa Massimo dan bagaimana keluarga Pablo bisa berakhir dengan Massimo?" tanya Richi. Berry menarik napas panjang mendengar permintaan Richi seperti itu. Dia harus mengatakan yang sejujurnya dan yang sebenarnya pada Richi. Karena dengan begitu, Richi tidak akan diliputi rasa penasaran lagi. "Massimo itu mempunyai sesuatu yang unik," kata Berry membuka jalan ceritanya tentang kelompok musuh papanya Massimo. "Tuan Andres Massimo adalah ketua kelompoknya sekarang, dia mempunyai kepribadian yang bisa membahayakan nyawa orang lain. Dan itu bukan tanpa sebab. Salah satunya mungkin ayahnya yang sudah membentuk Andres Massimo menjadi seorang monster. Sayangnya temanku keluarga Pablo justru malah menganggapnya sebagai malaikat penyelamatnya," ucap Berry. "Lalu, kenapa kelompok Massimo menjadi musuh Papaku?"tanya Richi. Berry tidak menjawab pertanyaan Richi. Dia hanya menatap jalan yang terbentang di depannya. Richi kesal menunggu jawaban Berry yang terlihat masih berpikir. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Kenapa di saat Richi bertanya tentang soal itu. Berry seolah tak mau menjawab pertanyaan Richi. "Hey Berry kalau kau lelah, bagaimana kalau aku gantian menyetir?" tanya Richi. "Oke, nanti di rest area itu kita berhenti dulu sambil beristirahat. Aku lapar dan haus," jawab Berry. "Oke." Kemudian Berry mengarahkan mobilnya ke arah rest area agar bisa berhenti sejenak sekaligus untuk pergantian supir mobilnya. Richi yang akan menyetir mobilnya sampai tujuan ke bandara. Setelah berhasil memarkirkan mobilnya, mereka berdua pun turun dari mobil. "Tuan Richi, kau lupa pakai rambutmu!" teriak Berry. Richi dengan gerakan cepat dia pun menyambar rambut palsunya dan segera memakainya dengan asal. Berry kemudian membantu Richi merapikan rambutnya. Karena ini tempat umum, mana mungkin Richi seorang laki-laki yang sedang memakai baju perempuan dengan rambut cepak seperti itu. Namun yang terlihat oleh orang-orang yang kebetulan sedang berada di dekat mereka mengira mereka sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Karena tangan Berry terlihat mengusap-usap rambutnya. Merasa janggal, Richi kemudian langsung menepis tangan Berry. "Sudahlah, aku tidak mau semua orang melihat aneh kita berdua!" ucap Richi. Berry hanya menjawab terkekeh geli. Tingkah Richi yang mencoba bersuara perempuan itu membuat dia menahan rasa tawanya sampai dia ingin pipis. Richi sengaja mengubah suaranya seperti perempuan, karena kebetulan ada beberapa orang yang lewat depan mereka. "Aku mau ke toilet dulu, nanti sekalian aku beli kopi dan camilan buat kita," kata Berry sambil siap-siap berlari menuju kamar mandi. Dia sudah tidak bisa mentolerir kandung kemihnya karena terlalu sering menahan tawa karena melihat Richi. Richi hanya tersenyum tipis melihat kepergian Berry yang lari terbirit-b***t mencari letak toilet. Sambil menunggu Berry kembali, Richi kemudian melihat situasi di sekitarnya. Penuh dengan mobil yang terparkir di sana. Tiba-tiba ada beberapa lelaki datang menuju mobil yang berada di samping mobil yang Richi sandari. Mereka kemudian melihat Richi sambil mencoba untuk menggodanya. "Hay Pretty, do you need some help?" tanya laki-laki itu. Salah satu dari mereka bahkan terlihat matanya yang b******k. Richi hanya menatap wajah mereka dengan tatapan malas. Dia tidak mau berurusan dengan pria lokal sini. Karena itu bisa membuat gila, karena dia tidak mau menanggapi para pria b******k yang tak pernah bisa diam kalau melihat seorang wanita. "Do you hear me?" tanya laki-laki itu. Richi semakin malas menanggapi laki-laki itu. Dan Richi hanya berharap agar Berry segera kembali. Laki-laki itu semakin ribut dan saling bersahutan karena Richi, mereka malah tambah semakin menjadi untuk menggoda Richi yang saat ini. Richi tidak mau menanggapi mereka. Dia kemudian berniat untuk masuk ke dalam mobil lagi. Begitu Richi mau masuk ke dalam. Salah satu dari mereka mulai berani menahan Richi untuk tidak bisa masuk ke dalam mobilnya. "Hey, what's wrong with you guys?" tanya Richi. "Ohh ternyata dia tidak mengerti bahasa kita," sahut salah satu orang dari mereka. "Sepertinya dia bukan orang sini." "Lihat dia terlalu tinggi untuk ukuran wanita. Tapi dia cantik," ucap salah satu dari mereka. Richi yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan hanya terlihat kebingungan. "Hentikan!" Richi kemudian melihat Berry datang dengan membawa jinjingan kopi dan camilan. Mereka kemudian melihat Berry mendekati mobil dan memberikan bawaannya pada Richi. "Dia kekasihku, kenapa kalian menggodanya?" tanya Berry dengan tatapan tajam pada mereka. Mendengar itu, mereka semua pun segera berhamburan menuju mobilnya. Lalu mereka pun segera meninggalkan tempat itu dengan buru-buru melajukan kembali mobil mereka. Setelah mereka pergi, kembali Berry tertawa terbahak-bahak membuat Richi semakin kesal. "Kau lihat, mereka tertarik padamu Jessica," kata Berry diiringi dengan suara tawanya. "Apa kau senang dan terhibur karena melihat itu semua?" tanya Richi dengan sinis. "Tentu saja, aku tak bisa menahan tawa untuk tidak menertawakanmu Tuan Richi," jawab Berry. "Kau mau mati?" tanya Richi mencoba mengancam Berry. "Sudahlah, aku kan hanya bercanda. Lebih baik kita segera melanjutkan perjalanan," ucap Berry. "Baiklah, tapi aku ingin pergi ke toilet dulu, aku ingin buang air kecil dulu," ucap Richi sambil meringis. "Pergilah, hati-hati kau jangan masuk ke toilet pria!" teriak Berry mengingatkan. "Ah dia beruntung sekali bisa pergi ke toilet wanita," gumam Berry merasa iri. Richi pun mendengarnya sebentar dan sedikit tentang peringatan Berry padanya, kalau dia jangan memakai toilet pria. Karena akan aneh jika ada orang yang berpakaian wanita masuk ke dalam toilet pria. Dan mencoba buang air kecil dengan mengeluarkan saluran kandung kemihnya itu di wastafel tempat biasa laki-laki akan berdiri saat kencing. Sampai di depan toilet wanita di lokasi itu. Dia merasakan ragu untuk masuk ke dalam toilet wanita. Namun memang kandung kemihnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Dengan perasaan takut dan gugup Richi kemudian masuk ke dalam toilet sambil berusaha mengecilkan matanya karena takut kalau dia menemukan atau melihat sesuatu dari wanita-wanita yang di toilet ini. Sampai akhirnya Richi kemudian menemukan sebuah tempat bilik WC yang kosong. Dia pun segera menunaikan hajatnya di sana. Dia membuang seluruh urine yang dari tadi berteriak ingin segera dilepas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD