Richi menatap Felix dengan perasaan yang tidak puas. Sementara Berry terlihat tidak bisa menahan tawanya melihat foto Richi di kartu identitas.
"Kau sangat cantik Tuan Richi, di sini tidak terlihat kalau kau itu seorang lelaki," kata Berry.
"Cukup Berry, aku tidak mau menerima kartu identitas itu, buatkan yang baru lagi Felix!" tegas Richi.
"Tapi Tuan Richi,kita sudah tidak punya cukup waktu untuk membuat itu lagi," kata Berry.
"Kalau begitu aku, tak apa aku tidak mau berpakaian wanita. Kumohon!" kata Richi kemudian berdiri dengan marah lalu pergi ke kamarnya dengan kesal.
Berry kemudian menyimpan semua kartu itu ke dalam amplop.
"Apa kau membawa pesananku yang lain?" tanya Berry pada Felix.
Felix kemudian mengangguk, dia pun mengambil sesuatu lagi di balik jaket kulitnya. Sebuah bungkusan plastik yang berisi sebuah pistol. Berry kemudian mengambil dan memeriksa barang itu.
"Baiklah, terima kasih. Kau bisa pulang sekarang."
"Mobil yang Tuan pesan juga sudah siap di luar," ucap Felix.
"Oke,terimakasih atas bantuanmu. Kau bisa pulang sekarang!" kata Berry.
Felix pun mengangguk dan pamit untuk pulang. Dan meninggalkan Berry yang kemudian terlihat serius dengan wajahnya.
Sementara di kamar, Richi tampak gelisah. Dia tidak punya pilihan sepertinya. Beberapa kali juga Richi nampak terlihat mengacak-ngacak rambutnya. Sungguh kesal dengan situasi yang dia hadapi sekarang. Sudah berapa lama sejak Felix menyerahkan dokumen identitas palsu itu, Richi tidak keluar dari kamarnya.
Kemudian terdengar bunyi pintu kamarnya diketuk.
"Richi, kau sedang apa?" tanya Berry dari luar kamarnya.
Richi menarik napas karena masih kesal dengan Berry karena lelucon tadi. Tapi tanpa dijawab dan dibukakan pintu, Berry kemudian tetap masuk ke dalam kamarnya.
"Bersiap-siaplah,malam ini kita akan ke ke bandara!" kata Berry.
"Bandara, nanti malam?" tanya Richi pun penasaran.
"Kita akan menemui seseorang di sana."
"Siapa?" tanya Richi masih belum puas dengan jawaban dari Berry.
"Nanti kau juga akan tahu. Siap-siaplah. Dua jam lagi kita berangkat!" sambung Berry sambil melemparkan satu buah paper bag.
"Apa ini?" tanya Richi.
"Pakailah, tadi Felix membawakannya untukmu!" kata Berry sambil tersenyum dan tak bisa menyembunyikan rasa ingin tertawanya.
Richi kemudian membuka isi paper bag itu. Dan isinya berupa pakaian wanita dan rambut palsu. Mata Richi langsung terbelalak melihat isinya.
"Hey Berry, apa kau sedang bercanda?" tanya Richi sambil meremas pakaian wanita itu.
"Pakailah, rencananya kita menyamar sebagai pasangan kekasih," sambung Berry.
"Apaa!" teriak Richi seperti orang gila.
"Kenapa?Kau menolak penyamaran ini?" tanya Berry dengan nada memaksa.
"Kenapa bukan kau saja yang menjadi perempuannya?" tanya Richi masih saja protes. Mana mungkin dia menyamar menjadi seorang wanita.
"Wajahku tidak cocok kalau didandani menjadi perempuan. Tapi kau, kau kan punya wajah pria yang tampan tapi cantik. Cocoklah!" jawab Berry membuat Richi menjadi tambah kesal.
"Sudahlah jangan banyak berdebat, ini hanya sementara. Perjalanan kita ke bandara akan melewati beberapa pos penjagaan, kita tidak bisa sembarangan lewat. Jadi kumohon, bersabarlah dan terima ini!" kata Berry memohon agar Richi mau menjalani penyamarannya sesuai identitas palsu mereka.
Richi menarik napas dalam-dalam dan menatap wajah Berry dengan tajam.
"Apa kau mau tertangkap karena nanti kita dicurigai di pos penjagaan, terus identitas kita terbongkar. Lalu tinggal menunggu waktu anak buah Massimo membunuh kita lagi," kata Berry mencoba memberikan penjelasan pada Richi yang masih enggan menerima itu.
"Aku akan keluar dulu sebentar mengurus sesuatu, kau siap-siaplah dan mulai pakai itu!" sambung Berry yang tidak mendengar jawaban dari Richi. Dia pun segera keluar dari kamar Richi.
Richi yang merasa tertekan dengan situasi ini sangat kesal dan marah. Dia pun melampiaskan kekesalan nya itu dengan memukul-mukul telapak tangannya sendiri.
**** **** ****
Karena merasa tidak punya pilihan yang lain. Dengan sangat terpaksa Richi kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian wanita yang dibawa Felix tadi. Sebuah dress lengan panjang dengan motif bunga-bunga boulevard berwarna merah muda. Richi melihat pantulan tubuhnya yang berbalut baju itu.
Dress panjang memang akan menutupi kakinya yang sedikit berbulu. Mana mungkin seorang wanita kakinya berbulu. Untuk menutupi leher kekar dan jakun maskulinnya Richi menutupnya dengan sebuah scarf yang disiapkan oleh Felix. Richi tertawa geli melihat bayangannya di cermin.
"Kau terlihat cantik Richi, tapi aku masih laki-laki tulen. Dan aku merasa aneh dengan pakaian ini. Huufftt," gumam Richi. Seumur hidupnya dia tidak membayangkan kalau dia akan memakai baju wanita.
Kemudian Richi mengambil alat cukur, dia kemudian bercukur dulu. Tidak lucu kan di kala dia harus menyamar menjadi seorang wanita. Ada terdapat bulu-bulu halus yang tumbuh di area bibir dan dagunya.
Setelah bercukur, Richi kemudian mencoba memakai pelembab wajah agar wajahnya tidak terlalu kering.
Terdengar suara pintu diketuk, dan Richi baru saja hendak menjawab. Pintu sudah dibuka, dan muncullah Berry yang sudah berganti pakaian juga. Richi melihat penampilan Berry yang berubah. Rambutnya yang ditata sedikit klimis dengan kumis tipis dan kacamata minus tebal.
"Waaahhh, kau seksi sekali Richi!" teriak Berry menggoda Richi kemudian disusul dengan suara tawa renyah.
"Tertawalah lebih keras kalau kau ingin bibirmu kurobek!" jawab Richi dengan nada yang kesal. Lalu dia menyambar wig yang berada di atas tempat tidur. Mencoba memakainya sambil bercermin.
"Kalau dilihat dari belakang, memang kau seperti wanita sungguhan!" kata Berry sambil menepuk b****g Richi dan membuatnya terkejut.
"Apa kau mau mati?" teriak Richi marah karena Berry sudah berani menyentuh bokongnya yang indah.
"Jangan kau kesal dulu, Richi!Aku hanya bercanda." Berry pun tertawa melihat sikap responsif Richi yang berlebihan.
"Jangan buat aku kesal dan jangan coba menggodaku Berry!" jawab Richi kemudian merapihkan rambut palsunya agar terlihat alami.
Berry pun meminta maaf atas sikap bercandanya yang kelewatan tadi.
"Kalau kau sudah siap,keluarlah!Aku akan menunggumu di mobil," ucap Berry sambil tersenyum melihat Richi yang masih berusaha berdandan agar tampak lebih meyakinkan.
"Ternyata dia oke juga," gumam Berry pelan sambil tertawa kecil. Dia pun kemudian meninggalkan Richi di kamarnya.
Sambil menunggu Richi selesai berdandan. Berry menelepon seseorang di Indonesia.
"Widi ini aku, aku akan ke Indonesia dan aku butuh bantuanmu," ucap Berry pada seseorang bernama Widi.
** Dari Author**
Mohon maaf sebesar-besarnya untuk para pembaca. Untuk Bab 1- 5 ada revisi karena ada plot hole dan typo. Mohon dicek kembali agar plotnya tidak ada yang terlewat dibaca. Jangan lupa untuk hapus cache dulu di pengaturan agar bisa melihat bab yang sudah author revisi.
Terima kasih dan mohon maaf atas ketidaknyamanannya.