Penyamaran

1415 Words
Di desa terpencil  Catania, Richi dan Berry masih belum bisa pergi. Hidup jauh dari keramaian kota adalah sesuatu yang kedua kali Richi rasakan setelah kehidupan di pusat kota dulu dengan menyandang sebagai pria  muda yang tampan dan kaya. Sudah beberapa belas jam lamanya mereka terus dikejar-kejar oleh kelompok Massimo. Berry dan Richi belum melakukan apa pun, selain memantau perkembangan pencarian dan investigasi tentang kasus meledaknya rumahnya Tuan Luiz melalui berita online maupun berita di internet.  Richi semakin panas dan marah dengan pemberitaan yang menyebutkan kalau putranya atau dia sendiri meledakkan rumahnya Tuan Luiz demi menghilangkan jejak kejahatannya. Padahal yang benar adalah Richi dilenyapkan bersama rumahnya Tuan Luiz. Sore itu, Richi  baru saja pulang dari pantai untuk berolahraga lari. Dia menemukan Berry sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel di dalam rumah. Berry kemudian masuk sambil mencuri dengar pembicaraan Richi. Sambil membuka pintu lemari es dan mengambil satu botol kemasan air mineral. Membuka kemasannya dan meminumnya sambil memperhatikan Richi yang sedang berbicara serius di telepon dengan menggunakan bahasa Indonesia. . Richi kemudian perlahan duduk di kursi rotan sederhana yang menghadap ke arah Berry yang masih sibuk bertelepon. Richi mengibas-ngibaskan bajunya yang basah dan gerah karena keringat. Dia baru saja berlari menyusuri jalan pedesaan di sini. Sungguh indah dan tenang, apalagi tidak begitu banyak orang di sana. Berry menjadi leluasa untuk berlari tadi. Sambil duduk dan menghabiskan air mineralnya. Richi terus melihat Berry yang masih menelepon juga. Sesekali Berry menatap arah pintu rumah. Mencari sosok Felix. Felix adalah orang yang mereka bayar untuk menyediakan segala keperluan mereka selama bersembunyi, dia merasa lapar sekali. Dan dia belum pulang juga dari tadi siang. Akhirnya setelah beberapa lama Berry menunggu percakapan Richi selesai. Berry nampak menyudahi percakapan itu kemudian menutup sambungan panggilan teleponnya. Richi menatap wajah Berry yang sekarang menatapnya dengan sorot mata penasaran. "Kau habis telponan dengan siapa?" tanya Berry. "Seorang informanku," jawab Richi. "Informan mengenai apa?" tanya Richi  makin penasaran. Wajahnya menjadi tambah condong ke depan memposisikan dirinya untuk siap menerima informasi dari Berry. "Ini tentang asetmu. Jadi ini penting dibahas sebenarnya," ungkap Berry. "Sangat penting dibahas. Karena kalau tidak, aku tidak tahu seberapa meyakinkannya rencanamu atau strategimu untuk ini," kata Richi dengan nada serius. "Benarkah itu penting?Atau apa kau takut kalau kita gagal sebelum beraksi?" tanya Richi lagi. "Kita butuh peralatan, kita butuh kendaraan, dan butuh orang juga untuk membantu persembunyian kita, itu membutuhkan uang. Bagaimana bisa berjalan dengan baik rencanamu. Dan aku juga sebenarnya sudah merasa bosan di sini. Kita harus segera pergi dari sini?" tanya Berry. “Aku juga merasa bosan di sini.” Berry kemudian tertawa mendengar keluhan Richi. "Apa yang lucu, kenapa kau tertawa?" tanya Richi heran melihat Berry yang tertawa. "Apa yang kau maksud adalah sebuah klub malam, apa kau ingin pergi ke sana?" tanya Berry tertawa dengan nada mengejek. "Jadi maksudmu, kau ingin menemui banyak orang dengan kondisi kalau kau menjadi buronan para pembunuh bayaran" tanya Berry. "Terserah kamu mau berkata apa, yang jelas sampai kapan kita berada di sini?" tanya Richi dengan nada yang sudah terlanjur kesal dengan ucapannya sebelumnya. "Sedang aku usahakan, sementara ini kita sedang menunggu Felix membereskan pesanan kita," jawab Richi dengan menarik sudut bibir kanannya ke atas. Memberi kesan kalau Berry membuatnya semakin kesal karena terlalu tidak sabaran. "Pesanan apa?" tanya Richi tidak paham dengan maksud ucapan Berry. "Kita harus mempunyai identitas palsu untuk sementara ini agar kita bisa bebas berkeliaran di bandara. Tentu saja kita harus menyamar dengan identitas palsu kita ini. "Kau benar, kita tidak bisa berkeliaran di suatu tempat tanpa mempunyai kartu identitas," kata Richi. "Karena dengan kartu identitas palsu itu, kita bisa bergerak tanpa mereka tahu identitas asli kita," kata Berry. "Jadi apa rencanamu, setelah kita mendapatkan identitas palsu kita?" tanya Richi. "Tentu saja kita bisa pergi ke Indonesia" kata Berry dengan mantap. "Bagaimana caranya?" tanya Berry semakin tak sabaran dengan rencana Berry yang selalu setengah-setengah memberitahunya. "Sabar Richi, sekarang ini yang terpenting adalah langkah pertama kita. Karena langkah pertama itu adalah yang bisa menentukan langkah-langkah kita selanjutnya," jawab Berry masih saja tidak mau terbuka untuk mengungkapkannya pada Richi. Dan kemudian datanglah Felix masuk ke dalam rumah membawa beberapa bungkusan. "Syukurlah kau sudah datang, aku sudah lapar," kata Richi langsung menyambut kedatangan Felix dengan langsung mengambil alih beberapa bungkusan dari tangan Felix. Dia kemudian mencari-cari bungkusan yang berisi makanan. Sementara Berry melihat kelakuan Richi seperti itu hanya bisa tertawa terkekeh. Perhatiannya langsung teralih ketika makanan datang. "Bagaimana dengan barang yang aku pesan sebelumnya. Apa sudah siap?" tanya Berry. Felix mengangguk,dan mengambil sesuatu dari balik jaket kulitnya. Berry kemudian langsung mengambil sebuah amplop yang disodorkan Felix. Tak sabaran Berry kemudian membuka amplopnya. "Tapi, ada sedikit masalah dengan ...." Felix nampak ragu untuk mengatakannya. Dia kemudian melihat ke arah Richi yang sedang menikmati makanannya dengan lahap. "Ada apa?"tanya Berry. Dia membatalkan acara membuka amplop itu begitu dia mendengar ada sebuah masalah yang diucapkan Felix tadi. "Itu, aduh aku tidak bisa menjelaskan rincinya. Tapi yang jelas, orang yang biasa membuat kartu identitas kali ini merasa sulit mencari data orang yang sesuai untuk dipalsukan," jawab Felix. "Lantas, maksudmu bagaimana?" tanya Richi malah kebingungan. Felix terlihat ragu mengatakannya. Dia memilin jarinya sambil melihat wajah Berry. Richi yang melihat itu pun menjadi penasaran dengan  gelagat yang aneh dari Felix. Karena dia terus-menerus melihat ke arah wajah Richi. "Felix, jawab aku. Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Richi sekarang yang menjadi tidak sabaran. "Tuan,identitas yang dipesan oleh Tuan, tidak bisa dua-duanya berjenis laki-laki," jawab Felix. Tentu saja hal itu tidak dipahami Berry yang tidak mengerti ucapan Felix dengan Richi. Dia hanya menatap keduanya sambil terus mengunyah makanannya. Merasa penasaran, Richi pun segera membuka amplop itu dan memeriksa apa yang diucapkan oleh Felix. Ada dua kartu identitas, passport, dan juga SIM. Berry melihat kartu identitas miliknya. Sekarang dia mempunyai nama Yudha Haryono, usianya sama dengan dirinya. Foto yang dipakai juga Yudha berkumis tipis dan memakai kacamata minus. Cukup keren lah untuk menyembunyikan identitas aslinya jika mereka harus bertemu dengan orang banyak. Berry kemudian melihat satu lagi kepunyaan Richi. Identitas palsu Richi menjadi Jessica Lou. "Pppfffffhhhhhhh," Berry tidak bisa menahan tawanya ketika melihat identitas palsu itu. Sungguh sangat lucu. Richi  harus menjadi seorang perempuan. Karena di kartu identitas itu, disebutkan kalau Jessica Lou adalah seorang atlet yang berpostur tinggi sesuai dengan Richi. Dan yang membuat dia tertawa adalah foto itu. Foto Richi  yang dirubah menjadi seorang wanita. Dia memang mirip dengan Rika adik kembarnya. Richi yang merasa kalau Berry sedang menertawakan sesuatu langsung bertanya. "Ada apa? Apa ada yang lucu?" tanya Richi menatap Berryi dan Felix bergantian. Richi tidak bisa menghentikan tawanya. Sementara Felix tampak sedikit takut dan hanya tertunduk menyembunyikan rasa ingin tertawanya itu. Kemudian Berry menjulurkan kartu identitas itu untuk menyamakan foto di KTP itu dengan wajah asli Richi di depannya. "Ini memang mirip,kau sangat cantik jika menjadi seorang wanita. Memang wajahmu sangat cantik," ucap Berry sambil tertawa. Merasa ada yang tidak beres, Richi pun langsung merebut kartu yang dipegang Berry dan langsung melihatnya. "Apa-apaan ini?" tanya Berry dengan suara berteriak keras. "Ma-maaf Tuan, kata Oscar, semua identitas itu benar. Orang-orang itu memang ada,hanya saja kita meminjam nama itu dengan merubah wajahnya. Dan kebetulan yang hanya bisa dipakai itu adalah identitas milik Yudha dan Jessica Lou. Keduanya itu sudah tiga tahun tidak ada kabar karena menghilang. Jadi Oscar membuat itu agar bisa kalian gunakan tanpa pihak polisi dan bandara tidak curiga," jawab Felix dalam bahasa Italia. Mendengar itu Richi  menjadi tidak nafsu menghabiskan makanannya. "Bagaimana bisa aku menjadi seorang wanita?" tanya Richi dengan suara yang memelas. "Ini hanya sementara saja. Setelah kita bereskan semua ini. Kita bisa kembali lagi ke identitas kita semula," jawab Richi. "Kau didandani menjadi seorang wanita memang tidak akan ada yang curiga, karena wajahmu itu. Tampan dan cantik. Bisa tampan dan bisa jadi cantik juga," hibur Berry mencoba meyakinkan Richi. "Ototku ini mau dikemanakan, badanku kekar, orang pasti akan menjadi curiga melihat wanita yang berbadan kekar," kata Richi memang berniat untuk menolak identitas palsu itu. "Di sini disebutkan kalau Jessica Lou adalah atlit, ya sudah pasti kalau atlit kan mempunyai otot dan tubuh yang kekar," kata Berry. Richi mencoba menarik napas dalam-dalam. Dia ingin sekali menolak. "Kenapa bukan aku saja yang menjadi Yudha, dan kau menjadi Jessica!" kata Richi membujuk untuk tukar. "Tinggi badanku denganmu jelas beda.Dan ini sudah sesuai Tuan Richi, sudahlah kau tidak usah menolak lagi, kalau kau tetap menolak. Kita akan semakin lama mengambil langkah selanjutnya!" kata Berry. Richi kemudian mendesis kesal. Memang tidak ada pilihan lain. Tapi masa iya, laki-laki tulen sepertinya harus menyamar menjadi seorang perempuan. "Aaaaaaaaaaa," teriak Richi  menunjukkan rasa frustasinya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD