Pelarian

1023 Words
Sebuah kota romantis di Italia, Catania. Richi dan Berry tiba di Catania, Italia. Mereka langsung menuju sebuah desa yang terpencil. Berry mengajak Richi untuk bersembunyi dulu di sana, sebelum situasinya aman untuk mereka menuju ke bandara. Dari perhitungan Berry, orang-orang dari kelompok Massimo memiliki otoritas tinggi di beberapa tempat umum dan pemerintahan. Berry khawatir kalau mereka langsung ke sana. Mereka akan ditangkap dan dibawa untuk dibunuh di suatu tempat. "Berry, apa kau sudah mencari tahu siapa orang yang sudah meledakkan rumahku?" tanya Richi begitu mereka sampai di sebuah tempat. "Kemungkinan besar musuh papamu dari kelompok Massimo," jawab Berry. "Massimo, siapa mereka?" tanya Richi. "Kau akan tahu nanti." Richi tampak tertegun mendengarnya. Dia tidak tahu apa-apa mengenai permasalahan papanya dengan orang-orang yang menyebabkan tragedi ini. "Tuan Richi, beristirahatlah. Perjalanan kita ke Indonesia sangat panjang!" Berry meminta Richi untuk masuk ke dalam kamar. Mereka tiba di sebuah rumah kecil yang jauh dari pemukiman warga. Desa itu merupakan sebuah perkebunan jeruk. *** *** Richi merasa bosan karena harus berdiam diri terus di kamar. Entah sampai kapan dia harus bertahan di situasi ini. Pikirannya terus melayang pada nasib kedua orang tuanya dan juga adik kembarnya. Dia belum bisa tenang dan tidur dengan lelap dengan kenyataan kalau kedua orangtuanya sudah meninggal. Belum lagi kondisi adiknya yang sama sekali dia tidak tahu seperti apa. “Papamu itu seorang ketua kelompok mafia.” Kata-kata itu sekarang mengusik hati dan pikirannya saat ini. Bagaimana tidak menjadi beban pikirannya saat ini, kata mafia adalah kata yang terdengar oleh sebagian orang adalah organisasi kejahatan yang sering merusak tatanan ekonomi dan sosial di masyarakat. Kata mafia begitu negatif dan kriminal. Itulah yang dirasakan dan dipikirkan Richi saat ini. Tok!Tok!Tok! Terdengar suara pintu diketuk. Richi segera bangun dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Berry dengan tatapan dingin dan datar. “Apa aku membangunkanmu?” tanya Berry. “Kau pikir dengan situasi macam ini aku bisa tidur. Aku menjadi anak yatim piatu dan aku tidak tidur semenit pun,” jawab Richi dengan ketus. “Aku tahu rasanya. Tetapi dalam situasi berbahaya seperti ini. Kita harus memulihkan tenaga dan fisik kita. Aku membawakanmu makanan. Makanlah!” Berry memberinya satu kantong plastik. “Hey Berry, ini rumah siapa. Yang aku tahu rumah ini bukan rumah kosong yang ditinggal penghuninya. Jangan-jangan kau diam-diam sudah membunuhnya agar rumah ini bisa kita tempati?” tanya Richi curiga. Kecurigaannya bukan tanpa alasan. Pasalnya dia melihat sendiri bagaimana Berry menembak kepala seseorang di depan matanya sendiri. “Tentu saja tidak. ini adalah rumah seorang kenalanku, namanya Felix. Saat ini aku menugaskannya sesuatu, aku tidak sembarang membunuh orang, Tuan Richi. Aku tidak akan membunuh orang yang tidak bersalah,” ucap Berry dengan kesal karena Richi sudah menuduhnya sembarangan. “Tetap saja kau seorang pembunuh,” ucap Richi jengkel. “Aku sudah terbiasa dalam hal ini. Karena aku sendiri adalah orang yang mempunyai prinsip dibunuh atau membunuh,” jawab Berry dengan santai. “Apa kau tidak ingin berhenti dari pekerjaan kotormu itu?” tanya Richi. Jiwa kemanusiaannya memang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya, “Selama tidak melenceng dari tugas melindungimu, aku akan berhenti membunuh,” ucap Berry. Richi mengangkat alisnya pertanda dia tidak paham jalan pikiran Berry kemana. Kenapa dia sepertinya terlalu menganggap semua hal tentang keselamatan dirinya sebagai hal yang sangat penting sehingga mengindahkan norma dan hukum. “Memangnya kau dijanjikan apa oleh Papaku. Aku kau mendapatkan imbalan yang besar untuk melindungiku?” tanya Richi. Berry mengangguk. Namun dia tidak menjelaskan berapa nominal atau angka imbalan yang dia terima dari Luiz Gavino. Pasti jumlahnya sangat besar mengingat kekayaan Luiz Gavino yang lumayan banyak. “Aku akan pergi keluar sebentar untuk memeriksa keadaan kita di sini aman atau tidak. Kau bisa jaga sendiri kan Tuan Richi?”tanya Berry sambil memberinya pistol. “Apa ini?” tanya Richi menerima satu buah pistol. “Kau tidak tahu kalau ini adalah pistol, Tuan?” tanya Berry heran. “Tentu saja aku tahu, apa kau pikir aku ini orang bodoh?” tukas Richi sewot. “Aku pikir Tuan tidak pernah sama sekali melihat sebuah pistol,” sambung Berry. “Kau ini lucu, kenapa kau memberiku pistol Berry. Apa kau ingin aku membunuh seseorang?” tanya Richi dengan wajah yang menegang. “Tentu saja, kalau itu diperlukan.” Jawaban Berry tentu saja membuat Richi menjadi bergidik. “Astaga Berry, aku tidak bisa membunuh orang. Jangan kan orang aku membunuh seekor binatang saja tidak tega,” jawab Richi. “Ini hanya untuk jaga-jaga saja. Saat aku pergi sebaiknya aku perlu memberimu senjata untuk melindungi dirimu sendiri,” ucap Berry. “Baiklah,” jawab Richi dengan berat hati. “Kau bisa kan menggunakanya?” tanya Berry. “Tentu saja, aku sudah mendapatkan sertifikat menembakku, apa aku perlu membuktikannya?” tanya Richi kemudian menarik pengaman pistolnya. Berry segera menahan tangan Richi untuk tidak melakukannya. “Ya aku tahu, karena aku juga sering mengikutimu latihan menembak,” jawab Berry. “Oke.” Berry kemudian berbalik dan bersiap untuk meninggalkan Richi seorang diri di rumah. Dia memang sedikit khawatir jika dia harus meninggalkan Richi di rumah ini. Tetapi, dia juga harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk memulangkan Richi ke Indonesia. Untuk sementara ini, Richi harus bersembunyi sampai benar-benar situasinya terkendali dan sudah aman. Setelah Berry pergi, Richi kembali duduk mematung di tepi ranjangnya sambil menenteng sebuah pistol. Richi bosan sebenarnya jika dia terus bersembunyi dan tidak bisa bergerak dengan bebas seperti biasanya. “Sebenarnya apa yang sudah Papa lakukan sampai-sampai musuhnya sekarang meneror keluarganya seperti ini?” batin Richi. “Seingatku, papaku itu tidak pernah menunjukkan sisi gelapnya di depannya. Mafia itu tidak segan membunuh orang. Apa itu artinya papanya sudah membunuh banyak orang. Tak salah lagi kalau dia memiliki banyak musuh,” gumam Richi. Sekarang dia harus mempersiapkan diri secara fisik dan mental. Dia mungkin tidak tahu banyak tentang tindak tanduk papanya selama ini. Yang jelas ada satu hal yang penting yang harus Richi segera sadar. Dia dalam keadaan berbahaya jika hanya diam saja tanpa melakukan sesuatu. *Dari Author Hai para pembaca yang baik. Ini adalah novel ketiga author di sini. Mohon dukungan tap lovenya. Semoga para pembaca akan terhibur dan suka. Jangan lupa untuk tap love dan komentar. Terimakasih semuanya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD