Sebuah Tragedi Merubah Segalanya

1471 Words
“Berry, ini bukan arah ke rumah. Kau mau bawa aku kemana?” tanya Richi panik. “Tuan Richi ada informasi yang harus aku sampaikan padamu. Rumahmu sudah hancur karena ledakan bom. Seseorang sudah meledakkan rumah Anda dengan bom. Sekarang rumah Anda masih terbakar.” “Apa? Bagaimana dengan papa ku?” tanya Richi panik. Jantungnya terasa berdegup kencang mendengar berita itu. Berry hanya termenung dan menggelengkan kepalanya. Melihat reaksi seperti itu tentu saja Richi marah. “Putar arah Berry, aku harus menemukan Papa ku!” teriak Richi berusaha menarik tubuh Berry dan memerintahkannya untuk berbalik arah. “Dia sudah tewas Richi. Rumahmu sudah hancur! Aku ditugaskan papa mu untuk melindungimu, sekarang nyawamu sedang terancam!” “Kau bohong, aku tidak bisa percaya dengan orang yang baru aku kenal!” teriak Richi. Dia kemudian berusaha membuka pintu mobil meski mobil itu dalam keadaan melaju kencang. Trek. Richi tidak bisa membuka pintu mobil karena dikunci otomatis oleh Berry. Richi histeris dan marah pada Berry. “Kau bukan anak buah papaku! Justru kau adalah orang jahatnya. Kau menculikku dan akan membunuhku di suatu tempat. Benar kan?” teriak Richi emosi. Berry tidak tahan lagi dengan ocehan Richi, Dia mengambil sesuatu dengan membuka dashboard mobilnya dengan tergesa-gesa. Richi waspada, jangan-jangan dia mengambil pistol dan akan menembaknya. Lalu Berry melempar sebuah benda ke arah Richi, Awalnya Richi kaget dan sempat shock mengira Berry akan menembakkan pistol padanya. Ternyata itu adalah sebuah ipad. “Ada sebuah video yang dibuat papamu. Lihatlah!” ucap Berry masih mengemudikan mobilnya dengan sikap waspada. Pandangannya selalu beralih ke kaca spion. Mengantisipasi kalau ada kendaraan yang mengikuti mobil mereka. Richi kemudian memutar satu-satunya video yang ada di dalam ipad itu. Video yang direkam ayahnya. Richi! Jika terjadi sesuatu padaku. Berry dan anak buahku akan melindungimu dan akan menjelaskan sesuatu padamu. Papa minta maaf jika selama ini Papa sudah menyembunyikannya. Mama mu meninggalkan kita bukan karena Papa yang bermain wanita. Tetapi dia mengetahui sesuatu tentang Papa yang selalu Papa tutupi dari Mamamu. Pergilah ke tempat di mana tidak ada satu orang pun yang mengenalimu. Selama ini  banyak sekali musuh Papa yang mencoba mencelakai keluarga kita tanpa kau ketahui. Tetapi, jika terjadi sesuatu menimpaku dan tiba-tiba ada orang yang mencelakaimu. Itu artinya kau harus segera pergi dari Italia! Kau harus sembunyi sampai benar-benar semuanya aman terkendali! Video itu selesai, namun Richi masih belum mengerti sepenuhnya. Lalu dia segera melirik Berry. “Ini video palsu kan. Kau meminta papaku untuk berkata seperti ini di video agar aku mempercayaimu?” tanya Richi. Dia masih belum percaya pada Berry. “Astaga Richi, untuk apa aku berbohong! Aku ini memang anak buah Papamu. Apa kau tidak ingat kejadian tahun lalu saat kau berada di sebuah klub malam?” tanya Berry. Richi mengernyitkan dahinya untuk mengingat kejadian yang dimaksud. “Waktu itu kau hampir celaka ditikam orang mabuk. Aku menyelamatkanmu!” Richi ingat, dulu dia sempat terlibat sebuah kejadian mengerikan di sebuah klub malam. Tiba-tiba ada orang mabuk yang menyerangnya dengan pisau lipat. Dan saat itu memang ada orang yang menyelamatkannya dengan menarik dan membawa orang mabuk itu keluar klub. Dan setelah itu, dia tidak menemukan orang mabuk itu dan juga orang yang menyelamatkannya. “Orang itu adalah musuh papamu yang pura-pura menjadi orang mabuk untuk membunuhmu.” “APA? Musuh Papa?” “Selama ini aku menjadi bodyguardmu atas suruhan papamu. Bukan kejadian itu saja yang hampir merenggut nyawamu. Namun, kamu tidak pernah menyadarinya.” Richi diam-diam memperhatikan postur Berry. Dia memang sangat familiar dengan Berry. Entah beberapa kali kesempatan dirinya memang sering melihat postur Berry. Meskipun dia tidak pernah melihat wajahnya karena selalu terhalang topi dan masker. “Dan hari ini juga, aku mengikutimu sejak awal kau keluar dari rumah. Setengah jam kemudian aku mendengar ledakan di rumahmu dan aku percaya kau juga dalam bahaya. Maka dari itu aku lebih memilih mengikutimu dibandingkan pergi memeriksa rumah Tuan Luiz. Karena aku sudah berjanji pada papamu untuk melindungimu.” “Kau bohong ‘kan?” Richi masih belum percaya dengan orang itu. “Aku sudah ikut papamu selama sepuluh tahun terakhir. Aku tahu tentang bisnis papamu dan juga semua keluargamu. Aku tahu kau mempunyai adik kembar yang tinggal bersama Ibumu di Indonesia. Apa kau masih tidak percaya padaku?” tanya Berry. Belum sempat merespon ucapan Berry tiba-tiba ada sebuah mobil entah dari mana datangnya menabrak mobil mereka. Richi berpegangan pada jok mobil sambil melihat mobil yang menabrak. Sebuah mobil datang dari arah kanan. Berry tetap melajukan mobilnya dengan kencang. Dan mobil yang menabrak tadi pun terus bergerak mengikuti mobil mereka. “Mereka mengejar kita?” gumam Berry dan menambah lagi kecepatan mobilnya. “Mereka siapa? Kenapa mengejar kita?” “Sudah kubilang kan kalau mereka adalah musuh-musuh papamu?” Braaak! Mobil itu terus mengejar dan dengan sengaja menabrak bagian belakang mobil mereka. “Kenapa mereka ingin membunuhku. Sebenarnya apa yang sudah papaku lakukan pada mereka?” tanya Richi teriak karena mobil itu terus mencoba menabrak mobilnya. “Mereka musuh papamu dan juga mungkin saingan bisnis papamu,” jawab Berry masih berusaha untuk mengendalikan mobilnya agar jangan sampai terbalik atau mengalami kecelakaan. Dor! Kali ini terdengar suara tembakan. Richi segera menundukkan kepalanya untuk menghindari semua tembakan. “Berry! Bisakah kau menghindari mobil itu?” teriak Richi. Berry tidak menjawab dia hanya sedang berusaha untuk mengendalikan mobil itu agar bisa segera menjauh dari mobil itu. “Tuan Richi. Berpeganglah pada sesuatu!” teriak Berry. Setengah panik Richi segera mencengkram kuat pegangan tangan di atasnya. Dan seketika mobil mereka naik  ke sebuah pinggir jalan yang landai dan mobil mereka terbang melewati sebuah parit dan mendarat di seberangnya dengan pendaratan yang tidak terlalu mulus. Kepala Richi beberapa kali terbentur kaca dan juga kursi jok di depannya. Berry menghentikan mobilnya dan melihat ke arah mobil di belakangnya yang malah tercebur ke parit. Richi berusaha menarik napas dalam-dalam karena mobil mereka hampir saja terbalik. “Turunlah!” Berry memerintahkan Richi untuk turun. Richi kemudian turun dan celingukan menatap kebingungan Berry yang menyetop sebuah kendaran truk yang berisi domba. Tak lama kemudian truk itu berhenti. Dia langsung naik ke atas truk yang penuh dengan domba itu. “Naiklah!” Berry mengulurkan tangannya agar Richi segera ikut naik ke atas. Richi tampak ragu karena dia harus naik ke atas truk bersama dengan puluhan domba. “Cepatlah sebelum mereka melihat kita!” teriak Berry. Richi pun menerima uluran tangan Berry dan naik ke atas truk itu. Lalu mereka berdua berjalan menuju sisi truk dekat dengan kaca belakang supir truk. Berry segera mengetuk keras kaca itu memberi kode kalau supir itu untuk segera melajukan kembali mobilnya. “Sekarang kita mau kemana?” tanya Richi. Berry menatap wajah Richi yang tengah kebingungan saat ini atas kejadian yang menimpanya. Dia tidak banyak bicara. Hanya menjawabnya dengan pendek saja. “Jakarta, Indonesia.” “Apa? Maksudmu negara tempat di mana adikku dan mama ku berada?” Lagi-lagi, Berry menatap ke depan dengan gelisah. Seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. “Tadi aku sempat video call dengan Rika. Dia ingin menemuiku.” Ucapan Richi semakin membuat gelagat Berry tambah gelisah. “Sesuatu telah terjadi juga dengan Nona Rika dan Nyonya Grace.” “Apa maksudmu Berry?” Tiba-tiba truk yang mereka tumpangi berhenti. Berry segera memantau keadaan. Ada satu buah pengendara motor menghentikan truk mereka. Dan pengendara itu mulai memeriksa bagian belakang truk. Berry terlihat mengambil sesuatu di balik jaket hitamnya. Richi terkejut ketika dia melihat Berry mengeluarkan pistol itu. Dengan gerakan gesit dan cepat, Berry segera menembakkan pistolnya ke pengendara motor itu tanpa sempat pengendara motor itu menemukan mereka. Dan pengendara itu pun terkapar. Berry segera meloncat dari truk dan meminta Richi ikut meloncat juga. Berry menaiki motor yang dibawa orang yang ditembaknya itu. “Cepat naiklah!” Berry berteriak pada Richi. Richi yang masih shock melihat orang yang bersimbah darah di depannya itu buru-buru naik ke atas motor. Berry melajukan motor itu dengan kencang. “Kita kemana Berry?” “Pelabuhan. Di sana nanti akan ada kapal pesiar. Kapal itu akan membawa kita ke bandara Catania. Di sana sudah ada pesawat jet pribadi papamu yang akan mengantarkan kita ke Indonesia.” Richi tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia masih khawatir karena dirinya dan juga Berry masih saja dibuntuti orang-orang yang mencoba membunuhnya. Motor yang dikendarai Berry memasuki sebuah dermaga pelabuhan. Di sana ada beberapa kapal pesiar mewah berjejer. Berry segera mengajak Richi berjalan untuk menuju sebuah kapal pesiar yang sedang bersandar menunggu kedatangan dirinya dan juga Richi. Richi masih belum bisa memahami situasi yang sedang dia hadapi sekarang. Dengan kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki papanya. Sepertinya untuk sekedar kapal dan jet pribadi bukanlah hal yang sulit untuk bisnisman seperti papanya. Namun, yang tidak dimengerti dirinya adalah bisnis apa yang dikelola papanya sampai-sampai dirinya memiliki banyak musuh dan saingan bisnis. Setahunya Luiz adalah seorang pengusaha yang memiliki banyak tanah dan perkebunan di hampir seluruh kota Pachino dan kota-kota lainnya di Italia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD