"Mama serius mau menikahkan aku dengan anak temannya mama?" tanya Abram siang itu saat keduanya selesai makan siang dan istirahat di gazebo.
"Ya."
"Untuk balas budi?" tanya Abram penasaran.
Abram menatap mamanya yang duduk disebelahnya. Bu Wenda tersenyum samar. Diambilnya secangkir cappucino, kemudian menyesap sambil memandang keluar jendela.
"Dia gadis baik-baik, Abram. Lagian papa dan mama banyak hutang budi pada mereka."
"Hm, aku tahu."
"Makanya turutin permintaan mama, kali ini saja biar mama tentukan jodohmu."
"Aku tahu. Justru itulah yang bikin aku khawatir, gadis itu masih sangat belia ma. Bagaimana bisa aku yang duda anak dua menikahi gadis seusia anakku." Tekan Abram.
"Hust. Kamu mau istri sosialita pilihanmu kayak Flo sekarang kemana dia hah. Mama yakin jika Fiya gadis baik-baik tidak seperti mantan istrimu itu."
Abram tahu kalau gadis yang dijodohkan dengannya itu adalah gadis yang pernah menolong putrinya. Abram juga berpikir ia mau bunuh diri juga karena perjodohan ini.
Sejak ditinggal mantan istrinya Flo, belum pernah Abram dekat dengan perempuan lain. Cinta pertama yang melukainya sangat parah. Bahkan setelah melahirkan putrinya Abel dia kabur entah kemana.
"Tolong kamu atur undangan untuk karyawan, rekan bisnis dan tetangga."
"Ma, menikahi gadis belia, itu malu aku." Tolak Abram.
"Terus mau kamu kayak gimana?"
Abram terlihat prustasi. "Biar nikah KUA saja sih. Ini juga tinggal satu minggu lagi, kan?"
"Tidak mama pengen pesta yang mewah. Agar keluarga Flo tahu anak mama dapat gadis cantik dan perlu digaris bawahi dia gadis istimewa."
Abram mendengus kesal. "Istimewa dari mana?"
"Istimewa karena putrinya sahabat mama."
Abram manggut-manggut. "Ya baiklah."
"Kita pergi mengambil cincin sekarang, karena sebentar lagi toko akan tutup."
Abram menoleh, wajahnya tampak sayu. Tidak juga menjawab pertanyaan itu.
"Tunggu sebentar mama ganti baju dulu! Eh kamu selesai beli cincin antar baju akad nikah ke rumah Fiya biar mama nanti diantar sama Mang Jaja saja." Mama Wenda berlalu.
"Mama ...."
"Abram please."
Abram mendengus kesal. "Ya baiklah."
***
Setelah ziarah ke makam ibunya, sebelum menikah sudah kesampaian. Kini Safiya ke kamar mandi membersihkan diri. Ayahnya bilang jika calon pengantin prianya akan datang untuk membawakan baju akad nikah juga kata Ayahnya jika saat ini mereka sedang membelikan cincin. Setiap pasangan yang hendak berumah tangga, pasti tidak sabar menunggu hari pernikahan. Namun tidak bagi Safiya. Ia sangat berharap bahwa hari tidak lekas berganti.
Safiya berada di depan cermin cemas, bagaimana bisa ia secepat ini menikah dengan Om-om pula. Semakin ia berharap, semakin cepat waktu berjalan. Hari ini calon pengantin pria akan datang karena satu minggu lagi adalah hari pernikahannya. Mama pria itu sejak pagi sudah menelepon agar bersiap untuk menerima baju yang sudah jadi. Satu minggu lalu Safiya dan mama Wenda fitting baju pengantin.
Ponsel Safiya berdering disana terlihat nama Rara yang sedang menghubunginya. Gegas Safiya mengangkat teleponnya.
"Jalan yuk." Ajak Rara antusias.
Safiya terharu dan menitikkan air mata. Ia bisa merasakan kasih sayang Rara dan sebentar lagi mereka akan berpisah.
"Safiya lo masih disitu kan?" tanyanya lagi.
"Hmm."
"Lo kenapa? Nggak biasanya begini? Ada masalah cerita ke gue?"
Kedua netra Safiya mengembun. "Gue baik, Ra."
Rara tidak tahu seperti apa sebenarnya nantinya pernikahan yang akan dijalani oleh Safiya. Safiya merasa tak pantas berteman dengan siapa pun.
"Terus kenapa tak mau jalan?" tanyanya penuh selidik.
"Nggak apa-apa kok. Emm lain kali ya. Sama Tata saja dulu, gue sibuk mau anterin ayah nih."
"Serius lo nggak lagi bercanda kan?" tanyanya lagi membuat Safiya menarik napas panjang.
"Enggak. Lain kali saja ya, maaf."
"Oke deh."
"Maaf ya, Ra."
"It's oke, Fiya."
"Emmm peluk."
Rara memutuskan sambungan teleponnya. Dan mengirimkan sepuluh pelukan emoji hangat untuk Safiya.
Belum lagi sosok Maxim yang mengganggu pikirannya sejak saat itu. Safiya memandang ke arah jendela kamar. Pikirannya melayang tidak karuan, bahkan Maxim adalah seorang yang dekat dengannya selama ini, Maxim. Juga yang mampu melambungkan hatinya.
Ayah Safiya segera membuka pintu saat ada dua kali ketukan di pintu rumahnya. Abram berdiri di sana sambil tersenyum menci*m punggung tangan calon ayah mertuanya.
"Nak sudah datang."
"Iya, ayah."
"Masuklah aku panggilkan Safiya tunggu sebentar ya."
"Nggeh, ayah."
Abram mengangguk patuh, entah bagaimana reaksi Safiya jika yang akan dia nikahi adalah pria yang suka menganggunya juga suka usil dengannya. Abram hanya bisa pasrah dalam diam.
"Ayo masuk duduk sini."
Abram mengikuti dan duduk di kursi.
"Safiya gadis baik, Nak. Jangan kamu permainkan dia!" pesan ayahnya Safiya.
Abram menggelengkan kepala. "Tidak, ayah."
Abram tersenyum. Ia juga gugup jika Safiya tahu dirinya maka Safiya akan menolaknya.
***
Safiya yang masih menata rambutnya dengan jepit menoleh saat ayahnya menanggil karena ada tamu yaitu calon suaminya. Ia tak boleh menyerah dan berbuat bod*h lagi ia harus semangat. Seketika Safiya teringat wajah Abram.
"Safiya, Nak Abram sudah datang tuh."
"Abram?" tanya Safiya penasaran.
"Ya calonmu. Nak Abram"
Sungguh berdebar hebat hati Safiya ketika mendengar nama itu. Seperti tak asing namanya. Safiya ikut ayahnya keluar betapa terkejutnya dia saat menatap calon suaminya adalah Om yang super nyebelin itu. Namun Safiya tak mau ayahnya tahu ia pura-pura diam dan menunduk.
"Safiya, ini calon kamu nak. Nak Abram ini calon istrimu bagaimana?"
"Nggeh saya setuju saja."
Kedua netra Safiya melotot kaget. Astaga dunia sempit sekali.
"Aataga. Kenapa calon suamiku Om nyebelin itu!" bisik Safiya shock.
Mereka saling diam. Hanya berjabat tangan sebentar lalu pamit pergi. Mobil mewah milik Abram membawa Safiya meninggalkan rumah mini milik ayahnya. Safiya sudah tak sabar ingin bicara dengan pria aneh itu.
"Aku sudah tahu siapa dirimu! Jadi kamu yang merayu ayahku agar bisa menikahi aku?" Tuduh Safiya bicara tanpa melihat ke arah samping.
"Tentu saja aku tahu karena sebentar lagi kita akan menikah, jadi sudah jelas siapa saya. Calon suamimu," potong Abram ia berusaha tenang, tidak menunjukkan kemarahan seperti apa yang Safiya lakukan.
Safiya terlihat kesal.
"Apa kita buat kesepakatan!" kata Abram menatap perempuan yang tengah duduk di samping kemudinya.
Safiya adalah calon istri yang dijodohkan oleh orang tuanya yang prihatin melihat dirinya tak kunjung menikah. Setelah ditinggal oleh Flo.
Safiya mendongak, menatap lelaki yang tengah mengajak bicara. "Kesepakatan apa aneh."
Lelaki dengan wajah tampan itu menatap perempuan yang sebentar lagi menjadi istrinya. Wajahnya sempurna di mata semua pria, kecuali dirinya. Wajahnya yang putih dengan hidung mancung dan bibir mungil. Tanpa polesan make up saja, kecantikannya sudah terpancar.
"Dasar gadis ingusan."
Safiya merasa kesal.
"Berhenti, stop! Turunkan aku disini Om."
"Apa, Om-om. mau bunuh diri lagi?" Protes Abram tak terima dipanggil Om.
"Maunya dipanggil apa coba? Ngaca tuh?!" Safiya menunjuk ke arah spion. Mencoba tak membahas soal mengakhiri hidup.
Abram merasa telah direndahkan oleh gadis ingusan itu. "Jika bukan mama yang memaksa, aku tidak akan pernah mau menerima. Seorang wanita egois bersanding denganku."
Tak terima Safiya itu pun menjawab. "Jika bukan karena Ayah dan Mama kamu yang meminta, tentu saya juga sudah menolak mentah- mentah perjodohan kita ya Om."
Abram tertawa. Tak menyangka bahwa ia akan mendapatkan perlawanan dari gadis belia itu.
"Bukannya kamu suka? Karena kamu akan mendapatkan uang dengan mudah? Kuliah gratis, jadi nyonya Abram."
Safiya menghela napas, ia malas berdebat dengan lelaki yang akan menjadi suaminya.
"Terserah!" kata Safiya mengakhiri perdebatan.
Abram tersenyum menang, baginya tak ada kata kalah. Apalagi dengan wanita yang akan menjadi istrinya masih kecil. Prinsipnya, ia tak akan membiarkan Safiya seperti Flo.
Hening.
"Aku tidak mau berhubungan badan dengan gadis ingusan."
Sontak, Safiya menutup mulutnya tertawa lepas membuat Abram jengah.
"Apa Anda yakin? Biasanya seorang lelaki kalau urusan ranjang selalu paling depan, apalagi Om sudah lama tak ... atau jangan-jangan punya Om tidur...."
"Hust sembarangan kalau ngomong. Aku tak mau menyentuh anak kecil. Ingat imanku tak selemah itu!"
"Oke, setidaknya saya tidak perlu menunaikan kewajiban yang tidak bisa saya kerjakan. Baiklah, saya terima tawarannya Om." Safiya tersenyum menatapnya.
Abram tersenyum, yang sebenarnya ia berbohong agar Safiya tak merasa tertekan soal perjodohan itu.
"Jangan terlalu berlebihan, takutnya nanti jatuh cinta." Kembali Safiya menegaskan.
"Apaan jatuh cinta mana mungkin!" Jelas Abram.
"Lagipula saya tidak yakin Om kuat." Pancing Safiya yang sejujurnya ini adalah kemenagan Safiya.
Abram mencebik.
"Jangan samakan aku dengan p****************g!" katanya tegas.
"Oke. Jadi apa maksudnya?"
"Apa maksudmu?" Abram berbalik tanya.
"Apa Om akan berusaha menerimaku sebagai istrimu? Atau nanti Om akan menceraikan aku."
Bola mata Abram membulat. Ditatap Safiya dengan penuh amarah. Baginya menikah hanya sekali seumur hidup dan ia tak mau bercerai lagi. Tapi menikah dengan Flo adalah kesalahan besar.
"Tidak ada perceraian."
"Itu namanya tidak adil Om akan mengekang dan mengurungku. Bagaimana jika aku jatuh cinta sama laki-laki lain."
Hening.
Mereka terdiam cukup lama. Larut dalam pikiran masing-masing. Abram menatap wajah Safiya yang menyandarkan punggung ke jok mobil.
"Tidak usah jatuh cinta!"
Safiya kembali tertawa. Tentu saja karena mendengar pernyataan calon suaminya yang aneh.
"Terserah lah." Kata Safiya menahan gemerutuk giginya.
Entah saat bersama gadis ini Abram sedikit melupakan kesedihannya, Abram tahu jika Safiya bisa merubah duanianya.